Tuesday, June 3, 2014

Perencanaan dan Pembangunan Wilayah dan Kota : Konsep, Teori, Interaksi

Pada materi sebelumnya Anda mempelajari interaksi desa dan kota. Desa dan kota merupakan bagian dari suatu wilayah (region). Wilayah merupakan istilah yang sering kali Anda baca dan dengar di berbagai media, seperti surat kabar, radio, atau televisi. Wilayah sering digunakan untuk menggambarkan berbagai tempat di permukaan bumi, seperti wilayah Indonesia bagian timur, wilayah Jawa Barat atau wilayah Pantai Utara Jawa. Adapun permasalahannya, apakah penggunaan istilah wilayah untuk daerah-daerah tersebut benar atau telah sesuai? Apakah yang dimaksud dengan wilayah tersebut? Apakah terdapat persamaan pengertian wilayah yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari dengan konsep wilayah dalam kajian ilmu geografi? Bagaimana keterkaitan antara konsep wilayah pola perencanaan pembangunan di Indonesia?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat terjawab pada materi berikut.

A. Konsep Wilayah (Region) dan Pewilayahan (Regionalisasi)

Sebelum mempelajari konsep wilayah dan pewilayahan Anda, tentu masih ingat bahwa salah satu pengertian geografi adalah disiplin ilmu yang mempelajari dan mengkaji persamaan dan perbedaan fenomena permukaan bumi (geosfer) dengan sudut pandang kelingkungan atau kewilayahan dalam konteks keruangan. Dalam pengertian tersebut tersirat bahwa dalam mempelajari gejala dan kenampakan di permukaan bumi, salah satu sudut pandang atau pendekatannya antara lain melalui analisis kewilayahan atau kompleks wilayah (regional complex approach). Hal tersebut berarti bahwa pola pengkajian ilmu geografi tidak akan pernah terlepas dari konsep wilayah atau region. Para ahli mengemukakan bahwa region merupakan objek formal geografi yang menjadi benang merah atau garis pembeda dengan ilmu-ilmu kebumian lainnya.

Dalam kajian geografi, wilayah atau region diartikan sebagai suatu bagian permukaan bumi yang memiliki karakteristik khusus atau khas tersendiri yang menggambarkan satu keseragaman atau homogenitas sehingga dengan jelas dapat dibedakan dari wilayahwilayah lain di daerah sekitarnya. Karakteristik khas dari suatu wilayah dapat berupa keadaan alam (kondisi fisik), ekonomi, demografi, dan sosial-budaya. Beberapa contoh wilayah yang ada di permukaan bumi antara lain sebagai berikut.
  1. Wilayah hutan hujan tropis (region alamiah).
  2. Amerika latin (region budaya).
  3. Kepulauan Wallacea (region fauna).
  4. Corn belt (region pertanian).
  5. Zona dataran rendah Jakarta (region fisiografi).
Objek Formal Geografi
Gambar 1. Objek Formal Geografi. Region suatu wilayah yang terdapat di permukaan bumi menjadi kajian objek formal geografi.
Secara umum suatu wilayah dapat dibedakan menjadi dua, yaitu wilayah formal (formal region) dan wilayah fungsional (functional region atau nodal region). Pengertian wilayah formal identik dengan definisi wilayah secara umum, yaitu suatu daerah atau kawasan di muka bumi yang memiliki karakteristik yang khas sehingga dapat dibedakan dari wilayah lain di sekitarnya.

Adapun wilayah fungsional atau nodal region adalah suatu kawasan yang terdiri atas beberapa pusat wilayah yang berbeda fungsinya. Contoh yang sangat jelas dari suatu nodal region adalah kawasan perkotaan. Dilihat dari konsep nodal region, wilayah perkotaan terdiri atas tiga komponen utama, yaitu sebagai berikut.
  1. Nodus atau inti yang merupakan pusat kota (city).
  2. Internal area (hinterland), adalah  wilayah sekitar kota yang fungsinya memasok kebutuhan harian kota tersebut.
  3. Eksternal area, adalah jalur penghubung antara kota wilayah pemasok kebutuhan kota tersebut. 
nodal region terdiri atas nodus, internal area, dan eksternal area.
Gambar 2. Kota Termasuk Nodal Region. Kawasan kota sebagai salah satu contoh nodal region terdiri atas nodus, internal area, dan eksternal area.
Wilayah yang termasuk dalam suatu nodal region sering kali dihubungkan dengan garis-garis konsentrik (lingkaran). Untuk berbagai keperluan dalam pengkajian atau perencanaan pembangunan para ahli membuat suatu konsep pewilayahan atau regionalisasi muka bumi, dengan berbagai dasar penggolongan.

Beberapa contoh pewilayahan antara lain sebagai berikut.

1. Pewilayahan muka bumi berdasarkan tipe iklim matahari, antara lain sebagai berikut.

a. Zone iklim tropis antara 23,50LU–23,50LS.
b. Zone iklim subtropis antara 23,50LU–350LU dan 23,50LS– 350LS.
c. Zone iklim sedang antara 350LU - 66,50LU dan 350LS–66,50LS.
d. Zone iklim kutub antara 66,50LU - 900LU dan 66,50LS–900LS.

2. Pewilayahan Pulau Jawa berdasarkan kondisi fisiografisnya, meliputi antara lain sebagai berikut.

a. Wilayah dataran rendah Jakarta (zona Jakarta).
b. Wilayah antiklinorium Bogor (zona Bogor).
c. Wilayah dataran antarmontana atau antarpegunungan (zona Bandung).
d. Wilayah pegunungan selatan.

3. Pewilayahan Indonesia berdasarkan wilayah waktu, meliputi pewilayahan sebagai berikut.

a. Wilayah Waktu Indonesia Barat (WIB).
b. Wilayah Waktu Indonesia Tengah (WITA).
c. Wilayah Waktu Indonesia Timur (WIT).
Peta Pembagian Waktu Wilayah Indonesia
Gambar 3. Peta Pembagian Waktu Wilayah Indonesia.
4. Pewilayahan muka bumi berdasarkan tipe vegetasinya, meliputi tipe sebagai berikut.

a. Wilayah hutan hujan tropis
b. Wilayah hutan musim
c. Wilayah hutan desidius
d. Wilayah hutan conifer (hutan berdaun jarum)
e. Tundra
f. Taiga

5. Pewilayahan Negara Indonesia berdasarkan kondisi geologisnya, antara lain sebagai berikut.

a. Wilayah Paparan Sunda (landas kontinen Asia), meliputi Pulau Sumatra, Jawa, dan sebagian Kalimantan.
b. Wilayah Paparan Sahul (landas kontinen Australia), meliputi Pulau Papua dan wilayah di sekitarnya.
c. Wilayah laut dalam ,meliputi daerah di kawasan Indonesia bagian tengah.

6. Pewilayahan daerah bencana, seperti daerah bencana Gunung Batur.
Pewilayahan Bencana Gunung Batur
Gambar 4. Pewilayahan Bencana Gunung Batur. Pewilayahan (regionalisasi) daerah bencana pada kawasan Gunung Batur (Bali).
B. Kaitan Teori Interaksi dan Perencanaan Pembangunan Wilayah

Pada pembahasan mengenai interaksi desa-kota telah dipelajari bahwa interaksi keruangan merupakan suatu hubungan timbal balik (resiprocal relationship) yang saling berpengaruh antara dua wilayah atau lebih yang dapat menimbulkan gejala, kenampakan, atau permasalahan baru. Kuat-lemahnya interaksi sangat dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu adanya wilayah-wilayah yang saling melengkapi (regional complementary), adanya kesempatan untuk berintervensi (intervening opportunity), serta adanya kemudahan transfer atau pemindahan dalam ruang (spatial transfer ability).

Para ahli banyak yang mengembangkan teori interaksi spasial, seperti K.J. Kansky dan W.J. Reilly. Aplikasi teori-teori interaksi dapat diterapkan dalam perencanaan pembangunan. Misalnya, penempatan lokasi pusat pelayanan masyarakat, pembangunan prasarana transportasi yang dapat membuka keterasingan suatu wilayah dari wilayah lain, dan kemajuan informasi serta teknologi.


Contoh Soal 1 :

Pemilihan lokasi industri yang didasarkan pada biaya angkutan terendah dikemukakan kali pertama oleh ....

a. Alfred Weber
b. Everett Lee
c. Christaller
d. Von Thumen
e. August Losh

Kunci Jawaban :

Pemilihan lokasi industri yang didasarkan pada biaya angkutan terendah dikemukakan kali pertama oleh Alfred Weber. Jawab: a.

Beberapa contoh teori interaksi keruangan antara lain Model Gravitasi, Teori Titik Henti, dan Teori Grafik.

1. Model Gravitasi

Teori Gravitasi kali pertama diperkenalkan dalam disiplin ilmu Fisika oleh Sir Issac Newton (1687). Inti dari teori ini adalah bahwa dua buah benda yang memiliki massa tertentu akan memiliki gaya tarik menarik antara keduanya yang dikenal sebagai gaya gravitasi. Kekuatan gaya tarik menarik ini akan berbanding lurus dengan hasil kali kedua massa benda tersebut dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara kedua benda tersebut. Secara matematis, model gravitasi Newton ini dapat diformulasikan sebagai berikut.


Keterangan :

G = kekuatan gravitasi antara dua benda (cm/det2)
g = tetapan gravitasi Newton, besarnya 6,167 x 10-8 cm3/gram.det2
mA = massa benda A (gram)
mB = massa benda B (gram)
dA.B = jarak antara benda A dan B

Model gravitasi Newton ini kemudian diterapkan oleh W.J. Reilly (1929), seorang ahli geografi untuk mengukur kekuatan interaksi keruangan antara dua wilayah atau lebih. Berdasarkan hasil penelitiannya, Reilly berpendapat bahwa kekuatan interaksi antara dua wilayah yang berbeda dapat diukur dengan memerhatikan faktor jumlah penduduk dan jarak antara kedua wilayah tersebut. Untuk mengukur kekuatan interaksi antar wilayah digunakan formulasi sebagai berikut.


Keterangan :

IA.B = kekuatan interaksi antara wilayah A dan B
k = angka konstanta empiris, nilainya 1
PA = jumlah penduduk wilayah A
PB = jumlah penduduk wilayah B
dA.B = jarak wilayah A dan wilayah B

Contoh Soal 2 :

Misalnya ada 3 buah wilayah A, B, dan C, dengan data sebagai berikut.

1. Jumlah penduduk wilayah A = 20.000 jiwa, B = 20.000 jiwa, dan C = 30.000 jiwa.
2. Jarak antara A ke B = 50 km, dan B ke C = 100 km.
3.
Jarak antara A ke B
Ditanyakan :
  1. Manakah dari ketiga wilayah tersebut yang lebih kuat interaksinya?
  2. Apakah antara wilayah A dan B atau antara B dan C ?
Diketahui:

PA = 20.000 jiwa
PB = 20.000 jiwa
PC = 30.000 jiwa
dA.B = 50 km
dB.C = 100 km
k = 1

Kunci Jawaban :

(1) Perhitungan kekuatan interaksi antara wilayah A dan B sebagai berikut.

 
maka,




(2) Perhitungan kekuatan interaksi antara wilayah B dan C sebagai berikut.


maka,




(3) Perbandingan kekuatan interaksi wilayah A dan B dengan wilayah B dan C adalah 160.000 : 60.000 atau 8 : 3. Berdasarkan perbandingan tersebut, potensi penduduk untuk mengadakan interaksi terjadi lebih kuat antara wilayah A dan B jika dibandingkan antara wilayah B dan C.
interaksi terjadi lebih kuat antara wilayah A dan B jika dibandingkan antara wilayah B dan C

Keterangan : 

Tanda panah menunjukkan tingkat interaksi dan perbandingan kekuatan potensi interaksi.

Perbandingan potensi interaksi antarwilayah dengan me manfaatkan formula yang dikemukakan Reilly ini dapat diterapkan jika kondisi wilayah-wilayah yang dibandingkan memenuhi persyaratan tertentu.

Adapun persyaratan tersebut antara lain sebagai berikut.

a) Kondisi sosial-ekonomi, tingkat pendidikan, mata pencarian, mobilitas, dan kondisi sosial-budaya penduduk setiap wilayah yang dibandingkan relatif memiliki kesamaan.
b) Kondisi alam setiap wilayah relatif sama, terutama berkaitan dengan kondisi topografinya.
c) Keadaan sarana dan prasarana transportasi yang menghubungkan wilayah-wilayah yang dibandingkan relatif sama.

Ketiga persyaratan tersebut berdasarkan kenyataan bahwa secara teoritis potensi wilayah A untuk berinteraksi dengan wilayah B cenderung jauh lebih besar dibandingkan antara wilayah B dan C. Namun, jika kondisi prasarana transportasi yang menghubungkan wilayah B dan C jauh lebih baik jika dibandingkan antara A dan B, tetap saja potensi interaksi antara B dan C akan jauh lebih besar. Demikian pula halnya dengan persyaratan lainnya, yaitu kondisi kependudukan dan topografi dari suatu wilayah.

Geografia :


Model gravitasi adalah suatu analisis atau kajian kesamaan dari suatu wilayah. Model ini digunakan untuk penelaahan dan upaya memprediksikan lingkungan di dua wilayah yang berbeda. (Sumber: Terjemahan Geography Dictionary, 1999)

Suatu pusat lokasi industri penempatannya harus berdekatan dengan lokasi penyediaan bahan baku untuk mengurangi biaya produksi dan menekan biaya operasional. (Sumber: Geography Dictionary, 1999)

2. Teori Titik Henti (Breaking Point Theory)

Teori Titik Henti (Breaking Point Theory) merupakan hasil modifikasi dari Model Gravitasi Reilly. Teori ini memberikan gambaran tentang perkiraan posisi garis batas yang memisahkan wilayah-wilayah perdagangan dari dua kota atau wilayah yang berbeda jumlah dan komposisi penduduknya. Teori Titik Henti juga dapat digunakan dalam memperkirakan penempatan lokasi industri atau pusat pelayanan masyarakat. Penempatan dilakukan di antara dua wilayah yang berbeda jumlah penduduknya agar terjangkau oleh penduduk setiap wilayah.

Menurut teori ini jarak titik henti (titik pisah) dari lokasi pusat perdagangan (atau pelayanan sosial lainnya) yang lebih kecil ukurannya adalah berbanding lurus dengan jarak antara kedua pusat perdagangan. Namun, berbanding terbalik dengan satu ditambah akar kuadrat jumlah penduduk dari kota atau wilayah yang penduduknya lebih besar dibagi jumlah penduduk kota yang lebih sedikit penduduknya. Formulasi Teori Titik Henti adalah sebagai berikut.


Keterangan :

DAB = jarak lokasi titik henti, diukur dari kota atau wilayah yang jumlah penduduknya lebih kecil (dalam hal ini kota A)
dAB = jarak antara kota A dan B
PA = jumlah penduduk kota yang lebih kecil (kota A)
PB = jumlah penduduk kota yang lebih besar (kota B)

Contoh Soal 3 :

Kota A memiliki jumlah penduduk 20.000 jiwa, sedangkan kota B 30.000 jiwa. Jarak antara kedua kota tersebut adalah 100 kilometer. Di manakah lokasi pusat perdagangan yang tepat dan strategis agar terjangkau oleh penduduk setiap kota tersebut?

Diketahui :

dA.B = 100 km
PA = 20.000 jiwa
PB = 30.000 jiwa
k = 1

Ditanyakan : titik henti?

Kunci Jawaban :


maka,




DAB = 44,9 km, diukur dari kota A (jumlah penduduknya lebih sedikit).
Lokasi penempatan pusat perdagangan
lokasi ideal penempatan lokasi industri
= lokasi ideal penempatan lokasi industri sehingga terjangkau oleh penduduk dari kota A maupun B.


Berkaitan dengan perencanaan pembangunan wilayah, Model Gravitasi dan Teori Titik Henti dapat dimanfaatkan sebagai salah satu pertimbangan faktor lokasi. Model Gravitasi dan Teori Titik Henti dapat dimanfaatkan untuk merencanakan pusat-pusat pelayanan masyarakat, seperti pusat perdagangan (pasar, super market, bank), kantor pemerintahan, sarana pendidikan dan kesehatan, lokasi industri, ataupun fasilitas pelayanan jasa masyarakat lainnya.

Geografia :

Geografi regional merupakan bagian dari kajian geografi wilayah dengan segala ruang lingkupnya. Dalam kajian geografi regional sangat menentukan karakteristik dari suatu wilayah. (Sumber: Geography Dictionary, 2000)

3. Teori Grafik

Salah satu faktor yang mendukung kekuatan dan intensitas interaksi antarwilayah adalah kondisi prasarana transportasi yang menghubungkan suatu wilayah dengan wilayah lain di sekitarnya. Jumlah dan kualitas prasarana jalan, baik jalan raya, jalur udara, maupun laut, tentunya sangat memperlancar laju dan pergerakan distribusi manusia, barang, dan jasa antarwilayah. Anda tentu sependapat bahwa antara satu wilayah dan wilayah lain senantiasa dihubungkan oleh jalur-jalur transportasi sehingga membentuk pola jaringan transportasi. Tingkat kompleksitas jaringan yang menghubungkan berbagai wilayah merupakan salah satu indikasi kuatnya arus interaksi.

Sebagai contoh, dua wilayah yang dihubung kan dengan satu jalur jalan tentunya memiliki kemungkinan hubungan penduduknya jauh lebih kecil dibandingkan dengan dua wilayah yang memiliki jalur transportasi yang lebih banyak.

Untuk menganalisis potensi kekuatan interaksi antarwilayah ditinjau dari struktur jaringan jalan sebagai prasarana transportasi, K.J. Kansky mengembangkan Teori Grafik dengan membandingkan jumlah kota atau daerah yang memiliki banyak rute jalan sebagai sarana penghubung kota-kota tersebut. Menurut Kansky, kekuatan interaksi ditentukan dengan Indeks Konektivitas. Semakin tinggi nilai indeks, semakin banyak jaringan jalan yang menghubungkan kota-kota atau wilayah yang sedang dikaji. Hal ini tentunya berpengaruh terhadap potensi pergerakan manusia, barang, dan jasa karena prasarana jalan sangat memperlancar tingkat mobilitas antarwilayah. Untuk menghitung indeks konektivitas ini digunakan rumus sebagai berikut.


Keterangan :

β = indeks konektivitas
e = jumlah jaringan jalan
v = jumlah kota

Contoh Soal 4 : 

Bandingkan indeks konektivitas dua wilayah berikut ini.
indeks konektivitas dua wilayah

Diketahui :

Wilayah A: e = 9, v = 6
Wilayah B: e = 10, v = 7

Ditanyakan: indeks konektivitas (β)?

Kunci Jawaban :

(1) Wilayah A

a) jumlah kota (v) = 6
b) jumlah jaringan jalan (e) = 9



β = 1,5

(2) Wilayah B

a) jumlah kota (v) = 7
b) jumlah jaringan jalan (e) = 10



β = 1,4

(3) Jadi, dilihat dari konektivitasnya, potensi interaksi antarkota di wilayah A lebih tinggi jika dibandingkan wilayah B. Hal tersebut terjadi dengan catatan kondisi alam, sosial serta kualitas prasarana jalan antara kedua wilayah relatif sama. Dalam kaitannya dengan perencanaan pembangunan wilayah, analisis indeks konektivitas dapat dijadikan salah satu indikator dan pertimbangan untuk merencanakan pembangunan infrastruktur jalan serta fasilitas transportasi lainnya. Dengan analisis indeks konektivitas dapat meningkat kan hubungan suatu wilayah dengan wilayah-wilayah lainnya, serta memperlancar arus pergerakan manusia, barang, dan jasa yang pada akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Geografika :

Alfred Weber

Alfred Weber mengembangkan teori lokasi yang dikemukakan pada tulisannya yang berjudul The Theory of Industrial Location (1909). Weber membedakan antara biaya transportasi bahan mentah dari sumber bahan mentah ke lokasi industri dan ke tempat penjualan. (Sumber: Studi Geografi: Suatu Pendekatan dan Analisa Keruangan, 1981(

C. Pusat-Pusat Pertumbuhan dan Perencanaan Pembangunan Wilayah

1. Pengertian Pusat Pertumbuhan

Pusat pertumbuhan dapat diartikan sebagai suatu wilayah atau kawasan yang pertumbuhannya sangat pesat sehingga dapat dijadikan sebagai pusat pembangunan yang memengaruhi atau memberikan imbas terhadap kawasan-kawasan lain di sekitarnya. Melalui pengembangan kawasan pusat-pusat pertumbuhan ini, diharapkan terjadi proses interaksi dengan wilayah-wilayah lain di sekitarnya. Sebagai contoh, kota Jakarta sebagai ibukota negara Indonesia yang memiliki akselerasi perkembangan dan pembangunan sangat cepat, secara langsung maupun tidak telah mempengaruhi kota-kota satelit yang ada di sekitarnya, yaitu Bogor, Bekasi, dan Tangerang.

Pengembangan kawasan-kawasan yang menjadi pusat pertumbuhan sudah tentu memiliki skala perkembangan wilayah (regional development) yang berbeda-beda. Ada yang berskala nasional, seperti pusat-pusat pertumbuhan di Indonesia tetapi ada pula yang berskala regional, seperti pusat pertumbuhan Jabotabek (Jakarta - Bogor - Tangerang - Bekasi), Segitiga Sijori (Singapura - Johor - Riau), dan Bopunjur (Bogor - Puncak - Cianjur).

2. Teori-Teori Pusat Pertumbuhan

a. Teori Tempat yang Sentral

Teori Tempat yang Sentral (Central Place Theory) kali pertama dikemukakan oleh tokoh geografi berkebangsaan Jerman, Walter Christaller (1933). Christaller mengadakan studi pola persebaran permukiman, desa, dan kota-kota yang berbeda ukuran serta luasnya. Teori Christaller ini kemudian diperkuat oleh seorang ahli ekonomi berkebangsaan Jerman, August Losch (1945).

Christaller mengemukakan Teori Tempat yang Sentral ini didasari oleh keinginannya untuk menjawab tiga pertanyaan yang berhubungan dengan kota atau wilayah, yaitu sebagai berikut.
  1. Apakah yang menentukan banyaknya kota?
  2. Apakah yang menentukan besarnya kota?
  3. Apakah yang menentukan persebaran kota?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, mengemukakan konsep yang disebut jangkauan (range) dan ambang (threshold). Range adalah jarak yang harus ditempuh seseorang untuk mendapatkan barang atau pelayanan jasa dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, sedangkan threshold adalah jumlah minimal penduduk yang diperlukan untuk kelancaran dan kesinambungan suplai barang.

Christaller membayangkan suatu wilayah dataran yang dihuni oleh sejumlah penduduk yang persebarannya merata. Dalam kehidupan sehari-hari, penduduk tersebut memerlukan sejumlah barang dan jasa, antara lain makanan, minuman, aneka barang-barang rumah tangga, keperluan pendidikan, dan pelayanan kesehatan.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup tersebut, penduduk harus pergi ke tempat-tempat yang dapat menyediakan barang dan jasa tersebut. Oleh karena itu, perlu menempuh jarak tertentu dari tempat tinggalnya ke pusat pelayanan yang memenuhi kebutuhan tersebut. Jarak dikenal dengan istilah range. Di lain pihak, pusat-pusat pertokoan atau pelayanan jasa (produsen) yang menyediakan kebutuhan masyarakat sudah barang tentu tidak memiliki keinginan untuk merugi. Mereka harus benar-benar paham, berapa banyak jumlah minimal penduduk (konsumen) yang dibutuhkan bagi kelancaran dan kesinambungan suplai barang atau jasa sehingga tidak mengalami kerugian apalagi sampai mengalami kebangkrutan.

Jumlah minimal penduduk ini dikenal dengan istilah threshold. Pusat pelayanan yang ber-threshold kecil, seperti toko makanan dan minuman tidak memerlukan konsumen terlalu banyak untuk menjual beraneka barang dagangannya karena penduduk senantiasa memerlukan barang-barang konsumsi tersebut setiap hari.
Oleh karena itu, lokasinya dapat ditempatkan sampai ke kota-kota atau wilayah kecil. Sebaliknya pusat pelayanan masyarakat yang ber-threshold tinggi seperti pertokoan yang menjual barang-barang mewah, seperti kendaraan bermotor, barang-barang lux, dan perhiasan.

Oleh karena barang-barang tersebut relatif lebih sulit terjual maka agar barang-barang tersebut dapat laku dalam jumlah yang cukup banyak perlu dilokasikan di tempat-tempat atau kawasan (wilayah) yang cukup sentral. Lokasinya di kota besar yang jaraknya relatif terjangkau penduduk di wilayah sekitarnya dan juga terpenuhi batas minimal jumlah penduduk untuk menjaga kesinambungan suplai barang.

Dari pemikirannya itu muncullah istilah tempat-tempat yang sentral (central place). Menurut teori Christaller ini, suatu pusat aktivitas yang senantiasa melayani berbagai kebutuhan penduduk harus terletak pada suatu lokasi yang sentral, yaitu suatu tempat atau wilayah (kawasan) yang memungkinkan partisipasi manusia dalam jumlah yang maksimum, baik mereka yang terlibat dalam aktivitas pelayanan maupun yang menjadi konsumen dari barang-barang dan jasa tersebut.

Selanjutnya dijelaskan bahwa tempat yang sentral merupakan suatu titik simpul dari suatu bentuk heksagonal (segi enam). Wilayah yang terletak di dalam segi enam itu merupakan daerah-daerah yang penduduknya mampu terlayani oleh tempat yang sentral tersebut.

Tokoh :

Walter Christaller
Walter Christaller

Walter Christaller (1893–1969) adalah seorang tokoh geografi berkebangsaan Jerman yang mencetuskan Teori Tempat yang Sentral pada 1933. Dia mengkaji pola persebaran permukiman, desa dan kota-kota yang berbeda ukuran serta luasnya.

Dalam kenyataan sehari-hari, suatu tempat yang sentral dapat berupa kota-kota besar, rumah sakit, pusat perbelanjaan (pasar), ibu kota provinsi, ibu kota kabupaten, kecamatan, dan sarana pendidikan. Setiap tempat yang sentral tersebut memiliki kekuatan pengaruh untuk menarik penduduk yang tinggal di sekitarnya dengan daya jangkau yang berbeda. Sebagai contoh, ibu kota provinsi mampu menarik wilayah-wilayah kabupaten dan kota, sedangkan ibu kota kabupaten mampu menarik wilayah-wilayah kecamatan yang ada di sekelilingnya. Demikian pula ibu kota kecamatan mampu menarik wilayah-wilayah yang lebih kecil. Hal yang sama juga berlaku bagi pusat pelayanan masyarakat lainnya.
Skema tempat-tempat yang sentral
Gambar 5. Skema tempat-tempat yang sentral.
Keberadaan setiap tempat yang sentral tersebut memiliki pengaruh yang berbeda sesuai dengan besar-kecilnya suatu wilayah, sehingga terjadilah hierarki atau tingkatan tempat yang sentral. Sebagai contoh, hierarki kota sebagai pusat pelayanan masyarakat meliputi ibu kota negara, provinsi, kabupaten atau kota, kecamatan, dan desa (kelurahan).
Hierarki Tempat Sentral
Gambar 6. Hierarki Tempat Sentral Hierarki tempat-tempat sentral yang kawasan pengaruhnya berbeda-beda.
Selain berdasarkan besar-kecilnya wilayah atau pusat pelayanan masyarakat, hierarki tempat yang sentral juga dapat didasarkan atas jenis-jenis pusat pelayanan. Berdasarkan jenisnya, hierarki tempat yang sentral dibedakan menjadi tiga bagian, yaitu sebagai berikut.

1) Tempat Sentral yang Berhierarki 3 (K=3)

Tempat sentral yang berhierarki 3 adalah pusat pelayanan berupa pasar yang senantiasa menyediakan barang-barang konsumsi bagi penduduk yang tinggal di daerah sekitarnya. Hierarki 3 sering disebut sebagai kasus pasar optimal yang memiliki pengaruh 1/3 bagian dari wilayah tetangga di sekitarnya yang berbentuk heksagonal, selain memengaruhi wilayahnya itu sendiri.
Tempat Sentral K-3 Tempat sentral yang berhierarki K-3 sebagai pusat pelayanan masyarakat berupa pasar.
Gambar 7. Tempat Sentral K-3. Tempat sentral yang berhierarki K-3 sebagai pusat pelayanan masyarakat berupa pasar.
2) Tempat Sentral yang Berhierarki 4 (K=4)

Tempat sentral yang berhierarki 4 dinamakan situasi lalu lintas yang optimum, artinya di daerah tersebut dan daerah-daerah di sekitarnya yang terpengaruh tempat sentral itu senantiasa memberikan kemungkinan rute lalu lintas yang paling efisien. Situasi lalu lintas optimum ini memiliki pengaruh ½ bagian dari wilayah-wilayah lain di sekitarnya yang berbentuk segi enam selain mempengaruhi wilayah itu sendiri.
Tempat Sentral K-4 Hierarki tempat yang sentral dengan kawasan pengaruhnya (K-4).
Gambar 8. Tempat Sentral K-4. Hierarki tempat yang sentral dengan kawasan pengaruhnya (K-4).
3) Tempat Sentral yang Berhierarki 7 (K=7)

Tempat sentral yang berhierarki 7 dinamakan situasi administratif yang optimum. Tempat sentral ini memengaruhi seluruh bagian (satu bagian) wilayah-wilayah tetangganya, selain memengaruhi wilayah itu sendiri. Contoh tempat sentral berhierarki 7 antara lain kota yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan.
Tempat Sentral K-7 Hierarki tempat yang sentral dengan kawasan pengaruhnya (K-7).
Gambar 9. Tempat Sentral K-7 Hierarki tempat yang sentral dengan kawasan pengaruhnya (K-7).
Untuk dapat menerapkan teori Christaller dalam suatu wilayah, terdapat dua syarat utama yang harus terpenuhi, yaitu sebagai berikut.
  1. Topografi atau bentuk lahan di wilayah tersebut relatif seragam atau homogen sehingga tidak ada bagian-bagian wilayah yang mendapat pengaruh lereng atau pengaruh lainnya yang berhubungan dengan bentuk muka bumi.
  2. Kehidupan atau tingkat ekonomi penduduk relatif homogen.
b. Teori Kutub Pertumbuhan

Teori Kutub Pertumbuhan (Growth Poles Theory) sering pula dinamakan sebagai Teori Pusat-Pusat Pertumbuhan (Growth Centres Theory). Teori ini kali pertama dikembangkan oleh Perroux sekitar tahun 1955. Ia melakukan pengamatan terhadap proses-proses pembangunan. Menurut Perroux, pada kenyataannya proses pembangunan di mana pun adanya bukanlah merupakan suatu proses yang terjadi secara serentak, tetapi muncul di tempat-tempat tertentu dengan kecepatan dan intensitas yang berbeda satu sama lain. Tempat-tempat atau kawasan yang menjadi pusat pembangunan ini disebut sebagai pusat atau kutub pertumbuhan. Dari wilayah kutub pertumbuhan ini, proses pembangunan akan menyebar ke wilayah-wilayah lain di sekitarnya. Dengan kata lain, kutub pertumbuhan dapat memberikan imbas (trickling down effect) bagi wilayah atau daerah di sekitarnya.

Contoh Soal 5 :


Berbagai unsur di bawah ini adalah faktor lokasi, kecuali ....

a. tanah
b. pasar
c. tenaga kerja
d. transportasi
e. jumlah penduduk

Kunci Jawaban :

Konsep lokasi yang sangat penting dipahami oleh para pengambil kebijaksanaan pembangunan, misalnya untuk pembangunan kawasan industri, pariwisata, permukiman, dan sebagainya. Konsep lokasi untuk kepentingan pembangunan kawasan industri, misalnya mencakup bahan baku, pasar, sumber tenaga kerja, transportasi, dan sumber energi. Jawab: e

3. Pusat-Pusat Pertumbuhan dan Regionalisasi Pembangunan di Indonesia

Penempatan pusat-pusat pertumbuhan yang dilaksanakan oleh Indonesia pada dasarnya merupakan penerapan gabungan dari teori Christaller dan Perroux. Dalam pelaksanaannya, kegiatan pembangunan dipusatkan di wilayah-wilayah tertentu yang menurut hasil pengkajian para ahli diperkirakan sebagai kawasan sentral yang mampu menarik daerah-daerah di sekitarnya. Dari kawasan sentral sebagai pusat pertumbuhan ini, diharapkan proses pembangunan dan hasil-hasilnya akan menjalar ke seluruh wilayah tanah air dan mampu dirasakan oleh segenap penduduk Indonesia sehingga citacita dan tujuan nasional yaitu menciptakan kesejahteraan rakyat dan masyarakat yang adil, makmur, dan merata dapat diwujudkan.

Sistem pembangunan nasional Indonesia telah dicanangkan sejak REPELITA II tahun 1974-1978 yang menyatakan bahwa proses pembangunan nasional dilaksanakan melalui sistem regionalisasi atau pewilayahan, dengan kota-kota utama sebagai kutub atau pusat pertumbuhan, yaitu Jakarta, Medan, Surabaya, dan Ujungpandang. Sejalan dengan pengembangan kota-kota pusat pertumbuhan nasional, wilayah-wilayah pembangunan utama Indonesia dibagi ke dalam empat region atau wilayah utama. Adapun keempat kawasan tersebut adalah sebagai berikut.

1. Wilayah Pembangunan Utama A, dengan pusat pertumbuhan utama adalah Medan. Kawasan ini meliputi wilayah sebagai berikut.

a. Wilayah Pembangunan I, meliputi daerah-daerah Aceh dan Sumatra Utara, yang pusatnya di kota Medan.
b. Wilayah Pembangunan II, meliputi daerah-daerah Sumatra Barat dan Riau, dengan pusatnya di kota Pekanbaru.

2. Wilayah Pembangunan Utama B, dengan pusat pertumbuhan utama adalah Jakarta. Wilayah ini antara lain sebagai berikut.

a. Wilayah Pembangunan III, meliputi daerah-daerah Jambi, Sumatra Selatan, dan Bengkulu, dengan pusat pertumbuhan di kota Palembang.
b. Wilayah Pembangunan IV, meliputi daerah-daerah Lampung, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan pusat pertumbuhan kota Jakarta.
c. Wilayah Pembangunan VI, meliputi daerah Kalimantan Barat, yang pusatnya di kota Pontianak.

3. Wilayah Pembangunan Utama C, dengan pusat pertumbuhan utama adalah Surabaya. Wilayah ini meliputi daerah-daerah sebagai berikut.

a. Wilayah Pembangunan V, meliputi daerah-daerah Jawa Timur dan Bali, yang pusatnya di Surabaya.
b. Wilayah Pembangunan VII, meliputi daerah-daerah Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan, dengan pusat pertumbuhan di kota Balikpapan dan Samarinda.

4. Wilayah Pembangunan Utama D, dengan pusat pertumbuhan utama adalah Ujungpandang. Wilayah ini meliputi daerah-daerah sebagai berikut.

a. Wilayah Pembangunan VIII meliputi daerah-daerah Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara, yang pusatnya berada di Makassar.
b. Wilayah Pembangunan IX, meliputi daerah-daerah Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara, dengan pusatnya di kota Manado.
c. Wilayah Pembangunan X, meliputi daerah-daerah Maluku dan Papua, yang berpusat di kota Sorong.

Untuk dapat memperjelas dan memudahkan Anda mengetahui wilayah pembangunan utama di Indonesia, perhatikan Tabel 1. berikut.

Tabel 1. Regionalisasi Wilayah Pembangunan di Indonesia

No.
Wilayah Pembangunan
Meliputi Daerah
Pusatnya
1.
Wilayah Pembangunan I
Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatra Utara
Medan
2.
Wilayah Pembangunan II
Sumatra Barat dan Riau
Pekanbaru
3.
Wilayah Pembangunan III
Jambi, Sumatra selatan dan Bengkulu
Palembang
4.
Wilayah Pembangunan IV
Lampung, Jakarta, Jawa Barat, Jawa tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta
Jakarta
5.
Wilayah Pembangunan VI
Jawa Timur dan Bali
Surabaya
6.
Wilayah Pembangunan VI
Kalimantan Barat
Pontianak
7.
Wilayah Pembangunan VII
Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan
Balikpapan dan Samarinda
8.
Wilayah Pembangunan VIII
Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara
Makassar
9.
Wilayah Pembangunan IX
Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara
Manado
10.
Wilayah Pembangunan X
Maluku dan Papua
Sorong

Perhatikan Peta berikut mengenai pembagian regionalisasi pembangunan di Indonesia.
Peta Regionalisasi Pembangunan di Indonesia
Gambar 10. Peta Regionalisasi Pembangunan di Indonesia

Sistem regionalisasi pembangunan tersebut pada saat ini kemungkinan mengalami sedikit perubahan, mengingat ada beberapa wilayah di Indonesia yang telah berubah status menjadi provinsi baru, seperti Bangka-Belitung, Banten, Sulawesi Barat, dan Gorontalo.

Wilayah-wilayah pembangunan ini selanjutnya dikembangkan lagi ke dalam skala yang lebih kecil, misalnya tingkat daerah yang terdapat di suatu provinsi. Sebagai contoh, wilayah Pembangunan Jawa Barat dan Banten terbagi menjadi enam kawasan pembangunan daerah. Adapun keenam wilayah pembangunan daerah tersebut antara lain sebagai berikut.

a. Wilayah Pembangunan Jabotabek (Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi) dan sebagian kecil wilayah Sukabumi. Di wilayah ini dikembangkan berbagai aktivitas industri yang tidak ter tampung di wilayah Jakarta.
b. Wilayah Pembangunan Bandung Raya. Wilayah pembangunan daerah ini dikembangkan terutama untuk fungsi pusat aktivitas pemerintahan daerah, pusat pendidikan tinggi, pusat perdagangan daerah, dan pusat industri tekstil. Untuk keperluan tersebut, wilayah perkotaan Bandung perlu dikembangkan, baik luas areal atau wilayahnya maupun kuantitas dan kualitas fasilitasnya. Untuk kebutuhan konservasi dan rehabilitasi lahan kritis dipusatkan di wilayah-wilayah Kabupaten Cianjur, Bandung, Garut, dan Sumedang.
c. Wilayah Pembangunan Priangan Timur, meliputi Kabupaten Tasikmalaya dan Ciamis.
d. Wilayah Pembangunan Karawang, yang meliputi kawasan dataran rendah di pantai utara (Jalur Pantura), seperti Purwakarta, Subang, dan Karawang sebagai pusatnya. Wilayah pembangunan ini dikembangkan sebagai daerah usaha peningkatan produksi pangan, terutama komoditas padi (beras) dan palawija.
e. Wilayah Pembangunan Cirebon dan sekitarnya. Di kawasan pembangunan ini dikembangkan kegiatan industri pengolahan bahan produk agraris, industri petrokimia, pupuk, dan semen. Untuk memperlancar pergerakan barang, pelabuhan Cirebon lebih ditingkatkan kembali fungsinya. Selain itu, pembangunan pelabuhan Cirebon juga dimaksudkan untuk menampung kelebihan arus keluar-masuk barang yang tidak tertampung oleh pelabuhan Tanjung Priok.
f. Wilayah Pembangunan Banten. Wilayah pembangunan ini berpusat di Serang dan Cilegon. Wilayahnya terdiri atas empat zona, yaitu daerah bagian utara diutamakan untuk perluasan dan intensifikasi areal pesawahan teknis, bagian selatan diperuntukkan bagi areal perkebunan dan tanaman buah-buahan. Wilayah Teluk Lada diperuntukkan bagi intensifikasi usaha pertanian, serta daerah Cilegon yang dewasa ini dikembangkan sebagai pusat industri berat, yaitu industri besi baja.

4. Manfaat Pusat Pertumbuhan

Adanya wilayah-wilayah yang menjadi pusat pertumbuhan memberikan kegunaan bagi pemenuhan kebutuhan manusia dan dalam meningkatkan peran sertanya terhadap proses pembangunan bangsa, baik dalam pembangunan fisik dan infrastruktur, serta fasilitas-fasilitas sosial lainnya, dalam sektor ekonomi, dan sosial budaya. Beberapa contoh dampak munculnya wilayah-wilayah yang menjadi pusat pertumbuhan regional, antara lain semakin lancarnya pergerakan barang-barang atau komoditas ekonomi antarwilayah, memberikan peluang kerja bagi penduduk, serta dapat meningkatkan pendapatan penduduk yang pada akhirnya mampu meningkatkan kualitas kesejahteraan masyarakat.

Selain itu, semakin maraknya pusat-pusat pertumbuhan dalam suatu wilayah sudah tentu akan memberikan pengaruh terhadap kondisi sosial masyarakat tersebut. Secara umum masyarakat yang tinggal di suatu kawasan dapat termotivasi untuk bersaing dalam menghadapi berbagai peluang yang ada. Untuk mendapatkan peluang tersebut diperlukan adanya kesiapan, seperti penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, keterampilan, dan kesehatan. Oleh karena itu secara langsung maupun tidak, penduduk akan berusaha secara maksimal dalam mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang memadai.

Rangkuman :

a. Region merupakan objek formal geografi. Region diartikan sebagai suatu bagian di permukaan bumi yang memiliki karakteristik khusus dan tersendiri yang menggambarkan keseragaman (homogenitas).

b. Formal region adalah daerah atau kawasan di muka bumi yang memiliki karakteristik khas sehingga dapat
dibedakan dari wilayah lain di sekitarnya.

c. Nodal region (wilayah fungsional) adalah suatu kawasan yang terdiri atas beberapa pusat wilayah yang berbeda fungsinya.

d. Komponen utama wilayah kota antara lain sebagai berikut.
  1. Nodus merupakan inti atau pusat kota.
  2. Internal area (hinterland), merupakan wilayah sekitar kota, berfungsi memasok segala kebutuhan harian kota.
  3. External area, merupakan jalur penghubung antara kota dan wilayah pemasok kebutuhan (hinterland)
e. Beberapa contoh teori interaksi keruangan antara lain sebagai berikut.

1) Teori gravitasi diperkenalkan Sir Issac Newton pada 1687, kemudian dikembangkan oleh W. J. Reilly (1929) untuk mengukur kekuatan interaksi antar dua wilayah.

Adapun formulasinya sebagai berikut.



IA.B = kekuatan interaksi antara wilayah A dan B
k = angka konstanta empiris, nilainya 1
PA = jumlah penduduk wilayah A
PB = jumlah penduduk wilayah B
dA.B = jarak wilayah A dan wilayah B

2) Teori titik Henti (breaking point theory) formulasinya sebagai berikut.



DAB = jarak lokasi titik henti, diukur dari kota atau wilayah yang jumlah penduduknya lebih kecil (dalam hal ini kota A)
dAB = jarak antara kota A dan B
PA = jumlah penduduk kota yang lebih kecil (kota A)
PB = jumlah penduduk kota yang lebih besar (kota B)


3) Titik Teori Grafik yang dikemukakan K. J. Kansky.

Menurut Kansky, kekuatan interaksi ditentu kan indeks konektivitas. Adapun formulasinya sebagai berikut.


β = indeks konektivitas
e = jumlah jaringan jalan
v = jumlah kota

f.  Beberapa contoh teori pusat pertumbuhan :
  1. Teori Tempat yang Sentral (Central Place Theory);
  2. Teori Kutub Pertumbuhan.
Anda sekarang sudah mengetahui Perencanaan dan Pembangunan Wilayah dan Kota. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Utoyo, B. 2009. Geografi: Membuka Cakrawala Dunia untuk Kelas XII Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah Program Ilmu Pengetahuan Sosial. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, p. 202.

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah secara bijak. Komentar yang tidak sesuai materi akan dianggap sebagai SPAM dan akan dihapus.
Aturan Berkomentar :
1. Gunakan nama anda (jangan anonymous), jika ingin berinteraksi dengan pengelola blog ini.
2. Jangan meninggalkan link yang tidak ada kaitannya dengan materi artikel.
Terima kasih.

Search