Sunday, February 17, 2013

Daftar Nama Candi-candi di Jawa Tengah (Jateng) Bagian Selatan dan Utara

Artikel dan Makalah tentang Daftar Nama Candi-candi di Jawa Tengah (Jateng) Bagian Selatan dan Utara - Berikut ini adalah materi lengkapnya :

1) Candi-candi di Jawa Tengah Bagian Selatan

Candi-candi Jawa Tengah bagian selatan menggambarkan susunan masyarakat yang feodalistik dengan raja sebagai pusat dunia. Candi-candi yang ukurannya lebih kecil mengitari candi utama yang lebih besar. (Baca juga : Candi)

a) Kompleks Candi Roro Jonggrang (Prambanan)

Di sekitar Candi Prambanan ini banyak terdapat candi-candi kecil dan tiga candi induk. Komplek candi ini didirikan atas perintah Raka i Pikatan dan selesai semasa pemerintahan Raja Daksa dari Mataram. Candi Prambanan merupakan candi Hindu karena nama candi-candinya memakai nama dewa-dewa Hindu. Komplek candi ini didirikan di kaki Gunung Merapi.

Catatan Sejarah :

Ada legenda di balik pembangunan Prambanan ini. Menurut cerita rakyat, konon ketika itu ada Raja Boko, seorang raja raksasa yang bertempat di desa Prambanan, yang memiliki puteri cantik bernama Roro Jongrang. Singkat cerita, Bandung Bondowoso, seorang ksatria dari Kerajaan Pengging berhasil mengalahkan Raja Boko dan segera melamar Jonggrang. Roro Jonggrang menerima lamaran tersebut, asal Bondowoso mampu membuat seribu candi dalam semalam. Bondowoso menyanggupi permintaan itu. Dengan bantuan dari makhluk halus, ia mampu mewujudkan keinginan sang gadis. Namun, sebelum candi yang terbuat genap berjumlah 1.000 buah, Roro Jonggrang dengan dibantu rakyat Prambanan segera membunyikan alu dan lesung. Setelah alu dan lesung berbunyi, ayam jantan berkokok. Ini dimaksudkan untuk menipu Bondowoso agar dikira hari telah pagi dan Bondowoso pun terpaksa berhenti bekerja, padahal sudah 999 buah candi tercipta, tinggal satu buah lagi yang belum jadi. Namun, ia mengetahui bahwa Roro Jonggrang telah berlaku licik, ia pun marah dan mengutuk Roro Jonggrang menjadi patung sebagai penggenap jumlah patung menjadi 1.000 buah. Dalam sekejap Roro Jonggrang berubah menjadi patung. Cerita ini tentunya tak pernah terjadi, melainkan hanya legenda orang-orang di sekitar Prambanan. Dan sebetulnya, jumlah candi di Prambanan ini tak mencapai seribu, melainkan hanya 250 buah. Patung Batari Durga Mahisa Suramardhani di dalam Candi Siwa, oleh masyarakat setempat dipercaya sebagai penjelmaan Roro Jonggrang.

b) Candi Kalasan

Candi Kalasan bercorak Mahayana, tingginya 6 meter dengan stupa 52 buah. Candi ini didirikan pada 778 M atas perintah Raka i Panangkaran sebagai persembahan kepada Dewi Tara. Panangkaran sendiri beragama Hindu-Siwa, namun karena ketika itu yang berkuasa atas Mataram adalah Dinasti Syailendra maka agama Buddha pun berkembang pesat di Mataram. Pada Prasasti Kalasan yang ditulis dalam bentuk puisi berbahasa Sansekerta dan huruf Pranagari, disebutkan bahwa para rahib Buddha meminta izin kepada Raja Panangkaran untuk mendirikan tempat suci untuk Dewi Tara. Raja mengabulkannya dan menghadiahkan Desa Kalasan kepada para rahib. Dewi Tara sendiri adalah dewi kasih-sayang dan pelindung bagi umat Budha.

Kalasan yang ditulis dalam bentuk puisi berbahasa Sansekerta dan huruf Pranagari, disebutkan bahwa para rahib Buddha meminta izin kepada Raja Panangkaran untuk mendirikan tempat suci untuk Dewi Tara. Raja mengabulkannya dan menghadiahkan Desa Kalasan kepada para rahib. Dewi Tara sendiri adalah dewi kasih-sayang dan pelindung bagi umat Budha.

c) Candi Borobudur

Candi Borobudur, tingginya mencapai 42 meter, juga merupakan candi Mahayana, terletak di Magelang, utara Yogyakarta. “Borobudur” berasal dari kata“bara” dan “budur”. Bara berasal dari kata wihara atau biara dari Sansekerta yang berarti kuil atau asrama. Sedangkan budur diperkirakan berasal dari kata beduhur yang artinya “di atas”. Jadi, Borobudur dapat diartikan sebagai biara yang ada di atas bukit. Candi ini didirikan sekitar tahun 800-an M atas perintah raja-raja Mataram dari Dinasti Syailendra.

Bentuk dasar candi ini adalah punden berundak-undak, namun disesuaikan dengan filosofi Buddha Mahayana. Borobudur bersusun tiga tingkat, yaitu kamadhatu, rupadhatu, dan arupadhatu dengan relief sepanjang 4 km dan arca Buddha berjumlah lebih dari 500 buah. Pada seluruh dinding Borobudur, terdapat sebelas seri relief yang memuat kurang-lebih dari 1.460 buah adegan.

Relief-relief tersebut memuat berbagai kisah: cerita Buddha, surga dan neraka, dan kisah-kisah dari kitab yang terkenal seperti cerita Karmawibhangga. Namun, sebagian relief lain masih belum dapat diartikan ceritanya. Di atas puncak Borobudur ini terdapat sebuah stupa yang paling besar. Di setiap stupa terdapat patung Budha dalam berbagai posisi.

d) Candi Mendut

Candi Mendut terletak 2 km arah selatan dari Candi Borobudur, juga merupakan candi Buddha dan didirikan raja Mataram pertama dari Dinasti Syailendra, Raja Indra. Dengan demikian, usianya lebih tua dari Borobudur. Di dalam candi terdapat tiga patung Sang Buddha. Masing-masing adalah patung Buddha Cakyamurti yang duduk bersila dan bersikap sedang berkotbah; patung Awalokiteswara, yaitu Boddhisatwa penolong manusia; dan patung Maitreya, yaitu Boddhisatwa pembebas manusia di alam akhirat. Awalokiteswara atau Avalokiteshvara adalah patung Buddha dengan amithaba di mahkotanya yang melambangkan dharma, sedangkan Padmapani atau Vajrapani merupakan patung Buddha yang memegang bunga terati merah di tangannya sebagai lambang sangha. Pada dinding candi terdapat relief cerita fabel (cerita dunia binatang).

e) Candi Pawon

Candi ini berada di antara Borobudur dan Mendut, juga bercorak Budha, diperkirakan berasal dari masa yang sama dengan Borobudur-Mendut. Posisi Candi Pawon sejajar dengan letak Borobudur dan Mendut. Bahan dasar candi ini adalah batu andesit. Tubuh candi dihiasi ukiran pohon kalpataru yang dipahat dengan sangat halus. Namun, patung-patung di dalamnya sudah hilang entah ke mana. Di atas pintu masuk, terdapat hiasan bermotif kalamakara, yaitu relief berupa makhluk surga, singa, pohon, dan sukur-sulur bunga teratai. Seluruh badan candi dihiasi dagoba-dagoba.

f) Kompleks Candi Sewu

Komplek Candi Sewu didirikan oleh Raja Indra dari Dinasti Syailendra, merupakan candi Buddha juga, terletak di utara Candi Prambanan, di tapal batas Yogyakarta-Surakarta dan selesai dibangun kira-kira tahun 1098 M. Candi Sewu masih berkaitan dengan Candi Prambanan. Sebagian dari 1.000 candi yang diminta Roro Jonggrang adalah candi-candi yang ada di Sewu. Namun, pendapat tersebut meragukan mengingat Prambanan adalah candi Hindu sedangkan Sewu adalah candi Budha.

Walaupun disebut Candi Sewu namun jumlah candi yang ada tidak mencapai seribu, melainkan hanya 241, terdiri dari satu candi induk, dikelilingi oleh 240 candi perwara (candi kecil) yang tersusun atas empat baris. Pada pintu masuk candi terdapat dua buah arca Dwarapala, yakni arca raksasa yang duduk menjaga pintu dan memegang gada.

g) Kompleks Candi Plaosan

Komplek Candi Plaosan berlokasi di Desa Plaosan, Klaten. Komplek candi ini terdiri atas Plaosan Lor (Utara) dan Plaosan Kidul (Selatan). Kelompok candi utara bentuknya lebih besar dari yang ada di selatan. Berbeda dengan kebanyakan candi yang ada di Jawa Tengah, Candi Plaosan ini menghadap ke barat. Komplek ini didirikan atas perintah Raja Mataram, Raka i Pikatan yang Hindu dan Pramodawardhani (Sri Kaluhunan), istri Raka i Pikatan yang beragama Buddha dari Dinasti Syailendra.

Komplek bagian utara terbagi atas dua halaman dan pada setiap halaman terdapat candi induk. Kedua halaman tersebut dikelilingi oleh tembok dalam dan luar yang jaraknya agak berjauhan. Pada halaman antara kedua tembok keliling itu terdapat 58 candi perwara dan 128 stupa. Tinggi stupanya lebih dari 7 meter.

h) Candi Sukuh

Candi Sukuh merupakan candi Siwa peninggalan Majapahit, terletak di lereng Gunung Lawu, Karanganyar. Pada candi ini terlihat corak Jawa asli yang mendominasi daripada corak Hindu. Relief candi ini sangat sederhana dibanding candi-candi lainnya, tampak kasar, dan terkesan dibuat oleh orang desa yang bukan ahli pahat profesional. Candi ini berbentuk punden berundak-undak.

Dengan demikian, dapat ditarik simpulan: meski agama Hindu Budha memengaruhi kehidupan, namun masyarakat setempat masih menjungjung tinggi roh nenek-moyang. Candi ini memiliki patung dan pahatan berupa lingga (alat kelamin pria) yang berhadapan dengan yoni (alat kelamin perempuan). Inilah candi yang paling erotis yang pernah ada di Jawa. Namun, pembuatan lingga-yoni ini bukan dimaksudkan sebagai seni pornografis, melainkan melambangkan kesuburan, kemakmuran serta cenderung mistis. Di sisi kanan candi terdapat relief pasangan wanita-pria yang menggendong bayi. Candi ini menggambarkan proses persatuan wanita-pria hingga kelahiran manusia.

Di samping relief kesuburan, ada pula relief dan tugu tentang pewayangan, seperti kelahiran Bima, anak kedua Pandawa; Bima sedang membunuh raksasa Kalantaka; cerita Sudamala yang mengisahkan Sadewa bungsu Pandawa yang diikat oleh Dewi Durga di sebatang pohon.

i) Candi Sajiwan

Candi Sajiwan terletak di selatan Prambanan, merupakan candi Buddha, didirikan sebagai tempat pendarmaan Rakryan Sanjiwana. Sanjiwana merupakan nama lain dari Sri Pramodawardhani, anak Samaratungga yang menikah dengan Raka i Pikatan Raja Mataram. Candi ini sekarang tinggal pondasinya saja.

j) Candi Lumbung

Candi Lumbung terletak di selatan Candi Sewu namun bentuknya lebih kecil, bercorak Buddha. Candi ini terdiri atas candi pusat yang dikelilingi enam belas candi berbentuk persegi empat. Atapnya kini telah runtuh.

k) Candi Sari

Candi Sari disebut juga Candi Bendah, merupakan candi Budha, lokasinya tak jauh dari Candi Kalasan; dibangun bersamaan dengan Candi Kalasan, terlihat dari arsitekturnya yang tak jauh beda. Di depan pintu masuk terdapat dua raksasa (Dwarapala) yang memegang gada dan ular sebagai penjaga candi. Candi Sari ini merupakan wihara dengan panjang 17,32 m dan lebar 10 m.

2) Candi-candi di Jawa Tengah bagian utara

Corak candi Jawa Tengah bagian utara mengambarkan susunan masyarakat demokratis. Kedemokratisan ini terlihat dari tak ada candi yang mencolok melebihi candi lainnya.

a) Kompleks Candi Dieng

Komplek Candi Dieng berdiri di dataran tingggi Dieng, Wonosobo, dibangun oleh Wangsa Sanjaya dari Mataram pada abad ke-8 hingga ke-9 M. Candi-candi yang ada di komplek ini bercorak Hindu dan merupakan tempat ziarah raja-raja Mataram. Nama-nama candi yang terdapat di komplek ini semuanya diambil dari dunia pewayangan, seperti Puntadewa, Bima, Arjuna, Gatotkaca, Semar, Sumbadra, dan Srikandi.

b) Kompleks Candi Gedong Songo

Komplek ini terletak di lereng Gunung Ungaran, Ambarawa, didirikan pada abad ke-7 sampai ke-8 M oleh Sanjaya sebagai penghormatan terhadap Dewa Trimurti umat Hindu, khususnya Siwa. Candi-candi di komplek ini berjumlah sembilan (songo dalam bahasa Jawa). Bangunan ini termasuk candi tertua yang ada di Jawa.

c) Candi Canggal

Candi Canggal ini ditemukan di daerah Sleman dan didirikan semasa pemerintah Raja Sanjaya dari Mataram. Pada candi inilah terdapat Prasasti Canggal yang menceritakan asal-usul Dinasti Sanjaya.

Anda sekarang sudah mengetahui Candi di Jawa Tengah. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Suwito, T. 2009. Sejarah : Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA) Kelas XI. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 368.

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah secara bijak. Komentar yang tidak sesuai materi akan dianggap sebagai SPAM dan akan dihapus.
Aturan Berkomentar :
1. Gunakan nama anda (jangan anonymous), jika ingin berinteraksi dengan pengelola blog ini.
2. Jangan meninggalkan link yang tidak ada kaitannya dengan materi artikel.
Terima kasih.

Search