Sunday, February 17, 2013

Kakawin / Kitab Sutasoma, Isi/Cerita Pengarang, Hindu Budha, Sejarah, Peninggalan

Artikel dan Makalah tentang Kakawin / Kitab Sutasoma, Isi/Cerita Pengarang, Hindu Budha, Sejarah, Peninggalan - Kitab lainnya, Sutasoma karya Mpu Tantular, berbahasa Kawi, diperkirakan ditulis pada masa Hayam Wuruk. Dalam kitab ini dikisahkan bahwa Sang Budha menitis sebagai Raden Sutasoma, putera Prabu Mahaketu, Raja Hastina. Sutasoma merupakan penganut Mahayana yang saleh. Karena tak ingin dipaksa kawin, ia kabur dari istana. Dalam pelariannya menuju Gunung Himalaya, ia berhenti di sebuah candi di dalam hutan dan memutuskan untuk bertapa. Para pendeta di sekitarnya kemudian mengadu kepada Sutasoma bahwa ada raja raksasa bernama Purusada yang selalu mengganggu mereka. Namun Sutasoma menolak untuk membunuh raksasa tersebut. (Baca juga : Kitab Hindu Budha)

Selanjutnya Sutasoma melihat seekor harimau hendak memakan anaknya sendiri. Ia lalu menawarkan diri untuk menggantikan anak harimau. Alhasil, Sutasoma mati dimakan harimau, namun kemudian hidup kembali berkat pertolongan Batara Indra. Lalu Sutasoma, menjelma menjadi Buddha Wairocana. Ketika hendak pulang ke Hastina, ia melihat saudara sepupunya, Prabu Dasabahu dikejar-kejar pasukan raksasa Purusada. Singkat cerita, Sutasoma menjadi raja di Hastina.

Sementara itu, Purusada yang berjanji akan mengirimkan 100 orang raja kepada Batara Kala untuk dimakan, telah berhasil menawan 99 orang raja. Batara Kala telah berjanji bahwa bila keinginannya terkabul, maka luka di kaki Purusada akan diobati olehya. Setelah tawanan berjumlah genap 100 orang, Batara Kala menolaknya karena ia ingin memakan daging Sutasoma. Sutasoma kemudian menyanggupi permintaan Kala dengan syarat agar ke-100 tawanan dibebaskan semuanya. Pengorbanannya ini menimbulkan rasa haru dalam diri Batara Kala dan Purusada. Sejak saat itu, Purusada bertobat dan berjanji tidak akan menangkap manusia lagi.

Kisah Sutasoma menjelaskan nilai pengorbanan dan belas kasih antar sesama yang sepatutnya dijalankan oleh seorang Boddhisattva guna mencapai kesempurnaan sejati yang menjadi ciri ajaran Mahayana. Oleh karena itu, Mpu Tantular membuat ajaran Siwa dan Buddha menjadi satu (tunggal), seperti terungkap dalam kalimat: “Hyang Buddha tanpahi Siwa rajadewa…, mangka Jinatwa lawan Siwatatwa tunggal, bhinneka tunggal ika tanhana dharmma mangrwa,” yang artinya adalah “Hyang Budha tak ada bedanya dengan Siwa, raja para dewa…., karena hakikat Jina (Budha) dan Siwa adalah satu, berbeda-beda namun satu, tiada kebenaran bermuka dua.”

Anda sekarang sudah mengetahui Kitab Sutasoma. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Suwito, T. 2009. Sejarah : Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA) Kelas XI. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 368.

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah secara bijak. Komentar yang tidak sesuai materi akan dianggap sebagai SPAM dan akan dihapus.
Aturan Berkomentar :
1. Gunakan nama anda (jangan anonymous), jika ingin berinteraksi dengan pengelola blog ini.
2. Jangan meninggalkan link yang tidak ada kaitannya dengan materi artikel.
Terima kasih.

Search