Saturday, February 23, 2013

Kerajaan Medang Kamulan (Kahuripan) : Sejarah, Peninggalan, Raja, Prasasti, Perkembangan, Sistem Politik, Militer, Ketatanegaraan, Runtuhnya, Kemunduran

Artikel dan Makalah tentang Kerajaan Medang Kamulan (Kahuripan) : Sejarah, Peninggalan, Raja, Prasasti, Perkembangan, Sistem Politik, Militer, Ketatanegaraan, Runtuhnya, Kemunduran - Medang Kamulan dapat dikatakan sebagai kelanjutan Mataram karena ia tak lain adalah ibukota Mataram. Nama kamulan bisa dianggap sebagai perubahan kata “kamulyaan” atau “kemulian”. Namun, sebagian ahli berpendapat, Medang Kamulan adalah ibukota Kediri atau Jenggala. Adapula yang menyebutnya Kerajaan Kahuripan.

Baca Juga :
  1. Kemunduran Kerajaan Hindu Budha di Indonesia
  2. Sistem Kehidupan Sosial dan Ekonomi Masyarakat Kerajaan Medang Kamulan (Kahuripan)
Pada masa Medang Kamulan inilah terjadi perpindahan kekuasaan politik dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, setelah Mataram hancur karena letusan Gunung Merapi. Pergeseran peta kekuasaan ini pada perkembangannya sangat menentukan sejarah perpolitikan di Jawa khususnya. Medang Kamulan dibangun oleh keturunan raja Mataram. Namanya Mpu Sindhok, pendiri Dinasti Isana. Dinasti Isana ini memerintah Medang Kamulan selama satu abad sejak 929 M.

Ada dua prasasti yang mengisahkan Medang Kamulan, yakni Prasasti Mpu Sindhok, menceritakan masa pemerintahan Mpu Sindhok; dan Prasasti Kalcutta, menceritakan awal mula silsilah Dinasti Isana sampai zaman pemerintahan Airlangga. Mpu Sindhok bergelar Sri Maharaja Raka i Hino Sri Isana Wikrama Dharmatunggadewa. Raja ini memerintah selama 20 tahun. Ia memiliki seorang permaisuri, bernama Sri Wardhani Pu Kbin. Menurut berita prasasti, Sindhok memerintah dengan adil dan rakyatnya makmur.

Salah satunya prestasi Sindhok adalah membangun sebuah bendungan sebagai tanggul dan menanami bendungan tersebut dengan ikan. Meski beragama Hindu-Siwa, Mpu Sindhok bertoleransi terhadap agama Buddha. Salah satu kitab umat Buddha berjudul Sang Hyang Kamahayanikan diterbitkan pada masa pemerintahannya.

Mpu Sindhok digantikan Sri Isana Tunggawijaya, puteranya. Setelah Tunggawijaya, Medang Kamulan diperintah oleh Dharmawangsa Teguh, cucu Mpu Sindhok. Dharmawangsa Teguh adalah raja Medang Kamulan yang paling tersohor. Semasa pemerintahannya, Teguh berusaha meningkatkan kesejahteraan rakyatnya dengan mengembangkan pertanian dan perdagangan.

Namun, usahanya ini terhambat oleh Sriwijaya yang ingin menguasai perdagangan Jawa dan Sumatera. Untuk merebut perairan Selat Malaka dari dominasi pedagang-pedagang Sriwijaya, Teguh mengirimkan tentaranya pada 1003 M, namun tidak berhasil. Bahkan Sriwijaya mampu memukul balik Medang Kamulan. Kekalahan Medang Kamulan atas Sriwijaya ini bermula dari pemberontakan penguasa Wurawuri. Awalnya, Wurawuri merupakan kerajaan kecil bawahan Medang Kamulan.

Namun karena dihasut orang-orang Sriwijaya, raja Wurawuri nekad mengudeta pemerintahan Medang Kamulan. Gerakan Wurawuri ini terjadi ketika di Medang Kamulan sedang dilangsungkan pesta pernikahan Airlangga dengan puteri Dharmawangsa Teguh. Airlangga adalah putera Raja Bali Udayana dengan Mahendradatta (saudari Dharmawangsa Teguh). Peristiwa berdarah ini dinamai Pralaya Medang. Medang Kamulan hancur dan Dharmawangsa tewas. Pralaya atau perlaya berarti “runtuh” atau “mati”.

Airlangga sendiri berhasil meloloskan diri bersama para pengikutnya yang setia, Narottama. Dalam pelariannya, Airlangga diterima oleh para brahmana yang bersimpati. Kemudian, Airlangga digembleng oleh para brahmana itu. Airlangga lalu dinobatkan menjadi raja Medang Kamulan pada 1019 M, pusat pemerintahan pun beralih ke Kahuripan. Sebagai mantu sekaligus kemenakan Dharmawangsa, Airlangga merasa berkewajiban mengembalikan kewibawaan Medang Kamulan. Ia berhasil menaklukkan raja-raja yang dulu merupakan bawahan Medang. Raja Bisaprabhawa ditaklukkan tahun 1029, Raja Wijayawarman dari Wengker ditundukkan tahun 1030, Raja Adhamapanuda ditaklukkan tahun 1031. Raja Wurawari, musuh bebuyutannya, ditaklukkan tahun 1035.

Setelah menundukkan raja-raja kecil itu, Airlangga memindahkan ibukota ke wilayah Kahuripan di Jawa Timur. Ia juga memperbaiki Pelabuhan Hujung Galuh di muara Sungai Brantas. Pada masa Airlangga, Pelabuhan Tuban (Kembang Putih) dan Hujung Galuh merupakan pelabuhan dagang yang ramai. Dua pelabuhan ini merupakan tempat transit dan bertemunya para pedagang pribumi dengan pedagang mancanegara, seperti dari India, Birma, Kamboja, dan Campa.

Setelah menjadi raja, Airlangga tidak melupakan jasa-jasa para brahmana yang telah menggembengnya dulu. Sebagai balas jasa, ia membangun candi dan asrama sebagai tempat beribadah para brahmana di daerah Pucangan. Tak lupa pula, Airlangga membangun Waduk Waringin Sapta sebagai pencegah banjir dan mengairi lahan pertanian. Ia pun membangun jalan-jalan yang menghubungkan daerah pesisir pantai ke pusat Kerajaan. Berkatnyalah, Medang Kamulan mencapai keemasannya. Kisah hidup Airlangga kemudian dituturkan dalam Kitab Arjuna Wiwaha karya Mpu Kanwa.

Airlangga memutuskan mundur sebagai raja. Ia memilih menjadi seorang pertapa dengan sebutan Resi Gentayu. Ia meninggal pada 1049 M dan disemayamkan di Gunung Penanggungan, di sekitar Komplek Candi Belahan. Pewaris tahta Medang Kamulan seharusnya adalah puteri Airlangga yang lahir dari permaisuri, yakni Sri Sanggramawijaya. Namun, karena Sanggramawijaya juga memilih hidup menjadi pertapa, tahta beralih kepada putera Airlangga dari selir. Untuk mencegah kemungkinan perang saudara, Mpu Bharada, seorang petinggi istana, membagi Medang Kamulan menjadi dua; Panjalu (disebut juga Kediri) dan Janggala. Panjalu diberikan kepada Samarawijaya dengan ibu kota Daha, sementara Jenggala diberikan kepada Panji Garasakan dengan ibu kota Kahuripan. Wilayah Jenggala meliputi hampir sebagian Jawa Timur, wilayah Kediri (Panjalu) mencakupi Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah. Dengan demikian, berakhirlah Medang Kamulan dan Dinasti Isana.

Anda sekarang sudah mengetahui Kerajaan Medang Kamulan. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Suwito, T. 2009. Sejarah : Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA) Kelas XI. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 368.

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah secara bijak. Komentar yang tidak sesuai materi akan dianggap sebagai SPAM dan akan dihapus.
Aturan Berkomentar :
1. Gunakan nama anda (jangan anonymous), jika ingin berinteraksi dengan pengelola blog ini.
2. Jangan meninggalkan link yang tidak ada kaitannya dengan materi artikel.
Terima kasih.

Search