Monday, February 25, 2013

Kesultanan / Kerajaan Gowa dan Tallo (Makassar) : Sejarah, Peninggalan, Pendiri, Letak, Peta, Kemunduran, Runtuhnya

Artikel dan Makalah tentang Kesultanan / Kerajaan Gowa dan Tallo (Makassar) : Sejarah, Peninggalan, Pendiri, Letak, Peta, Kemunduran, Runtuhnya - Di Sulawesi Selatan, pada awal abad 16 sudah berdiri kerajaan-kerajaan diantaranya Luwu, Gowa, Wajo, Soppeng, Tallo dan Bone. Namun kerajaan yang memiliki perkembangan yang pesat adalah Gowa dan Tallo, kelak kerajaan ini disebut sebagai kerajaan Makassar dengan ibukota Makassar. (Baca juga : Kerajaan Islam di Indonesia)

Gowa dan Tallo merupakan kerajaan kembar, pada tahun 1603 Gowa menjadi kerajaan Islam Daeng Manrabia masuk Islam dan bergelar Alauddin, Tallo menjadi kerajaan Islam saat Kraeng Matoaya masuk Islam dan bergelar Sultan Abdullah. Wilayahnya meliputi sebagian besar Sulawesi dan bagian timur Nusa Tenggara. Alaudin sangat menentang politik dagang Belanda yang monopoli, karena kebenciannya itu dan membantu rakyat setempat menentang Belanda, berulang kali melakukan penyerbuan ke Maluku.

Setelah Alaudin meninggal, tahta diserahkan kepada Hasanuddin (1654-1660). Usaha ayahnya menentang Belanda dilanjutkannya, bahkan kegigihannya sangat merepotkan. Oleh karena itu Hasanuddin dikenal dengan “Ayam Jantan dari Timur”. Perlawanan Hasanuddin berakhir dengan perjanjian damai dan ia harus turun tahta. Ia digantikan oleh anaknya, Mapasomba.

Belanda berharap Mapasomba dapat bekerja sama, namun sebaliknya, ia meneruskan perjuangan ayahnya. Bone merupakan wilayah kekuasaan Makassar yang dipimpin oleh Aru Palakka (Arung Palakka) menawarkan kerjasama untuk membantu Belanda. Tahun 1666 Belanda berusaha mati-matian menduduki Makassar melalui pertempuran sengit di darat dan di laut. Hingga akhirnya tahun 1667, Belanda dapat menghancurkan Makassar dan memaksa dilakukan Perjanjian Bongaya, yang isinya:

(a) Pengakuan hak monopoli Belanda.
(b) Belanda dapat mendirikan benteng-benteng pertahanan di Makassar.
(c) Makassar melepaskan daerah-daerah kekuasaan.
(d) Aru Palakka diakui sebagai Raja Bone.

Rakyat Makassar marah atas keputusan Perjanjian Bongaya. Perlawanan rakyat Makassar kian berkobar dan berlangsung hampir dua tahun. Banyak pejuang Makassar pergi ke daerah-daerah lain, seperti Banten, Madura, dan sebagainya guna membantu daerah-daerah bersangkutan dalam upaya mengusir VOC. Pejuang tersebut di antaranya Karaeng Galesung, Monte Marano yang membantu perjuangan rakyat di Jawa Timur.

Sementara itu Aru Palaka semakin leluasa untuk menguasai daerah Soppeng dengan pengawasan dan pantauan dari VOC. Setelah perjuangan rakyat Makassar benar-benar padam, Makassar pun jatuh ke tangan VOC secara keseluruhan. Sebutan Makasar sebagai pusat perdagangan bebas, lenyap begitu saja.

Anda sekarang sudah mengetahui Kerajaan Gowa dan Tallo. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Suwito, T. 2009. Sejarah : Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA) Kelas XI. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 368.

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah secara bijak. Komentar yang tidak sesuai materi akan dianggap sebagai SPAM dan akan dihapus.
Aturan Berkomentar :
1. Gunakan nama anda (jangan anonymous), jika ingin berinteraksi dengan pengelola blog ini.
2. Jangan meninggalkan link yang tidak ada kaitannya dengan materi artikel.
Terima kasih.

Search