Monday, February 25, 2013

Kesultanan / Kerajaan Ternate dan Tidore : Sejarah, Peninggalan, Pendiri, Letak, Peta, Kemunduran, Runtuhnya

Artikel dan Makalah tentang Kesultanan / Kerajaan Ternate dan Tidore : Sejarah, Peninggalan, Pendiri, Letak, Peta, Kemunduran, Runtuhnya - Berikut ini adalah materi mengenai Kerajaan Ternate dan Kerajaan Tidore (Baca juga : Kerajaan Islam di Indonesia). Terlebih dahulu akan kita bahas mengenai Kerajaan Ternate dan Tidore secara umum.

1. Kerajaan Ternate dan Tidore [1]

1.1. Kehidupan Politik

Di Maluku yang terletak di antara Sulawesi dan Irian terdapat dua kerajaan, yakni Ternate dan Tidore. Kedua kerajaan ini terletak di sebelah barat pulau Halmahera di Maluku Utara. Kedua kerajaan itu pusatnya masing-masing di Pulau Ternate dan Tidore, tetapi wilayah kekuasaannya mencakup sejumlah pulau di kepulauan Maluku dan Irian. Kerajaan Ternate sebagai pemimpin Uli Lima yaitu persekutuan lima bersaudara dengan wilayahnya mencakup Pulau-pulau Ternate, Obi, Bacan, Seram dan Ambon. Kerajaan Tidore sebagai pemimpin Uli Siwa, artinya persekutuan Sembilan (persekutuan sembilan saudara) wilayahnya meliputi Pulau-Pulau Makyan, Jailolo, atau Halmahera, dan pulau-pulau di daerah itu sampai dengan Irian Barat. Antara keduanya saling terjadi persaingan dan persaingan makin tampak setelah datangnya bangsa Barat.

Bangsa Barat yang pertama kali datang di Maluku ialah Portugis (1512) yang kemudian bersekutu dengan Kerajaan Ternate. Jejak ini diikuti oleh bangsa Spanyol yang berhasil mendarat di Maluku 1521 dan mengadakan persekutuan dengan Kerajaan Tidore. Dua kekuatan telah berhadapan, namun belum terjadi pecah perang. Untuk menyelesaikan persaingan antara Portugis dan Spanyol, maka pada tahun 1529 diadakan Perjanjian Saragosa yang isinya bangsa Spanyol harus meninggalkan Maluku dan memusatkan kekuasaannya di Filipina dan bangsa Portugis tetap tinggal Maluku. Untuk memperkuat kedudukannya di Maluku, maka Portugis mendirikan benteng Sao Paulo. Menurut Portugis, benteng ini dibangun untuk melindungi Ternate dari serangan Tidore. Tindakan Portugis di Maluku makin merajalela yakni dengan cara melakukan monopoli dalam perdagangan, terlalu ikut campur tangan dalam urusan dalam negeri Ternate, sehingga menimbulkan pertentangan. Salah seorang Sultan Ternate yang  menentang ialah Sultan Hairun (1550-1570). Untuk menyelesaikan pertentangan, diadakan perundingan antara Ternate (Sultan Hairun) dengan Portugis (Gubernur Lopez de Mesquita) dan perdamaian dapat dicapai pada tanggal 27 Februari 1570. Namun perundingan persahabatan itu hanyalah tipuan belaka. Pada pagi harinya (28 Februari) Sultan Hairun mengadakan kunjungan ke benteng Sao Paulo, tetapi ia disambut dengan suatu pembunuhan.

Atas kematian Sultan Hairun, rakyat Maluku bangkit menentang bangsa Portugis di bawah pimpinan Sultan Baabullah (putra dan pengganti Sultan Hairun). Setelah dikepung selama 5 tahun, benteng Sao Paulo berhasil diduduki (1575). Orang-orang Portugis yang menyerah tidak dibunuh tetapi harus meninggalkan Ternate dan pindah ke Ambon. Sultan Baabullah dapat meluaskan daerah kekuasaannya di Maluku. Daerah kekuasaannya terbentang antara Sulawesi dan Irian; ke arah timur sampai Irian, barat sampai pulau Buton, utara sampai Mindanao Selatan (Filipina), dan selatan sampai dengan pulau Bima (Nusa Tenggara), sehingga ia mendapat julukan "Tuan dari tujuh pulau dua pulau".

Pada abad ke-17, bangsa Belanda datang di Maluku dan segera terjadi persaingan antara Belanda dan Portugis. Belanda akhirnya berhasil menduduki benteng Portugis di Ambon dan dapat mengusir Portugis dari Maluku (1605). Belanda yang tanpa ada saingan kemudian juga melakukan tindakan yang sewenang-wenang, yakni:
  1. Melaksanakan sistem penyerahan wajib sebagian hasil bumi (rempah-rempah) kepada VOC (contingenten).
  2. Adanya perintah penebangan/pemusnahan tanaman rempah-rempah jika harga rempah-rempah di pasaran turun (hak ekstirpasi) dan penanaman kembali secara serentak apabila harga rempah-rempah di pasaran naik/meningkat.
  3. Mengadakan pelayaran Hongi (patroli laut), yang diciptakan oleh Frederick de Houtman (Gubernur pertama Ambon) yakni sistem perondaan yang dilakukan oleh VOC dengan tujuan untuk mencegah timbulnya perdagangan gelap dan mengawasi pelaksanaan monopoli perdagangan di seluruh Maluku.
Tindakan-tindakan penindasan tersebut di atas jelas membuat rakyat hidup tertekan dan menderita, sebagai reaksinya rakyat Maluku bangkit mengangkat senjata melawan VOC. Pada tahun 1635-1646 rakyat di kepulauan Hitu bangkit melawan VOC dibawah pimpinan Kakiali dan Telukabesi. Pada tahun 1650 rakyat Ambon dipimpin oleh Saidi. Demikian juga di daerah lain, seperti Seram, Haruku dan Saparua; namun semua perlawanan berhasil dipadamkan oleh VOC.

Sampai akhir abad ke-17 tidak ada lagi perlawanan besar; akan tetapi pada akhir abad ke-18 muncul lagi perlawanan besar yang mengguncangkan kekuasaan VOC di Maluku. Jika melawan Portugis, Ternate memegang peranan penting, maka untuk melawan VOC, Tidore yang memimpinnya. Pada tahun 1780 rakyat Tidore bangkit melawan VOC di bawah pimpinan Sultan Nuku. Selanjutnya Sultan Nuku juga berhasil menyatukan Ternate dengan Tidore. Setelah Sultan Nuku meninggal (1805), tidak ada lagi perlawanan yang kuat menentang VOC, maka mulailah VOC memperkokoh kekuasaannya kembali di Maluku. Perlawanan yang lebih dahsyat di Maluku baru muncul pada permulaan abad ke-19 di bawah pimpinan Pattimura.

1.2. Kehidupan Ekonomi

Kehidupan rakyat Maluku yang utama adalah pertanian dan perdagangan. Tanah di kepulauan Maluku yang subur dan diliputi oleh hutan rimba, banyak memberikan hasil berupa cengkih dan pala. Cengkih dan pala merupakan rempah-rempah yang sangat diperlukan untuk ramuan obat-obatan dan bumbu masak, karena mengandung bahan pemanas. Oleh karena itu, rem-pah-rempah banyak diperlukan di daerah dingin seperti di Eropa. Dengan hasil rempah-rempah maka aktivitas pertanian dan perdagangan rakyat Maluku maju dengan pesat.

1.3. Kehidupan Sosial Budaya

Kedatangan Portugis di Maluku yang semula untuk berdagang dan mendapatkan rempah-rempah, juga menyebarkan agama Katolik. Pada tahun 1534 missionaris Katolik, Fransiscus Xaverius telah berhasil menyebarkan agama Katolik di Halmahera, Ternate, dan Ambon. Telah kita ketahui bahwa sebelumnya di Maluku telah berkembang agama Islam. Dengan demikian kehidupan agama telah mewarnai kehidupan sosial masyarakat Maluku. Dalam kehidupan budaya, rakyat Maluku diliputi aktivitas perekonomian, maka tidak banyak menghasilkan budaya. Salah satu karya seni bangun yang menjadi peninggalan kerajaan ternate adalah yang terkenal ialah Istana Sultan Ternate dan Masjid kuno di Ternate.

2. Kerajaan Ternate [2]

Pada abad ke-13 di Maluku sudah berdiri Kerajaan Ternate. Ibu kota Kerajaan Ternate terletak di Sampalu (Pulau Ternate). Selain Kerajaan Ternate, di Maluku juga telah berdiri kerajaan lain, seperti Jaelolo, Tidore, Bacan, dan Obi. Di antara kerajaan di Maluku, Kerajaan Ternate yang paling maju. Kerajaan Ternate banyak dikunjungi oleh pedagang, baik dari Nusantara maupun pedagang asing.

2.1. Bidang Politik

Menurut catatan orang Portugis, Raja Maluku yang mula-mula memeluk agama Islam adalah Raja Ternate, Gapi Baguna atau Sultan Marhum yang tertarik masuk Islam karena menerima dakwah dari Datuk Maulana Husin. Sultan Marhum memerintah Ternate tahun 1465–1485. Setelah mangkat, ia digantikan oleh putranya, Zainal Abidin. Pada tahun 1495, Zainal Abidin mewakilkan pemerintahan kepada keluarganya karena ingin memperdalam pengetahuan agama Islam kepada Sunan Giri. Setelah kembali ke Ternate, Zainal Abidin dengan giat menyebarkan agama Islam ke pulau-pulau di sekitarnya, bahkan sampai ke Filipina Selatan. Zainal Abidin memerintah hingga tahun 1500.

Setelah Sultan Zainal Abidin mangkat, pemerintahan di Ternate berturut-turut dipegang oleh Sultan Sirullah, Sultan Hairun, dan Sultan Baabullah. Pada masa pemerintahan Sultan Hairun, di Maluku kedatangan bangsa Barat, seperti bangsa Portugis, Spanyol, dan Belanda. Bangsa Portugis yang pertama kali menjalin hubungan dagang. Portugis memaksa melakukan monopoli perdagangan. Tentu saja hal itu ditentang Ternate sehingga terjadi perang terbuka. Pada tahun 1575 Sultan Baabullah berhasil mengusir Portugis dari Ternate. Wilayah dan pengaruh Sultan Baabullah sangat luas, meliputi Mindanao, seluruh kepulauan di Maluku, Papua, dan Timor. Bersamaan dengan itu, agama Islam juga tersebar sangat luas. Kerajaan Ternate telah berhasil membangun armada laut yang cukup kuat sehingga mampu melindungi wilayahnya yang cukup luas tersebut.

Hasil kebudayaan yang cukup menonjol dari Kerajaan Ternate adalah keahlian membuat kapal. Hal ini dapat dibuktikan pada saat Raja Ternate ke-12 yang bernama Malomatiya (1350–1357) yang telah bersahabat dengan orang Arab memberikan petunjuk tentang cara membuat kapal. Selain itu, ketika terjadi perang antara Sultan Baabullah dengan Portugis, Ternate mengirim lima buah perahu kora-kora untuk menghancurkan armada Portugis.

2.2. Bidang Sosial Budaya dan Ekonomi Kerajaan Ternate

Perdagangan dan pelayaran mengalami perkembangan yang pesat sehingga pada abad ke-15 telah menjadi kerajaan penting di Maluku. Para pedagang asing datang ke Ternate menjual barang perhiasan, pakaian, dan beras untuk ditukarkan dengan rempah-rempah. Ramainya perdagangan memberikan keuntungan besar bagi perkembangan Kerajaan Ternate sehingga dapat membangun armada laut yang cukup kuat.

2.3. Peninggalan Kerajaan Ternate

Peninggalan Kerajaan Ternate antara lain :

Kompleks Istana dan Makam Kesultanan Ternate
  1. Masjid Agung (jami’) Kesultanan Ternate
  2. Kompleks Makam di Bukit Foramadyahe
  3. Artefak terdiri dari Al-Qur'an, Tempat berdoa, Bendera atau panji-panji, Singgasana/mahkota dll., Tongkat kebesaran, Pedang/tombak/senapan, Topi militer, Baju besi, Tameng/perisai. Koleksi senjata ada yang merupakan buatan lokal dan asing (Portugis, Belanda, Inggris), meliputi juga meriam-meriam berukuran kecil dan sedang termasuk peluru bulatnya. Senjata buatan lokal umumnya berupa pedang, golok, dan tombak, tetapi ada pula buatan asing jenis jenis senjata yang sama dengan senjata lokal.
3. Kerajaan Tidore [3]

Kerajaan Tidore terletak di sebelah selatan Ternate. Menurut silsilah rajaraja Ternate dan Tidore, Raja Ternate pertama adalah Syahadati alias Muhammad Naqal yang naik takhta pada tahun 1081. Baru saat Raja Ternate yang kesembilan, Cirililiyah bersedia memeluk agama Islam berkat dakwah Syekh Mansur dari Arab. Setelah masuk Islam bersama para pembesar kerajaan, Cirililiyah mendapat gelar Sultan Jamalluddin. Putra sulungnya Mansur juga masuk Islam. Agama Islam masuk pertama kali di Tidore pada tahun 1471 (menurut catatan Portugis).

3.1. Bidang Politik Kerajaan Tidore

Ternate berhasil meluaskan wilayahnya dan membentuk Persekutuan Uli Lima dengan anggota Ambon, Bacan, Obi, dan Seram. Kerajaan Tidore juga berhasil memperluas pengaruhnya ke Makayan Halmahera, Pulau Raja Ampat, Kai, dan Papua yang disatukan dalam suatu persekutuan yang disebut Persekutuan Uli Siwa.

Daerah Maluku merupakan penghasil rempah-rempah yang sangat laku di pasaran Eropa. Oleh karena itu, bangsa Eropa banyak yang datang ke Maluku untuk mencari rempah-rempah. Bangsa Eropa yang datang ke Maluku, antara lain Portugis, Spanyol, dan Belanda.

Mula-mula Kerajaan Ternate dan Tidore dapat hidup berdampingan dan tidak pernah terjadi konflik. Namun, setelah kedatangan bangsa Eropa di Maluku mulailah terjadi pertentangan. Kerajaan-kerajaan di Maluku tidak bersatu dalam menghadapi musuh dari luar, tetapi malah bersaing dan saling menjatuhkan.

Pada tahun 1512 bangsa Portugis dan Spanyol memasuki Maluku. Portugis pada saat itu memilih bersahabat dengan Ternate. Spanyol yang datang kemudian bersahabat dengan Sultan Tidore. Sejak saat itulah benih-benih permusuhan mulai timbul.

Pada tahun 1529 Portugis dengan dibantu oleh Ternate dan Bacan menyerang Tidore dan Spanyol. Dalam peperangan itu, Portugis mengalami kemenangan sehingga dapat menguasai perdagangan rempah-rempah di seluruh Maluku. Maluku berhasil dikuasai oleh Portugis. Portugis mulai melakukan tindakan sewenang-wenang terhadap rakyat Maluku. Kedua kerajaan tersebut akhirnya sadar bahwa mereka harus bersatu untuk mengusir penjajahan Portugis di Maluku. Berkat kerja sama kedua kerajaan tersebut, Portugis dapat dikalahkan pada tahun 1574 dan menyingkir ke Ambon. Pada tahun 1605 VOC berhasil mengusir Portugis dari Ambon dan menguasainya. Portugis menyingkir ke Pulau Timor bagian timur dan berkuasa di sana.

3.2. Bidang Sosial Budaya dan Ekonomi

Kerajaan Tidore mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Nuku (1780–1805). Sultan Nuku dapat menyatukan Ternate dan Tidore untuk bersama-sama melawan Belanda yang dibantu Inggris. Belanda kalah serta terusir dari Tidore dan Ternate. Sementara itu, Inggris tidak mendapatkan apa-apa kecuali hubungan dagang biasa. Sultan Nuku memang cerdik, berani, ulet, dan waspada. Sejak saat itu, Tidore dan Ternate tidak diganggu, baik oleh Portugis, Spanyol, Belanda, maupun Inggris sehingga kemakmuran rakyatnya terus meningkat. Wilayah kekuasaan Tidore cukup luas, meliputi Pulau Seram, Pulau Halmahera, Kepulauan Kai, dan Papua. Pengganti Sultan Nuku adalah adiknya, Zainal Abidin. Ia juga giat menentang Belanda yang berniat menjajah kembali.

Anda sekarang sudah mengetahui Kerajaan Ternate dan Tidore. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

[1] Musthofa, S., Suryandari dan T. Mulyati 2009. Sejarah 2 : Untuk SMA/MA Kelas XI Program Bahasa. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 234.

[2] Listiyani, D. A. Sejarah 2 : Untuk SMA/MA Kelas XI Program Bahasa. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 194.

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah secara bijak. Komentar yang tidak sesuai materi akan dianggap sebagai SPAM dan akan dihapus.
Aturan Berkomentar :
1. Gunakan nama anda (jangan anonymous), jika ingin berinteraksi dengan pengelola blog ini.
2. Jangan meninggalkan link yang tidak ada kaitannya dengan materi artikel.
Terima kasih.

Search