Majas Hiperbola, Pengertian, Contoh, Macam-macam/Jenis, Perbandingan

Leave a Comment
Artikel dan Makalah tentang Majas Hiperbola, Pengertian, Contoh, Macam-macam/Jenis, Perbandingan - Hiperbola adalah ucapan (ungkapan, pernyataan) kiasan yang dibesar-besarkan (berlebih-lebihan), dimaksudkan untuk memperoleh efek tertentu, bukan yang sebenarnya. Di sini peneliti akan mencoba mencari penjelasannya. Sebenarnya di dalam hiperbola terdapat dua kata (atau bentuk lain), penanda dari kata pertama tersembunyi (implisit) dan digantikan oleh yang ke dua, yaitu kata (atau bentuk lain) yang mempunyai intensitas makna jauh melebihi kata yang pertama (yang tersembunyi). Kadang-kadang kedua kata yang dibandingkan muncul bersama, bahkan diantarkan oleh kata pembanding. Sebenarnya hiperbola sering mengambil proses pembentukan jenis majas yang lain.

Kadang-kadang proses pembentukannya seperti majas perumpamaan (simile), metafora, atau majas lainnya. Yang penting dalam Hiperbola adalah fokus perhatian terletak pada kesan intensitas makna.

Contoh: Dengan suara menggelegar, ia berkata: “Pergi kau dari sini!”

Bagan wilayah makna majas hiperbola :
Bagan wilayah makna majas hiperbola


Tanda + mewakili intensitas makna.

Ada perbandingan antara suara halilintar dengan suara manusia (implisit). Komponen makna penyama adalah: nyaring (keras). Komponen makna pembedanya adalah ‘suara manusia’, dan ‘suara alam raya’ yang sangat keras. Jadi, di sini digunakan bentuk metafora. Meskipun bagan semantiknya sama dengan metafora, dikemukakan juga bagan segitiga semantik dari hiperbola.
bagan segitiga semantik majas hiperbola

Segitiga yang ditampilkan dengan garis terputus-putus bersifat implisit, yaitu suara alam.

Contoh lain:

a. Tiga tahun telah berlalu sejak meninggalnya kekasihku, namun tak sedetik pun wajahnya hilang dari ingatanku.

Kata sedetik sebenarnya mengemukakan perbandingan antara waktu riil yang sangat singkat, dengan waktu yang dirasakannya. Meskipun waktu yang dirasakan itu sebenarnya bukan sedetik, melainkan bisa saja satu atau beberapa jam. Dalam kenyataannya, tidak mungkin dalam waktu tiga tahun orang memikirkan satu hal saja terus menerus, sampai bilangan detik. Bentuk yang dipakai di sini adalah sinekdoke. Ukuran waktu yang dikemukakan jauh lebih sedikit (sebahagian) dari pada waktu yang sebenarnya digunakan (keseluruhan). Yang penting di sini adalah kesan yang ditampilkan. Dengan penggunaan majas ini, intensitas makna bahasa menjadi sangat kuat.

b. ” Secepat kilat ia berlari menuju garis finis”.

Di sini bahkan perbandingan bersifat eksplisit; cepat seperti kilat. Yang dibandingkan adalah kecepatan lari manusia dengan kecepatan kilat. Jadi bentuk hiperbola di sini adalah simile.

c. “ (Sabun) sa’ndulit, untung selangit”.

Di sini juga ada perbandingan kuantitas : jumlah sabun yang sedikit (mungkin dalam kenyataannya segenggam
atau sekantung kecil) dibandingkan dengan jumlah yang sangat sedikit, sehingga dapat menempel di ujung jari
(sa’ndulit). Juga ada perbandingan kwantitas antara keuntungan yang begitu tinggi dengan tingginya langit. (selangit adalah tinggi seperti langit). Di sini pun hiperbola dikemukakan dalam bentuk simile.

d. “Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak”.

Ujaran di atas menampilkan 4 hiperbola, yaitu: kuman (untuk menggambarkan kesalahan yang begitu kecil), di seberang lautan (untuk menunjukkan jarak yang begitu jauh), gajah (untuk mengemukakan kesalahan yang
begitu besar) dan akhirnya di pelupuk mata (untuk menampilkan jarak penglihatan yang begitu dekat). Di sini, hiperbola digunakan untuk menggambarkan ukuran benda abstrak yang dikonkritkan (kesalahan) dan ukuran jarak. Ukuran itu bisa saja menjadi sangat besar atau sangat kecil. Ketiga hiperbola pada contoh terakhir ini mengambil proses pembentukan majas simile dan metafora. Jadi, bila sejumlah pakar memasukan hiperbola ke dalam majas perbandingan, disamakan dengan perbandingan eksplisit (simile) atau implisit (metafora), mereka mempunyai alasan yang kuat.


Referensi :

Zaimar, O. K. S. 2002. Majas dan Pembentuknya. Makara. Sosial Humaniora, 6 (2) : pp. 45-57.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah secara bijak. Komentar yang tidak sesuai materi akan dianggap sebagai SPAM dan akan dihapus.
Aturan Berkomentar :
1. Gunakan nama anda (jangan anonymous), jika ingin berinteraksi dengan pengelola blog ini.
2. Jangan meninggalkan link yang tidak ada kaitannya dengan materi artikel.
Terima kasih.