Friday, February 22, 2013

Majas Litotes, Pengertian, Contoh, Macam-macam/Jenis, Perbandingan

Artikel dan Makalah tentang Majas Litotes, Pengertian, Contoh, Macam-macam/Jenis, Perbandingan - Litotes berasal dari bahasa Yunani, dan berarti “kesederhanaan”. Berbeda dengan hiperbola, majas ini digunakan untuk mengungkapkan pikiran yang melemahkan nilai si pengujar, jadi untuk menampilkan gagasan tentang sesuatu yang kuat atau besar dengan ungkapan yang lemah nilainya, dengan tujuan bersopan-santun.

Contoh: “Silahkan singgah di gubuk saya”.

Si pengujar tidak sebenarnya mengatakan bahwa rumahnya adalah sebuah gubuk, melainkan ujaran itu hanya merupakan suatu bentuk sopan santun untuk merendahkan diri. Mungkin saja rumahnya besar dan mewah, seperti istana. Unsur yang dibandingkan di sini adalah rumah dan gubuk. Komponen makna penyama adalah ‘tempat tinggal manusia’ Komponen makna pembeda untuk rumah: ada kemungkinan rumah itu ‘besar atau kecil’, karena rumah adalah kata benda generik. Komponen makna pembeda bagi gubuk “selalu kecil dan buruk’ Di sini tidak ada penyimpangan makna (keduanya tempat tinggal manusia, makna pusatnya tidak berubah), dan susunan kata-kata juga berkolokasi. Jadi hal ini membedakannya dari metafora.

Contoh lain :

a. ”Wah, merupakan suatu kehormatan bagi saya, bila anda sudi naik gerobak saya”.

Yang dimaksudkan dengan gerobak oleh si pengujar, bisa saja sebuah mobil yang bagus. Di sini unsur yang dibandingkan adalah mobil dengan gerobak. Di sini juga tidak terjadi penyimpangan makna, komponen makna penyama adalah ‘kendaraan’, komponen makna pembeda untuk mobil ‘memakai bensin’ sedangkan gerobak ‘ditarik sapi’. Ini berarti makna pusatnya tidak berubah, sehingga susunan kata-kata tetap berkolokasi. Yang berubah hanyalah nilai benda itu.

b. “Maklumlah, setiap hari saya harus mencari sesuap nasi ”

Yang dimaksud dengan ‘sesuap nasi’ tentu bukan sebenar-benarnya hanya sesuap, bukan pula hanya makanan melainkan semua yang dibutuhkan dalam kehidupan. Majas yang digunakan di sini berbentuk sinekdoke (sebahagian untuk keseluruhan) Untuk melemahkan intensitas makna, dalam litotes digunakan juga bentuk negatif yang dibentuk dengan menggunakan kata tidak atau kurang.

Contoh:

a. "Putra Bapak mungkin kurang pandai dalam matematika, tetapi itu tidak berarti bahwa dalam pelajaran lain ia juga tidak bisa mencapai nilai tinggi.” (artinya ‘bodoh’)

b. “Tono memang kurang beruntung, setiap berpacaran, ia selalu ditinggalkan kekasihnya”. (artinya: ‘malang’)

Demikianlah, berbeda dengan hiperbola yang meninggikan atau membesar-besarkan baik kuantitas maupun kualitas segala yang menjadi topik ujarannya, maka litotes mengecilkan kuantitas maupun kualitas topik ujarannya. Kadang-kadang digunakan bentuk majas lain untuk meninggikan atau merendahkan topik ujarannya. Ada kalanya juga digunakan bentuk negatif dari apa yang sebenarnya ingin dikatakan pengujar.

Referensi :

Zaimar, O. K. S. 2002. Majas dan Pembentuknya. Makara. Sosial Humaniora, 6 (2) : pp. 45-57.

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah secara bijak. Komentar yang tidak sesuai materi akan dianggap sebagai SPAM dan akan dihapus.
Aturan Berkomentar :
1. Gunakan nama anda (jangan anonymous), jika ingin berinteraksi dengan pengelola blog ini.
2. Jangan meninggalkan link yang tidak ada kaitannya dengan materi artikel.
Terima kasih.