Majas Metafora, Pengertian, Contoh, Macam-macam / Jenis, in praesentia (Eksplisit), in absentia


Artikel dan Makalah tentang Majas Metafora, Pengertian, Contoh, Macam-macam / Jenis, in praesentia (Eksplisit), absentia - Beberapa pakar menganggap metafora sebagai “ratunya” majas, karena bila dilihat proses pembentukannya, banyak jenis majas lainnya yang dapat dikelompokkan ke dalam jenis majas ini. Sebenarnya menurut Orrecchioni (1977: halaman 149-156) melihat bentuknya, ada dua macam metafora.

1. Metafora in praesentia 

Metafora in praesentia adalah metafora  yang bersifat eksplisit.

Contoh: 

“Tono adalah buaya darat” (biasa disebut asimilasi). 

Di sini kedua unsur yang dibandingkan muncul, jadi tidak bersifat implisit. Apabila kita bandingkan aspek makna majas simile dengan metafora asimilasi, akan tampak perbedaan. Kita lihat contoh berikut:

a. “Tono seperti buaya darat” (simile),
b. “Tono memang buaya darat” (asimilasi)

Kalimat pertama menyatakan bahwa sebagian sifat Tono mirip sifat buaya darat. Sementara itu, bila tak ada kata pembanding (digunakan metafora asimilasi), maka si pengujar menyatakan bahwa secara keseluruhan, Tono memang buaya darat.

2. Metafora in absentia

Metafora in absentia adalah metafora yang dibentuk berdasarkan penyimpangan makna. Seperti juga pada simile, dalam metafora terdapat dua kata (atau bentuk lain) yang maknanya dibandingkan. Namun, salah satu unsur bahasa yang dibandingkan, tidak muncul, bersifat implisit. Sifat implisit ini menyebabkan adanya perubahan acuan dan penyimpangan makna, sehingga menimbulkan masalah kolokasi, yaitu kesesuaian makna dari dua atau beberapa satuan linguistik yang hadir secara berurutan dalam ujaran yang sama. Hal-hal inilah yang mungkin menjadi masalah dalam pemahaman metafora

Contoh: 

“Banyak pemuda yang ingin mempersunting mawar desa itu”.

Di bawah ini akan dikemukakan bagan wilayah makna dalam metafora (Tutescu: 1979, hal. 98).
bagan wilayah makna majas metafora

Pada bagan di atas, tampak dua lingkaran yang disatukan, masing-masing menampilkan wilayah makna ‘mawar’ dan wilayah makna ‘gadis’. Sebahagian dari kedua wilayah makna itu bertumpang tindih (ditampilkan oleh bagian yang diberi warna hitam), dan hal itu menunjukkan adanya sekumpulan komponen makna penyama, yaitu yang sama-sama dimiliki kedua wilayah makna, meskipun wilayah makna itu menyatu, makna pertama tidak menghilang, melainkan ada di latar belakang makna metaforis. Jadi, dalam metafora tidak terjadi substitusi makna melainkan interaksi makna (I.A. Richards dalam Todorov, 1970: hal. 29).

Lingkaran yang berada di sebelah kiri, merupakan petanda awal (signifié de départ), dan lingkaran yang berada di sebelah kanan, mengemukakan petanda akhir (signifié d’arrivée). Ini dapat terjadi berkat adanya perantara (Intermédiaire) yang merupakan komponen makna penyama.

Pada kalimat contoh di atas, kata mawar digunakan untuk menyebut gadis. Jadi, keduanya dibandingkan. Komponen makna penyama: ‘cantik’, ‘indah’, ‘segar’, ‘harum’, ‘berduri’, ‘cepat layu’. Komponen makna pembeda untuk gadis adalah ‘manusia’, ‘berjenis wanita’, untuk mawar adalah ‘bagian dari tanaman’.

Berikut ini akan dikemukakan pula bagan segitiga semantik metafora:
bagan segitiga semantik majas metafora

Pada bagan di sebelah atas, ada dua segitiga. Yang di sebelah kiri merupakan bagan semantik mawar (Bagan I) dan yang ditampilkan di sebelah kanan, adalah bagan semantik gadis (Bagan II) Bagan berikutnya (yang ke III) merupakan bagan semantik majas metafora. Di sini telah terbentuk segi-tiga semantik ke tiga, yang sebenarnya muncul dalam teks. Makna kata pertama (ditampilkan dengan segitiga bergaris terputus-putus) tidak hilang, melainkan berada di latar belakang makna metaforis. Yang dibandingkan adalah gadis dan mawar. Acuan mawar pada awalnya adalah “sejenis bunga” tetapi dalam kalimat di atas acuannya berubah menjadi “perempuan yang belum menikah” 

Namun, seperti telah dikemukakan di atas, unsur yang dibandingkan, yaitu gadis, tidak muncul (implisit) Yang hadir hanya unsur pembanding, yaitu mawar. Ini berarti, konsep ‘mawar’ berinteraksi dengan konsep ‘gadis’. Itulah sebabnya dikatakan bahwa dalam metafora terjadi penyimpangan makna. Di sini, timbul masalah kolokasi. Sebagaimana telah disebutkan di atas, pada contoh ini (Banyak pemuda yang ingin mempersunting mawar desa itu), tampak bahwa kata pemuda tidak berkolokasi dengan mempersunting mawar.

Metafora ini sering dianggap sebagai majas yang terpenting, bahkan beberapa pakar linguistik mengelompokkan beberapa majas lain ke dalam metafora. Di sini akan diuraikan dasar perbandingan yang digunakan. Kita telah mengenal unsur yang bukan manusia dibandingkan dengan manusia (personifikasi) juga manusia yang dibandingkan dengan benda atau binatang (depersonifikasi). Selain itu di sini juga akan dikemukakan pengelompokan lain, yang menunjukkan apakah unsur yang dibandingkan merupakan unsur konkrit ataupun abstrak.

Agar lebih jelas, dalam pembicaraan tentang metafora, kiranya perlu dilakukan subklasifikasi berdasarkan unsur-unsur yang dibandingkan.

3. Majas yang tercakup dalam metafora: Perbandingan unsur konkrit-abstrak

Marilah kita lihat sekarang unsur-unsur yang dibandingkan dalam metafora dari aspek konkrit abstrak. Sebelum dilakukan perbandingan, perlu dikemukakan terlebih dahulu pengertian konkrit dan abstrak dalam penelitian ini. Sesuatu yang konkrit adalah sesuatu yang dapat ditangkap oleh panca indra (dapat diraba, dilihat, didengar, dicium ataupun dicecap). Sesuatu yang abstrak adalah di luar yang telah disebutkan tadi. Klasifikasi ini bisa tumpang tindih dengan personifikasi dan depersonifikasi, namun subklasifikasi ini lebih luas, dapat mencakup semua metafora.

3.1. Perbandingan unsur konkrit dengan unsur konkrit lain.

Dalam subjenis ini, suatu unsur konkrit dibandingkan dengan unsur konkrit lain.

Contoh: “Si tiang listrik bersolek menyolok.”

Di sini, ada perbandingan antara tiang listrik (unsur konkrit) dengan manusia yang kurus tinggi (unsur konkrit). Tindakan bersolek hanya dilakukan manusia. Komponen makna penyama adalah: ‘tinggi kurus’, komponen makna pembedanya bagi manusia (implisit) adalah ‘mahluk hidup’, sedangkan untuk tiang listrik adalah ‘benda’.

Contoh lain :

a. “Si Marni memang murahan”.

Di sini, wanita (unsur konkrit) dibandingkan dengan barang (unsur konkrit lain) yang biasa diperjualbelikan.

b. “Menjadi tiang keluarga, tidaklah mudah”

Ada perbandingan antara tiang (unsur konkrit) dengan orang yang membiayai keluarga (unsur konkrit lain).

3.2 Perbandingan unsur konkrit dengan unsur abstrak

Dalam majas metafora ini unsur konkrit dibandingkan dengan unsur abstrak.

Contoh: “Volvo memang mudah untuk menaklukkan hati gadis yang bau bensin.”

Dalam kalimat di atas, volvo (unsur konkrit) dibandingkan dengan kemewahan (unsur abstrak). Komponen makna penyamanya adalah ‘mahal’, ‘mewah’ sedangkan komponen makna pembeda untuk volvo adalah ‘benda’, ‘sesuatu yang konkrit’ dan untuk kemewahan adalah ‘sesuatu yang abstrak’, ‘mencakup banyak hal’. Kata volvo tidak berkolokasi dengan menaklukkan hati”.

Contoh lain:

a. Puncak Monas telah lama dilupakan orang.”

Di sini, puncak Monas, (unsur konkrit) dibandingkan dengan semangat kepahlawanan Indonesia (unsur abstrak)

b. “Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak”

Pada kalimat di atas, kuman dan gajah (unsur konkrit) dibandingkan dengan kesalahan (unsur abstrak).

3.3. Perbandingan unsur abstrak dengan unsur konkrit

Dalam subjenis ini dapat terlihat perbandingan antara unsur abstrak dengan yang konkrit.

Contoh: “Kegelapan malam menelan bumi.”

Di sini kegelapan malam (unsur abstrak), dibandingkan dengan manusia atau hewan (unsur konkrit). Di sini ada ketidaksesuaian kolokasi, kegelapan malam tidak berkolokasi dengan menelan.

Contoh lain: “Masa depannya hancur berantakan”

Majas ini menampilkan perbandingan antara masa depan (unsur abstrak) dengan barang pecah belah (unsur konkrit). Komponen makna penyama adalah ‘sesuatu yang rapuh’, sedangkan komponen makna pembeda untuk masa depan adalah ‘waktu’, sedangkan untuk barang pecah belah adalah ‘benda’ Frasa hancur berantakan yang biasanya hanya dipakai untuk barang pecah belah, tidak berkolokasi dengan masa depan.

Contoh Lain:

a. “Tidak semua percintaan bermuara pada perkawinan”

Di sini dibandingkan kata percintaan (unsur abstrak) dengan sungai (unsur konkrit). Komponen makna penyamanya adakah ‘sesuatu yang mengalir’. Komponen makna pembeda untuk percintaan adalah ‘perasaan manusia’ dan untuk sungai adalah ‘bagian dari alam.’ Kata percintaan tidak berkolokasi dengan bermuara.

b. “Kesedihan membayangi wajahnya”.

Di sini unsur yang dibandingkan adalah kesedihan (sesuatu yang abstrak) dan bayang-bayang (unsur konkrit). Komponen makna penyamanya adalah: ‘sesuatu yang suram’, ‘tanpa sinar’ sedangkan makna pembeda bagi kesedihan adalah perasaan manusia, dan bagi bayang-bayang adalah ‘ruang’ ‘di balik benda yang terkena sinar’.

3.4. Perbandingan unsur abstrak dengan unsur abstrak lain

Pada subklasifikasi jenis majas ini akan diperlihatkan perbandingan antara sesuatu yang abstrak dengan unsur abstrak lainnya.

Contoh: “Keserakahan adalah penyakit menular”.

Di sini, yang dibandingkan adalah keserakahan dan penyakit menular. (keduanya merupakan unsur abstrak). Komponen makna penyama adalah ‘sesuatu yang menyebabkan penderitaan’. Komponen makna pembeda untuk keserakahan adalah ‘sifat manusia’, sedangkan untuk penyakit menular adalah ‘gangguan’ ‘tidak nyaman’ ‘mahluk hidup’.

Contoh lain: “Harapan merupakan semangat hidup baginya.”

Kalimat ini mengemukakan perbandingan antara harapan dan semangat hidup (keduanya unsur abstrak). Komponen makna penyama adalah ‘batin’, ‘manusia’, ‘kekuatan’. Komponen makna pembeda untuk harapan adalah ‘keinginan’, ‘agar menjadi kenyataan’, sedangkan untuk semangat adalah ‘roh’, ‘kehidupan’.

Pada kedua contoh di atas, tidak ada kata (bentuk lain) yang bersifat implisit, keduanya merupakan metafora asimilasi, jadi bersifat eksplisit. Tampaknya perbandingan antara unsur abstrak dengan unsur abstrak lain kebanyakan mengambil bentuk metafora asimilasi. Untuk mengetahui secara pasti tentang hal ini, perlu dilakukan penelitian lebih jauh.

Demikianlah telah dikemukakan pengelompokkan pada majas perbandingan.


Referensi :

Orrecchioni, K. 1986. La Connotation. Presse Universitaire de Lyon, Lyon. pp. 94-156.

Tutescu, M. 1979. Précis Sémantique. Klinsieck, Paris. pp. 74-102

Zaimar, O. K. S. 2002. Majas dan Pembentuknya. Makara. Sosial Humaniora, 6 (2) : pp. 45-57.



Pengunjung dapat menyalin materi di blog ini menggunakan Browser Google Chrome. Google Chrome
Bacalah terlebih dahulu Panduan Pengunjung jika anda ingin menggunakan materi dari blog ini.
DMCA.com
Judul : Majas Metafora, Pengertian, Contoh, Macam-macam / Jenis, in praesentia (Eksplisit), in absentia

Rating : 9 out of 10 based on 666 ratings. 9 user reviews.

Reviewer : Puri Maulana

Masukkan Kata Kunci




Artikel Terkait :

Post a Comment

Berkomentarlah secara bijak. Komentar yang tidak sesuai materi akan dianggap sebagai SPAM dan akan dihapus.
Aturan Berkomentar :
1. Gunakan nama anda (jangan anonymous), jika ingin berinteraksi dengan pengelola blog ini.
2. Jangan meninggalkan link yang tidak ada kaitannya dengan materi artikel.
Terima kasih.