Makalah Keanekaragaman Sel Mikroba, Fisiologi, Prokariotik, Eukariotik, Autotrof, Heterotrof


Artikel dan Makalah Keanekaragaman Sel Mikroba, Fisiologi, Prokariotik, Eukariotik, Autotrof, Heterotrof - Sel merupakan suatu unit terkecil atau satuan unit yang paling dasar dari makhluk hidup yang dapat melakukan perbanyakan diri (self-duplication).  Istilah sel pertama kali ditemukan oleh Robert Hooke (1635-1703), seorang ilmuwan Inggris. Istilah tersebut digunakan ketika menjelaskan struktur potongan tipis gabus di bawah mikroskop, kemudian setelah beberapa abad istilah tersebut digunakan untuk menyatakan satuan dasar makhluk hidup.

I. PENDAHULUAN

Sel merupakan suatu unit terkecil atau satuan unit yang paling dasar dari makhluk hidup yang dapat melakukan perbanyakan diri (self-duplication).  Istilah sel pertama kali ditemukan oleh Robert Hooke (1635-1703), seorang ilmuwan Inggris. Istilah tersebut digunakan ketika menjelaskan struktur potongan tipis gabus di bawah mikroskop, kemudian setelah beberapa abad istilah tersebut digunakan untuk menyatakan satuan dasar makhluk hidup.

Sel menentukan struktur maupun fungsi seluruh organisme, baik organisme tingkat rendah maupun tingkat tinggi.  Komponen kimiawi utama penyusun sel adalah polipeptida, lipid, polinukleotida, dan polisakarida.  Menurut Yuwono (2005), sel memiliki dua fungsi utama yaitu sebagai piranti kimiawi yang melakukan proses metabolisme dan sebagai piranti yang menyimpan kode-kode informasi biologis yang akan diturunkan ke dalam anaknya.

Setiap sel hidup memiliki membran sitoplasma yang merupakan lapisan pelindung sel.  Membran ini juga merupakan alat transportasi bagi sel yaitu sebagai pengatur masuk dan keluarnya zat-zat yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan oleh sel.  Dalam sel hidup juga terdapat informasi genetik yaitu DNA.

Makhluk hidup berdasarkan jumlah selnya dapat digolongkan menjadi organisme bersel banyak (multicellular organisms) yang terdiri atas tumbuhan dan hewan, termasuk manusia, serta organisme bersel tunggal  (unicellular organisms) yang disebut juga mikroba, misalnya bakteri, arkea, jamur, dan protozoa.

Sel organisme dapat digolongkan berdasarkan struktur dan organisasinya, yaitu sel prokariotik yang terdapat pada bakteri dan arkea dan sel eukariotik yang terdapat pada jamur (fungi), alga, protozoa, tanaman (plant), dan hewan (animal). Hal yang paling membedakan antara struktur sel prokariotik dan eukariotik adalah tidak adanya membran inti sel (nukleus) pada prokariotik.  Selain itu, organel yang terdapat dalam sel eukariotik lebih kompleks dan memiliki fungsi yang spesifik daripada prokariotik. Secara organisasi, sel prokariotik memiliki struktur yang lebih sederhana dibanding eukariotik.

Pada dasarnya, seluruh sel tersusun atas komponen kimiawi yang sama meskipun dengan komposisi berbeda, diduga semua sel berasal dari leluhur yang sama. Setelah melalui proses evolusi yang panjang akhirnya sel tersebut berkembang menjadi bermacam-macam sel, sehingga terdapat keanekaragaman atau diversifikasi pada sel.  Diversifikasi ini dapat diamati dalam berbagai bentuk, misalnya fisiologi, variasi ukuran sel, morfologi (bentuk), maupun metabolismenya.

II.  TUJUAN 

Berdasarkan sifat struktural dan organisasi sel, makhluk hidup bersel tunggal atau mikroba tidak semuanya tergolong prokariotik namun ada juga yang tergolong eukariotik seperti pada sel jamur maupun protozoa. Dengan demikian terdapat keanekaragaman antar sel mikroba terkait dengan sifat fisiologi maupun struktur fungsionalnya.  Oleh karena itu, makalah bertujuan mengulas lebih lanjut mengenai keanekaragaman fisiologi dan keanekaragaman prokariotik maupun eukariotik.

III.  PEMBAHASAN 

Sel merupakan satuan unit dasar kehidupan. Sel tunggal merupakan benda yang terpisah dari benda-benda lainnya oleh suatu selaput, dan kadang-kadang juga dipisahkan oleh dinding sel di luar selaput tersebut. Adanya dinding sel dan selaput tersebut mengakibatkan sel itu menjadi sebuah kompartemen yang semi permeabel dan memiliki struktur yang dinamis. Sel tersebut dapat berkomunikasi, bergerak, dan melakukan pertukaran material dengan lingkungannya. Hal inilah yang mengakibatkan sel tersebut mengalami perubahan secara konstan.

Semua sel menunjukkan adanya metabolisme, yaitu proses mengambil nutrisi dari lingkungan dan mentransformasikan nutrisi tersebut menjadi material pembentuk sel yang baru dan produk buangannya. Selama dalam proses transformasi tersebut, energi disimpan dalam bentuk yang dapat segera dimanfaatkan oleh sel untuk mendukung sintesis biomolekul penting, seperti polinukleotida, polisakarida, protein, dan lipid (Madigan et al. 2011).

Sifat umum yang juga dimiliki oleh sel adalah kemampuan untuk melakukan diferensiasi dan motilitas. Dengan motilitas ini, sel dapat bergerak menjauhi bahaya atau kondisi yang tidak menguntungkan baginya dan mendekati sumber nutrisi yang baru. Sel yang berdiferensiasi dapat menghasilkan sel-sel tertentu yang berfungsi dalam pertumbuhan, bergerak, ataupun pertahanan diri. Beberapa sel dapat merespon sinyal kimia di lingkungannya, termasuk sinyal kimia yang dihasilkan oleh sel yang sama ataupun yang berbeda jenisnya. Respon terhadap sinyal ini dapat mengakibatkan aktivitas seluler yang baru. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa sel-sel juga memiliki sifat untuk melakukan komunikasi.

Sel mikroba hidup di dalam sebuah populasi, bersama-sama dengan populasi mikrob lainnya di alam. Interaksi antar populasi mikroba dapat bersifat saling menguntungkan, netral, ataupun membahayakan. Sebagai contoh, produk sisa hasil metabolisme suatu organisme dapat menjadi nutrisi ataupun toksin bagi kelompok organisme yang lain. Kumpulan organisme, bersama-sama dengan semua komponen fisik dan kimia di lingkungan organisme tersebut membentuk sebuah ekosistem. Ekosistem mikroba yang utama adalah lingkungan perairan (samudra, danau, kolam, sungai, es, dan mata air panas), lingkungan darat (permukaan dan di bawah permukaan tanah), dan di organisme lain, seperti di tanaman dan hewan.

Kondisi lingkungan yang beraneka ragam mengakibatkan mikroorganisme beradaptasi terhadap lingkungannya, khususnya dalam hal metabolisme. Kemampuan metabolisme yang tinggi dapat ditunjukkan dengan kemampuannya untuk hidup dan berkolonisasi pada habitat yang baru dan pada akhirnya mendorong evolusi diversifikasi.

1. Keragaman Fisiologi Mikroba

Semua sel mikroba membutuhkan mekanisme genetika untuk bereplikasi dan beradaptasi terhadap berbagai perubahan di sekitarnya. Proses ini membutuhkan energi. Energi dapat diperoleh melalui dua cara, yaitu melalui cahaya dan senyawa kimia. Mikroba yang mengunakan senyawa kimia sebagai sumber energinya  disebut sebagai kemotrof, sedangkan mikroba yang memanfaatkan cahaya sebagai sumber energi disebut fototrof.

Mikroorganisme kemotrof dapat menggunakan senyawa organik ataupun anorganik sebagai sumber energi. Energi tersebut diperoleh melalui oksidasi senyawa dan disimpan di dalam senyawa kaya energi, adenosin trifosfat (ATP). Mikroorganisme yang dapat mengoksidasi senyawa organik dari lingkungan, dengan ada ataupun tidak adanya oksigen disebut kemoorganotrof. Senyawa organik dapat berupa glukosa, asam asetat, alkohol, dan lain-lain. Sejumlah mikroorganisme dapat mengambil energi dari senyawa anorganik, misalnya H2S, Fe2+  amonia, dan lain-lain. Mikroorganisme ini disebut kemolitotrof. Bentuk metabolisme penghasil energi ini hanya ditemukan pada organisme prokariotik, yaitu Bakteria dan Arkea.

Mikroorganisme fototrof dicirikan dengan adanya pigmen tertentu yang memungkinkannya untuk menggunakan cahaya sebagai sumber energi. Organisme fototrof tidak bergantung pada senyawa kimia untuk menghasilkan energi karena ATP dibuat dari energi sinar matahari, yaitu melalui proses fotosintesis. Terdapat dua bentuk fototrofi pada prokariotik, yaitu fotosintesis oksigenik yang menghasilkan oksigen, misalnya pada cyanobacteria, dan fotosintesis anoksigenik yang tidak menghasilkan oksigen, misalnya pada bakteri ungu.

Karbon merupakan sumber nutrien utama. Oleh karena itu, berdasarkan sumber karbonnya, mikroorganisme dapat dikelompokkan menjadi organisme heterotrof dan autotrof. Organisme heterotrof memanfaatkan senyawa organik sebagai sumber karbon sedangkan organisme autotrof menggunakan CO2 sebagai sumber karbonnya. Dengan demikian, mikroorganisme kemoorganotrof juga merupakan organisme heterotrof, sedangkan mikroorganisme fototrof adalah organisme autotrof. Berikut ini diperlihatkan diagram alir untuk menentukan apakah suatu spesies termasuk ke dalam autotrof ataupun heterotrof (Gambar 1).
Diagram alir klasifikasi organisme autotrof dan heterotrof
Gambar 1. Diagram alir klasifikasi organisme autotrof dan heterotrof. (Wikimedia Commons)
Mikroorganisme dapat tumbuh dimana pun di muka bumi, misalnya di dalam air, tanah, hewan, tumbuhan, maupun pada substansi buatan manusia. Lingkungan di sekitar mikroba tersebut sering bersifat mencekam dan hanya beberapa mikrob yang dapat bertahan di lingkungan yang ekstrim itu. Mikroorganisme yang bertahan dalam lingkungan yang ekstrim itu disebut ekstremofil. Prokariot ekstremofil dapat ditemukan di lingkungan tercekam, misalnya sumber air panas, daerah es, perairan dengan kadar garam yang tinggi, dan lingkungan dengan pH asam atau basa. Prokariot tersebut selain toleran terhadap lingkungannya, ada juga yang membutuhkan kondisi tersebut untuk dapat tumbuh optimal. Contoh beberapa prokariot ekstremofil diperlihatkan pada Tabel 1.

Tabel 1. Contoh beberapa prokariot ekstremofil

Ekstrim
Deskripsi
Spesies
Domain
Habitat
Derajat
Min
Opt
Maks
Suhu
Tinggi
Hipertermofil
Methanopyrus Kandleri
Arkea
Saluran hidrotermal bawah air
90 °C
106 °C
122 °C
Rendah
Psikrofil
Psychromonas ingrahami
Bacteria
Laut es
-12 °C
5 °C
10 °C
pH
Rendah
Asidofil
Picrophilusoshimae
Arkea
Sumber air panas, asam
-0.06
0.7
4
Tinggi
Alkalifil
Natronobacterium gregoryi
Arkea
Danau soda
8.5
10
12
Tekanan
Barofil
Moritellayayanosii
Bakteria
Sedimen laut dalam
500 atm
700 atm
>1000 atm
Garam (NaCl)
Halofil
Halobacterium salinarium
Arkea
Saltern
15 %
25 %
32 %


Hasil perbandingan sekuen rRNA dari berbagai sel makhluk hidup menghasilkan tiga kelompok atau domain, yaitu Bakteria, Arkea, dan Eukarya. Bakteria dan Arkea tergolong ke dalam kelompok prokariot, sedangkan Eukarya termasuk ke dalam kelompok eukariot. Percabangan domain diduga terbentuk sejak perkembangan komunitas organisme yang ada sejak awal kehidupan di bumi. Semua prokariot secara genetika tidak berkerabat dekat, selain itu Arkea lebih dekat kekerabatannya dengan Eukarya daripada Bakteria. Pohon filogeni yang menggambarkan hubungan di antara ketiga domain tersebut diperlihatkan pada Gambar 2.
Pohon filogeni kehidupan hasil sekuensing gen rRNA
Gambar 2. Pohon filogeni kehidupan hasil sekuensing gen rRNA (Madigan et al. 2011)
Bakteria merupakan domain dengan variasi yang sangat besar. Filum terbesar dari domain ini adalah Proteobakteria karena diversitas morfologi dan fisiologinya yang sangat beragam. Sampai dengan tahun 2005, terdapat 460 genera dan 1600 spesies yang telah berhasil diidentifikasi (Hogg 2005). Anggota filum ini diantaranya prokariot tanah dan air, yang hidup di dalam tanaman ataupun hewan sebagai patogen ataupun non patogen. Contoh Proteobakteria adalah Nitrosomonas, bakteri yang terlibat dalam nitrifikasi, Acidithiobacillus, bakteri pengoksidasi sulfur dan besi, dan Alcaligenes, bakteri pengoksidasi hidrogen. Escherichia coli, model organisme untuk fisiologi, biokimia dan biologi molekuler, dan bakteri patogen seperti Salmonella, Rickettsiae, dan Neisseria juga termasuk ke dalam kelompok Proteobakteria.  Filum ini dibagi lagi menjadi 5 kelas, yaitu Alphaproteobacteria, Betaproteobacteria, Gammaproteobacteria, Delta-proteobacteria dan Epsilonproteobacteria (Hogg 2005). Beberapa contoh spesies Proteobacteria diperlihatkan pada Gambar 3.
Proteobakteria: a. Acidithio-bacillus; b. Escherichia coli; c. Salmonella; d. Neisseria meningitidis
Gambar 3. Proteobakteria: a. Acidithio-bacillus; b. Escherichia coli; c. Salmonella; d. Neisseria meningitidis. (WIkimedia Commons)
Contoh filum lainnya adalah Cyanobacteria dan Spirochaeta yang juga merupakan bakteri Gram negatif seperti halnya Proteobacteria. Cyanobacteria merupakan satu-satunya kelompok prokariot yang dapat melakukan fotosintesis oksigenik, sedangkan prokariot lainnya melalui fotosintesis anoksigenik. Pada awalnya, kelompok ini digolongkan ke dalam alga biru-hijau karena kemampuan fotosintesisnya yang mirip seperti alga dan tanaman, walaupun ada juga yang ditemukan berwarna merah, hitam, ataupun ungu, tergantug pada pigmen yang mereka miliki. Contoh Cyanobacteria adalah Oscilatoria, Anabaena, dan Prochlorococcus (Hogg 2005). Contoh gambar Oscilatoria diperlihatkan pada Gambar 4a.
bakteri: a. Oscilatoria; b. T. pallidum; c. Clostridium difficile
Gambar 4. Beberapa contoh bakteri: a. Oscilatoria; b. T. pallidum; c. Clostridium difficile. (Wikimedia Commons)
Filum Spirochaeta memiliki ciri khas yaitu morfologinya berupa spiral dan bergerak seperti pembuka botol. Filum ini terdiri atas bakteri aerob dan anaerob yang dapat tinggal di berbagai habitat, misalnya air, tanah, dan juga di dalam usus serta rongga mulut hewan vertebrata dan invertebrata. Beberapa spesies dari filum ini merupakan patogen terhadap manusia, contohnya Treponema pallidum penyebab sifilis dan Leptospira interrogan penyebab leptospirosis. Contoh gambar T. pallidum diperlihat-kan pada Gambar 4b.

Bakteri Gram positif dibagi menjadi menjadi dua kelompok, yaitu Firmicutes dan Actinobacteria. Bacillus, Clostridium, dan bakteri penghasil spora lainnya seperti Streptomyces termasuk ke dalam bakteri Gram positif. Contoh lain bakteri Gram positif adalah bakteri asam laktat yang terdapat di tumbuh-tumbuhan yang membusuk dan produk-produk olahan susu maupun produk fermentasi, misalnya Lactobacillus. Mycoplasma merupakan genus bakteri Gram postif yang tidak memiliki dinding sel dan genom yang sangat kecil (Madigan et al. 2011) Contoh gambar bakteri Gram positif diperlihatkan pada Gambar 4c.

Domain Arkea dicirikan dengan komponen dinding selnya, berbeda dengan bakteri yang berupa peptidoglikan, yaitu polimer dari asam N-asetilglukosamin dan N-asetilmuramat yang terikat secara β-(1,4) (Gambar 5a), melainkan berupa pseudomurein, yaitu polimer dari N-asetilglukosamin dan asam N-asetiltalosaminuronat yang terikat secara β-(1,3) (Gambar 5b). Selain itu, komponen lipid pada membran Arkea berupa isoprena bercabang yang terikat secara eter dengan gliserol. Hal ini berbeda dengan membran pada bakteri dan eukariot yang berupa asam lemak terikat secara ester dengan gliserol.
a. Peptidoglikan pada dinding sel bakteri; b. Pseudomurein pada dinding sel arkea
Gambar 5. a. Peptidoglikan pada dinding sel bakteri; b. Pseudomurein pada dinding sel arkea. 

Anggota domain Arkea banyak ditemukan di lingkungan ekstrim seperti saluran hidrotermal bawah air dan danau garam. Beberapa termofil ekstrim ditemukan dapat tumbuh pada suhu di atas 100 °C. selain itu, Arkea juga dapat tumbuh daerah ekstrim asam dan basa. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa Arkea memiliki distribusi yang lebih luas, Arkea memiliki proporsi signifikan dari biomassa bakteri yang ditemukan di seluruh lautan dunia dan lingkungan daratan. Ketidakmampuan mengkulturkan Arkea dalam lingkungan laboratorium menjadi penyebab tidak terdeteksinya Arkea jenis baru tersebut. Keberadaan Arkea itu hanya bisa diduga dengan memanfaatkan teknik analisis berbasis DNA (Hogg 2005).

Arkea diklasifikasikan menjadi dua filum, yaitu Euryarchaeota dan Crenarchaeota. Euryarchaeota dibagi menjadi empat subkelompok yang berbeda fisiologisnya, yaitu metanogen, halofil ekstrim, termoasidofil, dan hipertermofil. Beberapa anggota subkelompok membutuhkan gas oksigen, sedangkan anggota yang lain tidak dapat bertahan pada saat terpapar oksigen. Metanogen, contohnya Methanobacterium, adalah anaerob obligat. Metabolisme metanogen bersifat unik karena energi disimpan selama menghasilkan gas metana. Sebagian besar gas alam yang ditemukan di bumi merupakan hasil dari metabolisme metanogen.

Halofil ekstrim merupakan kerabat dari metanogen, namun memiliki ciri fisiologis yang berbeda. Halofil ekstrim membutuhkan oksigen untuk tumbuh dan membutuhkan garam (NaCl) dalam konsentrasi tinggi untuk melakukan metabolisme dan bereproduksi. Halobacterium salinarum dapat melakukan fotosintesis yang unik dengan menggunakan pigmen bakteriorodopsin dan menggunakan ATP yang dihasilkan untuk transpor aktif ke dalam sel dengan memanfaatkan ion klorida yang tersedia.

Arkea termoasidofil, yaitu mikrob yang tumbuh optimum pada suhu tinggi dan lingkungan asam, contohnya Thermoplasma. Mikrob ini tumbuh optimal pada lingkungan bersuhu 60 – 70 °C dan pH 2. Arkea hipertermofil, yaitu mikrob yang tumbuh optimum pada suhu di atas 80 °C. Arkea ini memiliki spesies-spesies unik dengan kemampuan metanogenesis (Methanopyrus), mereduksi sulfat (Archaeoglobus), mengoksidasi besi (Ferroglobus), dan mereduksi sulfur (Pyrococcus). Sebagian besar organisme ini menggunakan CO2 untuk sintesis senyawa-senyawa organik di dalam sel. Oleh karena itu, arkea hipertermofil termasuk autotrof.

Hampir semua anggota filum Crenarchaeota adalah termofil ekstrim yang dapat tumbuh optimal pada suhu di atas 100 °C. Contoh organisme ini adalah Pyrolobus fumarii yang memiliki suhu pertumbuhan optimum pada 106 °C dan dapat bertahan hidup dari panasnya suhu autoklaf, 121 °C. Crenarchaeota menggunakan sulfur baik sebagai sumber ataupun sebagai akseptor elektron (oksidasi menjadi H2SO4 atau reduksi menjadi H2S  (Hogg 2005).

3. Keanekaragaman Mikroba Eukariotik

Kelompok utama mikrob eukariot adalah protista (alga dan protozoa), fungi, dan jamur lender (Gambar 6). Beberapa protista seperti alga merupakan organisme fototrof. Alga memiliki kloroplas dan dapat hidup di lingkungan yang hanya mengandung sedikit mineral, contohnya kalium, fosfor, magnesium, nitrogen, dan sulfur, air, CO2  dan cahaya. Alga tumbuh di habitat tanah dan air dan merupakan produsen utama di alam. Fungi terdiri dari jamur, kapang, dan khamir atau ragi.  Fungi tidak memiliki pigmen fotosintesis, dapat berupa sel tunggal (khamir) ataupun filamen (kapang). Fungi adalah agen utama dekomposer dan mendaur ulang materi organik yang terdapat di tanah dan ekosistem lainnya.

Protozoa berbeda dibandingkan dengan alga dan fungi, yaitu pada dinding selnya. Protozoa tidak memiliki dinding sel, bersifat motil, dan tersebar di alam di habitat perairan, ataupun sebagai patogen bagi manusia dan hewan lainnya. Kapang lendir mirip dengan protozoa karena memiliki sifat motil dan tidak memiliki dinding sel. Akan tetapi keduanya memiliki perbedaan, yaitu filogeni dan siklus kehidupannya yang kompleks.  Dalam siklus kapang lendir, sel motil bergabung membentuk struktur multiseluler yang disebut badan buah.

Liken merupakan struktur seperti daun yang ditemukan tumbuh di permukaan batuan ataupun tumbuh-tumbuhan. Liken adalah contoh simbiosis mutualisme pada mikrob. Simbiosis ini terdiri atas fungi dan organisme fototrof, baik berupa alga, ataupun cyanobacteria. Organisme fototrof merupakan produsen primer, sedangkan fungi menyediakan tempat pertumbuhan, perlindungan dari faktor-faktor cuaca, dan sarana untuk menyerap nutrisi.

IV.   KESIMPULAN

Adanya proses evolusi diversifikasi akibat kondisi lingkungan yang mengalami perubahan, terjadilah keanekaragaman sel mikroba, yang dapat dilihat dari segi keanekaragaman fisiologi dan keanekaragaman pada sel prokariot maupun eukariot.

Keragaman fisiologi mikroba dapat ditinjau dari:
  1. Berdasarkan penggunaan energi, yaitu mikrob yang memanfaatkan cahaya sebagai sumber energi disebut fototrof sedangkan yang memanfaatkan senyawa kimia disebut kemotrof.
  2. Berdasarkan sumber karbonnya, yaitu mikrob yang memanfaatkan senyawa organik sebagai sumber karbonnya disebut heterotrof, sedangkan yang menggunakan CO2 sebagai sumber karbon disebut autotrof.
Kelompok mikroba prokariotik adalah bakteria dan arkea. Filum pada bakteria diantaranya Cyanobacteria, Spirochaeta, dan Proteobacteria. Arkea diklasifikasikan menjadi dua filum yaitu Euryarchaeota dan Crenarchaeota.  Masing-masing filum tersebut memiliki perbedaan baik dari segi fisiologi, morfologi, maupun habitatnya.

Kelompok mikroba eukariotik adalah protista (alga dan protozoa), fungi, dan jamur lendir. Beberapa protistaseperti alga merupakan organisme fototrof. Fungi tidak memiliki pigmen fotosintesis. Protozoa tidak memiliki dinding sel, bersifat motil, dan tersebar di alam di habitat perairan, ataupun sebagai patogen bagi manusia dan hewan lainnya.

V.  DAFTAR PUSTAKA 

Hogg S. 2005. Essential Microbiology. Chichester: Jown Wiley & Sons.

Madigan MT, Martinko JM, Stahl DA, Clark DP. 2011. Brock Biology of Microorganisms. Ed. ke-13. San Fransisco: Pearson Education.

Sunatmo TI. 2009. Mikrobiologi Esensial 1. Meryandini A, Wahyudi AT, Rusmana I, Mubarik NR, editor. Jakarta: Ardy Agency.

Yuwono T. 2005. Biologi Molekular. Safitri A, editor. Jakarta: Erlangga.

Anda sekarang sudah mengetahui tentang Makalah Keanekaragaman Sel Mikroba. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.



Pengunjung dapat menyalin materi di blog ini menggunakan Browser Google Chrome. Google Chrome
Bacalah terlebih dahulu Panduan Pengunjung jika anda ingin menggunakan materi dari blog ini.
DMCA.com
Judul : Makalah Keanekaragaman Sel Mikroba, Fisiologi, Prokariotik, Eukariotik, Autotrof, Heterotrof

Rating : 9 out of 10 based on 666 ratings. 9 user reviews.

Reviewer : Puri Maulana

Masukkan Kata Kunci




Artikel Terkait :

Post a Comment

Berkomentarlah secara bijak. Komentar yang tidak sesuai materi akan dianggap sebagai SPAM dan akan dihapus.
Aturan Berkomentar :
1. Gunakan nama anda (jangan anonymous), jika ingin berinteraksi dengan pengelola blog ini.
2. Jangan meninggalkan link yang tidak ada kaitannya dengan materi artikel.
Terima kasih.