Wednesday, June 4, 2014

Pengertian Biogas, Manfaat, Cara Membuat, Digester, Reaktor, Bahan Baku, Sumber, Potensi Energi Alternatif di Ghana

Penggunaan biomassa tradisional dan bahan bakar fosil yang telah menyebabkan dampak negatif terhadap lingkungan, kesehatan, dan kehidupan sosial telah meningkatkan minat Negara-negara di dunia untuk mencari sumber energi alternatif global yang bersih dan ramah lingkungan. Salah satu Negara tersebut adalah Ghana. Ghana merupakan Negara berkembang yang sangat tergantung pada woodfuel (kayu yang dijadikan sebagai bahan bakar atau kayu bakar) sebagai sumber bahan bakarnya. Penggunaan woodfuel mencapai 72 % dari pasokan energi primernya. Sumber energi lainnya berupa minyak mentah dan energi dari air (hidro). Biogas merupakan produk samping dari proses digesti (pencernaan) anaerobik menggunakan bahan baku limbah organik. Setelah ada bukti bahwa biogas dapat menjadi teknologi yang praktis dan menjanjikan, maka penerapan teknologi ini dipastikan akan berhasil jika diikuti dengan manajemen program yang baik. Ghana memiliki sumber daya biomassa, termasuk limbah organik, yang melimpah dan tersebar luas. Sumber daya ini memiliki potensi untuk digunakan sebagai bahan baku produksi biogas. Tujuannya adalah untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar dari woodfuel dan fosil; dan membantu mengurangi emisi gas rumah kaca yang dapat berdampak negatif pada perubahan iklim.

Ghana memiliki potensi untuk membangun sekitar 278.000 reaktor biogas. Namun, sejauh ini hanya sekitar 100 reaktor biogas yang sudah selesai dibangun. Makalah ini akan memberikan penjelasan mengenai situasi dari teknologi dan pemanfaatan biogas di Ghana. Selain itu juga akan dijelaskan mengenai potensi keuntungan, prospek dan tantangan yang dihadapi oleh teknologi biogas.

Daftar isi

1. Pendahuluan
1.1. Demografi dan Geografi
1.2. Ekonomi
2. Teknologi Biogas di Ghana
2.1. Sejarah dan Pemanfaatan Biogas di Ghana
2.2. Desain / Rancangan Digester Biogas
2.3. Sumber Energi Biogas
3. Potensi Keuntungan dari Aplikasi Teknologi Biogas
3.1. Sektor Pertanian
3.2. Sektor Kesehatan
3.3. Penciptaan Lapangan Kerja
3.4. Sektor Lingkungan
3.5. Pemberdayaan Perempuan dan Pengurangan Beban Kerja
4. Prospek dan Tantangan Teknologi Biogas
5. Kesimpulan

1. Pendahuluan

“Biogas” dihasilkan dari material organik pada kondisi anaerobik. Bahan baku untuk produksi biogas terdiri dari kotoran sapi, kotoran unggas, kotoran babi, kotoran ayam, kotoran yang masih mengandung rumput, dan algae. Negara yang pertaniannya menjadi sektor penting bagi pertumbuhan ekonominya, memiliki potensi untuk mengembangkan teknologi biogas. Aplikasi teknologi ini akan dapat menggantikan sumber bahan bakar dari woodfuel menjadi kotoran atau limbah untuk memasak dan memanaskan makanan atau minuman. Pemerintah Ghana harus mempertimbangkan energi alternatif lainnya, seperti biogas, karena beberapa alasan, yaitu, harga minyak yang terus naik, ketersediaan bahan bakar fosil dan woodfuel semakin berkurang, resiko kesehatan yang tinggi akibat gas buang (emisi) dari bahan bakar fosil atau woodfuel, dan dampak buruknya terhadap lingkungan. Teknologi biogas menjadi salah satu alternatif karena bahan bakunya tersedia dan dapat diperbarui.

Sebenarnya, teknologi biogas telah tersebar secara luas. Namun, bagi beberapa Negara, teknologi ini merupakan hal baru. Aplikasi teknologi ini dapat menjadi langkah yang tepat untuk mengatasi isu Indoor Air Pollution (IAP) atau polusi udara di ruangan, kerusakan hutan akibat penebangan pohon, dan perubahan iklim. Biogas merupakan energi yang bersih karena pembakarannya tidak menghasilkan jelaga (asap hitam)  dan partikulat (partikel halus atau kecil) lain  serta memiliki rantai karbon yang lebih pendek. Emisi karbondioksida yang dilepaskan ke atmosfer selama pembakaran hanya sedikit. Beberapa Negara telah mendapatkan manfaat dari aplikasi teknologi biogas, diantaranya menambah devisa, meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan menghemat anggaran untuk pembelian atau subsidi bahan bakar. Makalah ini menjelaskan kondisi konsumsi energi di Ghana khususnya mengenai ketergantungan rumah tangga di Negara tersebut untuk menggunakan woodfuel sebagai bahan bakar. Secara khusus, makalah ini akan berusaha untuk menggambarkan potensi masa depan dan tantangan dalam mengaplikasikan teknologi biogas.

1.1. Demografi dan Geografi

Ghana adalah negara kecil di Afrika Barat dengan perekonomian yang berorientasi pada pertanian. Pertanian telah memberikan kontribusi sangat besar terhadap Produk Domestik Bruto (GDP), dan perdagangan domestik skala kecil. Hari ini, Ghana telah mengembangkan pertambangan emas dan industri kayu. Ghana merupakan bekas koloni Inggris sehingga bahasa Inggris menjadi bahasa perdagangan dan pemerintah. Negara ini berbatasan dengan dengan Republik Togo di timur, Burkina Faso di utara, Pantai Gading di sebelah barat dan Samudra Atlantik di selatan. Berdasarkan Sensus Penduduk dan Perumahan tahun 2000, penduduk Ghana mencapai 18,9 juta jiwa. Jumlah penduduk ini meningkat 53,8% dibandingkan tahun 1984 yang hanya berjumlah 12,3 juta jiwa. Dengan demikian, tingkat pertumbuhan penduduk setiap sensus dilakukan mencapai 2,7 %. Jumlah rumah tangga diperkirakan mencapai 3,7 juta dengan rata-rata 8,7 orang per rumah tangga [1].
Persentase kontrbusi pasokan energi primer di Ghana pada tahun 2008
Gambar 1. Persentase kontrbusi pasokan energi primer di Ghana pada tahun 2008 [7]
Pada tahun 2007, populasi Ghana diperkirakan mencapai 22,4 juta jiwa dengan rasio penduduk perempuan dan laki-laki sekitar 1,02. Total area pertanahan di Ghana adalah 238.533 km2 sehingga proyeksi kepadatan penduduknya adalah 94 orang/km2 pada tahun 2007. Negara ini dibagi menjadi enam zona agro-ekologi berdasarkan iklimnya. Zona tersebut tercermin dari vegetasi alami dan kondisi tanah. Zona agro-ekologi dari utara ke selatan adalah: Zona Savana Sudan, Zona Savana Guinea, Zona Transisi, zona Hutan Semi-daun, Zona Hutan Hujan dan Zona Savana [2].

1.2 Ekonomi

Sektor pertanian merupakan penggerak ekonomi Ghana dan melibatkan hampir 86% kepala rumah tangga serta membukukan sekitar 35% dari pendapatan ekspor sejak tahun 2000 [2]. Sementara, Sensus Penduduk dan Perumahan tahun 2000 (PHC) menunjukkan bahwa secara ekonomi, sekitar 80% dari penduduknya bekerja di sektor informal. Hal ini menunjukkan peran penting usaha rumah tangga di bidang ekonomi [3]. Total pengeluaran pemerintah meningkat dari GH¢5624.53 juta (40,0% dari PDB) pada tahun 2007 menjadi GH¢8009.82 juta (46,5% dari PDB) pada tahun 2008. Pengeluaran ini didominasi oleh pengeluaran yang berhubungan dengan biaya energi, perkembangan infrastruktur dan bantuan sosial [23].

Menurut Laporan Pembangunan Manusia pada tahun 2009 dari United Nations Development Programme (UNDP),  Nilai indeks Pembangunan Manusia Ghana (HDI) tahun 2007 sebesar 0,526, dimana Ghana menempati peringkat 152 dari seluruh Negara di dunia [30]. Sekitar 3,4 juta rumah tangga di Ghana memiliki atau mengoperasikan sebuah peternakan atau bekerja menjaga ternak. Selain itu, lebih dari setengah rumah tangga (1,8 juta jiwa), yang memiliki usaha pertanian telah  mempekerjakan tenaga kerja untuk menjalankan usaha tersebut. Jagung dan kakao merupakan komoditas perdagangan utama sehingga dibudidayakan dalam jumlah yang banyak [30].

1.3 Konsumsi Energi

Total energi yang dihasilkan di Ghana pada tahun 2000 mencapai 6,2 juta ton minyak atau sekitar sebelas setengah tahun lebih banyak dari energi yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga air [1] Akosombo dan Kpong. Jumlah energi listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik ini mengalami kenaikan pada tahun 2004 [4]. Jumlah energinya setara dengan 6,8 juta ton minyak [4].  Sebagian besar pasokan energi di Ghana berasal dari woodfuel, yakni kayu bakar dan arang. Penggunaan woodfuel sekitar 71 ± 1% dari pasokan total energi primer dan sekitar 60% dari permintaan energi akhir [5]. Pada tahun 2008 woodfuel memberikan kontribusi sekitar 72% dari pasokan energi primer ke negara itu, sisanya berasal dari minyak mentah dan hidro seperti dijelaskan pada Gambar 1. Pada keadaan normal, sektor ekonomi perumahan atau rumah tangga mengkonsumsi hampir 50 % dari total konsumsi energi Ghana. Tingginya konsumsi energi di sektor perumahan ini disebabkan oleh tingginya penggunaan woodfuel yang utamanya terdiri dari kayu bakar (hampir 76 %) dan arang [6].
Total konsumsi energi dari berbagai jenis energi di Ghana dari tahun 2003 sampai 2008
Gambar 2. Total konsumsi energi dari berbagai jenis energi di Ghana dari tahun 2003 sampai 2008  [7]
Strategi Pengentasan Kemiskinan di Ghana (GPRS) menargetkan untuk membawa negara ini menjadi negara berpenghasilan menengah yaitu sebesar US $ 1000 per kapita pada tahun 2015. Permasalahannya adalah permintaan woodfuel akan meningkat dari sekitar 14 juta ton pada tahun 2000 menjadi 38-46 juta ton pada 2012, dan 54-66 juta ton pada tahun 2020 [4]. Peningkatan permintaan woodfuel akan memberikan dampak negatif terhadap hutan Negara, dimana hutan akan berkurang akibat tekanan berlebihan sehingga terjadi deforestasi yang parah. Jika tidak ada tindakan pencegahan yang tepat, maka kondisi tersebut selanjutnya dapat berdampak serius pada perubahan iklim, pertanian dan sumber daya air. Selama beberapa tahun terakhir ini, permintaan woodfuel terus meningkat. Hal ini karena sebagian besar (sekitar 80 %) rumah tangga di Ghana sangat tergantung pada woodfuel untuk memasak dan memanaskan air [5]. Tingginya penggunaan woodfuel juga diakibatkan oleh penggunaannya untuk komersial, industri, dan institusi/lembaga. Gambar 1 menunjukkan bahwa sekitar 18 juta ton kayu bakar telah digunakan pada tahun 2000. Jika tren konsumsi tersebut terus naik, maka kemungkinannya adalah Ghana akan mengkonsumsi lebih dari 25 juta ton kayu bakar pada tahun 2020.
Sumber bahan bakar yang digunakan rumah tangga untuk memasak di berbagai daerah di Ghana
Tabel 1. Sumber bahan bakar yang digunakan rumah tangga untuk memasak di berbagai daerah di Ghana [2]
Woodfuel telah menjadi jenis energi utama yang telah dikonsumsi di Ghana antara tahun 2003-2008 seperti ditunjukkan pada Gambar. 2. Kontribusinya sekitar 70%, 77,7% dan 76,4% pada tahun 2000, 2004 dan 2008 [7] dari total energi yang dikonsumsi. Luas tutupan hutan di Ghana telah menyusut dari 8,13 juta hektar pada awal abad lalu, menjadi 1,6 juta hektar saat ini [2]. Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) PBB, laju deforestasi di Ghana mencapai 3% per tahun. Pada tahun 2000, hasil atau produksi tahunan kayu sekitar 30 juta ton, dimana sekitar 18 juta ton akan digunakan sebagai woodfuel [5].

Tabel 1 menunjukkan sumber utama bahan bakar untuk memasak bagi rumah tangga di sepuluh daerah di Ghana. Tabel ini menegaskan tingginya ketergantungan rumah tangga terhadap bahan bakar tradisional untuk memasak. Tabel 1 juga mengungkapkan bahwa sekitar 87% rumah tangga di Ghana menggunakan bahan bakar kayu: kayu bakar (56,6%) dan arang (32%) sebagai bahan bakar utama untuk memasak [2].
Profil penyedia layanan biogas di Ghana
Tabel 2. Profil pnyedia layanan biogas di Ghana [2]

2.1. Sejarah dan Pemanfaatan Biogas di Ghana

Penggunaan konvensional kotoran sapi sebagai sumber bahan bakar untuk memasak telah menjadi praktek umum selama bertahun-tahun di Ghana. Hal ini menjadi pilihan utama bagi daerah padang rumput utara karena daerah tersebut mengalami kelangkaan kayu bakar dan arang untuk memasak [2]. Ketertarikan terhadap teknologi biogas di Ghana dimulai pada akhir 1960-an namun tidak sampai pada pertengahan tahun 1980-an, teknologi biogas tersebut mendapat perhatian serius dari pemerintah [8]. Sebelum pertengahan tahun 1980-an, perhatian pemerintah terhadap program diseminasi tersebut hanya terfokus pada penyediaan energi domestik untuk memasak [8]. Basis sumber daya woodfuel yang menipis secara cepat ditambah adanya proyeksi peningkatan penggunannya di masa depan yang dapat memberikan dampak sosial dan lingkungan yang buruk, telah membuat pemerintah Ghana lebih fokus untuk memenuhi kebutuhan sumber daya bahan bakar alternatif yang dapat dikembangkan dan dieksploitasi untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat, misalnya untuk memasak. Akhirnya, teknologi biogas tepilih menjadi salah satu opsi untuk mengurangi deforestasi hutan.

Demonstrasi reaktor biogas pertama, yaitu digester tipe kubah tetap bervolume 10 m3 buatan China, telah dibangun pada tahun 1986 oleh Departemen Energi di peternakan perbukitan Shai di Daerah Greater Accra. Pembuatan reaktor biogas ini mendapat dukungan dari pemerintah Cina. Setahun kemudian pada tahun 1987, United Nations Children Fund (UNICEF) mendukung pembangunan beberapa demonstrasi reaktor biogas domestik di daerah Jisonayilli dan Kurugu di wilayah Utara [2]. Departemen Energi mendirikan salah satu reaktor biogas berskala besar pertama melalui proyek pembangunan biogas secara komprehensif di Ghana, yang dinamai “Proyek lingkungan dan Energi Pedesaan Terpadu” di Apollonia, sebuah desa yang terletak sekitar 46 km dari Accra. Reaktor Biogas Apollonia menggunakan bahan baku dari kotoran hewan dan kotoran manusia. Reaktor ini memiliki generator 12,5 kW untuk menyediakan tenaga listrik bagi jalan dan penerangan rumah serta untuk memasak. Sedangkan bio-slurry (ampas biogas) digunakan untuk pertanian [9]. Sebanyak sembilan belas digester yang terdiri dari enam digester berukuran15 m3, dua digester Deenbandhu berukuran 30 m3, delapan digester berukuran10 m3, dan tiga digester tipe kubah tetap buatan China berukuran 25 m3 dibangun oleh para insinyur dari Departemen Energi (KLH) dan Institute of Industrial Research (IIR ) [8,10].

Sebagai bagian dari langkah pertama dalam perencanaan dan pengembangan program biogas nasional, maka dilakukan wawancara dengan pengusaha yang terlibat dalam pembangunan pembangkit biogas pada tahun 2007 oleh Kumasi Institut Teknologi dan Lingkungan (KITE)-sebuah LSM energi setempat. Saat penelitian ini sedang berlangsung, telah ada sedikitnya lebih dari 100 reaktor biogas yang telah dibangun di Ghana sampai saat ini [2]. Sebagian besar reaktor biogas telah dilengkapi dengan bio-sanitasi seperti instalasi pengolahan limbah / cairan dan biolatrine. Biolatrine adalah penggunaan jamban yang hanya membutuhkan sedikit, hal ini untuk mengurangi meluapnya air pada tangki digester akibat penggunan air yang berlebihan untuk menyiram jamban. Sebagian besar bio-sanitasi tersebut terletak di lembaga pendidikan dan kesehatan di daerah perkotaan [2,8,9]. Sebuah survei terhadap 50 reaktor biogas dilakukan dengan tujuan untuk memastikan keadaan sebenarnya dari teknologi biogas di Ghana. Kunjungan lapangan ke instalasi biogas dilakukan antara Juni 2008 dan Februari 2009. Sebanyak 50 reaktor biogas dipilih dari populasi dengan menggunakan stratified and convenience sampling techniques [8,10]. Dari 50 instalasi yang diteliti, 22 berada dalam kondisi baik, 10 reaktor berfungsi meskipun ada beberapa kerusakan (misalnya terjadi kerusakan pada tabung gas, jaringan dan pipa gas) yang diamati, dan 14 reaktor tidak beroperasi. Hal ini disebabkan alasan-alasan berikut: (i) pemilik reaktor enggan membelanjakan tambahan keuangan untuk merawat reaktor biogas, (ii) beberapa penyedia layanan reaktor biogas tidak memberikan kursus yang memadai terhadap pengelola reaktor mengenai dasar dan cara kerja sistem biogas [8].

Rendahnya peran pemerintah terhadap proyek biogas di Ghana juga telah membuat sejumlah perusahaan biogas swasta mengambil kebijakan untuk memasarkan teknologi tersebut, tentunya murni karena alasan bisnis. Alasan lain adalah karena reaktor biogas mempunyai kemampuan untuk meningkatkan sanitasi bagi industri mereka [8]. Setidaknya ada 10 penyedia layanan biogas yang telah aktif terlibat dalam desain dan pembangunan pembangkit biogas skala domestik dan institusi di seluruh negeri. Tabel 2 menunjukkan daftar penyedia layanan dan jumlah reaktor biogas yang telah dibangun oleh mereka.

Meskipun tidak ada strategi yang jelas untuk promosi teknologi biogas di Ghana [9], namun sejumlah sistem telah dibangun sejak tahun 1996 [2]. Menurut penulis [4], pemerintah Ghana akan mempromosikan biogas untuk dapur institusi, laboratorium, rumah sakit, asrama sekolah, barak, dan lain-lain. Reaktor Energi Nasional Strategis (SNEP) untuk Ghana mentargetkan untuk mencapai penetrasi 1% biogas bagi pemenuhan bahan bakar untuk memasak di dapur hotel, restoran dan institusi pada tahun 2015 dan 2% pada tahun 2020. Dokumen tersebut tidak menyebutkan program untuk sistem biogas rumah tangga. Namun, sejumlah individu telah memiliki digester biogas digester bervolume antara 8 m3 dan 12 m3 yang dipasang di rumah mereka. Bahan baku digester biogas tersebut berasal sisa / limbah dapur [2].

2.2. Desain / Rancangan Digester Biogas

Biogas yang dihasilkan dari bio-digesti tergantung pada komposisi substrat, jenis substrat, waktu retensi (fermentasi) dan kondisi biodigester. Komposisi rata-rata biogas dapat dilihat pada Tabel 3. Sebelum digunakan, komposisi biogas harus diketahui terlebih dahulu.  Hal ini karena adanya bahaya dari keberadaan hidrogen sulfida, terutama ketika biogas digunakan sebagai bahan bakar dalam mesin pembakaran internal [14]. H2S bersifat korosif sehingga dapat mengakibatkan karat pada peralatan logam.
Komposisi rata-rata biogas dari berbagai limbah / sisa organik
Tabel 3. Komposisi rata-rata biogas dari berbagai limbah / sisa organik [14].
Namun, pada tahun 2000, sekitar 90 % rumah tangga perkotaan di Ghana menggunakan peralatan masak dari tungku masak tradisional yang bukan terbuat dari logam [4], sehingga biogas yang diproduksi tidak memerlukan pemurnian. Hal ini karena gas hidrogen sulfida yang terdapat di biogas tidak memiliki efek negatif terhadap peralatan memasak mereka.
Digester biogas tipe kubah tetap Fixed dome digester 1. Mixing tank with inlet pipe. 2. Gasholder. 3. Digester. 4. Compensation tank. 5. Gas pipe.
Gambar 3. Digester biogas tipe kubah tetap Fixed dome digester 1. Mixing tank with inlet pipe. 2. Gasholder. 3. Digester. 4. Compensation tank. 5. Gas pipe.
Tiga tipe reaktor biogas yang telah dirancang, diuji dan disebarluaskan di Ghana adalah fixed-domed (kubah tetap), floating drum (drum mengambang) dan Puxin digester [2]. Sebuah reaktor biogas tipe kubah tetap terdiri dari digester tertutup berbentuk kubah dengan pipa gas yang kaku dan dilengkapi dengan lubang perpindahan substrat atau biasa disebut tangki kompensasi. Gas akan terkumpul di bagian atas digester. Ketika produksi gas dimulai, slurry (bahan baku berbentuk seperti bubur) dipindahkan ke dalam tangki kompensasi seperti yang ditunjukkan pada Gambar. 3. Tekanan gas akan meningkat jika volume gas yang tersimpan bertambah. Hal ini ditandai dengan perbedaan ketinggian antara slurry di dalam digester tangki kompensasi [11]. Jika ada sedikit gas di gasholder (tabung gas), maka tekanan gas rendah.
Digester biogas tipe drum mengapung (Floating drum digester) 1. Mixing tank with inlet pipe. 2. Digester. 3. Compensation tank. 4. Gasholder. 5. Water jacket. 6. Gas pipe.
Gambar 4. Digester biogas tipe drum mengapung (Floating drum digester) 1. Mixing tank with inlet pipe. 2. Digester. 3. Compensation tank. 4. Gasholder. 5. Water jacket. 6. Gas pipe.
Reaktor biogas tipe Floating-drum (drum mengapung) terdiri dari digester bawah tanah dan tabung gas diatasnya yang dapat bergerak naik turun seperti ditunjukkan pada Gambar. 4. Gas dikumpulkan pada tabung gas, yang dapat naik atau turun, sesuai dengan jumlah gas yang tersimpan. Tabung gas dijaga supaya tetap tegak dan tidak miring menggunakan struktur kerangka yang berisi air (water jacket). Jika kadar gas di digester bertambah, maka tabung gas akan tertekan sehingga bergerak naik. Namun, jika kadar gas berkurang, maka tabung gas tersebut akan bergerak turun [12].
Puxin digester 1. Mixing tank with inlet pipe. 2. Digester. 3. Compensation tank. 4. Gasholder. 5. Gas pipe.
Gambar 5. Puxin digester 1. Mixing tank with inlet pipe. 2. Digester. 3. Compensation tank. 4. Gasholder. 5. Gas pipe.
Digester biogas Puxin adalah biogas digester dengan tekanan hidrolik. Digester ini terdiri dari tangki fermentasi yang dibangun dengan beton. Sebuah tabung gas dibuat dari serat gelas yang diperkuat plastik dan penutup outlet (saluran pembuangan) digester dibuat dari serat gelas yang diperkuat plastik atau beton. Tabung gas ini dipasang di atas digester. Tabung gas dan digester ditutup dengan air [2] seperti ditunjukkan pada Gambar. 5.

Kisaran Suhu mesofilik untuk produksi biogas adalah 20 – 40 oC [12] dan dengan suhu Ghana tahunan 25 oC seperti yang dilaporkan oleh KITE [2]. Hal ini menunjukkan bahwa kebanyakan reaktor biogas di Ghana dapat beroperasi dengan baik dalam kondisi suhu mesofilik.

2.3. Sumber Energi Biogas

Biogas merupakan jenis energi bersih dan terbarukan. Biogas dapat menambah daftar sumber energi konvensional. Biogas diproduksi melalui degradasi secara anaerobik yaitu proses yang sangat kompleks dan membutuhkan kondisi lingkungan tertentu serta berbagai populasi bakteri [8,14,15]. Proses fermentasi anaerob secara lengkap dan singkat ditunjukkan pada Tabel 4. Energi biogas memiliki beberapa keunggulan dibandingkan sumber energi lain. Keberhasilan penggunaan teknologi biogas tidak hanya dapat menghasilkan pembangkit energi dan bio-pupuk, tetapi juga menghasilkan manfaat sosial dan ekologi lainnya termasuk sanitasi, penghijauan dan pengurangan konsumsi bahan bakar dari minyak impor [16].
Degradasi anaerobik terhadap material organik
Tabel 4. Degradasi anaerobik terhadap material organik [13].
Substrat bahan baku untuk program biogas di Ghana telah diidentifikasi. Bahan baku biogas yang dinyatakan layak secara ekonomis meliputi enceng gondok, kotoran (feses), daun singkong, sampah perkotaan, limbah padat, residu (sisa) dan limbah pertanian.

Sapi, domba, kambing, babi dan unggas adalah ternak utama yang dikembangkan di Ghana. Industri unggas di Ghana merupakan industri unggas terbesar dan paling sukses [2]. Hewan ini dapat menghasilkan sejumlah besar pupuk kandang. Pupuk kandang merupakan substrat yang cocok untuk digesti anaerobik.  Selain itu, pupuk kandang juga merupakan substrat yang paling umum untuk produksi biogas dengan proses digesti anaerobik. Tabel 5 menunjukkan potensi biogas dari kotoran ternak dari berbagai daerah di Ghana pada tahun 2006.
Potensi biogas dari limbah organik yang dihasilkan ternak di Ghana pada tahun 2006
Tabel 5. Potensi biogas dari limbah organik yang dihasilkan ternak di Ghana pada tahun 2006  [2] [6] [17] [18].
Tabel 5 menunjukkan bahwa kotoran dari ternak yang diproduksi di Ghana menghasilkan sekitar 350 juta m3 biogas pada tahun 2006. Nilai kalor biogas adalah 22,5 MJ/m3 [14]. Dengan demikian, biogas yang diproduksi di Ghana dapat menghasilkan energi sekitar 7.875.000 GJ atau 2.100 GWh [6].

Hambatan yang dihadapi oleh Negara berkembang untuk menerapkan teknologi biogas adalah kurangnya sumber daya dan kemampuan untuk: (i) merencanakan dan menerapkan sistem pembuangan limbah, (ii) mengelola limbah cair dan padat, dan (iii) mengatasi masalah sanitasi, dimana perumahan sering dibangun terlebih dahulu sebelum sistem pembuangan dan kebutuhan infrastruktur lainnya terpenuhi [19]. Berdasarkan literatur [19,20], masalah limbah di Ghana juga merupakan akibat langsung dari berkembangnya penduduk perkotaan, perubahan pola produksi dan konsumsi, gaya hidup urban (perkotaan) dan industrialisasi. Penggunaan biogas dari Limbah Padat Kota (MSW) tidak dapat dilihat sebagai satu-satunya solusi untuk mengatasi masalah energi di seluruh negeri, tetapi bisa memperbaiki lingkungan melalui pengelolaan sampah yang benar, pelestarian air permukaan dan bawah tanah, penciptaan lapangan kerja, pengentasan kemiskinan dan pembangunan yang berkelanjutan [14].

Rata-rata limbah padat harian yang dihasilkan di Ghana mencapai 0,45 kg per kapita per hari [20]. Perkiraan populasi penduduk sebesar 22,9 juta pada tahun 2007 seperti dikutip dari Laporan Pembangunan manusia untuk tahun 2009 [30].  Dengan demikian, total MSW yang dihasilkan setiap tahunnya mencapai total 3,73 juta ton.

Setiap bahan organik dapat didegradasi untuk menghasilkan biogas [9,[11]]. Berdasarkan hal ini, maka proses degradasi bahan organik di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sama dengan proses pada reaktor biogas. Perbedaannya adalah bahwa produksi biogas dari digesti anaerobik yang berlangsung di dalam reaktor dapat dikendalikan dan prosesnya lebih cepat karena kondisinya diatur pada level optimal [19].

Studi yang dilakukan oleh Netherlands Development Organisation (SNV) telah menunjukkan bahwa Ghana memiliki potensi untuk membangun sekitar 278.000 [21] reaktor biogas di seluruh negeri.

3. Potensi Keuntungan dari Aplikasi Teknologi Biogas

3.1. Sektor Pertanian

Sektor pertanian Ghana telah memberikan kontribusi sangat besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Sektor ini memberikan kontribusi sekitar 33,5% terhadap PDB dengan pertumbuhan tahunan 5,1% pada tahun 2008 [22] dengan mayoritas rumah tangga di Ghana bergantung pada pertanian. Sebagian besar pupuk kandang digunakan sebagai sumber utama pupuk pertanian. Laporan Tahunan Bank Ghana pada tahun 2008 menyebutkan bahwa GDP riil telah tumbuh sebesar 7,3% pada tahun 2008 atau berada di atas target yang telah ditetapkan, yaitu sebesar 7,0% dan 6,3% berhasil dicapai pada tahun 2007. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan kinerja di sektor Pertanian dan Industri. Tingkat pertumbuhan di sektor pertanian meningkat dari 3,1% menjadi 4,9% pada tahun 2007, namun masih berada di bawah target yang ditetapkan, yaitu sebesar 5% [23].

Menurut peneliti [21], para petani di negara berkembang sangat membutuhkan pupuk untuk menjaga produktivitas lahan pertanian. Pada saat yang sama, ketersediaan nitrogen (N), kalium (K) dan fosfor (P) dalam bentuk bahan organik adalah sekitar delapan kali lebih tinggi dibandingkan kuantitas yang tersedia di pupuk kimia yang digunakan di negara berkembang. Ampas yang dihasilkan dari digester telah terbukti menjadi pupuk terbaik untuk pertanian. Ampas ini dapat menyediakan pupuk organik yang sangat bermanfaat dan memiliki kualitas yang tinggi bagi para petani [25]. Selain itu, ampas tersebut juga dapat digunakan sebagai alternatif pupuk kimia untuk pertanian [24]. Efek kumulatif dari penggunaan ampas biogas cair sebagai pupuk organik adalah dapat meningkatkan hasil produksi panen. Hal ini akhirnya dapat mengurangi impor pupuk kimia sehingga menambah tabungan untuk menjalankan kegiatan ekonomi lain yang nantinya juga akan dapat meningkatkan perekonomian Ghana.

3.2. Sektor Kesehatan

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, sekitar 87 % rumah tangga di Ghana menggunakan woodfuel sebagai sumber bahan bakar untuk memasak. Konsekuensi penggunaan Woodfuel adalah adanya paparan asap pada lingkungan indoor (di dalam ruangan/rumah) akibat pembakaran tidak sempurna. Hal ini dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut dan infeksi mata pada setiap penduduk, baik yang muda atau tua, sehingga dapat meningkatkan jumlah kematian bayi.

Penggunaan biogas sebagai bahan bakar untuk memasak dapat mengurangi paparan asap di dapur secara drastis. Hal ini dapat mengurangi jumlah penyakit yang diakibatkan oleh paparan asap, terutama bagi para wanita atau anak-anak.

Memasak menggunakan biogas jauh lebih mudah dibandingkan woodfuel. Hal ini karena mereka tidak perlu menjaga stabilitas kobaran api yang biasanya dilakukan dengan menambahkan woodfuel secara terus-menerus.

Kotoran (feses) manusia yang akan dijadikan pupuk pertanian harus melalui proses digesti bersama-sama dengan substrat organik lainnya sebelum diaplikasikan ke tanah pertanian. Jika kotoran tersebut digunakan secara langsung, maka akan dapat menyebarkan penyakit yang terdapat di feses tersebut.

Sebagian besar patogen yang terdapat di feses dapat menyebabkan gangguan pencernaan, seperti diare, muntah, dan kejang perut. Selain itu, pathogen tersebut juga dapat menyerang organ lain dan menimbulkan akibat yang parah [26].

3.3. Penciptaan Lapangan Kerja

Seperti yang dinyatakan sebelumnya, Ghana memiliki potensi untuk mendirikan sekitar 278.000 reaktor biogas. Hal ini dapat memberikan kesempatan besar untuk menciptakan lapangan kerja baik terampil maupun tidak terampil. Sebuah penyedia layanan Biogas, yaitu Biogas Technologies West Africa Limited (BTWAL)  memiliki 148 pekerja penuh waktu seperti yang ditunjukkan oleh Tabel 2. Selain itu, bidang desain dan pembuatan peralatan konstruksi dan alat biogas juga dapat memberikan kesempatan bagi pencari kerja.

Institusi akademik juga mendapatkan peran di bidang penelitian dan pengembangan untuk meningkatkan kualitas sistem biogas yang sesuai di Ghana

Teknologi biogas juga akan membuka peluang kerja bagi tukang batu, tukang pipa, insinyur sipil dan agronomi, dimana mereka sering menjadi promoter paling efektif untuk aplikasi teknologi biogas [12].

Jika ada sepuluh penyedia layanan biogas saja, maka teknologi ini akan memberikan kontribusi besar terhadap penciptaan lapangan kerja.

3.4. Sektor Lingkungan

Para pengambil kebijakan dapat menggunakan teknologi biogas untuk memecahkan masalah pembuangan limbah publik dan pengolahan air limbah. Energi yang dihasilkan dari proses digesti biasanya tidak menjadi energi utama (prioritas) untuk memenuhi kebutuhan energi suatu Negara. Namun, energi ini sangat mendukung kebutuhan energi publik seperti penerangan jalan, pompa air, aktivitas memasak di rumah sakit atau sekolah [12]. Kakus umum yang setiap harinya dikunjungi 2.000 orang per hari akan menghasilkan sekitar 60 m3 biogas yang dapat menjalankan generator 10 KVA selama 8 hari [27].

Tingginya tingkat ketergantungan pada pemanfaatan woodfuel  juga diketahui telah memberikan sebagian kontribusi terhadap deforestasi dan emisi beberapa gas rumah kaca di Ghana. Menurut penulis [2], asap dari aktivitas memasak akan menghasilkan sekitar 7 miliar ton karbon di lingkungan dalam bentuk gas rumah kaca pada tahun 2050. Karbon ini hanya dari Afrika saja, belum termasuk benua lainnya. Woodfuel telah menyumbang sekitar 6% dari total gas rumah kaca yang dihasilkan benua tersebut. Penggunaan biogas sebagai bahan bakar akan mengurangi kadar gas metana di atmosfer, sehingga dampak negatifnya akan berkurang. Secara signifikan, air permukaan dan air tanah akan terlindungi dari material limbah berbahaya sehingga mengurangi paparan racun terhadap penduduk Ghana. Konversi material limbah dan kotoran menjadi pupuk yang lebih bermanfaat dan bernilai tinggi (ampas / bubur biogas), akan dapat mempermudah pemenuhan kebutuhan pupuk pertanian dari bahan organic. Hal ini akan dapat melindungi tanah dari deplesi dan erosi [21].

3.5. Pemberdayaan Perempuan dan Pengurangan Beban Kerja

Jika kita melihat isu-isu gender baik dari sisi permintaan dan sisi penawaran energi, maka pria dan wanita memiliki tuntutan yang berbeda karena aturan sosial-budaya dan tradisional yang ada. Kebanyakan wanita hanya melakukan aktivitas memasak. Mereka juga sangat terlibat dalam pengumpulan kayu bakar dan produksi arang. Aktivitas mengumpulkan kayu bakar membutuhkan waktu yang lama sehingga mengurangi waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk kegiatan produktif lainnya.Penggolongan gender tenaga kerja dan degradasi lingkungan telah meningkatkan beban waktu bagi perempuan [4].

Traktor yang digunakan untuk mengolah lahan pertanian biasanya dioperasikan oleh pria. Alat ini telah menggantikan pekerjaan berat yang sebelumnya dilakukan oleh lembu jantan. Namun, penyiangan dan panen yang merupakan pekerjaan pertanian yang kebanyakan dilakukan oleh perempuan. Jadi, meskipun traktor dapat meningkatkan pendapatan keseluruhan keluarga, namun wanita ternyata tetap memiliki beban kerja yang masih berat.

Waktu yang dihabiskan oleh perempuan pedesaan untuk mengumpulkan woodfuel diperkirakan minimal dua sampai tiga kali seminggu. Meskipun waktu yang mereka habiskan tidak menghasilkan uang, namun mereka memiliki harapan bahwa kerja keras tersebut akan dapat memperpanjang kelangsungan hidupnya [2].

Padahal, jika ada teknologi biogas, maka mereka hanya perlu melakukan pekerjaan sekali di setiap harinya. Pekerjaan tersebut adalah mengkondisikan bahan baku untuk menjadi homogen. Kondisi homogen adalah tercampurnya secara menyeluruh / sempurna setiap bahan baku biogas yang biasanya terdiri dari kotoran hewan, limbah dapur, dan residu (sisa) pertanian. Pekerjaan yang membutuhkan komitmen tinggi untuk setiap minggunya pada pembangkit biogas domestik meliputi: membersihkan kompor gas dan peralatan lain dan membuka perangkap uap air secara manual sehingga air embun dapat mengalir ke luar melewati pipa/selang biogas. Untuk menjamin kinerja optimal reaktor biogas, maka perlu dilakukan beberapa pekerjaan bulanan, diantaranya; (i) mencampur bahan baku antara lapisan atas dan bawah tabung ekspansi (ii) memeriksa dan mengisi air di water jacket yang berfungsi mengatur daya apung digester [11].

Sebagian besar pekerjaan tersebut dilakukan di lokasi reaktor biogas sehingga operator tidak perlu melakukan pengecekan reaktor biogas setiap hari, kecuali untuk pekerjaan khusus seperti melakukan penggantian peralatan utama yang meliputi kompor, desulfurizer (berfungsi untuk menghilangkan unsur belerang), dan lain-lain

Keterlibatan perempuan pada teknologi biogas akan dapat menghemat waktu yang sebelumnya digunakan utnuk mencari woodfuel. Waktu tersebut dapat diganti dengan aktivitas pendidikan atau kegiatan produktif lainnya. Hal ini akan meningkatkan standar hidup, memberikan penghasilan tambahan dan meningkatkan kebutuhan gizi dan kesehatan rumah tangga.

Saat ini, jumlah penduduk laki-laki yang melek huruf lebih banyak dibandingkan perempuan, yaitu sekitar 20 %. Bahkan, di daerah Utara Ghana jumlah kesenjangan tersebut mencapi 30 % [29].

Aplikasi teknologi biogas akan dapat mengurangi kesenjangan tersebut karena anak-anak yang sebelumnya sibuk mencari kayu bakar, akan dapat bersekolah di waktu luangnya. Hal ini juga akan dapat meningkatkan komunikasi antara si buta huruf dan si melek huruf sehingga mempercepat peningkatan jumlah penduduk yang melek huruf.

4. Prospek dan Tantangan Teknologi Biogas

Meskipun ada beberapa peluang di sektor biogas, namun ada juga tantangan yang tidak dapat diabaikan. Sebenarnya, Pendekatan yang telah dilakukan oleh beberapa perusahaan untuk penyebaran skala besar pembangkit biogas domestik di area pedesaan Ghana dengan penekanan pada tiga wilayah utara, dan daerah Ashanti secara teknis telah memungkinkan bagi sekitar 80.000 rumah tangga di empat wilayah tersebut untuk memiliki setidaknya satu digester kubah tetap bervolume 6 m3 di rumah mereka untuk memenuhi kebutuhan energi memasak sehari-hari [21].

Selain itu, Ghana juga memiliki program nasional yang dapat mempercepat aplikasi teknologi biogas ke setiap rumah tangga dan institusi.

Pemerintah Ghana melalui National Community Water and Sanitation Programme (NCWSP) memiliki strategi nasional jangka menengah dan panjang untuk memperluas ketersediaan air bersih dan fasilitas sanitasi yang berkualitas bagi masyarakat pedesaan dan kota kecil di Ghana.  Secara tidak langsung, NCWSP telah menyediakan platform untuk produksi biogas melalui Community Water and Sanitation Agency (CWSA). CWSA telah berkomitmen untuk memberikan bantuan 1,1 juta WC (jamban) bagi rumah tangga, masyarakat, dan institusi sebagai bagian dari strategi untuk memutus siklus penularan penyakit yang disebabkan oleh kotoran (feses). Namun, dokumen Energy for Poverty Reduction Action Plan for Ghana (EPRAP) yang dibuat oleh KITE menyebutkan bahwa pengelolaan kotoran (feses) manusia menjadi biogas dan pupuk hanya akan menguntungkan apabila sekitar 50 % kakus di institusi (sekitar 800 kakus) dan 20 % dari kakus komunal/komunitas (sekitar 1.670) telah dijadikan biolatrine [31].

Di Afrika, penyebaran teknologi biogas relatif tidak berhasil. Hal ini disebabkan kegagalan pemerintah Afrika untuk mendukung teknologi biogas melalui desain kebijakan energi terfokus, desain dan konstruksi digester yang pelaksanaan yang kurang tepat dan kurangnya perawatan fasilitas biogas oleh pengguna. Selain itu, strategi sosialisasi yang buruk, kurangnya pemantauan proyek dan tindak lanjut oleh promotor, dan rendahnya tanggung jawab oleh pengguna [8] juga menjadi tantangan untuk memperluas apikasi teknologi biogas. Meskipun biogas mampu memecahkan beberapa masalah energi dan lingkungan yang dihadapi oleh penduduk pedesaan miskin, masyarakat perkotaan dan kawasan industri, namun teknologi ini membutuhkan persyaratan investasi yang tinggi. Masalah utama dari pedesaan yang penduduknya bekerja sebagai peternak adalah ketidakmampuan mereka untuk membayar biaya penuh dari penggunaan teknologi biogas. Sebagai contoh pada tahun 2009, biaya rata-rata investasi dari reaktor biogas bervolume 10 m3 berkisar antara $ 2.800,00 sampai $ 4.200,00. Angka-angka ini jauh di atas kemampuan keuangan masyarakat petani pedesaan [8]. Keyakinan sosial dan budaya lainnya seperti hambatan etnis, minimnya pemantauan dan pemeliharaan dan stigmatisasi dalam penggunaan kotoran manusia sebagai pupuk berpotensi dapat mempengaruhi penyebaran teknologi biogas dan hal ini tidak boleh diabaikan.

5. Kesimpulan

Meskipun penetrasi (masuknya) teknologi biogas ke dalam ekonomi Ghana akan memberikan kontribusi besar, Namun, terdapat tantangan ekonomi dan sosial budaya yang tidak boleh diabaikan. Manfaat yang akan diperoleh oleh negara tersebut antara lain pelestarian lingkungan, perbaikan kesehatan dan peningkatan produktivitas pertanian. Teknologi ini juga dapat mengurangi beban kerja perempuan dalam rumah tangga sehingga memberikan jalan bagi untuk memperoleh manfaat sosial dan ekonomi lain ketika mereka mengikuti program yang tepat. Penerapan teknologi biogas akan mendukung program pencegahan perubahan iklim global melalui pemanfaatan gas metana yang seharusnya terlepas ke atmosfer.

Beberapa rekomendasi yang disarankan untuk mengatasi masalah minimnya keuangan bagi program diseminasi teknologi biogas adalah pengenalan program insentif keuangan seperti pinjaman lunak dan subsidi pada tahap awal aplikasi teknologi. Pemerintah juga dapat memberikan dukungan untuk Organisasi non-pemerintah (LSM) energi setempat seperti KITE dan Pusat Pengembangan Energi dan Lingkungan Berkelanjutan (CEESD). Nantinya, organisasi tersebut akan dapat memberikan dukungan teknis dan keuangan secara berkala kepada pemilik teknologi biogas domestik.

Meskipun Ghana tidak memiliki program diseminasi teknologi biogas secara nasional, namun tantangan global seperti perubahan iklim, berkurangnya cadangan minyak yang menyebabkan  peningkatan pesat harga minyak, buruknya sistem pengelolaan limbah yang menyebabkan buruknya sanitasi di daerah pedesaan dan perkotaan, hilangnya tutupan vegetasi secara cepat, dan dampak buruk penggunaan woodfuel terhadap kegiatan domestik, akan mendorong pengembangan dan promosi teknologi biogas. Kelompok-kelompok yang ditargetkan untuk diseminasi teknologi biogas harus dikelompokkan menjadi tiga tingkatan, yaitu tingkat nasional, daerah dan komunitas. Tingkatan ini akan berperan penting dalam penyebaran teknologi biogas tetapi pendekatan yang dilakukan ke setiap tingkatan harus dilakukan dengan cara yang berbeda. Selain itu, program pendidikan dan kampanye secara intensif, dan pengembangan kerangka kerja kelembagaan dengan baik akan diperlukan untuk menjamin keberhasilan program teknologi biogas tersebut secara menyeluruh.

Daftar Pustaka

[1]  Ghana in figures. Ghana Statistical Service (GSS), http://www.statsghana.gov.gh/docfiles/gh_figures_2008.pdf; 2008 [accessed 17.05.10].

[2]  Kumasi Institute of Technology. Energy and Environment (KITE). Feasibilitystudy report on domestic biogas in Ghana. Accra, Ghana: Submitted to Shell Foundation; 2008.

[3]  Ghana Statistical Service: Ghana living standards survey report of the fifth round (GLSS 5); 2008.

[4] Energy Commission (EC). Strategic national energy plan (2006e2020) and Ghana energy policy. Accra, Ghana: Main version; 2006.

[5] Energy Commission-Renewable Energy Division, Woodfuel use in Ghana: an outlook for the future? http://www.energycom.gov.gh/pages/docs/General%20Documents/Renewable%20Ghana%20Woodfuel%20Outlook.pdf [accessed 06.05.10].

[6] Energy Commission of Ghana (EC), Energy sector review, http://www. energycom.gov.gh/static.php?ID¼2 [accessed 07.05.10].

[7] Energy Commission (EC). Energy statistics; 2000e2008 [Ghana].

[8] Bensah EC, Brew-Hammond A. Biogas technology dissemination in Ghana: history, current status, future prospects, and policy significance. International Journal of Energy and Environment 2010;1(2):277e94.

[9] Arthur R. Feasibility study for institutional biogas plant for KNUST sewage treatment plant; MSc. Thesis, Kwame Nkrumah University of Science and Technology (KNUST), Kumasi, Ghana, 2009.

[10] Bensah E.C. Technical evaluation and standardization of biogas plants in Ghana. MSc. Thesis, Kwame Nkrumah University of Science and Technology (KNUST), Kumasi, Ghana, 2009.

[11] GTZ and ISAT. Biogas digest. In: Biogas – application and product development, vol. II, http://www.biores.eu/docs/BIOGASFUNDAMENTALS/biogasdigestvol2.pdf, [accessed 14.05.10].

[12] GTZ and ISAT. Biogas digest. In: Biogas e biogas basics, vol. I, http://www.gtz.de/de/dokumente/en-biogas-volume1.pdf, [accessed Date: 14.05.10].

[13] Omar AM, Fadella Y. Biogas energy technology in Sudan. Renewable Energy 2003;28(3):499e507.

[14] Salomon KR, Lora EES. Estimate of the electric energy generating potential for different sources of biogas in Brazil. Biomass and Bioenergy 2009;33(9):1101e7.

[15] Akinbani JFK, Ilori MO, Oyebisi TO. Biogas energy use in Nigeria: current status, future prospects and policy implications. Renewable and Sustainable Energy Reviews 2001;5(1):97e112.

[16] Walekhwa PN, Mugisha J, Drake L. Biogas energy from family-sized digesters in Uganda: critical factors and policy implications. Energy Policy 2009;37 (7):2754e62.

[17] Sasse L. Biogas plants. Eschborn, Germany: G TZ publication, http://www.borda-net.org; 1988 [accessed 12.05.10].

[18] Food and Agriculture Organization (FAO). Consolidated management services Nepal-session one. System approach to biogas technology; 1996.

[19] Wikner E. Modeling waste to energy systems in Kumasi, Ghana. ISSN 1653-5634. Sweden: Committee of Tropical Ecology, Uppsala University; 2009.

[20] 18th Session of the United Nations Commission on Sustainable Development. National report for Ghana, Waste management in Ghana, http://www.un.org/esa/dsd/dsd_aofw_ni/ni_pdfs/NationalReports/ghana/Anku_SCD_Waste%20Mgt%5B1%5D.pdf [accessed 11.05.10].

[21] Biogas Team. Biogas for better life, an African initiative; 2007. Business plan 2006e2020.

[22] Ghana at a glance, http://devdata.worldbank.org/AAG/gha_aag.pdf; 2009 [accessed 15.05.10].

[23] Bank of Ghana annual report; 2008.

[24] Gautam R, Bara S, Herat S. Biogas as a sustainable energy source in Nepal: present status and future challenges. Renewable and Sustainable Energy Reviews 2009;13(1):248e52.

[25] Dekelver G, Ruzigana S, Lam J. Report on the Feasibility study for a biogas support programme in the Republic of Rwanda. SNV; 2005.

[26] Niwagaba C. Human excreta treatment technologies e prerequisites, constraints and performance. Institutionen för biometri och teknik. Department of Biometry and Engineering; 2007 ISSN 1652-3261.

[27] UNDP. Human development report. Operation, impact and financing of Sulabh. Human Development Report Office: Occasional paper; 2006.

[28] UNDP. CDM information and guidebook. The UNEP project CD4CDM. 2nd ed.; 2004.

[29] African Development Fund. Ghana country gender profile. Human Development Department (OSHD); 2008.

[30] Human Development Report UNDP. Overcoming barriers: human mobility and development; 2009.

[31] KITE. Energy for poverty reduction e action plan for Ghana. Ghana: Ministry of Energy/UNDP; 2006.

Terima kasih atas kunjungan anda, semoga artikel ini bermanfaat. Mohon berikan dukungan kepada kami dengan cara like, follow dan share melalui facebook, twitter, atau google +. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Tulisan ini merupakan terjemahan dari Jurnal :

Richard Arthur, Martina Francisca Baidoo, Edward Antwi. 2011. Biogas as a potential renewable energy source: A Ghanaian case study. Renewable Energy, 36: pp. 1510-1516. DOI: 10.1016/j.renene.2010.11.012.

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah secara bijak. Komentar yang tidak sesuai materi akan dianggap sebagai SPAM dan akan dihapus.
Aturan Berkomentar :
1. Gunakan nama anda (jangan anonymous), jika ingin berinteraksi dengan pengelola blog ini.
2. Jangan meninggalkan link yang tidak ada kaitannya dengan materi artikel.
Terima kasih.