Sunday, March 3, 2013

Pengaruh Revolusi Industri Terhadap Perubahan Sosial, Ekonomi, dan Demografi di Indonesia pada Masa Penjajahan / Kolonial

Artikel dan Makalah tentang Pengaruh Revolusi Industri Terhadap Perubahan Sosial, Ekonomi, dan Demografi di Indonesia pada Masa Penjajahan / Kolonial - Revolusi Industri merupakan salah satu revolusi yang sangat penting dalam merubah tatanan politik ekonomi dunia. Revolusi ini telah mampu mengubah wajah dunia menjadi lebih modern. Indonesia sebagai warga dunia tidak terlepas dari pengaruh tersebut. Namun, sebelum menginjak pada pembahasan pokok, ada baiknya kita menengok sebentar peristiwa apa saja yang terjadi di Inggris sebelum dan setelah Revolusi Industri. Pada bab ini kalian akan mempelajari pengaruh Revolusi Industri terhadap perkembangan Indonesia. Kalian akan melihat perkembangan ekonomi dan demografi (kependudukan) serta industrialisasi di Indonesia pada masa kolonial. Juga kalian akan melihat hubungan transportasi sejak abad ke-19 dengan proses integrasi ekonomi di Indonesia, serta perluasan aktivitas ekonomi swasta asing.



3. Akibat Dan Dampak Revolusi Industri Terhadap Indonesia di Bidang Politik, Sosial, Ekonomi, Iptek, Budaya, dan Demografi Pada Masa Kolonial

Revolusi Industri di Inggris dilatarbelakangi oleh banyak faktor, antara lain oleh faktor politik, sosial, ekonomi dan budaya. Revolusi Industri ditandai dengan penemuan-penemuan alat baru untuk membantu manusia dalam pekerjaan. James Watt merupakan orang pertama yang berhasil menemukan mesin uap.

Sejak penemuan inilah kemudian para ahli dalam bidang lain menemukan penemuan-penemuan terbaru. Revolusi Industri telah berpengaruh, baik untuk Inggris maupun untuk dunia internasional secara keseluruhan. Dalam bidang politik, Revolusi Industri telah mendorong lahirnya imperialisme modern yang dipelopori oleh Inggris. Dalam bidang ekonomi, Revolusi Industri telah mendorong masyarakat Inggris lebih sejahtera dan berkecukupan. Dalam bidang sosial, Revolusi Industri telah berpengaruh terhadap kondisi masyarakat kota dengan adanya urbanisasi. Urbanisasi inilah yang nantinya juga berpengaruh terhadap kemunculan kerawanan sosial berbentuk kejahatan yang meningkat, ketimpangan sosial, dan lahirnya masyarakat baru.

Industrialisasi di Indonesia tumbuh pertama kali di pulau Jawa. Pada awal abad ke-17 Jawa merupakan pusat perdagangan penting di Asia Tenggara. Para pedagang Jawa memasok pangan penting untuk Malaka dan bandar-bandar seperti Surabaya, Gresik, dan Banten merupakan gudang penting untuk barang-barang seperti cengkeh, lada, dan cita India.

Perdagangan ini tidak surut meskipun dikendalikan secara drastis oleh VOC. Pada abad ke-17 dua bandar yaitu Banten dan Batavia berkembang sebagai gudang utama di Jawa. Keduanya bersaing gigih untuk secara penuh menguasai perdagangan antarpulau, meskipun persaingan itu dimenangkan Batavia setelah serangan militer Belanda ke Banten 1682.

Pada awal abad ke-17, Jawa memiliki industri galangan kapal yang luar biasa, bahkan jong besar pun dibuat di sini. Industri pembuatan kapal tetap penting meski akhirnya sebagian diatur oleh Belanda. Untuk industri ini, demikian juga bangunan rumah, diperlukan kayu jati dalam jumlah besar. Demak, Jepara, dan terutama Rembang menjadi industri penggergajian yang besar, yang melibatkan orang Kalang sebagai pekerja.

Pada abad ke-17 dan ke-18 berbagai tanaman baru untuk ekspor diperkenalkan di Jawa dengan berhasil. Tanaman utama adalah kopi, tembakau, nila, dan tebu. Dengan pergeseran dari tanaman rempah ke tanaman baru ini, titik perekonomian ekspor daerah lebih meningkat di pulau Jawa. Sekitar tahun 1650 pusat penghasil gula tradisional seperti Cina Selatan dan Taiwan dilanda perang sipil. Cina-Jawa mengisi celah yang timbul sebagai hasil pembangunan pabrik gula di daerah sekitar Batavia dan Jepara. Pada awal abad ke-18 Jawa memiliki lebih kurang 140 pabrik, menjadikannya penghasil gula tebu terbesar di Asia, yang dijual ke Jepang, Persia, India, dan Belanda.

Sekitar tahun 1800-an, kedudukan padi sebagai barang ekspor digantikan kopi yang bernilai, dan secara cepat diganti dengan gabungan tanaman kopi, nila, dan gula. Tanaman perdu yang menghasilkan kopi diperkenalkan Belanda pada akhir abad ke-17. Pertengahan tahun 1700-an, tanaman ini disebar ke Jawa, Sumatera, termasuk pulau lainnya. Sebetulnya tanaman ini pertama kali ditanam oleh VOC dan perantara mereka dengan pandangan untuk memperoleh keuntungan bagi perdagangan ke Eropa.

Pertengahan abad ke-19 kopi ditanam besar-besaran sebagai tanaman menguntungkan bagi pemerintah di bawah bantuan “tanam paksa”. Sistem ini yang dibuat tahun 1830-an, memungkinkan pemerintahan jajahan Belanda abad ke-19 mendapat cadangan hasil ekspor melalui kerja paksa rakyat Jawa.

Pada abad ke-18, nila ditanam untuk pemakaian daerah setempat di Indonesia. Bahan ini digunakan masyarakat setempat untuk mewarnai bahan dan batik. Tetapi, pada tahun 1870-an terjadi suatu jeda yang berlangsung lebih dari seratus tahun lamanya. Namun, setelah itu terdapat usaha mengembangkan nila menjadi barang dagangan berukuran besar, yang diusahakan untuk memperluas pasarannya di pasar dunia. Seragam biru tua pelaut Inggris abad ke-19, misalnya, warna biru khasnya diperoleh dari celupan nila.

Sejak tebu diperkenalkan, gula tebu merupakan industri yang tumbuh menyambut kebutuhan pasar luar negeri (rakyat Indonesia sendiri baru mulai memakai gula putih atau gula tebu menjelang pertengahan abad ke-20 dan akhirnya Indonesia menjadi pasar utama barang ini). Pada abad ke-17 dan ke-18, pemasaran gula tebu ditujukan ke negara Asia, pada abad ke-19 pasar beralih ke Eropa dan Amerika Utara (tetapi awal abad ke-20, industri mencapai kembali pasar Asia).

Secara budaya, abad ke-19 merupakan jembatan ke dunia modern. Pada bagian akhir abad tersebut Indonesia mengalami paduan kental perkembangan ekonomi, urbanisasi, dan revolusi dalam perhubungan. Pada akhir abad tersebut telah ada lembaga budaya penting yang akan membawa Indonesia ke modernisasi.

Anda sekarang sudah mengetahui Revolusi Industri. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Suwito, T. 2009. Sejarah : Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA) Kelas XI. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 368.

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah secara bijak. Komentar yang tidak sesuai materi akan dianggap sebagai SPAM dan akan dihapus.
Aturan Berkomentar :
1. Gunakan nama anda (jangan anonymous), jika ingin berinteraksi dengan pengelola blog ini.
2. Jangan meninggalkan link yang tidak ada kaitannya dengan materi artikel.
Terima kasih.