Sunday, March 3, 2013

Pengaruh Tradisi Lokal, Hindu Budha, Dengan Islam Terhadap Perkembangan Kebudayaan Di Indonesia

Artikel dan Makalah tentang Pengaruh Tradisi Lokal, Hindu Budha, Dengan Islam Terhadap Perkembangan Kebudayaan Di Indonesia - Interaksi antara tradisi lokal, Hindu Budha, dengan Islam akhirnya menghasilkan sesuatu yang budaya yang khas. Melalui proses akulturasi yang evolusioner (berjalan lambat-laun), masyarakat Indonesia semakin kaya akan keberagaman budaya, dari mulai bidang seni arsitekturnya, sastra, seni rupa, seni tarian dan musik, konsep kekuasaan, dan bidang-bidang yang lainnya. (Baca juga : Proses dan Hasil Akulturasi Budaya antara Tradisi Lokal, Hindu Budha, dan Islam di Indonesia)

1. Dalam Seni Arsitektur dan Bangunan

Corak arsitektur bangunan bercorak Islam yang ada di Indonesia banyak dipengaruhi warna Gujarat, India. Masyarakat Gujarat ini pada awalnya beragama Hindu, namun sejak Islam masuk ke India sebagian dari mereka memeluk Islam. Gaya arsitektur bangunan di Gujarat merupakan akulturasi antara Hindu dan Islam, sehingga bentuknya berbeda dengan bangunan yang berada di Arab. Dengan demikian, masuknya Islam melalui Gujarat tidak mempengaruhi bentuk bangunan Indonesia yang masih melekat dengan budaya Hindu-Budhanya.

Seperti candi dan biara, arsitektur bangunan mesjid dibuat secara khusus agar terlihat beda dengan bangunan-bangunan lainnya. Sebagai tempat beribadah tetntunya bangunan bersangkutan harus terlihat lebih spesial dibandingkan bangunan-bangunan lainnya dan tahan lama. Biasanya atap masjid dibuat berundak-undak (bertingkat), sedangkan masjidnya berdenah persegi panjang, memiliki serambi depan atau samping, dikelilingi benteng, dan gerbang masjid tersebut berbentuk gapura yang berornamen Hindu Budha. Contoh masjid-masjid yang berarsitektur seperti ini dapat dijumpai pada Mesjid Marunda di Jakarta, Mesjid Agung Demak, Mesjid Agung Banten, dan Mesjid Agung Cirebon. Adapula beberapa masjid arsitekturnya sangat kental akan nuansa Cina; masjid ini biasanya didirikan oleh komunitas Tionghoa muslim yang ada di Indonesia, dan tak jarang masjid tersebut berubah fungsi menjadi kelenteng karena ditinggalkan penduduk aslinya.

Biasanya, di sekitar masjid pada zaman dahulu selalu terdapat makam orang-orang penting di zamannya. Makam yang terdapat di belakang atau di samping masjid tersebut, biasanya merupakan tempat peristirahatan terakhir para raja beserta keluarga dan kerabatnya atau para wali. Makam-makam tersebut dibuat lebih tinggi dari tanah sebagai penanda bahwa kedudukan almarhum/almarhumah berbeda dengan rakyat biasa. Makam raja dan keturunannya dikumpulkan dalam satu wilayah seperti halnya keluarga (ayah, ibu, dan anak). Batu nisan pada makam dibuat dari batu dan ditulisi nama orang, tempat dan tanggal lahir dan meninggal orang bersangkutan dengan huruf Arab dan bertarikh hijriah.

a. Keraton

Perpaduan budaya dalam bentuk bangunan dapat dilihat dari bentuk arsitektur pada keraton sebagai tempat raja. Keraton yang berada di Jawa dan Sumatera kebanyakan merupakan perpaduan antara budaya Islam dengan Hindu dan Buddha. Keraton-keraton yang terdapat di Jawa, lazimnya dihiasi dengan ornamen-ornamen hiasan khas Islam yang dipadukan dengan ornamen Jawa yang Hindu Budha. Pada gerbang tempat masuk kerajaan dihiasi oleh gapura dan makara model Majapahit atau Singasari. Ruangan-ruangan di dalam keraton tersebut dihiasi ukiran-ukiran yang memadukan unsur Islam dengan Hindu Budha.

b. Masjid

Bagi umat Islam, masjid merupakan pusat kekuasaan politik yang handal, selain sebagai lambang persatuan umat. Pada masa Raden Patah menjadi raja, Masjid Demak merupakan tempat para wali dan pihak kerajaan membahas masalah-masalah politik. Sebagai pemimpin umat, seorang raja dituntut untuk membangun masjid dengan semegah mungkin. Besar dan kecilnya bangunan masjid merupakan cerminan dari kekuasaan yang dimiliki oleh seorang raja.

Di Indonesia, sebelum seni arsitektur Islam dikenal betul, bangunan mesjid mengikuti seni arsitektur yang berkembang sebelumnya, seperti Mesjid Agung Cirebon, Agung Banten, Demak, Kudus, Jepara dan mesjid-mesjid lainnya. Mesjid-mesjid tersebut memiliki ciri atap yang bertumpuk-tumpuk yang banyak pengaruh dari budaya lokal dan Hindu Budha.

c. Makam

Sejarah senantiasa memperlihatkan kepada generasi mendatang tentang begitu banyak raja yang sangat cintai karena ketenaran dan kekayannya. Dan walaupun, raja tersebut sesungguhaya tak disukai rakyatnya, tetap saja makamnya dibangun begitu megah. Ketika raja tersebut meninggal dunia, sebuah makam atau kuburan pun dibuatkan dengan megah dan besar serta bercitra rasa arsitektural yang tinggi. Di India, misalnya, kita melihatnya pada Taj Mahal, makam permaisuri Sultan Syah Jehan dari Dinasti Mughal yang bernama Arjuman Banu Begum yang dikenal juga dengan Muntaz Mahal yang meninggal pada 1631.

Di Indonesia, sejumlah peninggalan makam raja-raja yang pernah berkuasa cukup terpelihara dengan baik. Tidak seperti jenazah raja-raja Hindu-Buddha yang diabukan dan disimpan dalam candi, jenazah raja-raja Islam biasanya dikubur dalam tanah. Setelah dikubur jenazahnya maka makam raja bersangkutan akan dipelihara dan disanjung-sanjung. Para raja dan kerabat raja Mataram-Islam memiliki komplek pemakaman khusus yang berada di Bukit Imogiri, Yogyakarta. Komplek Imogiri ini dibangun atas perintah Sultan Agung Mataram sebagai tempat kuburannya dan sanak-saudaranya kelak bila meninggal dunia.

Pembangunan komplek pemakaman di bukit tersebut memiliki motivasi yang bersifat kosmis yang berhubungan dengan kepercayaan animisme dan konsep dewa-dewi Hindu. Menurut kepercayaan tradisional, bukit atau dataran tinggi merupakan tempat yang layak bagi ”tempat peristirahatan terakhir” seorang raja atau penguasa yang berperan sebagai wakil Tuhan di dunia.

Bandingkanlah komplek Imogiri ini dengan komplek Candi Dieng peninggalan Mataram Kuno yang juga berada di dataran tinggi. Selain makam raja, makam-makam kerabat istana dan para pemuka agama yang terpandang juga senantiasa dirawat dan pada momen-momen tertentu sering diziarahi orang untuk berbagai macam kepentingan. Makam para Wali Sanga, misalnya, hingga sekarang masih sering dikunjungi, terutama pada hari-hari raya besar Islam. Selain mendoakan arwah yang diziarahinya, para pendatang juga selalu berdoa meminta kepada makam atau arwah bersangkutan agar keinginannya terpenuhi. Tak jarang keinginan para peziarah tersebut berbau mistis atau duniawi, seperti minta awet-muda, jabatan, kekayaan, perjodohan, dan hal-hal keduniawian lainnya.

2. Pengaruh dalam Kesusastraan

Karya sastra merupakan cerminan budaya di mana sastra tersebut lahir dan berkembang. Sejak masa prasejarah, sastra telah berkembang dari generasi ke generasi secara tuturan (folklore). Dengan masuknya tradisi Hindu Budha, seni sastra di Indonesia (terutama di Jawa dan Sumatera) mengalami perkembangan yang progresif, sastra lisan pun beralih menjadi sastra tulis yang menandakan zaman sejarah dimulai. Para pujangga atau sekretarsi (juru tulis) istana menulis kitab-kitab dengan tema-tema beragam, tidak lagi terbatas kepada legenda dan mitologi semata, melainkan tema yang lebih rasional, yang bernilai sejarah. Karya-karya sastra India sangat kental pengaruhnya terhadap penulisan sastra yang berkembang pada masa kerajaan Hindu Budha di Indonesia.

Pada mulanya para pujangga istana menerjemahkan kitabkitab India seperti Mahabharata dan Ramayana ke dalam bahasa ibu/daerah masing-masing, misalnya bahasa Melayu atau Jawa Kuno. Setelah kehidupan politik, sosial, ekonomi stabil, mereka kemudian menggubah atau memparafrasakan (menulis kembali berdasarkan kalimat-kalimat ciptaan sendiri; bukan sekadar mengalihbahaskan semata) sastra-sastra India tersebut. Yang mempelopori penggubahan dari sastra India ke sastra Jawa Kuno (Kawi) adalah Dharmawangsa Teguh, yakni epik Mahabharata. Penggubahan ini makin pesat pada masa berikutnya. Lahirlah karya sastra dalam bentuk kakawin seperti: Arjuna Wiwaha karya Mpu Kanwa, Bharatayudha karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, Gatotkaca Sraya karya Mpu Panuluh, Kresnayana karya Mpu Triguna. Di daratan Sumatera dan Melayu lahir pula karya-karya saduran dari India seperti Hikayat Sri Rama (saduran dari Ramayana); Hikayat Pandawa, Hikayat Pandawa Panca Kelima, Hikayat Pandawa Jawa (semuanya saduran dari epos Mahabharata), serta Hikayat Sang Boma—meski ada kemungkinan baru ditulis setelah pengaruh Islam datang.

Selain menggubah dan menyadur, para pujangga makin memperlihatkan kematangannya sebagai budayawan. Mereka mulai mengarang kisah-kisah sendiri meski temanya tidak jauh dengan karya-karya pada zaman sebelumnya. Masa ini di Jawa disebut masa Jawa-Hindu-Budha bukan lagi masa Hindu-Buddha- Jawa, yang artinya bahwa para sastrawan telah menemukan “jati diri” mereka sebagai orang Jawa dalam bekarya; begitu pula di Ranah Melayu dan daerah-daerah lain di Indonesia. Berikut ini adalah sejumlah karya “asli” para pujangga Jawa: Negarakretagama karya Mpu Prapanca, Sutasoma karya Mpu Tantular, kitab Pararaton, Kidung Sunda, Ranggalawe, Sorandaka, Usana Jawa, Sutasoma karya Mpu Tantular, Smaradhana karya Mpu Dharmaja, Lubdaka dan Wrtasancaya karya Mpu Tanakung.

Setelah masyarakat Indonesia mengenal agama dan kebudayaan Islam, perkembangan dunia sastra makin pesat. Banyak karya sastra yang bersifat historiografi tradisional yang di dalamnya memuat elemen-elemen kesejarahan namun tetap mengandung unsur-unsur pra-Islam. Kitab-kitab seperti Hikayat Raja-Raja Pasai, Hikayat Aceh, Hikayat Hasanuddin dapat dijadikan sumber dalam melacak sejarah kedatangan Islam ke Indonesia. Di Jawa muncullah kitab-kitab dalam bentuk suluk, hikayat, serat, dan perimbon. Perimbon ini berisi ramalan dan penentuan hari yang baik untuk berdagang, mencari ilmu, menikah, acara syukuran, dan sebagainya.

Pada masa Mataram-Islam, pengaruh seni musik, sastra, dan bahasa Jawa menyebar ke wilayah lainnya di Nusantara. Sebagai pihak yang paling berkuasa secara politik, otomatis Mataram pun menghendaki bahwa seni-budaya khas Mataram dikenal dan dipelajari oleh kerajaan-kerajaan lain sebagai bawahannya. Oleh karena itu, misalnya, di daerah Priangan (Jawa Barat) dikenal sejumlah kosa kata dan tembang yang berasal dari budaya Jawa

Karya-karya sastra di Jawa hasil akulturasi Islam-tasawuf dengan konsep Jawa-Hindu-Buddha antara lain:

(a) Suluk Minang Sumirang, menggambarkan jiwa manusia menyatu dengan Tuhan.
(b) Suluk Sukarsa, menceritakan Ki Sukarsa mencari ilmu untuk mendapatkan kesempurnaan. Cerita ini mirip cerita Dewa Ruci dalam cerita pewayangan Jawa yang mengisahkan pencarian Bima (Pandawa nomor dua) akan hakikat dan makna kehidupan.
(c) Suluk Wijil, berisi wejangan-wejangan Sunan Bonang kepada Wijil, seorang mantan abdi istana di Majapahit yang bertubuh cebol.

Karya-karya sastra Melayu (dan kemudian Jawa) banyak terpengaruhi oleh kebudayaan Arab dan Persia. Cerita-cerita terkenal dari Timur Tengah ikut menyemarakkan sastra yang beredar di Indonesia. Cerita seperti Kisah 1001 Malam gubahan sastrawan yang hidup pada masa Dinasti Umayyah, yakni Abu Nawas dari Irak, atau cerita Aladin yang banyak mempengaruhi sastra Melayu di bagian barat Indonesia. Sastra karya Hamzah Fansuri merupakan contoh hasil akulturasi kebudayaan Islam- Timur-Tengah dengan ajaran Buddha.

Catatan Sejarah :

Hamzah Fansuri adalah contoh begitu terpengaruhnya para sastrawan Sumatera oleh karya sastra Timur Tengah. Dua karya sastra Hamzah Fansuri yang terkenal adalah Syair Perahu dan Syair Si Burung Pingai. Syair Perahu menggambarkan manusia yang didibaratkan perahu yang mengarungi lautan dengan menghadapi segala rintangan. Segala rintangan tersebut dalam pandangan tulisan tersebut harus dihadapi oleh tauhid dan makrifat kepada Tuhan (Allah SWT). Sedangkan Syair si Burung Pingai menggambarkan manusia sebagai seekor burung yang dianggap sebagai dzat Tuhan.

Selain karya-karya di atas, akulturasi sastra Islam dengan budaya lokal bisa dilihat dari karya-karya sastra lainnya, seperti Syair Panji Sumirang, Cerita Wayang Kinundang, Hikayat Panji Kuda Sumirang, Hikayat Cekel Weneng Pati, Hikayat Panni Wilakusuma, Syair Ken Tumbunan, Lelakon Mesda Kuminir. Karya-karya yang kaya dengan budaya Islam dan lokal ini banyak dihasilkan pada masa kejayaan kerajaan-kerajaan Islam, terutama yang ada di Sumatera dan Semenanjung Melayu.

Budaya dan sastra Jawa, berbeda dengan budaya Sumatera, pengaruh kebudayaan Hindu-Buddhanya sangat kental dan sarat akan unsur-unsur ”kebatinan”. Pada saat kebudayan ini berrtemu dengan tasawwuf dalam Islam, akhirnya menjadi sangat pas untuk dikembangkan. Karya-karya sastra Jawa, seperti suluk yang berisi tentang ramalan, masalah gaib dan arti dari simbol-simbol tertentu. Suluk merupakan bagian dari ajaran tasawuf yang isinya tantang proses menuju makrifat.

3. Konsep Kekuasaan

Bentuk akulturasi, tidak terjadi hanya dalam wilayah kesenian dan sosial kemasyarakatan, melainkan juga merambah ke dalam dunia politik dan kekuasaan. Dalam tradisi Jawa Hindu Budha, seorang raja selalu ditempatkan menjadi seorang yang memiliki tingkat lebih tinggi dibandingkan dengan manusia lain. Begitu pula dalam ajaran Islam, raja atau sultan dipandang sebagi wali atau wakil Tuhan di muka bumi agar kehidupan bermasyarakat terjamin.

Seorang sultan akan dipandang rendah bila ia tak mampu mengembang amanah rakyat yang dipercayakan ke pundaknya. Dan konsepsi akan kekuasan Hindu-Buddha dan Islam tersebut pertama-tama akan berhadapan dengan konsep kekuasaan tradisional, yang senantiasa dihubung-hubungkan dengan alam gaib. Karena anggapan dan persepsi tadi, konsep kekuasaan, baik pada masa Hindu Budha maupun Islam, selalu disangkutpautkan dengan hal-hal mistis, contohnya:

(a) Seorang raja di Jawa, baik ia Hindu, Buddha, atau Islam, selalu akan memperkuat legitimasi kekuasannya dengan mengaku sebagai ”suami” dari Nyi Roro Kidul, tokoh wanita cantik yang legendaris yang konon penguasa Pantai Selatan (Segara Kidul) di Pulau Jawa (Samudera Indonesia).
(b) Seorang raja selalu mengangkat dirinya sebagai penjelmaan dewa di dunia (dewaraja) atau seorang khilafah (utusan) Tuhan di muka bumi. Hal ini dilakukan untuk memperkuat anggapan bahwa seorang raja memiliki hubungan tertentu dengan dewa atau Tuhan.
(c) raja-raja di Jawa selalu menggunakan gelar-gelar yang menunjukkan bahwa kekuasaan mereka sangat kuat dan agung, misalnya gelar Mas Jolang raja Mataram: ”Sultan Agung Hanyokrokusumo Senopati ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidina Panatagama” yang seolah-olah ia merupakan raja sekaligus senapati tak tertandingi dalam peperangan dan juga sekaligus pemimpin agama. Atau lihat pula gelar yang dipakai Mpu Sindhok pendiri Dinasti Isana yaitu “Sri Maharaja Raka i Hino Sri Isana Wikrama Dharmatunggadewa” yang menandai bahwa ia adalah penguasa bumi, wakil dewa, dan juga pendiri dinasti baru.

Raja-raja biasanya memiliki benda-benda pusaka yang biasa dipakai untuk menyimpan kekuatan magis. Kekuatan ini dalam anggapan para raja mampu menahan marabahaya, kesulitan, bencana alam dan gejolak alam lainnya. Benda-benda tersebut biasanya berbentuk keris, payung, tombak, gong, bahkan gamelan musik, dan benda-benda keramat lainnya. Kebesaran seorang raja atau penguasa pun hingga kini sering terlihat dari dipahatkannya patung-patung raja bersangkutan, seperti halnya raja-raja Hindu Budha pada masa lalu.

Anda sekarang sudah mengetahui Pengaruh Tradisi Lokal, Hindu Budha, Dengan Islam Terhadap Perkembangan Kebudayaan Di Indonesia. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Suwito, T. 2009. Sejarah : Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA) Kelas XI. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 368.

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah secara bijak. Komentar yang tidak sesuai materi akan dianggap sebagai SPAM dan akan dihapus.
Aturan Berkomentar :
1. Gunakan nama anda (jangan anonymous), jika ingin berinteraksi dengan pengelola blog ini.
2. Jangan meninggalkan link yang tidak ada kaitannya dengan materi artikel.
Terima kasih.