Sunday, March 3, 2013

Perkembangan Tradisi Agama Di Indonesia Sebagai Perwujudan Interaksi Antara Agama Lokal, Hindu Budha Dengan Islam

Artikel dan Makalah tentang Perkembangan Tradisi Agama Di Indonesia Sebagai Perwujudan Interaksi Antara Agama Lokal, Hindu Budha Dengan Islam - Bila melihat sejarah, diperkirakan agama Budha lah agama yang pertama masuk ke Indonesia, khususnya Sumatera (Sriwijaya pada abad ke-7), sebelum akhirnya ke Jawa Tengah (Mataram Kuno dengan adanya Dinasti Syailendra abad ke-9). Setelah itu barulah agama Hindu masuk ke Indonesia, khususnya Kalimantan dan Jawa bagian barat, tengah, dan kemudian timur. Persinggungan dua agama produk Jazirah India dengan kepercayaan lokal melahirkan praktik keagamaan yang tipikal. Konsep pemujaan terhadap arwah leluhur berpadu dengan konsep pengagungan terhadap dewa-dewi India. (Baca juga : Proses dan Hasil Akulturasi Budaya antara Tradisi Lokal, Hindu Budha, dan Islam di Indonesia)

Kepercayaan animisme dan dinamisme yang bercampur dengan praktik paganisme membentuk tradisi yang sinkretis, unsur-unsur asli sudah bersenyawa dalam bentuk yang ”baru”. Bangunan zaman Megalitikum yang sederhana dan kaku dipersatukan dengan candi-candi Hindu Budha yang arsitekturnya lebih maju dan modern. Jenazah seseorang yang berkuasa (kepala suku atau ketua adat) yang sebelumnya disimpan di peti batu, sarkofagus, menhir, dan bangunan megalitik lainnya (tidak dikubur dalam tanah) diganti oleh pembakaran jenazah yang abunya diletakkan di ruangan candi. Lalu abu jenazah tersebut ditaburkan di sungai atau laut agar jasad besarnya ”menyatu” lagi dengan alam dan jiwanya tenang di alam swarga.

Proses interaksi masyarakat Indonesia dengan budaya asing berlanjut terus-menerus hingga datanglah pengaruh Islam yang dimulai dari Pasai hingga Ternate-Tidore, dari Malaka hingga Maluku. Ketika Islam datang, masyarakat Indonesia telah berada dalam pengaruh Hindu Budha yang masing-masing penganutnya hidup berdampingan. Kedatangan kaum muslim yang relatif damai tersebut diterima oleh sebagian masyarakat pribumi Indonesia, terutama kaum bangsawan dan pedagang.

Melalui pendekatan budaya, pengenalan Islam sebagai agama pendatang kepada masyarakat Indonesia penganut Hindu Budha, berproses cukup damai. Peranan para ulama dalam penyebaran agama Islam disambut oleh masyarakat karena dakwah yang dilakukan menggunakan pendekatan yang menyesuaikan dengan adat lokal, tanpa menghilangkan tradisi sebelumnya yang lebih tua.

Pendekatan kultural ini dapat dilihat pada, misalnya, menara Masjid Kudus yang mirip dengan atap candi Hindu Budha atau gapura di komplek makam raja-raja Mataram-Islam di Imogiri yang berbentuk seperti gapura zaman Majapahit. Dalam hal seni, ada Sunan Kalijaga yang konon sering mempertunjukkan tontonan wayang dalam menarik perhatian umat nonmuslim di Jawa dengan menyisipi ajaran-ajaran Islam yang ringan. Meskipun, kisah yang digelarnya diambil dari kakawin Mahabharata dan Ramayana atau cerita-cerita rakyat-tutur (legenda dan mitos), namun sehabis pagelaran wayang usai Sunan Kalijaga tidak meminta upah melainkan meminta para penonton mengucapkan dua kalimat syahadat (Aku bersaksi, tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan [rasul] Allah).

Catatan Sejarah :

Selain dikenal sebagai ulama dan budayawan, Sunan Kalijaga juga terkenal sebagai ahli ukir dan ahli busana. Maka dari itu, dalam hal berpakaian Kalijaga tetap memakai busana bangsawan ala Jawa, tidak seperti para wali yang lain yang berbusana ala Timur-Tengah. Dengan demikian, penampilan Sunan Kalijaga dikenal cukup fashionable.

Cerita pewayangan yang telah dikenal sejak zaman Mataram Kuno yang semula berwujud boneka (golek) yang tiga dimensi oleh Sang Sunan dibentuk menjadi pipih (dua dimensi) yang terbuat dari kulit binatang. Contoh lain dari islamisasi dalam koridor kebudayaan ini adalah busana yang dipakai Raden Patah sewaktu menjadi penguasa Demak bukanlah pakaian adat Timur Tengah, melainkan memakai kuluk, jamang, dan sumping laiknya bangsawan Jawa yang Hindu Budha. Selain hanya cukup mengucapkan syahadat, Islam tidak mengenal struktur sosial kasta seperti dalam Hindu.

Di samping faktor internal yang bersifat sosiokultural, faktor luar pun cukup memberikan pengaruhnya terhadap perkembangan Islam. Faktor luar tersebut di antaranya adalah tingkat intelektualitas kaum muslim yang dalam beberapa hal lebih tinggi dari masyarakat pribumi. Misalnya tradisi menulis: sebelumnya hanya para brahmana dan pujangga saja yang mampu membaca dan menulis aksara (Sansekerta, Kawi, Melayu Kuno, dan abjad tradisional lainnya); dan setelah Islam masuk tradisi menulis lebih berkembang karena hampir semua kalangan di umat muslim melek huruf setidaknya hanya mampu membaca sekalipun.

Perpaduan antara unsur budaya asli, Hindu Budha dan Islam membentuk corak tersendiri di dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Oleh para wali dan sunan, corak kebudayaan yang lama tidak dihilangkan dengan alasan agar masyarakat tidak terlalu kaget dengan perubahan. Dengan demikian, ajaran Islam dapat diterima dengan mudah dan tanpa ketakutan. Kaum ulama menyadari bahwa masyarakat Indonesia bersifat plural, masyarakat yang beranekaragam dalam hal bahasa, budaya, dan suku-bangsa. Unsur-unsur tradisi masih melekat dapat dirasakan hingga sekarang, di antaranya acara tahlilan, halal bi halal, berziarah, sekatenan, dan tembangan khususnya di Jawa.

1. Tahlilan

Umat Islam di Indonesia memiliki kekhasan sendiri yang tidak ditemui pada masyarakat Islam di Timur Tengah, salah satunya adalah tahlilan. Tahlilan adalah acara doa bersama yang diadakan di rumah keluarga orang yang meninggal, yang diikuti oleh keluarga yang berduka, para tetangga, dan sanak-saudara orang yang meninggal. Tahlilan pada dasarnya pengucapan ”La ilahaillallah”, yang berarti ”Tiada Tuhan selain Allah”. Tahlilan dimulai pada hari di mana orang bersangkutan meninggal, biasanya pada malam hari setelah salat magrib atau isya. Dalam pelaksanaannya, dibacakan ayat-ayat dari Al-Quran, terutama Surat Yaasin hingga dari ayat pertama hingga terakhir, doa-doa agar sang almarhum/almarhumah diampuni segala dosanya dan diterima amal-ibadahnya, serta salawat (salam) terhadap Nabi Muhammad beserta para kekuarganya, sahabatnya, dan para pengikutnya. Pembacaan ayat dan doa tersebut biasanya dipimpin oleh seorang ulama. 

Setelah pembacaan doa selesai, biasanya tuan rumah yang berduka menyediakan penganan/makanan tradisional, air minum, serta berbungkus-bungkus rokok untuk disajikan kepada peserta tahlilan. Setelah berbincangbincang sekadarnya, para peserta tahlilan pulang.

Acara tahlilan ini lazimnya diselenggarakan selama tujuh hari berturut-turut. Lalu setelah itu, diadakan pula tahlilan untuk memperingati 40 bahkan hingga 1.000 hari kematian almarhum/almarhumah. Peringatan 7, 40, dan 100 hari merupakan tradisi Indonesia pra-Islam, yakni budaya lokal yang telah bersatu dengan tradisi Hindu Budha. Pada zaman Majapahit, penghormatan terhadap orang yang meninggal dilakukan secara bertahap, yakni pada hari orang bersangkutan meninggal, 3 hari kemudian, 7 hari kemudian, 40 hari kemudian, 1 tahun kemudian, 2 tahun kemudian, dan 1000 hari kemudian.

Terlihat bahwa acara tahlilan tak sepenuhnya ajaran murni Islam. Nabi Muhammad tak pernah mengadakan acara tahlilan bila ada yang meninggal, melainkan hanya mendoakan agar orang meninggal tersebut diampuni dosanya dan diterima keimanan Islamnya.

2. Halal Bihalal

Salah satu lagi kekhasan sinkretisme dalam masyarakat Indonesia adalah tradisi halah bi halal. Halal bi halal secara harfiah berarti ”yang halal dengan yang halal”, ”yang boleh dengan yang boleh”, ”saling melepaskan ikatan”, atau ”saling mencairkan hubungan yang membeku sebelumnya”. Dengan kalimat lain, ia dapat berarti
acara saling maaf-memaafkan antarsesama umat Islam.

Di Indonesia tradisi ini biasanya dilaksanakan setelah bulan puasa (shaum) pada bulan Ramadhan berakhir, yakni perayaan Idul Fitri (Lebaran) pada tahun Hijriyah. Bila di Arab dan negaranegara Timur Tengah, budaya saling maaf-memaafkan antarumat Islam dilakukan ketika menjelang puasa bulan Ramadhan, di Indonesia tradisi maaf-memaafkan cenderung dilakukan setelah Ramadhan berakhir, yakni pada perayaan Idul Fitri (Lebaran). Perayaan saling memaafkan ini biasanya ”diformalkan” menjadi acara saling mengunjungi (atau dikunjungi) antara saudara, kerabat, atau sahabat untuk saling meminta memaafkan. Tradisi ini disebut pula silaturahmi (silaturrahim), yang bertujuan umtuk memperpanjang dan menjaga hubungan antar sesama.

Bila ditelusuri, kebiasaan berhalal bi halal ini dilaksanakan sejak zaman kesultanan (kekhalifahan) non-Arab yang memiliki budaya sendiri sebelum Islam datang. Jadilah, pengaruh budaya lokal (non-Arab) tersebut saling berdialektika dengan tradisi asli Islam.

3. Ziarah

Dalam agama Islam dikenal tradisi ziarah, yakni berkunjung kepada makam atau kuburan untuk mendoakan almarhum/almarhumah agar iman Islamnya diterima oleh Sang Pencipta dan dihapuskan segala dosa yang pernah dilakuan selama hidupnya. Namun, pada perkembangannya di Indonesia, tradisi ziarah ini disisipi oleh kehendak-kehendak lain yang tak ada hubunganya dalam konteks keislaman.

Tradisi berziarah (pilgrim) Islam bercampur padu dengan tradisi pemujaan terhadap roh nenek-moyang atau dewa-dewa Hindu Budha, dan hasilnya adalah sang penziarah bukannya mendoakaan arwah yang meninggal akan tetapi memiliki tujuan lain, di antaranya meminta kekuatan gaib kepada roh nenek moyang atau arwah tokoh-tokoh penting dan keramat. Tak jarang, makam para wali di Jawa banyak dikunjungi oleh mereka yang memintai ”petunjuknya” kepada roh sang wali yang telah meninggal. Padahal dalam pandangan Islam, orang yang sudah meninggal itu tidak memiliki kemampuan sama sekali untuk memberikan bantuan kepada orang yang masih hidup, seperti memberikan kekayaan, jabatan, pangkat, kekebalan tubuh, atau yang lainnya. Maka dari itu, ada orang yang menyebut ziarah sebagai nandran atau nyadran atau nyekar. Tradisi nyekar ini merupakan peninggalan prasejarah yang paling kental dalam tradisi Islam sekarang.

Alkisah, pada tahun 1284 Saka atau 1362 M, Raja Majapahit, Hayam Wuruk melakukan acara srada untuk memperingati wafatnya Rajapatni. Tradisi penghormatan terhadap roh nenek moyang terasa masih sangat kental, walaupun sudah masuk agama Hindu Budha. Di saat masuknya agama Islam, upacara seperti ini tidak hilang malah dibumbui dengan unsur-unsur Islam. Acara srada dalam bahasa Jawa sekarang adalah nyadran dilakukan pada bulan arwah (Ruwah) atau disebut pula Syaban untuk menjemput datangnya bulan Ramadhan serta pada hari raya Idul-Fitri dan Idul Adha (Lebaran Haji). Para penziarah mulanya membacakan doa-doa dan Surat Yaasin dari Al-Quran. Setelah itu mereka menaburkan bebungaan berwarna-warni dan mengucurkan air tawar yang telah diberi bacaan/doa di atas tanah makam yang dimaksud.

Catatan Sejarah :

Tradisi tahlilan dan nyekar atau nyadran oleh sebagain ulama dipandang bid’ah, artinya menyimpang dari syariat Islam sesunggunya. Adapula yang menilainya sebagai makruh, yaitu tak dilarang namun lebih baik jangan dilaksanakan. Namun, oleh kalangan Islam liberal yang memegang paham pluralisme, tradisi-tradisi tadi sah-sah saja selama tak menyekutukan Tuhan. Menurut mereka, tradisi tersebut merupakan fakta yang tak bisa dipungkiri dan dihapus bahwa sejak dahulu dalam kehidupan masyarakat Indonesia terdapat keanekaragaman (diversity), dan Islam bukanlah agama yang kaku dan tak fleksibel, melainkan sebaliknya: luwes dan rahmat bagi semesta alam.

4. Sekatenan dan Grebeg Maulid

Upacara sekatenan diciptakan Sunan Bonang dalam rangka menyambut hari Maulud Nabi Muhammad SAW. yang jatuh pada bulan Rabiul Awal tahun Hijriah. Jadi, sekatenan merupakan bagian dari acara grebeg Maulud. Sunan Bonang, seperti Sunan Kalijaga, menggunakan pertunjukan wayang sebagai media dakwahnya. Lagu gamelan wayang berisikan pesan-pesan ajaran agama Islam. Setiap bait diselingi ucapan syahadatain yang kemudian dikenal dengan istilah sekaten. Dalam tradisi sekatenan, semua pihak diharapkan keikutsertaannya, dari raja, abdi dalem istana, pasukan kerajaan, hingga rakyat kecil. Mereka tumpahruah di jalan guna berebutan berkah yang berupa nasi dan lauk-pauk berikut sayur mayurnya untuk disantap.

5. Kebatinan dan Kejawen

Kebatinan merupakan bentuk kerohanian yang menggabungkan kepercayaan agama kuno orang Jawa dengan tradisi mistik Hindu, Budha, dan sufi-Islam (dan juga Kristen). Meski di luar Jawa terdapat pula pengikut kebatinan, namun sebagian besar pengikut ajaran ini memang orang Jawa. Ajaran kebatinan dan kejawen ini bukan hanya mencakup pengetahuan mistik, namun juga alam gaib yang dijalankan oleh kaum bangsawan maupun rakyat biasa.

Dunia kebatinan ini sering disebut pula dunia asketisme dan dijalaninya dengan cara yang bermacam-macam, seperti bertapa, berpuasa, mengatur pernafasan. Para pengikut kebatinan maupun kejawen tidak melaksanakan perintah syariat Islam secara lengkap. Mereka tidak sembahyang lima waktu, percaya terhadap kekuatan benda-benda sakti dan roh leluhur. Selain roh nenek-moyang, mereka pun memuja arwah-arwah tokoh sejarah dan legendaris, misalnya tokoh Wali Sanga, Panembahan Senopati, dewa-dewi Hindu seperti Dewi Sri atau Batara Kala. Dalam acara ruwatan, misalnya, seseorang diharapkan terhindarkan dari segala marabahaya dan kesialan dengan menanggap pagelaran wayang kulit semalam suntuk.

6. Tembangan

Selain Sunan Bonang, dakwah dengan menggunakan media seni dilakukan oleh Sunan Giri. Ia menciptakan lagu-lagu bernuansa Islam namun dengan langgam (nada-irama) Jawa. seperti ”Ilirilir” dan ”Jamuran”. Sunan Drajat pun menciptakan tembang berbahasa Jawa, yakni ”Pangkur”. Tak ketinggalan, Sunan Muria ikut menciptakan tembang seperti ”Sinom” dan ”Kinanti”. Tembang ”Sinom” umumnya menggambarkan suasana ramah tamah dan berisi nasehat, sedangkan ”Kinanti” yang bernada gembira digunakan guna menyampaikan ajaran agama, nasihat, dan filsafat hidup. Sementara itu, Sunan Kalijaga berhasil menciptakan ”Dandanggula”, tembang yang berisi rukun iman.

Berikut ini petikan dari ”Dandanggula” dalam bahasa Jawa.

”...wa man tu bi’ilahi tegesi pun pracaya ing Allah
ing Pangeran sejatine, ya Pangeran kang agung
kang akarna bumi lan langit angganjar lawan niksa
mring manusa sagung langgeng tur murba misesa
maha suci angganjar paring rezeki, aniksa angapura”

Yang artinya adalah:

Sifat iman itu percaya kepada Allah
Tuhan yang sejati dan Yang Maha Besar
Yang menciptakan bumi dan langit, memberi dan menyiksa
Kepada seluruh manusia, kekal dan berbuat sekehendaknya
Yang memberi rezeki, yang memberi siksa dan mengampuni

7. Tradisi-Tradisi Lainnya

Selain tahlilan, halal bi halal, ziarah, sekatenan-gerebeg, dan tembangan Jawa, masih banyak tradisi lainnya yang dalam praktiknya terbentuk dari campuran tradisi lokal, Hindu Budha, dengan Islam. Tradisi tersebut mencakupi acara selamatan kelahiran bayi (aqiqah), hari ashura, sunat atau khitan, pernikahan, dan lain-lainnya. Tradisi-tradisi ini hampir terdapat di semua daerah Indonesia yang terpengaruh agama-budaya Islam.
Bagi masyarakat Bugis, tanggal 10 Muharam dirayakan sebagai hari ashura, yakni tradisi kaum Syiah dalam memperingati kematian cucu Nabi Muhammad, yakni Husein bin Abi Thalib yang dihabisi musuhnya secara kejam. Pada perayaan ashura disajikan hidangan ”bubur tujuh macam” yang berisi lauk-pauk berbeda.

Khusus bagi masyarakat Sasak di Lombok, di daerah ini sebagian masyarakatnya melakukan praktik Islam yang berbeda dengan ajarah syariah Islam. Ajaran Islam-sinkretis yang dilakukan oleh masyarakat bagian utara dan selatan Pulau Lombok ini disebut wetu telu atau tiga waktu. Ajaran wetu telu ini hampir sama dengan ajaran Hindu-Bali dan kejawen-Jawa. Mereka percaya akan roh leluhur atau kerabat yang mati akan tetap hidup di dunia lain. Arwah leluhur itu dipercaya dapat menolong orang yang masih hidup. Ada dua orang yang dapat memanggil arwah leluhur, yakni pemangku dan kyai. Bagi penganut wetu telu, alam sekitar seperti mata air dan bukit, memiliki jiwa. Dalam menjalankan ajaran Islam, para kyai tidak memimpin shalat lima kali sehari. Pada hari Jumat, khotbah tidak dilakukan. Di dalam mesjid wetu telu, terdapat patung kayu berbentuk naga yang disebut bayan, yang dianggap nenek moyang mereka.

Anda sekarang sudah mengetahui Perkembangan Tradisi Agama Di Indonesia Sebagai Perwujudan Interaksi Antara Agama Lokal, Hindu Budha Dengan Islam. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Suwito, T. 2009. Sejarah : Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA) Kelas XI. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 368.

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah secara bijak. Komentar yang tidak sesuai materi akan dianggap sebagai SPAM dan akan dihapus.
Aturan Berkomentar :
1. Gunakan nama anda (jangan anonymous), jika ingin berinteraksi dengan pengelola blog ini.
2. Jangan meninggalkan link yang tidak ada kaitannya dengan materi artikel.
Terima kasih.