Thursday, April 18, 2013

Cara Lebah Bumblebee Menemukan Rute Paling Efisien Untuk Mencari Makanan

Cara Lebah Bumblebee Menemukan Rute Paling Efisien Untuk Mencari Makanan - Ilmuwan dari Queen Mary, University of London telah mengamati bagaimana cara bumblebee (sejenis lebah dari genus Bombus dan mudah dikenali sebab ukurannya besar dan berbulu lebat) memilih rute atau jalur paling efektif untuk mengumpulkan nektar dari berbagi macam bunga dan kembali lagi ke sarangnya.

Pada makalah yang diterbitkan di jurnal PLOS Biology (18/9/2012), para ilmuwan yang bekerja sama dengan tim peneliti dari Rothamsted Research mampu menggunakan pelacakan radar untuk menunjukkan bagaimana lebah bumblebee dapat menemukan bunga, mempelajari lokasi bunga, dan menggunakan trial dan error untuk menemukan rute paling efisien antara setiap bunga pada jangkauan wilayah yang sangat luas.  

Profesor Lars Chittka dan Dr. Mathieu Lihoreau dari Ilmu Kimia dan Biologi, Queen Mary’s School dan rekan penelitinya membuat lima bunga tiruan pada bidang dengan diameter 1 km. Setiap bunga dilengkapi dengan webcam pendeteksi gerakan. Selain itu, bunga tersebut juga memiliki lokasi pendaratan yang diberikan tetes sukrosa di bagian tengahnya.
Lebah Bumblebee
Bumblebee. (Credit: © philip kinsey / Fotolia)
“Melalui penggunaan model matematika, kami mengalisis proses pembelajaran yang dilakukan lebah dan mengidentifikasi bagaimana mereka dapat menafsirkan solusi terbaik untuk menemukan rute paling efisien, tanpa menggunakan peta. Awalnya, rute yang mereka lalui ternyata sangat panjang dan rumit. Mereka melakukan peninjauan pada bunga yang tidak memiliki nectar selama berkali-kali.” jelas Dr. Lihoreau.

“Namun, pengalaman yang mereka dapatkan melalui trial dan error tersebut mampu membuat lebah untuk berlajar lebih baik mengenai rute yang dilaluinya tersebut. Secara bertahap, mereka membuat kembali rute yang paling efisien. Setiap kali lebah mencoba rute baru yang jaraknya lebih pendek dan lebih efisien, maka hal ini akan menambah daftar rute yang akan dipilihnya. Jika rute baru ini dianggap sangat efisien, maka rute lama akan ditinggalkan atau tidak dilaluinya lagi.” Tambah Dr. Lihoreau.

“Setelah rata-rata 26 kali setiap lebah pergi mencari makan, yang berarti bahwa mereka mencoba sekitar 20 dari 120 rute yang paling mungkin memiliki rute paling efisien, maka lebah tersebut dapat memilih rute yang paling efisien untuk mengunjungi bunga, tanpa harus menghitung semua kemungkinan yang ada atau tanpa harus melalui rute sisanya.

Sebelumnya, Profesor Chittka dan rekan penelitinya telah menunjukkan bahwa lebah dapat mengetahui kemungkinan rute terpendek untuk menavigasi antara setiap bunga di laboratorium. Namun, penelitian ini merupakan pertama kalinya mereka mampu mengamati perilaku tersebut pada kondisi alami dan untuk menggambarkan bagaimana lebah dapat mengoptimalkan rute yang dilaluinya.

“Kecepatan lebah untuk memperlajari rute melalui trial dan error merupakan suatu hal yang luar biasa bagi lebah sebab perilaku kompleks tersebut dianggap menjadi salah satu yang hal yang hanya dapat dilakukan oleh hewan yang memiliki otak dengan volume yang besar. Hal menarik lainnya adalah kami juga menemukan bahwa jika kita memindahkan bunga dari lokasi yang sering dikunjungi lebah, maka lebah akan terus mencari bunga tersebut di lokasi semula. Bahkan, lebah tersebut akan terus mengunjungi lokasi semula dari bunga tersebut pada jangka waktu yang lama.” Kata Profesor Chittka.

Para ilmuwan menggunakan webcam pemindai gerak dan transponder radar berukuran sangat kecil yang dipasang pada bumblebee untuk mengamati pergerakan dari bumblebee tersebut. Rekaman dari web cam menunjukkan bahwa lebah memiliki kepribadian yang sangat beragam. Masing-masing memiliki kesukaan yang berbeda-beda terhadap rute keberangkatan dan kepulangan.

Kepala Biologi Komputasi dan Sistem Biologi di Rothamsted Research, Profesor Chris rawlings, menambahkan bahwa temuan ini sangat menarik karena dapat menunjukkan bahwa perilaku yang tampaknya komples dapat dijelaskan oleh petunjuk yang relatif sederhana yang dapat dijelaskan secara matematis. Hal ini berari bahwa saat ini kami dapat menggunakan matimatika untuk menginformasikan kepada orang lain mengenai perilaku lebah yang mungkin terpengaruh oleh lingkungannya, misalnya akibat dampak dari perubahan landskap (bentang alam), sehingga dapat dikaji lebih mendalam.

*Untuk menjaga supaya lebah selalu fokus pada bunga tiruan, maka penelitian ini dilakukan pada bulan oktober, yaitu ketika sumber alami nektar dan serbuk sari mengalami kelangkaan. Untuk membuat lebah supaya tertarik menemukan semua jenis bunga (5 jenis), maka setiap tetes sukrosa hanya cukup untuk mengisi seperlima dari bunga tersebut. Selain itu, untuk menjaga supaya lebah tidak berusaha mencari bunga lain di luar lokasi penelitian, maka bunga-bunga tiruan tersebut ditempatkan pada ruangan berbentuk pentagon, dimana sekitar 50 meter dari pinggiran ruang tersebut dikosongkan. Jarak ini merupakan lebih dari tiga kali dari jarak yang tidak dapat dilihat oleh bumblebee secara visual.

Referensi Jurnal :

Mathieu Lihoreau, Nigel E. Raine, Andrew M. Reynolds, Ralph J. Stelzer, Ka S. Lim, Alan D. Smith, Juliet L. Osborne, Lars Chittka. Radar Tracking and Motion-Sensitive Cameras on Flowers Reveal the Development of Pollinator Multi-Destination Routes over Large Spatial Scales. PLoS Biology, 2012; 10 (9): e1001392 DOI: 10.1371/journal.pbio.1001392

Artikel ini merupakan terjemahan dari materi yang disediakan oleh Queen Mary, University of London, via EurekAlert! dan Science Daily (20 September 2012). Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah secara bijak. Komentar yang tidak sesuai materi akan dianggap sebagai SPAM dan akan dihapus.
Aturan Berkomentar :
1. Gunakan nama anda (jangan anonymous), jika ingin berinteraksi dengan pengelola blog ini.
2. Jangan meninggalkan link yang tidak ada kaitannya dengan materi artikel.
Terima kasih.

Search