Friday, April 5, 2013

Masa Kehamilan Gajah - Informasi Biologi

Masa Kehamilan Gajah - Informasi Biologi - Informasi yang diketahui tentang kehamilan gajah sangatlah sedikit. Sebelum melahirkan anak yang beratnya bisa mencapai 110 kilogram, sang induk mengandung selama 22 bulan, ini merupakan periode kehamilan terpanjang pada mamalia. Pada kebanyakan mamalia hanya memiliki satu korpus luteum (corpus luteum), yakni kelenjar sementara yang mengontrol kadar hormon selama periode kehamilan, sedangkan gajah memiliki 11 korpus luteum. Saat ini, dengan melakukan tes darah dan scan USG selama periode kehamilan pada 17 gajah, para peneliti telah menemukan sesuatu yang sangat luar biasa pada induk gajah.

“Penelitian ini sangat menarik, mengejutkan dan menyenangkan” kata peneliti dan dokter hewan Twink Allen dari Universitas Cambridge Inggris, yang tidak terlibat secara langsung pada penelitian ini. “Ini merupakan strategi yang sangat tidak biasa dari gajah dalam mengasuh anaknya, dimana hal ini telah membingungkan kita selama hampir 30 atau 40 tahun”.
gajah
USG menunjukkan bahwa gajah memiliki beberapa korporus lutea untuk mendukung masa kehamilannya yang mencapai 22 bulan (Credit: Guillaume Rebis; (ultrasound) Imke Lueders).

Pada kebanyakan mamalia, satu korpus luteum terbentuk secara tunggal dari kantong telur dalam ovarium setiap siklus menstruasi. Kelenjar sementara ini memproduksi progesteron, yang berperan mendorong penebalan endometrium, dan jika telur ini dibuahi maka perannya menjaga keseimbangan hormon dengan tepat selama kehamilan untuk memastikan bahwa tubuh induk tetap diarahkan untuk mendukung pertumbuhan bayinya. Jika pembuahan tidak terjadi, korpus luteum akan mati, hal ini terjadi untuk memperbaiki siklus reproduksi selanjutnya. Berdasarkan pembedahan organ tubuh gajah, para ilmuwan telah mengetahui selama lebih dari 50 tahun bahwa ovarium gajah mempunyai beberapa korpus luteum. Tetapi mereka tidak tahu bagaimana struktur ini terbentuk atau apa peranan korpus luteum selama kehamilan gajah. Mereka tidak pernah mempelajari korpus luteum secara nyata selama kehidupan gajah atau pada masa kehamilannya.

“Ada beberapa macam teori yang diajukan” kata Imke Lueders dari Institut Leibniz untuk Penelitian Kebun Binatang dan Binatang Buas. “Misalnya beberapa orang mengira bahwa gajah mengakumulasi korpus luteum pada banyak siklus menstruasi. Tak ada seorangpun yang benar-benar bisa membuktikan salah satu teori yang ada karena gajah sangat sulit untuk dipelajari”.

Berharap untuk mengubah kondisi ini, Lueders mengembangkan metode untuk mengamati kehamilan gajah menggunakan protokol yang pada awalnya dirancang untuk kuda. Dia berkolaborasi dengan peneliti dan kebung binatang di seluruh dunia untuk mempelajari 15 gajah Asia betina dan dua gajah Afrika betina selama lebih dari 5 tahun. Selama siklus menstruasi normal sebelum kehamilan, serta selama masa kehamilan, para ilmuwan mengambil sampel darah dan uji USG. Mereka menggunakan probe USG pada setiap gajah, yang sebelumnya dilatih khusus agar tidak menendang dan mendompak selama uji yang tidak menyamankan tersebut.

Para peneliti menemukan bahwa hewan rata-rata membentuk 5 korpus luteum setiap siklus menstruasi. Yang mengherankan, meskipun satu korpus luteum berasal dari telur yang menghasilan folikel, hal ini terjadi pada mamalia begitu juga pada manusia, sisa strukturnya yang terbentuk dari folikel ternyata terpisah pada titik yang berbeda dalam siklus reproduksi.

Selama periode kehamilan, setiap kelenjar secara perlahan-lahan menurunkan kadar hormon progesteron. Memiliki banyak kelenjar kemungkinannya dapat membantu menjaga tingkat ambang batas atas untuk memasuki masa kehamilan selama 22 bulan. Tim melaporkan hasil temuannya pada Proceedings of the Royal Society B. Para ilmuwan berhipotesis bahwa selama periode kehamilan yang panjang, kemungkinan terjadi perkembangan otak anak gajah secara maksimal. Sehingga, ketika anak gajah telah lahir telah  memiliki keterampilan kognitif yang kompleks dan segera dapat merasakan bagaimana bertahan di lingkungan mereka dan berinteraksi dengan kawanannya.

“Kami masih belum mengerti sepenuhnya mengenai hal tersebut” kata Lueders. “Oleh karena itu, kami ingin melihat lebih terperinci pada aspek molekul pada tahap selanjutnya, tentang gen apa yang menyebabkan hal ini terjadi di ovarium?”. Dia juga ingin mempelajari apakah temuan tersebut juga berlaku dalam manate, yang merupakan kerabat dekat gajah.

“Pengamatan ini menjawab rasa ingin tahu tentang reproduksi gajah,” ujar Allen. “Hal ini juga dapat mengarah kepada metode yang dapat mengendalikan ovulasi gajah atau waktu inseminasinya. Metode tersebut bisa berguna ketika kebun binatang berusaha untuk mengembangbiakkan gajah, terutama yang jarang berpasangan dan menjadi hamil dengan cara mereka sendiri. Tapi mereka juga bisa membantu para peneliti mengembangkan pengendalian kelahiran pada gajah untuk daerah yang terganggu akan kelebihan populasi gajah,” tambahnya.

Terima kasih atas kunjungan anda, semoga artikel ini bermanfaat. Mohon berikan dukungan kepada kami dengan cara like, follow dan share melalui facebook, twitter, atau google +.

Referensi Jurnal :

I. Lueders, C. Niemuller, P. Rich, C. Gray, R. Hermes, F. Goeritz, T. B. Hildebrandt. Gestating for 22 months: luteal development and pregnancy maintenance in elephants. Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences, 2012; DOI: 10.1098/rspb.2012.1038.

Artikel ini merupakan terjemahan dari materi yang disediakan oleh Science (19 Juni 2012).

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah secara bijak. Komentar yang tidak sesuai materi akan dianggap sebagai SPAM dan akan dihapus.
Aturan Berkomentar :
1. Gunakan nama anda (jangan anonymous), jika ingin berinteraksi dengan pengelola blog ini.
2. Jangan meninggalkan link yang tidak ada kaitannya dengan materi artikel.
Terima kasih.

Search