Perpustakaan Cyber, Jurnal, Artikel Ilmiah, Referensi, Sains, Teknologi, Materi Pelajaran, Cerita Rakyat, Dongeng.

Wednesday, April 3, 2013

Pengaruh Depresi / Stres Terhadap Sel Saraf Otak

Pengaruh Depresi / Stres Terhadap Sel Saraf Otak - Depresi / stres sangat mengganggu pikiran anda. Sebuah studi baru menemukan bahwa depresi berat dapat menimbulkan banyak perubahan pada otak yang terkait dengan gangguan “mood” (suasana hati). Stres menghambat gen yang disebut neuritin, gen tersebut sangat berpengaruh terhadap tingkat depresi. Hasil penelitian ini memberikan wawasan baru ke dalam mekanisme di balik depresi, kecemasan, dan gangguan bipolar, serta dapat menawarkan ditemukannya obat baru untuk mengobati kondisi tersebut.

Penelitian telah menunjukkan bahwa gangguan suasana hati dapat mengganggu otak seseorang serta kehidupan mereka. Studi postmortem (pembedahan setelah kematian) dan scan otak telah mengungkapkan bahwa hippocampus (pusat memori otak) dapat menyusut dan berhenti berkembang pada orang dengan riwayat depresi dan gangguan suasana hati lainnya. Orang yang hidup dengan gangguan suasana hati juga diketahui memiliki tingkat neurotrophic factor (BDNF) yang rendah, neurotrophic factor adalah faktor pertumbuhan yang menjaga neuron (sel saraf) agar tetap sehat. Selain itu, mereka juga memiliki aktivitas yang rendah pada gen neuritin, gen ini bertugas mengkode protein yang dapat melindungi plastisitas otak (kemampuan otak untuk merombak dan mengubah sistem saraf di dalamnya terhadap adanya pengalaman baru).
neuron
Pengurangan aktivitas neuron pada tikus yang mengalami depresi (kiri), aktivitas neuron yang kembali normal pada tikus yang telah diberi protein neuritin (kanan). (Foto: Hyeon Son et al., PNAS (2012)
Ronald Duman, seorang ahli neurobiologi di Yale University dan rekan-rekannya bertanya-tanya, apakah neuritin memiliki kemungkinan untuk memainkan peran yang penting dalam depresi dan gangguan suasana hati lainnya. Mereka kemudian menginduksi depresi pada sekelompok tikus agar menderita depresi kronis. Mereka mengisolasi, merampas makanan dan waktu bermain serta mengubah siklus siang dan malam pada tikus-tikus tersebut selama 3 minggu. Tikus-tikus tersebut kemudian menjadi mudah menyerah dan menjadi tak bergerak ketika ditempatkan dalam bak air.

Semua tikus yang mengalami depresi menunjukkan rendahnya tingkat aktivitas gen neuritin, dan  berangsur pulih ketika diobati dengan antidepresan. Dengan meningkatkan kadar protein yang dihasilkan oleh gen neuritin juga dapat mengembalikan kondisi tikus yang mengalami depresi tersebut. Para peneliti menemukan bahwa peningkatan produksi neuritin dengan cara menyuntikkan virus yang memicu ekspresi gen neuritin ke dalam tikus, dapat melindungi tikus dari atrofi (terhentinya perkembangan) sel otak dan perubahan struktural otak lainnya yang berhubungan dengan gangguan gangguan suasana hati, bahkan ketika tikus menderita stress yang kronis. Para peneliti melaporkan temuan mereka secara online dalam Proceedings of the National Academy of Sciences.

“Neuritin menghasilkan efek yang mirip dengan obat antidepresan,” kata Duman.”Saya terkejut bahwa molekul ini dengan sendirinya sudah cukup untuk memblokir efek stres dan depresi.”

Untuk lebih menegaskan peran neuritin, para peneliti memblokir aktivitas gen neuritin dalam kelompok tikus yang tidak mengalami stres. Tikus-tikus yang diblokir aktivitas gen neuritinnya menunjukkan gejala depresi yang sama dengan tikus yang mengalami stress.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gen neuritin sangat berperan besar dalam tingkat depresi. “Ini merupakan studi yang luar biasa, studi ini membuka tabir baru dalam bidang biologi depresi dan antidepresan,” kata John Neumaier seorang psikiater dan ilmuwan saraf di University of Washington, Seattle. “Studi Ini dapat menghasilkan cara terapi yang baru.”

“Dengan menggunakan antidepresan yang ada sekarang, hanya sekitar 30% dari orang dengan gangguan suasana hati kembali ke kondisi semula,” kata Russo, seorang neurobiologi dari Mount Sinai School of Medicine di New York City. Neuritin memiliki kemungkinan yang besar untuk digunakan sebagai terapi alternatif dalam pengobatan terhadap depresi.

Referensi Jurnal :

Hyeon Son et al., Neuritin produces antidepressant actions and blocks the neuronal and behavioral deficits caused by chronic stress. Published online before print June 25, 2012, doi: 10.1073/pnas.1201191109.

Artikel ini merupakan terjemahan dari materi yang disediakan oleh ScienceMag (25 Juni 2012). Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.
Pengaruh Depresi / Stres Terhadap Sel Saraf Otak Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Puri Maulana

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah secara bijak. Komentar yang tidak sesuai materi akan dianggap sebagai SPAM dan akan dihapus.
Aturan Berkomentar :
1. Gunakan nama anda (jangan anonymous), jika ingin berinteraksi dengan pengelola blog ini.
2. Jangan meninggalkan link yang tidak ada kaitannya dengan materi artikel.
Terima kasih.