Friday, June 6, 2014

Pengertian Biaya Peluang, Biaya Kesempatan, Oportunitas, Opportunity Cost, Contoh, Cara Menghitung, Rumus, Konsep, Ekonomi, Akuntansi

Perpustakaan Cyber (26/4/2013) - Biaya peluang adalah suatu keputusan didasarkan pada apa yang harus dikesampingkan (alternatif terbaik berikutnya) sebagai hasil keputusan. Keputusan apapun yang melibatkan pilihan antara dua atau lebih memiliki biaya oportunitas. Dalam kehidupan sehari-hari, setiap masyarakat dapat berbeda dalam hal siapa yang menentukan pilihan dan bagaimana pilihan tersebut ditentukan.

Hal ini akan bergantung pada sistem perekonomian yang dianut oleh suatu masyarakat. Walaupun demikian, kebutuhan untuk memilih berlaku umum untuk semua masyarakat. Jika kelangkaan mengharuskan adanya kebutuhan memilih, pilihan secara tidak langsung menandakan adanya biaya. Artinya, keputusan untuk memproduksi sesuatu lebih banyak memerlukan keputusan untuk memproduksi sesuatu yang lain lebih sedikit. Lebih sedikitnya memproduksi sesuatu yang lain dianggap sebagai biaya memproduksi sesuatu lebih banyak. Dengan demikian, muncullah apa yang dinamakan biaya oportunitas.

Paul A. Samuelson dan William D. Nordhaus mengatakan bahwa biaya oportunitas dari suatu keputusan terjadi karena melakukan pilihan terhadap barang langka dengan mengorbankan barang lain. Biaya oportunitasnya adalah nilai dari barang atau jasa yang dilepaskan. Sejalan dengan pengertian tersebut, Lipsey mengartikan biaya oportunitas adalah biaya yang dikorbankan untuk menggunakan sumber daya bagi tujuan tertentu, yang diukur dengan manfaat yang dilepasnya karena tidak digunakan untuk tujuan lain. Dengan kata lain, diukur dengan satuan barang lain yang seharusnya bisa diperoleh.
petani
Gambar 1. Petani yang bekerja di sawah sebenarnya memiliki kesempatan untuk bekerja di bidang lain, seperti bekerja sebagai nelayan, berburu, atau di pasar. (Foto: Wikimedia Commons [1])
Berdasarkan konsep biaya oportunitas tersebut, bahwa dalam menentukan pilihan banyak sekali kelangkaan memaksa seseorang untuk mengorbankan aktivitas alternatifnya. Hal tersebut menyebabkan seseorang kehilangan kesempatan untuk mengerjakan sesuatu yang lain. Misalnya, Paula adalah lulusan sarjana ekonomi. Di samping sarjana ekonomi, Paula juga ahli pemrograman komputer. Sebagai ahli pemrograman komputer, Paula telah digaji sebesar Rp2.000.000,00 per bulannya.

Namun, naluri kewanitaan Paula memutuskan untuk menjadi dosen di suatu perguruan tinggi negeri. Dengan keputusannya tersebut, Paula telah kehilangan kesempatan untuk memperoleh pendapatan sebagai seorang ahli pemrograman komputer. Hilangnya kesempatan untuk memperoleh pendapatan dari bekerja sebagai ahli pemrograman komputer merupakan biaya oportunitas. Contoh lain, setelah lulus SMA Beti memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi negeri, tetapi Beti memutuskan untuk bekerja sehingga ia akan mendapat gaji per bulan sebesar Rp1.000.000,00. Jika ia kuliah, diperlukan biaya untuk SPP, buku-buku, tugas, uang kos, pakaian, dan biaya lainnya yang semuanya berjumlah Rp1.500.000,00 per bulan. Jadi, opportunity cost Beti untuk melanjutkan kuliah adalah sebesar Rp12.000.000,00 (gaji bekerja) selama satu tahun.

Jika tidak bekerja dan melanjutkan kuliah, biaya yang dikeluarkan selama satu tahun sebesar Rp18.000.000,00 (biaya kuliah). Keputusan seorang individu untuk bekerja juga berhubungan dengan sejauhmana ia bersedia mengalokasikan waktu untuk bekerja dan tidak bekerja.Opportunity cost (biaya kesempatan) dari bekerja adalah hilangnya waktu untuk tidak bekerja (leisure time) yang dapat digunakan untuk kegiatan lainnya. Misalnya, berkumpul dengan keluarga, belanja, bersenang-senang, sebaliknya biaya oportunitas dari tidak bekerja adalah hilangnya pendapatan.


Dengan adanya keterbatasan sumber daya (faktor produksi), manusia harus memilih keputusan ekonomi yang rasional atau menguntungkan dirinya, ketika pilihan ekonomi tersebut akan mengorbankan pilihan ekonomi lainnya, dalam ilmu ekonomi dikenal dengan biaya kesempatan (opportunity cost). Setiap kali keputusan harus dibuat, terkandung biaya kesempatan.

Dalam kasus lain, misalnya, apakah Anda akan melanjutkan sekolah ke tingkat yang lebih tinggi atau bekerja? Atau apakah Anda berlibur ke tempat wisata atau membeli komputer? Dalam contoh tersebut terdapat pilihan yang telah memaksa Anda mengorbankan kegiatan alternatif, yang sesungguhnya telah menyebabkan Anda kehilangan kesempatan untuk mengerjakan sesuatu yang lain. Dengan kata lain, biaya kesempatan dapat diartikan sebagai nilai alternatif terbaik yang hilang (dikorbankan). Jika Anda dihadapkan pada dua pilihan, yaitu A dan B, kemudian Anda memilih A, sebebarnya Anda telah kehilangan kesempatan untuk memilih B. Misalnya, apabila seseorang memiliki mata pencarian sebagai seorang nelayan, pada saat yang sama ia sebenarnya telah kehilangan kesempatan untuk mendapatkan penghasilan dari pekerjaan di sektor lain, seperti dari usaha bertani, atau berdagang.

Untuk membedakan biaya kesempatan dari biaya lain-lainnya Walter Nicholson (2001), menjelaskan beberapa konsep biaya. Ia membagi biaya ke dalam tiga konsep yang berbeda, yaitu konsep biaya kesempatan, konsep biaya ekonomi, dan konsep biaya akuntansi.

a. Konsep Biaya Kesempatan


Konsep biaya kesempatan adalah pendapatan bersih yang dikorbankan atau penghematan biaya yang tidak jadi diperoleh karena memilih alternatif lain. Misalnya, menghasilkan 15 meja sederhana memerlukan sejumlah tenaga kerja, kayu, dan cat. Tetapi pada kenyataannya Anda memilih membuat sebuah lemari besar. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa oportunitas sebuah lemari besar sama dengan 15 meja sederhana.

b. Konsep Biaya Ekonomi


Menurut konsep biaya ekonomi, biaya dianggap sebagai pengeluaran yang sewajarnya untuk menghasilkan suatu barang dan jasa. Sebagai contoh, untuk mengecat papan tulis umumnya diperlukan satu kaleng cat. Pada kenyataannya dua kaleng cat habis, terpakai. Satu kaleng yang seharusnya tidak dipakai dianggap sebagai pemborosan.

c. Konsep Biaya Akuntansi


Biaya dalam konsep biaya akuntansi dianggap sebagai pengeluaran nyata atau aktual, biaya perolehan, dan penyusutan serta biaya-biaya lain yang berhubungan dengan masalah pembukuan. Sebagai contoh, untuk mengecat sebuah papan tulis umumnya diperlukan satu kaleng cat. Pada kenyataannya habis dua kaleng. Dalam konsep biaya akuntansi, tetap dicatat dua kaleng.

2. Pengalokasian Sumber Daya yang Menguntungkan [2]


Para ahli ekonomi menjelaskan pengalokasian sumber daya yang menguntungkan di antaranya dengan menggunakan konsep batas kemungkinan produksi (Production Possibility Frontier/PPF). Batas kemungkinan produksi menunjukkan jumlah maksimum alternatif kombinasi barang dan jasa yang dapat diproduksi oleh sebuah masyarakat pada suatu waktu ketika sumber-sumber daya ekonomi dan teknologi didayagunakan sepenuhnya.

Kurva batas kemungkinan produksi tidak hanya menggambarkan kapabilitas produksi yang terbatas dan masalah kelangkaan. Namun, kurva batas kemungkinan produksi juga mencerminkan konsep biaya kesempatan (opportunity cost). Sebagai ilustrasi pengalokasian tersebut dicontohkan oleh suatu perekonomian yang menggunakan seluruh sumber daya untuk memproduksi makanan dan memproduksi pakaian. Contoh di atas merupakan dua kemungkinan ekstrim. Di antara dua kemungkinan tersebut masih terdapat banyak kemungkinan lain.

Asumsi atau pemisalan yang digunakan adalah:

a. sumber daya menghasilkan dua macam produk (dalam hal ini makanan dan pakaian);
b. menggunakan teknologi yang berlaku;
c. Seluruh sumber daya digunakan secara penuh.

Berbagai kemungkinan tersebut dapat dilihat dalam Tabel 1.

Kemungkinan
Makanan (ribuan unit)
Pakaian (ribuan unit)
A
15
0
B
14
1
C
12
2
D
9
3
E
5
4
F
0
5

Dalam memilih apa saja yang diproduksi, para pembuat keputusan memiliki pilihan untuk memproduksi. Ketika sebuah perekonomian terletak pada batas kemungkinan produksi pada titik A, semua sumber daya dipergunakan untuk menghasilkan makanan (15.000 unit), sedangkan pakaian sama sekali tidak diproduksi. Sebaliknya, jika mengambil pilihan F semua sumber daya dipergunakan seluruhnya untuk memproduksi pakaian (5.000 unit), sedangkan makanan sama sekali tidak diproduksi.

Pilihan A dan F disebut pilihan ekstrim berarti pilihan yang sangat kecil kemungkinannya untuk terjadi. Sebab tidak mungkin orang hanya membutuhkan makanan saja atau pakaian saja. Pilihan B, C, D, dan E adalah kombinasi di antara A dan F yang rasional. Untuk bergerak dari alternatif D (9.000 makanan dan 3.000 pakaian) ke alternatif C (12.000 makanan dan 2.000 pakaian), biaya oportunitas tambahan 3.000 unit makanan adalah berkurangnya 1.000 unit pakaian.

Perhatikan Kurva 1.berikut.
Batas Kemungkinan Produksi
Gambar 2. Batas Kemungkinan Produksi.
Kurva 1.memperlihatkan jumlah produksi maksimum bisa dicapai oleh sebuah perekonomian. Selain itu, Kurva 1 juga menggambarkan daftar pilihan yang tersedia bagi masyarakat untuk memproduksi barang atau jasa pada jumlah sumber daya dan tingkat teknologi tertentu. Batas kemungkinan produksi (PPF) disebut juga sebagai kurva transformasi karena memperlihatkan bagaimana suatu jenis barang tertentu dapat dialihkan pada barang lain, dengan memindahkan sumber daya dari produksi barang tersebut ke produksi barang lain. Titik G yang berada di luar batas tidak mungkin bisa dicapai, sedangkan setiap titik di dalam garis batas, seperti titik H, memperlihatkan sumber daya yang tidak dimanfaatkan sepenuhnya dengan cara yang terbaik.

Jika perekonomian memproduksi kedua barang tersebut pada sepanjang garis batas kemungkinan produksi, dapat dikatakan bahwa perekonomian berjalan secara efisien. Efisiensi diartikan sebagai penggunaan sumber daya ekonomi secara efektif untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan masyarakat. Efisiensi produksi terjadi jika produksi barang tertentu tidak dapat ditingkatkan lagi tanpa mengurangi produksi barang lain, yaitu selama perekonomian masih berada pada garis batas kemungkinan produksi.

Pada akhirnya, Anda dapat menyimpulkan bahwa batas kemungkinan produksi mengungkapkan tiga konsep, yaitu keterbatasan (limited), pilihan (choice) dan biaya kesempatan ( opportunity cost). Keterbatasan ditunjukkan oleh kombinasi-kombinasi yang tidak bisa dicapai di atas garis batas. Pilihan ditunjukkan oleh kebutuhan untuk memilih dari sekian titik alternatif yang bisa dicapai sepanjang garis batas. Biaya kesempatan diperlihatkan oleh kemiringan batas tersebut ke kanan bawah, artinya satu jenis barang bisa diproduksi lebih banyak jika barang lain diproduksi lebih sedikit.

3. Cara Menghitung Biaya Peluang [2]


Berikut ini akan diuraikan cara menghitung biaya peluang. Agar lebih jelas perhatikan contoh berikut.

a. Setelah lulus SMA, Farida mendapat 2 tawaran pekerjaan. Tawaran pertama sebagai pelayan toko di dekat rumah dengan gaji Rp 400.000,- per bulan. Tawaran kedua sebagai pramusaji di sebuah rumah makan di kotanya dengan gaji Rp 900.000,- per bulan. Dengan beberapa pertimbangan, di antaranya ingin dekat keluarga, akhirnya Farida memutuskan bekerja sebagai pelayan toko. Keputusan Farida memilih bekerja sebagai pelayan toko telah menghilangkan peluang untuk bekerja sebagai pramusaji yang sebenarnya bisa memberikan pendapatan Rp 900.000,- per bulan. Dengan demikian, biaya peluang yang ditanggung Farida dengan memilih bekerja sebagai pelayan toko adalah sebesar Rp 900.000,- per bulan.
b. Sebagai lulusan terbaik dari sebuah perguruan tinggi terkemuka, Andrew mendapat 5 tawaran pekerjaan.

Tabel 2. Tawaran pekerjaan

Tawaran
Tempat Kerja
Gaji per bulan
1
Jakarta
Rp 6.000.000,-
2
Medan
Rp 4.000.000,-
3
Irian
Rp 6.000.000,-
4
Tangerang
Rp 7.000.000,-
5
Bali
Rp 7.000.000,-

Dari lima tawaran tersebut, tinggal dua tawaran yang menarik hati Andrew. Pertama, tawaran bekerja di Jakarta dengan gaji Rp 6.000.000,- per bulan dan satu lagi, tawaran bekerja di Tangerang dengan gaji Rp 7.000.000,- per bulan. Setelah meminta pertimbangan orang tua dan teman, Andrew memutuskan memilih bekerja di Jakarta dengan gaji Rp 6.000.000,- per bulan. Pilihan Andrew untuk bekerja di Jakarta telah menghilangkan peluang terbaiknya untuk bekerja di Tangerang dengan gaji Rp 7.000.000,- per bulan. Karena opportunity cost selalu diukur dari nilai peluang terbaik yang dikorbankan atau yang tidak dipilih maka besarnya biaya peluang yang ditanggung Andrew dengan bekerja di Jakarta adalah sebesar Rp 7.000.000,- per bulan.
c. Dinda memiliki uang Rp 80.000,-. Saat ini ia memerlukan kaos dan buku tulis. Harga satu kaos Rp 15.000,- dan harga satu buku tulis Rp 6.000,-. Karena ada dua kebutuhan maka ada beberapa kombinasi kebutuhan yang harus dipilih Dinda.

Tabel 3. Kombinasi kebutuhan

Kombinasi
Jumlah kaos @ 15.000
Jumlah buku @ 6.000
Jumlah uang yang dikeluarkan (Rp)
Sisa uang (Rp)
A
1
10
75.000
5.000
B
2
8
78.000
2.000
C
3
5
75.000
5.000
D
4
3
78.000
2.000
E
5
0
75.000
5.000

Dari 5 kombinasi di atas, awalnya Dinda ingin memilih kombinasi D, yaitu mendapat 4 kaos dan 3 buku tulis. Akan tetapi, karena ingin menghadiahi adiknya 2 buku tulis maka Dinda berubah memilih kombinasi C, yakni mendapat 3 kaos dan 5 buku tulis. Ini berarti untuk mendapatkan tambahan 2 buku tulis Dinda telah mengorbankan satu kaos. Dengan demikian, biaya peluang untuk mendapatkan tambahan 2 buku tulis adalah sebesar harga satu kaos, yaitu Rp 15.000,-

Biaya peluang tidak hanya terjadi pada kegiatan konsumsi tapi juga terjadi pada kegiatan produksi. Perhatikan contoh berikut:

Pak Tata seorang pengrajin mainan kayu sedang memenuhi pesanan dari dua pelanggan. Pelanggan pertama memesan mobil kayu, pelanggan kedua memesan boneka kayu. Karena keterbatasan modal maka Pak Tata harus mengatur produksinya. Ada beberapa kombinasi produksi yang bisa dipilih Pak Tata.

Tabel 4. Kombinasi produksi

Kombinasi
Jumlah mobil kayu
Jumlah boneka kayu
A
0
200
B
50
160
C
90
100
D
115
50
E
135
0
F
50
125
G
115
160

Untuk memuaskan pelanggan pertama (pemesan mobil kayu), awalnya Pak Tata memilih kombinasi D. Akan tetapi, pilihan D bisa merugikan pelanggan kedua (pemesan boneka kayu) karena hanya sedikit pesanannya yang bisa dipenuhi. Oleh karena itu, Pak Tata berubah memilih kombinasi C sehingga diharapkan bisa memuaskan kedua pelanggan. Perubahan pilihan dari D ke C menunjukkan bahwa Pak Tata harus mengorbankan 25 mobil kayu (115 - 90) untuk mendapatkan tambahan 50 boneka kayu. Karena harga satu mobil kayu Rp 20.000,- berarti besar biaya peluang untuk mendapatkan 50 boneka kayu adalah 25 x Rp 20.000,- = Rp 500.000,-.

Berdasarkan tabel kombinasi produksi di atas, dapat pula dibuatkan kurva kemungkinan produksi, seperti tampak pada Gambar kurva 2.
Kurva kemungkinan produksi
Gambar 2. Kurva kemungkinan produksi.
Dari kurva kemungkinan produksi tersebut ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan, sebagai berikut.

a. Kurva yang bergerak dari kiri atas ke kanan bawah (berlereng negatif) merupakan batas antara kombinasi yang dapat dicapai dengan kombinasi yang tidak dapat dicapai.
b. Titik A, B, C, D, E yang terletak pada kurva menunjukkan kombinasi penggunaan sumber daya yang efisien dan optimal.
c. Titik F merupakan contoh kombinasi yang dapat dicapai (attainable combination), tetapi tidak efisien karena tidak menggunakan sumber daya yang tersedia dengan optimal.
d. Titik G merupakan contoh kombinasi yang tidak dapat dicapai (unatainable combination) karena sumber daya yang ada tidak mencukupi.
e. Titik A dan E disebut kombinasi ekstrem karena kombinasi A tidak menghasilkan mobil kayu dan pada kombinasi E tidak menghasilkan boneka kayu.

Referensi :

Widjajanta, B. dan A. Widyaningsih. 2009. Mengasah Kemampuan Ekonomi 1 : Untuk Kelas X Sekolah Menengah Atas/Mandrasah Aliyah Program Ilmu Pengetahuan Sosial. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. p. 170.

Referensi lainnya :


[2] Arifin, I. 2009. Membuka Cakrawala Ekonomi 1 : Untuk Kelas X Sekolah Menengah Atas/Mandrasah Aliyah Program Ilmu Pengetahuan Sosial. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. p. 170.

[3] Sa’diyah, C. 2009. Ekonomi 1 : Untuk Kelas X SMA dan MA. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. p. 434.

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah secara bijak. Komentar yang tidak sesuai materi akan dianggap sebagai SPAM dan akan dihapus.
Aturan Berkomentar :
1. Gunakan nama anda (jangan anonymous), jika ingin berinteraksi dengan pengelola blog ini.
2. Jangan meninggalkan link yang tidak ada kaitannya dengan materi artikel.
Terima kasih.

Search