Fungsi Konsumsi dan Tabungan dan Kurva Permintaan Investasi, Manfaat, Ekonomi

Leave a Comment
Perpustakaan Cyber (24/5/2013) - Anda mungkin sering bepergian ke supermarket atau ke pasar. Misalnya, Anda ingin membeli sayuran dan buah-buahan, Anda akan membeli sayuran dan buah-buahan yang segar, bukan? Pemilihan terhadap sayuran dan buah-buahan tersebut dapat dikatakan kegiatan konsumsi karena setelah membeli barang tersebut Anda akan segera mengkonsumsinya. Kegiatan konsumsi merupakan kegiatan yang biasa dilakukan oleh setiap individu, masyarakat, dan negara guna menghabiskan nilai suatu barang. Pada kegiatan konsumsi baik individu maupun masyarakat memerlukan barang dan jasa dari rumah tangga produsen. Pada bab ini akan dibahas lebih lanjut materi fungsi konsumsi hubungannya dengan fungsi tabungan dan pengaruhnya terhadap kurva permintaan investasi.

A. Fungsi Konsumsi dan Fungsi Tabungan


Dalam suatu perekonomian modern, tingkat pengeluaran agregat terdiri atas empat komponen utama, yaitu pengeluaran rumah tangga atau konsumsi rumah tangga, investasi yang dilakukan pihak swasta, pengeluaran pemerintah, dan ekspor bersih. Anda tentu masih ingat dengan beberapa pendekatan dalam menghitung atau menentukan pendapatan nasional. Salah satu pendekatan tersebut adalah pendekatan pengeluaran (expenditures approach). Berdasarkan pendekatan pengeluaran, nilai pendapatan nasional dihitung dengan cara menjumlahkan permintaan akhir dari para pelaku ekonomi (konsumen, produsen, pemerintah, dan masyarakat luar negeri) dalam sebuah perekonomian terbuka. Dapat dirumuskan dalam Tabel 1.

Tabel 1. Komponen Pengeluaran Agregat

No
Unit Ekonomi
Komponen Pengeluaran
1
Konsumen
Konsumsi (C)
2
Produsen
Investasi (I)
3
Pemerintah
Konsumsi + Investasi (G)
4
Masyarakat luar negeri
Ekspor - Impor (X-M)

Atau dapat ditulis dalam persamaan sebagai berikut.

Y = C + I + G + (X–M)

Dalam bab sebelumnya dibahas tentang konsumsi dalam lingkup ekonomi mikro, yaitu berkenaan dengan perilaku konsumen (consumer’s behaviour) secara individual dalam kegiatan ekonomi. Dalam bab ini akan dibahas konsumsi dari sudut pandang ekonomi makro, yaitu konsumsi sebagai salah satu komponen dari pengeluaran masyarakat secara menyeluruh (agregat).

Seperti dijelaskan sebelumnya, konsumsi terdiri atas konsumsi pemerintah dan konsumsi rumah tangga. Namun, pembahasan konsumsi yang akan dilakukan hanya terbatas pada konsumsi rumah tangga karena konsumsi rumah tangga umumnya paling mendominasi komponen pengeluaran agregat. Untuk menjelaskan dan menyederhanakan pembahasan konsumsi secara makro maka dibuat model-model atau teori-teori mengenai konsumsi.

1.1. Fungsi Konsumsi


Konsumsi merupakan salah satu komponen pendapatan nasional, lebih jelasnya komponen dari pendapatan disposabel. Pendapatan disposabel adalah pendapatan yang siap dibelanjakan oleh konsumen. Fungsi konsumsi adalah hubungan antara konsumsi dan pendapatan disposabel serta menganggap konstan faktor-faktor penentu konsumsi yang bukan berasal dari pendapatan.

Hubungan antara konsumsi dan pendapatan disposabel serta menganggap konstan faktor-faktor penentu konsumsi yang bukan berasal dari pendapatan dinamakan fungsi konsumsi. Fungsi konsumsi dirumuskan dalam persamaan linear.

C = a + bYd atau C = Co + bYd

Keterangan :

a = Besarnya konsumsi saat pendapatan sama dengan nol (Y = 0);
b = Tambahan konsumsi karena bertambahnya pendapatan. b bernilai antara 0 dan 1 (0 < b < 1);
Yd = Pendapatan disposabel;
Co = Konsumsi otonom
C = Pengeluaran atau tingkat konsumsi masyarakat.

Kecenderungan mengonsumsi marjinal (Marginal Propensity to Consume) adalah konsep yang menggambarkan hubungan antara pertambahan pendapatan dan pertambahan konsumsi. Dengan kata lain, MPC menunjukkan gambaran tentang berapa konsumsi akan bertambah jika pendapatan disposabel bertambah satu unit.


Keterangan :

ΔC adalah pertambahan konsumsi dan Yd adalah pertambahan pendapatan disposabel.

Adapun kecenderungan mengonsumsi rata-rata (Average Propensity to Consume) adalah perbandingan atau rasio antara konsumsi total dan pendapatan dispoabel total.


Keterangan :

C adalah total konsumsi dan Yd adalah pendapatan disposabel.


Tabungan dapat diartikan sebagai bagian pendapatan yang tidak dikonsumsi atau setiap kemampuan dan kesediaan untuk menahan sebagian dari hasrat konsumsi. Hubungan antara pendapatan disposabel dan tabungan disebut dengan fungsi tabungan. Fungsi tabungan diperoleh dari fungsi konsumsi. Persamaan linear yang menggambarkan hubungan antara Yd dan S adalah sebagai berikut.

Yd = C + S
S = Yd – C = – C + Yd
S = –a + (1–b) Yd atau S = –Co + (1–b)Yd

Adapun a adalah tabungan pada saat Yd = 0 dan 1–b adalah kecenderungan menabung marjinal (Marginal Propensity to Save atau MPS).

Kecenderungan menabung marjinal (Marginal Propensity to Save) adalah konsep yang menggambarkan hubungan antara pertambahan pendapatan dan pertambahan tabungan. Dengan kata lain, MPS menunjukkan gambaran tentang berapa jumlah tabungan akan bertambah jika pendapatan disps bel bertambah satu unit.


ΔS adalah pertambahan tabungan dan Yd adalah pertambahan pendapatan disposabel yang mengakibatkan pertambahan konsumsi tersebut.

Adapun kecenderungan menabung rata-rata (Average Propensity to Save) adalah perbandingan atau rasio antara tabungan total dan pendapatan disposabel total.


S adalah tabungan dan Yd adalah pendapatan disposabel. Contoh penerapan fungsi konsumsi dan fungsi tabungan tampak pada tingkat pendapatan disposabel dan konsumsi sebuah rumah tangga sebagai berikut.

Tabel 2. Tingkat Pendapatan Disposabel

Pendapatan Disposabel
Konsumsi
∆ Pendapatan disposabel
∆ Konsumsi
0
300
-
-
1.000
1.000
1.000
700
2.000
1.700
1.000
700

Dari Tabel 2. dapat dilihat pada tingkat pendapatan disposabel sama dengan nol, tingkat konsumsi adalah 300. Hal ini berarti konsumsi dasar sama dengan 300. Pada saat pendapatan disposabel meningkat menjadi 2.000 konsumsi meningkat menjadi 1.700. Tentukan persamaan konsumsi dan grafiknya. 

Diketahui:

Δ Yd = Rp 1.000,00
Δ C = Rp 700,00

Berarti MPC = 0,7, artinya 70 persen dari tambahan pendapatan akan digunakan untuk konsumsi.

Seorang konsumen yang rasional tidak akan membelanjakan seluruh pendapatan disposabel untuk konsumsi. Tambahan konsumsi di atas tidak mungkin melebihi tambahan pendapatan disposabel. Tingkat pendapatan 1.000 merupakan tingkat pendapatan minimal agar rumah tangga mampu membiayai seluruh konsumsinya sehingga dapat ditulis sebagai berikut.

C = Y = 1.000
C = a + bYd
1.000 = a + 0,7(1.000)
700 + a = 1.000
a = 300

Berarti pada tingkat disposabel sama dengan nol. Tingkat konsumsi dasarnya adalah 300. Jadi rumus persamaan konsumsinya adalah C = 300 + 0,7Yd

Kurva fungsi konsumsinya terlihat dalam Kurva 1.
Kurva Fungsi Konsumsi
Kurva 1. Fungsi Konsumsi
Berdasarkan Kurva 1, kurva konsumsi yang sudut kemiringannya kurang dari 45o menunjukkan bahwa MPC (kecenderungan melakukan tambahan konsumsi) tidak mungkin lebih dari satu. Hal ini terbukti, pada saat pendapatan disposabel meningkat Rp1.000,00 konsumsi hanya bertambah 700 unit atau MPC sama dengan 0,7.

Dari contoh fungsi konsumsi di atas maka dapat dibuat fungsi tabungan dan kurvanya sebagai berikut.

C = 300 + 0,7Yd
S = –300 + 0,3Yd

Kurva Fungsi Tabungan
Kurva 2. Fungsi Tabungan

1.3. Hubungan antara Pendapatan Disposabel, Konsumsi, dan Tabungan


Dari pembahasan fungsi tabungan, persamaan hubungan antara pendapatan disposabel, konsumsi, dan tabungan dapat dituli sebagai berikut.

Yd = C + S,

Dengan demikian,

Yd = C + S


1 = MPC + MPS


1 = APC + APS

Tabel 3. Pendapatan Disposabel dan Konsumsi

Pendapatan Disposabel (Yd)
Konsumsi (C)
∆ Pendapatan Disposabel (Yd)
∆ Konsumsi (C)
MPC
APC
0
300
-
-
-
-
1.000
1.000
1.000
700
0,7
1
2.000
1.700
1.000
700
0,7
0,85
3.000
2.400
1.000
700
0,7
0,80

Dari Tabel 3, dapat dibuat Tabel 4, yaitu sebagai berikut.

Tabel 4. Pendapatan Disposabel dan Tabungan

Pendapatan Disposabel (Yd)
Tabungan (S)
∆ Pendapatan Disposabel (Yd)
∆ Tabungan (S)
MPS
APS
0
–300
-
-
-
-
1.000
0
1.000
300
0,3
-
2.000
300
1.000
300
0,3
0,15
3.000
600
1.000
300
0,3
0,20

Contoh Soal (SPMB 2002) :

Apabila fungsi konsumsi ditujukan oleh C = 100 + 0,8 (Y adalah pendapatan), maka fungsi tabungan ....

a. S = -100 + 0,2 y
b. S = 100 + 0,2 y
c. S = 100 + 0,8 y
d. S = 100 - 0,8 y
e. S = 100 - 0,2 y

Penyelesaian:

C = 100 + 0,8 y
y = pendapatan

C = a + by
S = -a + (1-b) y = -100 + 0,2 y

Jawaban: A

1.4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Konsumsi


Menurut Prathama Rahardja dan Mandala Manurung (2004), kegiatan konsumsi rumah tangga dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor ekonomi dan faktor nonekonomi.

1.4.1. Faktor Ekonomi

Empat faktor ekonomi yang sangat menentukan konsumsi adalah pendapatan, kekayaan, tingkat bunga, dan ekpektasi.

1) Pendapatan rumah tangga

Semakin tinggi tingkat pendapatan rumah tangga semakin besar porsi pendapatan yang dikonsumsikan.

2) Kekayaan

Kekayaan atau aset seseorang dapat berupa kekayaan riil (tanah dan bangunan) maupun kekayaan finansial (deposito atau dalam bentuk surat berharga). Kekayaan akan meningkatkan pendapatan disposabel dan selanjutnya akan meningkatkan konsumsi.

3) Tingkat Bunga

Semakin tinggi tingkat suku bunga, semakin tinggi tabungan yang diciptakan masyarakat. Dengan demikian hasrat masyarakat untuk melakukan konsumsi berkurang. Jika suku bunga rendah hasrat masyarakat untuk melakukan konsumsi akan naik.

4) Perkiraan tentang Kondisi di Masa Depan

Ekspektasi mengenai keadaan di masa mendatang sangat mempengaruhi kegiatan konsumsi masyarakat. Adanya keyakinan bahwa di masa mendatang akan memperoleh pendapatan yang lebih tinggi akan mendorong rumah tangga meningkatkan konsumsinya di masa sekarang.

1.4.2. Faktor Nonekonomi

Faktor nonekonomi terdiri atas faktor demografi dan faktor sosial budaya.

1) Faktor Demografi

Faktor demografi terdiri atas faktor jumlah dan komposisi penduduk.

a) Jumlah Penduduk

Jumlah penduduk akan memperbesar tingkat konsumsi secara agregat walaupun pengeluaran rata-rata penduduk umumnya relatif rendah.

b) Komposisi Penduduk

Semakin banyak penduduk usia produktif yang bekerja, semakin tinggi tingkat pendidikan, dan semakin banyak penduduk tinggal di perkotaan maka konsumsi akan meningkat.

2) Faktor Sosial Budaya

Faktor sosial budaya akan memengaruhi kegiatan konsumsi masyarakat. Faktor sosial budaya berkaitan dengan gaya hidup seseorang. Seseorang yang terbiasa dengan gaya hidup mewah tentunya akan memiliki porsi yang besar dari pendapatannya untuk kegiatan konsumsi.

B. Kurva Permintaan Investasi


Investasi adalah istilah yang sering diartikan berbeda-beda oleh banyak orang dalam kehidupan sehari-hari. Anda tentu pernah mendengar ada orang yang mengatakan: “Saya akan menginvestasikan dana atau kekayaan di Jakarta dengan membeli tanah atau gedung, atau dalam bentuk surat-surat berharga misalnya, saham dan obligasi”. Dalam analisis ekonomi, tindakan menggunakan dana seperti di atas tidak digolongkan sebagai investasi. Sri Mulyani Indrawati (1988), mendefinisikan investasi sebagai penambahan fasilitas produksi maupun stok modal dalam jangka waktu tertentu, biasanya tahunan. Sadono Sukirno (2000), mendefinisikan investasi sebagai pengeluaran-pengeluaran untuk membeli barang modal yang akan digunakan untuk memproduksi barang dan jasa di masa depan. Dalam analisis ekonomi, kegiatan pengeluaran dana seperti yang diungkapkan oleh dua ahli ekonomi tersebut, bisa dikatakan sebagai investasi jika pembelian tanah atau gedung digunakan untuk mengembangkan pabrik pembuatan kain atau untuk mendirikan perkebunan tebu dan kegiatan produktif lainnya.

Keputusan untuk melakukan investasi berdasarkan pertimbangan jumlah keuntungan atau tingkat pengembalian yang diharapkan akan diperoleh dari kegiatan investasi karena untuk memperoleh tambahan modal (uang) tidak harus berasal dari pengusaha atau milik sendiri, melainkan dapat melalui pihak lain misalnya, lembaga perbankan atau pasar modal. Dengan sendirinya, motif untuk melakukan investasi tidak hanya sebatas dari adanya tingkat pengembalian yang diharapkan diperoleh di masa depan, tetapi harus memperhitungkan biaya investasinya terutama tingkat suku bunga pinjaman. Semakin rendah biaya (tingkat bunga), semakin banyak orang yang melakukan investasi. Sebaliknya, semakin tinggi biaya bunga semakin sedikit orang yang berani melakukan investasi.

2.1. Fungsi Investasi


Fungsi investasi menggambarkan hubungan antara tambahan investasi dan tingkat keuntungan yang diharapkan. Fungsi investasi dapat digambarkan melalui kurva MEC (Marginal Eficiency of Capital). MEC atau efisiensi modal marjinal adalah tingkat pengembalian yang diharapkan (expected rate of return) dari setiap tambahan barang modal. Konsep MEC merupakan konsep yang pertama kali diperkenalkan oleh John Maynard Keynes dalam bukunya General Theory (1936). Fungsi investasi dipandang sejenis dengan kurva permintaan. Semakin rendah tingkat bunga (biaya investasi), semakin besar tambahan barang modal (investasi). Sebaliknya, semakin tinggi tingkat bunga (biaya peminjaman), semakin kecil tambahan barang modal. Jika tingkat pengembalian yang diharapkan lebih besar dari tingkat suku bunga, permintaan investasi akan meningkat.

Sebaliknya, jika tingkat pengembalian yang diharapkan lebih rendah dari tingkat suku bunga, tingkat investasi akan menurun. Istilah MEC kemudian diganti dengan nama MEI (Marginal Eficiency of Investment) karena yang dimaksud bukan jumlah modal, tetapi kenaikan atau tambahan modal. Marginal diartikan sebagai tambahan investasi baru, dan eficiency berarti dapat menghasilkan keuntungan yang diharapkan. Dengan menggunakan konsep marginal eficiency dari investasi tersebut, dapat diketahui bahwa terdapat hubungan berbanding terbalik (korelasi negatif) antara tingkat suku bunga dan jumlah investasi ( permintaan investasi) yang akan dilakukan pada suatu periode tertentu. Hal tersebut dapat dilihat dalam Kurva 3.
Kurva efisiensi modal marjinal
Kurva 3. Efisiensi Modal Marjinal.
Perhatikan Kurva 3. Titik A menggambarkan pada suku bunga r0 sebanyak I0 investasi akan dilakukan perusahaan-perusahaan dalam perekonomian. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada waktu yang sama, nilai investasi untuk melaksanakan suatu proyek yang memberikan tingkat pengembalian yang diharapkan (expected return) setidak-tidaknya sama dan melebihi r0 adalah I0. Pada titik B menunjukkan bahwa pengurangan suku bunga dari r0 menjadi r1 menyebabkan investasi perusahaan dalam perekonomian meningkat dari I0 menjadi I1. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada waktu yang sama, nilai investasi untuk melaksanakan suatu proyek yang memberikan tingkat pengembalian yang diharapkan (expected return) setidak-tidaknya sama dan melebihi r1 adalah I1.

MEC dan MEI adalah dua konsep yang sama yang menggambarkan tingkat pengembalian yang diharapkan (expected rate of return) dari setiap tambahan barang modal (investasi). Jika tingkat pengembalian yang diharapkan dari investasi lebih besar dari tingkat bunga, pengusaha akan meminjam uang dari perbankan atau pasar modal untuk melakukan investasi. Sebaliknya, jika tingkat pengembalian yang diharapkan dari investasi lebih rendah dari tingkat bunga yang berlaku, pengusaha tidak akan meminjam uang dari bank dan tidak akan melakukan investasi, mungkin akan lebih memilih menyimpan uangnya di bank.

Hubungan antara investasi, tingkat pengembalian yang diharapkan, dan tingkat suku bunga yang berlaku dapat lebih jelas dalam contoh berikut.

Seandainya tingkat suku bunga bank yang berlaku adalah 8 persen, seorang yang bertindak rasional akan melakukan investasi. Jika keuntungan yang diharapkan minimal sama atau lebih dari 8 persen, misalnya 10 persen atau 12 persen. Ia tidak akan melakukan investasinya pada tingkat suku bunga lebih rendah dari tingkat suku bunga yang sedang berlaku, misalnya 5 persen atau 3 persen. Mengapa? Tentunya bagi dia akan lebih menguntungkan jika ia menyimpan uangnya di bank karena akan mendapatkan tingkat pengembalian yang lebih besar dari bunga, yaitu 8 persen.

Misalnya, investasi senilai 100 miliar rupiah akan menghasilkan keuntungan 12 persen. Tambahan investasi baru senilai 50 miliar rupiah akan menyebabkan keuntungan turun menjadi 10 persen dan tambahan investasi baru sebesar 50 miliar rupiah lagi akan menyebabkan potensi keuntungan menurun menjadi 8 persen, demikian seterusnya. Hubungan permintaan investasi dan tingkat bunga dari kasus di atas terlihat dalam Tabel 5.

Tabel 5. Permintaan Investasi dan Tingkat Bunga

Tingkat Suku Bunga (dalam % per tahun)
Permintaan Investasi (miliar rupiah)
Tambahan Investasi (miliar rupiah)
12
100
-
10
150
50
8
200
50
5
275
75
3
325
50

2.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Investasi


Terdapat dua faktor utama yang memengaruhi tingkat investasi, yaitu tingkat suku bunga dan tingkat pengembalian yang diharapkan.

a) Tingkat Suku Bunga

Tingkat suku bunga pinjaman adalah biaya investasi yang paling menentukan. Semakin tinggi tingkat bunga pinjaman, biaya investasi semakin mahal. Akibatnya, minat atau permintaan masyarakat untuk berinvestasi akan menurun.

b) Tingkat Pengembalian yang Diharapkan

Seseorang atau perusahaan akan melakukan investasi pada masa sekarang dengan harapan memperoleh keuntungan di masa mendatang. Tingkat pengembalian yang diharapkan sangat dipengaruhi oleh kondisi internal dan eksternal sebuah perusahaan.
  1. Kondisi internal perusahaan antara lain tingkat efisiensi perusahaan dalam berproduksi, kualitas SDM, dan tingkat teknologi yang diguna kan. Artinya, semakin tinggi ketiga aspek tersebut, semakin tinggi tingkat pengembalian yang diharapkan, semakin tinggi pula permintaan untuk berinvestasi.
  2. Kondisi eksternal perusahaan antara lain menyangkut kondisi secara makro baik bidang ekonomi sosial maupun politik. Jika perkiraan tentang masa depan ekonomi, sosial, politik nasional, dan internasional optimis, biasanya tingkat investasi meningkat karena tingkat pengembalian yang diharapkan dari investasi dapat dinaikkan. Selain itu, kebijakan pemerintah juga akan mempengaruhi keputusan investasi. Jika pemerintah menaikkan pajak akan terjadi pengurangan permintaan agregat. Akibatnya tingkat investasi akan menurun.
Berdasarkan uraian tersebut, perhatikanlah Kurva 4. yang menjelaskan tingkat pengembalian yang diharapkan hasil investasi.
Kurva Tingkat Pengembalian yang Diharapkan dari Hasil Investasi
Kurva 4. Tingkat Pengembalian yang Diharapkan dari Hasil Investasi
Berdasarkan kurva 4. tingkat suku bunga dapat memengaruhi investasi. Misalnya ketika suku bunga pinjaman 10% tingkat investasi akan cenderung turun karena bunga pinjaman lebih tinggi dari hasil investasi yang diharapkan. Namun, ketika suku bunga pinjaman turun minat investasi akan naik atau bertambah karena tingkat bunga yang berlaku lebih rendah dari hasil investasi yang diharapkan. Berdasarkan kurva 6.4 keseimbangan akan tercapai pada saat tingkat suku bunga 8% dan jumlah investasi sebesar Rp200 miliar.

Referensi :

Arifin, I. 2009. Membuka Cakrawala Ekonomi 1 : Untuk Kelas X Sekolah Menengah Atas/Mandrasah Aliyah Program Ilmu Pengetahuan Sosial. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. p. 170.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah secara bijak. Komentar yang tidak sesuai materi akan dianggap sebagai SPAM dan akan dihapus.
Aturan Berkomentar :
1. Gunakan nama anda (jangan anonymous), jika ingin berinteraksi dengan pengelola blog ini.
2. Jangan meninggalkan link yang tidak ada kaitannya dengan materi artikel.
Terima kasih.