Thursday, June 5, 2014

Jenis dan Metode Pengolahan Data Penelitian, Pengumpulan, Contoh, Penggolongan, Pengelompokan, Macam-macam, Sosiologi

Sebelumnya, di materi sebelumnya sudah dijelaskan rancangan metode sosial. Proposal atau rancangan metode penelitian sosial harus terdiri atas judul penelitian, masalah penelitian, tujuan dan manfaat, tinjauan kepustakaan, sampai metode pengumpulan data. Setelah rancangan penelitian disusun, langkah berikutnya adalah pengumpulan dan analisis data. Pernahkah Anda mengumpulkan data atau pernah berpikir dan lalu bertanya-tanya mengapa orang perlu bersekolah, bekerja, atau makan? Kegiatan tersebut merupakan pengumpulan data dengan cara berwawancara. Kegiatan ini adalah kegiatan yang paling penting dalam penelitian. Ketika rencana sudah dipersiapkan dengan mantap tetapi kegiatan pengumpulan dan analisis data tidak dilaksanakan dengan baik maka tujuan yang telah ditetapkan tidak tercapai dengan baik pula. Dengan kata lain, kegiatan pengumpulan dan analisis data merupakan tahap pelaksanaan dalam proses melakukan penelitian.

Pengumpulan dan analisis data penelitian didasarkan pada suatu metode atau prosedur agar data yang diinginkan dapat terkumpul secara lengkap dari lapangan. Dalam Bab ini, akan dijelaskan beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh Anda dalam pengumpulan dan pengolahan data penelitian. Dengan demikian, setelah mempelajari bab ini diharapkan Anda dapat melaksanakan penelitian sosial dengan baik melalui kemampuan dalam mengumpulkan dan mengolah data penelitian.
Pengolahan data penelitian
Gambar 1. Peta konsep pengolahan data penelitian.

A. Penggolongan Jenis Penelitian


Para ahli di bidang metodologi riset berbeda dalam menggolongkan jenis-jenis penelitian. Penggolongan jenis penelitian sangat bergantung pada segi penelitian tersebut ditinjau. Namun, secara umum penggolongan jenis penelitian dapat dikelompokkan sebagai berikut.

1.1. Berdasarkan Cara dan Taraf Pembahasan Masalah


Berdasarkan cara dan taraf pembahasan masalah, penelitian dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.

a. Penelitian Deskriptif

Penelitian ini lebih mengarah pada pengungkapan suatu masalah atau keadaan sebagaimana adanya dan mengungkapkan fakta-fakta yang ada walaupun kadang-kadang diberikan interpretasi atau analisis. Penelitian deskriptif perlu memanfaatkan ataupun menciptakan konsep-konsep ilmiah, sekaligus berfungsi dalam mengadakan suatu spesifikasi mengenai gejala-gejala fisik ataupun sosial yang di persoalkan. Di samping itu, penelitian ini harus mampu merumuskan dengan tepat apa yang ingin diteliti dan teknik penelitian apa yang tepat dipakai untuk menganalisisnya. Hasil penelitiannya difokuskan untuk memberikan gambaran keadaan sebenarnya dari objek yang diteliti.

b. Penelitian Inferensial

Penelitian ini lebih mengarah kepada pengungkapan suatu masalah, keadaan, atau kejadian dengan membuat penilaian secara menyeluruh, meluas, dan mendalam dipandang dari segi ilmu tertentu. Fakta yang ada tidak sekadar dilaporkan apa adanya, tetapi juga dianalisis untuk mendapatkan suatu kesimpulan dan gagasan atau saran.

1.2. Berdasarkan Tujuan


Berdasarkan tujuan yang ingin dicapai, penelitian dibedakan menjadi tiga, yaitu sebagai berikut.

a. Penelitian Eksploratif

Penelitian bertujuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah dirumuskan terlebih dahulu atau mengembangkan hipotesis untuk penelitian lanjutan. Peneliti dalam penelitian eksploratif perlu mencari hubungan gejala-gejala sosial ataupun fisik untuk mengetahui bentuk hubungan tersebut. Peneliti perlu memperluas dan mempertajam dasar-dasar empiris mengenai hubungan di antara gejala sosial atau gejala-gejala fisik sehingga ia benar-benar mampu merumuskan hipotesis-hipotesis yang berarti bagi penelitian lanjutan.

Instrumen yang dapat dipakai untuk mengumpulkan data biasanya adalah wawancara, pengamatan (observasi), dan kepus takaan. Data yang berhubungan dengan objek penelitian dikumpulkan sebanyak mungkin guna mendukung kesimpulan dan menciptakan hipotesis.

b. Penelitian Uji

Tujuan penelitian ini adalah menguji satu atau beberapa hipotesis yang telah dirumuskan terlebih dahulu. Penelitian ini didasarkan atas suatu naskah penelitian yang mempersoalkan langkah-langkah teknis dan metodis yang akan diambil untuk menguji hipotesis. Sampel yang akan diambil harus benar-benar mewakili populasi. Dasar yang paling tepat untuk melakukan penelitian uji adalah eksperimen guna mengetahui hubungan sebab akibat.

c. Penelitian Deskriptif

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan masalah atau keadaan sebagaimana adanya atau berdasarkan fakta-fakta yang ada. Dalam penelitian deskriptif dibutuhkan interpretasi atau analisis.

1.3. Berdasarkan Bentuk dan Metode Pelaksanaannya


Berdasarkan bentuk dan metode pelaksanaannya, penelitian dibagi tiga, yaitu sebagai berikut.

a. Studi Kasus

Erikson (1976) mengadakan penelitian tentang akibat-akibat bencana banjir dan pecahnya dam tahun 1972 di Buffalo Creek, Virginia Barat, mewawancarai yang selamat dan membaca semua bukti yang tercatat. (Sumber: Sosiologi jilid 1,1999)

Studi kasus adalah suatu bentuk penelitian yang intensif, terintegrasi, dan mendalam. Subjek yang diteliti terdiri atas satu unit atau satu kesatuan unit yang dipandang sebagai kasus. Tujuan studi kasus adalah mengembangkan pengetahuan yang mendalam mengenai objek yang diteliti yang berarti bahwa studi ini bersifat sebagai satu penelitian yang eksploratif. Penelitian ini bersifat mendalam sehingga menghasilkan gambaran peristiwa tertentu. Dalam studi kasus, ada istilah menghasilkan gambaran longitudinal, yakni pengumpulan dan analisis data dalam satu jangka waktu tertentu.

Kasus dapat terbatas pada satu orang, satu keluarga, atau kelompok masyarakat pada satu lembaga, satu desa atau wilayah, atau satu kelompok objek lainnya yang cukup terbatas, tetapi dipandang sebagai satu kesatuan. Segala aspek dalam suatu kasus harus mendapat perhatian sepenuhnya dari peneliti. Hal-hal yang harus diperhatikan oleh peneliti adalah segala sesuatu yang mempunyai arti dalam riwayat kasus, misalnya peristiwa terjadinya, perkembangannya, dan perubahan-perubahannya.

Dengan demikian, studi kasus dapat memperlihatkan kebulatan dan keseluruhan kasus. Teknik umum yang digunakan dalam studi kasus adalah observasi langsung, observasi partisipasi, dan teknik wawancara bebas. Di samping itu, dapat pula dilakukan melalui buku harian, surat menyurat, dan sebagainya. Meskipun demikian, wawancara sangat memainkan peranan besar dalam studi kasus. Dua hal yang sangat memainkan peranan penting dalam studi kasus, yakni generalisasi dan realitas.

Studi kasus umumnya dipakai dalam rangka studi eksploratif saja, artinya bukan menguji hipotesis, melainkan mengembangkan hipotesis. Studi kasus memiliki keuntungan sebagai berikut.
  1. Dapat meneliti kehidupan sosial ekonomi ataupun hal-hal yang bersifat fisik atau eksakta secara mendalam.
  2. Dapat memanfaatkan berbagai teknik pengumpulan data, seperti observasi, wawancara, studi kepustakaan, dan alat-alat pengumpulan data lainnya.
  3. Dapat dipakai untuk menguji kebenaran suatu teori.
Adapun kelemahan studi kasus adalah sebagai berikut.
  1. Kemungkinan untuk membuat generalisasi sangat terbatas karena hanya mempelajari atau meneliti aspek-aspek yang spesifik.
  2. Biaya relatif lebih banyak karena memerlukan waktu lebih lama daripada survei.
Survei adalah suatu metode penelitian yang bertujuan untuk mengumpulkan sejumlah besar data berupa variabel, unit, atau individu dalam waktu yang bersamaan. Data dikumpulkan melalui individu atau sampel fisik tertentu dengan tujuan agar dapat menggeneralisasikan terhadap hal yang diteliti. Variabel yang dikumpulkan dapat berupa fisik ataupun sosial. Variabel yang bersifat fisik misalnya tanah, iklim, sedangkan yang bersifat sosial misalnya berupa kependudukan, agama, mata pencaharian, pendapatan penduduk.

Survei dapat dipakai untuk tujuan deskriptif dan menguji suatu hipotesis. Selain itu, juga dapat dipakai dalam penelitian eksploratif yang bertujuan menguji suatu hipotesis atau lebih umum lagi menjelaskan hubungan antara variabel-variabel. Survei untuk penelitian sosial kemasyarakatan biasanya menggunakan teknik wawancara, kuesioner, atau angket, sedangkan untuk penelitian fisik menggunakan observasi langsung melalui suatu sampel.

Mutu survei sangat bergantung pada hal-hal berikut.
  1. Besarnya sampel yang diambil. Semakin besar sampel yang diambil, semakin besar pula kemungkinannya untuk mewakili suatu populasi.
  2. Tingkat kepercayaan data dan informasi yang diperoleh dari sampel atau responden. Informasi yang benar dan akurat yang diperoleh dari responden sangat menunjang tingkat kepercayaan suatu survei.
Keuntungan survei yaitu sebagai berikut.
  1. Dilibatkan lebih banyak orang untuk mencapai generalisasi atau kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan.
  2. Dapat menggunakan berbagai teknik pengumpulan data.
  3. Sering tampil masalah-masalah yang sebelumnya tidak diketahui.
  4. Dapat dibenarkan atau mewakili teori tertentu.
  5. Biaya lebih rendah karena waktunya lebih singkat.
Adapun kelemahan survei antara lain sebagai berikut.
  1. Penelitian tidak mendalam.
  2. Pendapat populasi yang disurvei antara lain dapat mengandung unsur-unsur emosional dan politik.
  3. Tidak ada jaminan bahwa angket bisa dijawab oleh responden yang dijadikan sampel.
Karl Marx, pada 1880 menggunakan teknik survei dengan cara mengirimkan daftar pertanyaan ke-25.000 orang buruh di Prancis.

c. Eksperimen

Penelitian eksperimen adalah suatu metode penelitian untuk mengadakan kegiatan percobaan guna mendapatkan sesuatu hasil. Hasil tersebut menunjukkan hubungan sebab akibat antar variabel. Tujuan eksperimen adalah untuk mengetahui sebab dan akibat dari objek yang diteliti.

Penelitian eksperimen dapat dilakukan melalui penelitian lapangan dan juga laboratoris. Contoh penelitian lapangan adalah penelitian ilmu sosial pada suatu masyarakat di daerah tertentu; dan mata pelajaran Sosiologi dengan menggunakan metode-metode mengajar tertentu. Penelitian secara laboratoris jauh lebih mudah dilakukan daripada penelitian eksperimen dalam ilmu-ilmu sosial karena dalam penelitian laboratorium, orang lebih mampu mengontrol variabel-variabel tertentu yang dapat memengaruhi variabel lainnya.

Penelitian eksperimen dalam ilmu-ilmu sosial pada umumnya menghadapi kesulitan dalam pelaksanaan karena banyaknya variabel yang dapat berpengaruh terhadap variabel yang dipengaruhi. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh seorang peneliti eksperimen tidak hanya bersumber dari kesulitan mengadakan manipulasi berbagai situasi, tetapi juga dalam penyusunan metode itu sendiri. Misalnya, tidak adanya unit kontrol yang dapat dipakai sebagai patokan pembanding dengan unit eksperimen.

Penelitian eksperimen dapat dilaksanakan dengan membagi dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen adalah suatu kelompok yang sengaja dipengaruhi oleh variabel tertentu, misalnya dengan menggunakan metode baru, sedangkan kelompok kontrol adalah suatu kelompok yang dipergunakan untuk menguji sampai di mana terjadi perubahan-perubahan variabel eksperimen.

Contoh gambaran kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yakni sebagai berikut. Seorang guru ingin mengetahui seberapa jauh tingkat prestasi pelajar SMA terhadap mata pelajaran Sosiologi. Guru tersebut mengajar Kelas XII IPS A dengan menggunakan metode mengajar Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA). Kelompok ini disebut kelompok eksperimen. Di pihak lain dan dalam waktu yang hampir bersamaan, guru tersebut mengajarkan pelajaran Sosiologi terhadap pelajar SMA Kelas XII IPS B dengan menggunakan metode mengajar cara biasa (sistem indoktrinasi). Kelompok ini disebut kelompok kontrol. Setelah itu, kedua kelompok pelajar diuji guna mengetahui seberapa jauh kelompok eksperimen berhasil mencapai prestasi dibanding kelompok kontrol.

1.4. Berdasarkan Bidang yang Dipilih


Berdasarkan bidang yang akan diteliti, penelitian dapat dibagi dua, yaitu sebagai berikut.

a. Penelitian Bidang Ilmu Eksakta

Penelitian ini dapat berupa penelitian ilmu pengetahuan alam, ilmu kimia, matematika, biologi, dan sebagainya.

b. Penelitian Bidang Ilmu Sosial

Penelitian ini dapat berupa ilmu sejarah, sosiologi, agama, bahasa, kependudukan, dan sebagainya.

1.5. Berdasarkan Pemakaiannya


Berdasarkan pemakaiannya penelitian dapat dibagi dua, yaitu sebagai berikut.

a. Penelitian Murni

Penelitian ini bersifat menguji ilmu tertentu dengan menggunakan teori tertentu. Melalui penelitian ini, diharapkan dapat diperoleh teori-teori baru dalam bidang ilmu yang diselidiki. Hal tersebut menjadikan penelitian murni disebut juga penelitian dasar.

b. Penelitian Terpakai atau Terapan

Tujuan penelitian ini adalah agar hasilnya dapat dipergunakan atau diimplementasikan. Penelitian terapan diselenggarakan dalam rangka mengatasi masalah nyata dalam kehidupan. Penelitian ini merupakan usaha menemukan langkah perbaikan suatu aspek kehidupan yang perlu diperbaiki. Untuk itu, peneliti berusaha menemukan masalah-masalah atau kelemahan-kelemahan yang menjadi faktor penghambat terhadap subjek yang diteliti, kemudian dicari alternatif cara yang paling tepat dan praktis untuk mengatasinya.

1.6. Berdasarkan Tempatnya


Berdasarkan tempatnya, penelitian dibagi menjadi tiga, yaitu sebagai berikut.

a. Penelitian Laboratorium

Penelitian ini menggunakan alat-alat laboratorium sebagai media penelitian.

b. Penelitian Kepustakaan

Penelitian ini menggunakan kepustakaan sebagai sumber data penelitian. Peneliti berusaha mencari data dari berbagai literatur yang berhubungan dengan subjek yang mereka teliti, baik melalui perpustakaan maupun tempat lainnya.

c. Penelitian Lapangan

Penelitian ini dilakukan di lapangan dalam arti dapat berupa wilayah tertentu (desa, kecamatan, kabupaten, dan sebagainya), lembaga atau instansi atau organisasi kemasyarakatan, serta objek-objek alami seperti penelitian tanah, tanaman, hewan, sungai, topografi, dan sebagainya.

B. Pengumpulan Data


Dalam penelitian, selalu digunakan teknik pengumpulan data yang disesuaikan dengan tujuan penelitian. Kesesuaian data dengan teknik bergantung pada tipe, jenis, dan kondisi penelitian. Untuk itu, peranan alat pengumpul data sangat penting karena alat ini digunakan sebagai pedoman atau pegangan selama pengumpulan data itu berlangsung. 

Berikut ini akan dibahas mengenai penggunaan metode dalam pengumpulan data di lapangan.

2.1. Teknik Angket


Angket adalah alat pengumpul data untuk kepentingan penelitian. Angket digunakan dengan mengedarkan formulir yang berisi beberapa pertanyaan kepada beberapa subjek (responden) untuk mendapat tanggapan secara tertulis. Sebelum angket disusun harus melalui prosedur sebagai berikut.
  1. Merumuskan tujuan yang akan dicapai dengan angket.
  2. Mengidentifikasi variabel sasaran angket.
  3. Menjabarkan variabel menjadi sub variabel menjadi spesifik dan tunggal.
  4. Menentukan jenis data, sekaligus menentukan teknik analisisnya.
Angket memberikan gambaran dari jawaban yang diberikan subjek (responden), baik yang anonim (tanpa nama) maupun yang bernama. Angket anonim memang ada kebaikannya karena responden bebas mengemukakan pendapat. Namun, penggunaan angket anonim mempunyai kelemahan, di antaranya:
  1. sukar ditelusuri apabila ada kekurangan pengisian yang disebabkan responden kurang memahami maksud item atau pertanyaan dalam angket tersebut; dan
  2. tidak mungkin mengadakan analisis lebih lanjut apabila peneliti ingin memecah kelompok berdasarkan karakteristik yang diperlukan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perlu tidaknya angket diberi nama antara lain:
  1. tingkat kematangan responden;
  2. subjektivitas item menyebabkan responden enggan memberikan jawaban;
  3. kemungkinan banyaknya pertanyaan dalam angket; dan
  4. prosedur (teknik) yang akan diambil pada waktu menganalisis data.
Untuk memperoleh angket dengan hasil mantap, dilakukan proses uji coba. Dalam uji coba, responden diberi kesempatan untuk memberikan saran-saran perbaikan bagi angket yang akan diedarkan. Situasi sewaktu uji coba dilaksanakan harus sama dengan situasi kapan penelitian yang sesungguhnya.

Terdapat empat cara pemakaian angket yang dapat dilakukan oleh peneliti, yaitu sebagai berikut.
  1. Angket digunakan dalam wawancara tatap muka dengan responden.
  2. Angket diisi sendiri oleh responden.
  3. Angket dapat dilakukan dengan wawancara melalui telepon.
  4. Angket diposkan dan dikembalikan oleh responden.
Angket memiliki kelemahan dan kelebihan. Salah satu kelemahan angket adalah jika angket yang disebarkan kepada responden sukar kembali. Untuk mengatasi kelemahan ini, peneliti harus meyakinkan responden bahwa bantuannya sangat diperlukan. Peneliti sebaiknya mengirim surat kepada responden yang isinya seolah-olah yakin bahwa angketnya akan diisi tetapi belum mempunyai waktu. Kemudian, peneliti menyebarkan angket harus melebihi kebutuhan atau melebihi jumlah responden yang telah ditentukan. 

Berdasarkan jenis penyusunan pertanyaannya, angket dibagi menjadi dua golongan, yakni sebagai berikut.

a. Angket Tipe Isian

Semua persoalan yang diajukan kepada responden (orang yang dimintai keterangan), dalam bentuk pertanyaan, permintaan, komentar terhadap suatu kejadian atau keadaan. Orang yang dimintai keterangan (responden) diharapkan mengisi setiap jawaban dari setiap pertanyaan yang diajukan secara bebas. Setiap pertanyaan yang diajukan disebut items. Dengan demikian, kebebasan jawaban dari responden disebut open end item, angketnya dinamakan open form questionnare. Selain itu terdapat pula jenis angket dengan setiap pertanyaan yang memerlukan jawaban terbatas disebut Supply type item, angket ini dinamakan closed form questionnare.

Berikut ini contoh dari kedua bentuk angket tersebut, yaitu:

1) Bentuk terbuka open end item

Bagaimana pendapat Anda apabila:

a) Setiap siswa yang meninggalkan kelas sebelum pelajaran berakhir? 
......................................................................................................
......................................................................................................
b) Siswa yang merokok di dalam kelas? 
......................................................................................................
c) Setiap siswa yang sering melakukan perkelahian dikeluarkan dari sekolah? 
......................................................................................................
d) Pelajaran Sosiologi yang diberikan di Kelas XII IPS dalam bentuk diskusi? 
.........................................................................
e) Setiap siswa yang masuk terlambat dikenakan hukuman, dengan jalan membersihkan WC sekolah ?
......................................................................................................
f) Dan lain-lain ...............................................................................

Jawaban bebas dari item (pertanyaan) tersebut memungkinkan peneliti menyelidiki perasaan, pendapat, atau latar belakang responden secara luas.

2) Supply type closed form item

a) Apa hobi Anda? 
......................................................................................................
b) Mata pelajaran apa yang Anda senangi ? 
......................................................................................................
c) Berapa jam atau menit kemampuan Anda membaca setiap hari? 
......................................................................................................
d) Mata pelajaran apa yang Anda takuti ? 
......................................................................................................
e) Ke mana Anda setiap malam Minggu? 
......................................................................................................
f) Dan lain-lain 
......................................................................................................

Kelemahan-kelemahan angket bentuk isian adalah sebagai berikut.
  1. Responden mungkin merasa segan memberikan jawaban yang lengkap.
  2. Kemungkinan responden tidak memberikan jawaban yang sebenarnya.
  3. Apabila responden banyak, peneliti akan sukar menarik kesimpulan dari setiap pertanyaan.
b. Angket Tipe Pilihan

Angket tipe pilihan meminta responden untuk memilih jawaban dari setiap item (pertanyaan), baik yang berbentuk multiple choice maupun force choice dalam bentuk ya-tidak, setuju-tidak setuju, atau boleh-tidak boleh. Bentuk angket pilihan ganda disenangi oleh responden karena waktu pengisian cukup singkat dan tidak banyak memerlukan pemikiran. Pertanyaan (item) multiple choice dan force choice dapat digunakan untuk menyelidiki fakta-fakta objektif (fact finding) atau fakta-fakta subjektif (pendapat, keyakinan, dll.).

Berikut ini contoh pertanyaan dalam bentuk force choice.

1) Untuk fact finding

a) Jenis kelamin ? 

( ) wanita
( ) pria

b) Anda pernah berkelahi ? 

( ) ya
( ) tidak

c) Anda punya pacar ?

( ) ya
( ) tidak

d) Anda mengikuti bimbingan tes?

( ) ya
( ) tidak

Responden cukup memberi tanda silang di depan jawaban yang sesuai dengan dirinya.

2) Untuk menyelidiki pendapat

a) Apakah Anda merasa tenang dengan adanya perkelahian pelajar?
( ) ya ( ) tidak
b) Apakah buku-buku di perpustakaan sekolah membantu menambah pengetahuan?
( ) ya ( ) tidak
c) Apakah pekerjaan rumah mengganggu waktu bermain?
( ) ya ( ) tidak
d) Apakah tata tertib sangat memberatkan siswa?
( ) ya ( ) tidak

Bentuk force choice tidak hanya ya atau tidak saja, tetapi banyak lagi bentuk-bentuk lain, tentu saja bergantung pada masalah yang ditanyakan kepada responden.

Angket bentuk pilihan ganda (multiple choice) menyediakan beberapa alternatif jawaban (lebih dari dua) yang harus diisi oleh responden, misalnya:

1) Untuk fact finding

a) Tujuan Anda setelah lulus SMA?

( ) ITB
( ) PTS
( ) Unpad
( ) Kursus

b) Sejak kapan Anda senang berkelahi?
( ) TK
( ) SD
( ) SMP
( ) sampai sekarang

c) Ke mana Anda apabila membolos sekolah?

( ) pulang ke rumah
( ) ke tempat keramaian
( ) ke bioskop
( ) nonton TV

d) Di mana Anda mendapatkan buku pelajaran?

( ) beli di toko
( ) pinjam kepada teman
( ) pinjam ke perpustakaan
( ) beli di loak

2) Untuk menyelidiki pendapat atau keyakinan

a) Apakah Anda akan melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi?

( ) ya baik PTN atau PTS
( ) tidak ada biaya
( ) apabila ada biaya
( ) bergantung pada situasi nanti

b) Bagaimana pendapat Anda mengenai perkelahian pelajar?

( ) mengganggu ketertiban
( ) sebagai solidaritas dengan teman
( ) menambah keberanian
( ) membahayakan jiwa

c) Hukuman apakah yang pantas diberikan kepada yang suka bolos?

( ) dijemur
( ) dinasihati guru wali kelas atau guru BP
( ) dikeluarkan
( ) diperingatkan sampai tiga kali; jika masih membolos, di keluarkan

(d) Bagaimana pendapat Anda mengenai pacaran?

( ) menyenangkan, membantu kegiatan belajar
( ) cukup untuk mengenal sifat masing-masing
( ) dapat mengganggu konsentrasi belajar
( ) tidak baik bagi anak sekolah

Angket bentuk pilihan ganda memiliki banyak alternatif jawaban sehingga akan memperluas dan memperdalam permasalahan.

c. Menyusun Pertanyaan

Pertanyaan (item) merupakan alat untuk memancing respons dari orang yang dijadikan subjek penelitian. Pertanyaan yang diajukan harus benar-benar dapat diterima oleh responden dan tidak membingungkan sehingga perlu diperhatikan petunjuk penyusunan pertanyaan dalam penelitian, yaitu sebagai berikut.
  1. Gunakan kata-kata yang artinya tidak rangkap.
  2. Susun kalimat yang sederhana dan jelas.
  3. Hindari penggunaan kata-kata yang tidak ada gunanya.
  4. Hindari pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada gunanya.
  5. Masukkan semua kemungkinan jawaban agar pilihan jawaban memiliki dasar yang beralasan, tetapi hindari pengkhususan yang tidak jelas, baik dalam pertanyaan maupun dalam jawaban.
  6. Perhatikan pertanyaan yang dimasukkan harus diterapkan pada situasi menurut pendapat responden.
  7. Hindari menanyakan pendapat responden, kecuali jika pendapat tersebut yang akan diselidiki.
  8. Hindari kata-kata yang terlalu kuat (mengiringi jawaban) atau terlalu lemah (tidak merangsang). Mengiringi jawaban akan mendorong responden keluar dari jalur masalah yang diteliti. Kata yang terlalu lemah akan memancing respons yang tidak memadai sehingga jawaban lebih dari satu pilihan.
  9. Susun pertanyaan yang tidak memaksa responden menjawab yang tidak sebenarnya karena takut akan adanya tekanan-tekanan sosial.
  10. Hindari membuat pertanyaan yang dapat dijawab dengan beberapa jawaban apabila hanya satu jawaban yang diinginkan.
  11. Jika mungkin, susunlah pertanyaan yang sedemikian rupa sehingga dapat membebaskan responden dari berpikir terlalu kompleks.
  12. Hindari kata-kata yang sentimental, seperti, cantik, jelek, buruk, dungu, bodoh, kurang ajar, dan lain-lain, sekiranya ada kata-kata lain yang lebih sopan dan netral.
Contoh Soal (UN SMA IPS, 2005) :

Salah satu fungsi data bagi peneliti adalah untuk mengambil suatu keputusan. Hal ini karena data berkaitan dengan ....

a. pendapat umum yang berkembang luas di masyarakat
b. konsensus berbagai kalangan yang didukung oleh penguasa
c. gambaran suatu keadaan yang dapat dijadikan dasar suatu pendapat
d. unsur pembangunan yang paling vital dan sangat berharga
e. asumsi seseorang yang dipakai sebagai pijakan menyatakan suatu pendapat

Jawaban: c

Data adalah bahan mentah yang perlu diolah sehingga menghasilkan informasi atau keterangan, atau data adalah kumpulan data yang berisi informasi atau pendapat.

2.2. Wawancara


Fakta yang diperlukan terkadang tidak tercatat, dan orang hanya dapat mengetahuinya jika ia menanyakannya. Ferree pada 1976 mewawancarai 135 wanita yang mempunyai anak usia sekolah dasar, dan melaporkan bahwa para istri yang seluruh kegiatannya terbatas dalam rumah tangga “kurang puas dalam hidup” dibandingkan istri yang bekerja di luar rumah. Akan tetapi, dalam wawancara yang dilakukan Wright, pada 1978 dengan jumlah informan besar dan bersifat nasional serta pertanyaan yang sama, menghasilkan data yang berbeda. Hasil wawancara menyatakan tidak ada hubungan yang tetap antara kepuasan hidup istri dengan keadaan apakah mereka bekerja di luar rumah. Kasus tersebut memberi gambaran bahwa penelitian tunggal jarang memberikan bukti yang cukup sebelum diperkuat oleh penelitian ulang. (Sumber: Sosiologi Jilid 2, 1999)

Wawancara atau interview (tanya jawab lisan) merupakan salah satu bagian yang terpenting setiap penelitian. Tanpa wawancara, peneliti akan kehilangan informasi yang hanya didapat langsung melalui wawancara dengan responden. Pewawancara memerlukan persyaratan tertentu, yaitu keterampilan mewawancarai, motivasi yang tinggi, tidak ragu dan tidak takut dalam menyampaikan pertanyaan. Persyaratan itu sangat perlu karena antara pewawancara dan responden masing-masing memiliki karakter yang berbeda dan tentu hal ini akan menghambat kelancaran proses wawancara.

Sebelum melakukan wawancara, pewawancara perlu mempersiapkan diri terlebih dahulu melalui latihan. Pewawancara yang sudah berpengalaman pun perlu persiapan dan latihan. Latihan wawancara diadakan untuk memberikan bekal keterampilan untuk mengumpulkan data dengan hasil yang baik. Pewawancara merupakan kunci keberhasilan perolehan data yang diperlukan. Sikap pada waktu datang, sikap duduk, kecerahan wajah, tutur kata, keramahan, serta keseluruhan penampilan akan sangat berpengaruh terhadap isi jawaban responden. Oleh karena itu, perlu adanya latihan yang intensif bagi calon pewawancara. Fungsi pedoman wawancara adalah untuk mendapatkan hasil pencatatan yang lebih cepat dan perolehan data yang diperlukan.

Saat proses wawancara berlangsung diperlukan situasi dan kondisi yang menunjang dan hindari dari pengaruh eksternal yang dapat mengganggu kelancaran wawancara. Teknik wawancara yang perlu diperhatikan yaitu sebagai berikut.
  1. Usahakan pada waktu wawancara hanya responden yang hadir dan wawancara pun tidak membawa teman.
  2. Reaksi atau jawaban pertama terhadap pertanyaan itulah pendapat responden yang sesungguhnya.
  3. Jangan tergesa-gesa menulis jawaban tidak tahu karena jawaban tidak tahu dari responden sebenarnya dia sedang berpikir. Oleh karena itu, pewawancara harus sabar.
  4. Pada jawaban ya dan tidak, seringkali responden menambahkan keterangan maka semua jawaban tersebut dicatat dan tulislah komentar responden.
  5. Jawaban responden harus dimengerti maksudnya sebelum dicatat jika belum jelas sebaiknya ditanyakan lagi.
  6. Usahakan sambil menulis, tetap mendengarkan atau berbicara.
  7. Setelah selesai wawancara, periksalah pedoman wawancara dengan teliti agar semua pertanyaan dan jawaban terkoreksi.
  8. Jika menggunakan alat perekam, hendaknya meminta izin responden.
  9. Jenis kelamin yang diwawancara sebaiknya sama dengan pewawancara.
Penggunaan wawancara sebagai teknik pengumpulan data harus dilaksanakan dengan efektif. Artinya, dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dapat diperoleh data sebanyak-banyaknya. Bahasa harus jelas dan terarah. Suasana harus tetap rileks agar data yang diperoleh adalah data objektif yang dapat dipercaya.

Beberapa kelemahan wawancara yaitu sebagai berikut.
  1. Tidak cukup efisien, memboroskan waktu, tenaga, dan biaya.
  2. Bergantung kepada kesediaan, kemampuan, dan keadaan responden.
  3. Jalan dan isi wawancara sangat mudah dipengaruhi keadaan sekitarnya yang memberikan tekanan-tekanan mengganggu.
  4. Pewawancara harus yang benar-benar menguasai bahasa yang diwawancarai.
  5. Jika pendekatan sahabat-karib dilaksanakan untuk menyelidiki masyarakat yang heterogen, diperlukan pewawancara yang banyak. Misalnya, jika masyarakat terdiri atas beberapa golongan yang bertentangan, satu pewawancara melayani satu golongan.

2.3. Observasi


Observasi adalah studi yang disengaja dan sistematis tentang fenomena sosial dan gejala fisik dengan jalan pengamatan dan pencatatan. Observasi dapat dijadikan sebagai alat pengumpul data jika memenuhi kriteria sebagai berikut.
  1. Dijadikan pada pola dan tujuan penelitian yang sudah ditetapkan.
  2. Direncanakan dan dilaksanakan secara sistematis.
  3. Dikaitkan dan dicatat secara sistematis dengan proposisi yang lebih umum, dan tidak karena didorong oleh rasa ingin tahu belaka.
  4. Dicek dan dikontrol validitas, reliabilitas, dan ketelitiannya.
Ciri observasi sebagai teknik pengumpulan data memiliki sifat-sifat sebagai berikut.
  1. Mempunyai arah dan tujuan yang khusus.
  2. Observasi ilmiah tidak dilakukan secara untung-untungan atau sesuka hati dalam usaha mendekati situasi atau objeknya, tetapi dilakukan secara sistematis dan berencana.
  3. Observasi sifatnya kuantitatif, yaitu mencatat sejumlah peristiwa tentang tipe-tipe tingkah laku sosial tertentu.
  4. Observasi melakukan pencatatan dengan segera, secepatnya, tidak menyandarkan diri pada kekuatan ingatan.
  5. Menuntut adanya keahlian, dilakukan oleh orang terlatih untuk tugas ini.
  6. Hasil observasi dapat dicek dan dibuktikan untuk menjamin reliabilitas dan validitasnya.
Contoh Soal (UN SMA IPS, 2004) :

Pengamatan yang dilakukan dengan cara melibatkan diri dalam situasi objek yang diteliti disebut observasi ....

a. langsung
b. tidak langsung
c. tidak berstruktur
d. berstruktur
e. pastisipatif

Jawaban: e

Observasi partisipatif adalahseorang pengamat terlibat langsung dengan objek yang diamati.

2.4. Dokumen dan Media Massa


Pengumpulan data dari bahan dokumen merupakan pengumpulan data dari hasil catatan yang dilakukan pada waktu lampau. Pengumpulan data itu dapat berupa hal-hal berikut.
  1. Surat pribadi. Surat-menyurat yang telah dilakukan oleh seseorang pada masa lampau, menggambarkan emosi, karakter, sifat, curahan hati, dan lain-lain. Misalnya, penelitian mengenai keadaan masyarakat Indonesia yang digambarkan dalam surat R.A. Kartini kepada Ny. Abendanon sehingga terkumpul dalam bukunya berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. Isi surat tersebut, selain watak dan sikap R.A. Kartini mengenai perjuangannya, juga menggambarkan tradisi dan adat istiadat Jawa pada saat itu.
  2. Catatan dan buku harian. Buku harian memuat peristiwa-peristiwa penting yang dialami seseorang pada masanya. Dari buku harian tokoh angkatan ‘66 dapat ditemukan peristiwa-peristiwa yang terekam, misalnya situasi politik pada tahun 1966. Begitu pula tokoh-tokoh lain yang membuat catatan hariannya merupakan bahan dokumen dalam penelitian sejarah.
  3. Surat resmi. Surat-surat resmi yang pernah dikeluarkan oleh suatu lembaga merupakan bahan dokumentasi mengenai keadaan lembaga bersangkutan atau situasi administrasi, politik, kemasyarakatan, tradisi, hukum, dan lain-lain yang pernah terjadi di masa lampau.
  4. Memoirs. Hampir sama dengan catatan harian, tetapi tidak menyinggung masalah-masalah pribadi. Memoirs berisi hal-hal yang bersifat umum dari suatu catatan perjalanan. Memoirs banyak memuat keadaan suatu masyarakat, negara, adat istiadat dan lain-lain yang berlaku di suatu daerah, misalnya mengenai catatan perjalanan Columbus ke Benua Amerika atau catatan perjalanan yang ditulis oleh orang Belanda pada abad XIX mengenai kehidupan orang Jawa.
  5. Dokumen pemerintah. Dokumen yang dibuat pemerintah merupakan suatu bahan kajian yang memiliki ketelitian yang telah terjadi di masa lampau. Hal ini memberikan peristiwa-peristiwa yang benar-benar telah terjadi, kemudian diarsipkan dan disimpan sebagai suatu dokumen. 
Pada zaman kolonial Belanda, banyak sekali arsip-arsip yang disimpan sebagai suatu catatan sejarah Indonesia mengenai aktivitas pejabat pemerintah, kegiatan militer, transaksi di bidang administrasi, dan lain-lain sehingga dokumen pemerintah tersebut dikategorikan sebagai berikut.
  1. Missive, adalah surat-surat resmi dari para asisten residen dan residen kepada gubernur jenderal.
  2. Keputusan Pemerintah.
  3. Memoranda, adalah laporan yang diucapkan pada waktu serah terima jabatan.
  4. Militair Journaal, adalah catatan harian dari kesatuan militer yang melakukan operasi.
  5. Surat kawat, adalah telegram yang ditujukan kepada suatu lembaga-lembaga lain.
  6. Notula rapat, adalah catatan selama rapat berlangsung dan kesimpulan dari pelaksanaan rapat.
  7. Proces verbaal dari suatu persiapan pengadilan.
Pengambilan dokumen dapat diambil dari media massa, majalah, jurnal, dan lain-lain. Media massa dapat bersifat objektif dan subjektif terhadap masalah sosial yang terjadi. Adanya kedua sifat tersebut dalam media massa menimbulkan pro dan kontra di masyarakat.

Penggunaan fakta dalam media massa sering harus teliti disebabkan singkatnya waktu dalam pengumpulan berita dan mengolah informasi yang didapat wartawan maka unsur subjektif berita muncul. Pengumpulan data melalui media massa dapat dilakukan secara periodik. Media massa sangat berguna dalam mencari masalah untuk bahan penelitian karena tidak sedikit berita-berita yang berhubungan dengan masalah sosial yang terjadi di masyarakat. Namun, peneliti perlu ketelitian dalam memilih masalah tersebut agar terhindar dari unsur subjektivitas wartawan sehingga kaji ulang terhadap suatu masalah perlu dilakukan. Begitu pula, penyelidik harus netral dalam membaca setiap masalah sosial yang terjadi dengan tidak memasukkan unsur pribadi atau golongan.

C. Pengolahan Data


Setelah data terkumpul, secepatnya diolah agar data tersebut memberikan gambaran mengenai masalah yang diajukan. Hasil pengolahan data dapat menyimpulkan kebenaran-kebenaran sebagai hasil temuan dari masalah yang ada di lapangan. Untuk mendapatkan suatu gambaran dari data yang diolah, perlu adanya analisis sebagai akhir dari penyilidikan. Analisis di sini dibedakan atas dua macam, yaitu analisis kualitatif dan kuantitatif.

Perbedaan ini bergantung pada sifat data yang dikumpulkan. Data yang bersifat monografis menggunakan analisis kualitatif, sedangkan data yang memiliki jumlah lebih besar menggunakan analisis kuantitatif.

Analisis kuantitatif disebut juga analisis statistik, yang memiliki proses beberapa tahap yang saling berkaitan, di antaranya:
  1. tahap pengolahan data, merupakan awal dari data yang telah dikumpulkan;
  2. tahap pengorganisasian data, memilah-milah data sesuai dengan masalah yang diajukan; dan
  3. tahap temuan hasil, merupakan akibat dari analisis data yang memberikan gambaran dari kebenaran-kebenaran di lapangan.
Di dalam pengumpulan dan pengolahan data terdapat beberapa prosedur agar data yang terkumpul dapat diolah sesuai dengan yang diharapkan sehingga terbukti secara lahiriah (empirik). Pengumpulan dan analisis data tidak begitu saja terbentuk, tetapi melalui beberapa rangkaian kegiatan yang saling menunjang, seperti pengelompokan data, kecenderungan data, dan hubungan antar data.

3.1. Pengelompokan Data


Data yang telah terkumpul dari lapangan perlu diteliti kembali yang disebut editing. Terutama data yang dikumpulkan melalui angket atau melalui wawancara. Adapun editing yang berasal dari angket akan diteliti kembali, terutama yang berhubungan dengan hal-hal sebagai berikut.
  1. Lengkapnya pengisian, angket harus berisi lengkap. Setiap pertanyaan yang ada dalam angket harus terisi, terutama untuk angket dalam bentuk terbuka.
  2. Keterbacaan tulisan, tulisan yang ada dalam angket bentuk terbuka harus terbaca, apabila tidak atau sulit dibaca, akan terjadi penafsiran yang salah mengenai isi pertanyaan yang diajukan.
  3. Kejelasan makna jawaban, seorang pengumpul data atau responden sebaiknya dapat menuliskan jawaban yang jelas maknanya agar tidak salah menafsirkan maksud dari jawaban.
  4. Keajegan dan kesesuaian jawaban satu sama lain, jawaban yang ditulis dalam angket ada kesesuaian antara jawaban yang ada dalam pertanyaan pertama dan jawaban dalam pertanyaan selanjutnya sehingga setiap pertanyaan tidak ada kesan asal dijawab.
  5. Relevansi jawaban, bagi pengumpul data hasil wawancara harus cermat dalam menyusun pertanyaan agar setiap jawaban ada hubungannya dengan masalah penyelidikan. Jika data atau jawaban tidak relevan dengan masalah yang diajukan, tentu saja akan percuma dan tidak berharga.
  6. Keseragaman satuan data, misalnya untuk data mengenai luas maka ada keseragaman dalam satuan ukuran seperti km2 jangan disatukan dengan ukuran yang lain seperti m2, Are, Ha, dan lainnya. Demikian pula untuk ukuran berat, jumlah, nilai uang, dan lain-lain.
Jika editing selesai dilakukan, dilanjutkan dengan pengelompokkan data yang disebut dengan koding data. Koding adalah usaha mengelompokkan atau mengklasifikasikan jawaban-jawaban para responden menurut macamnya. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah menganalisis data dari setiap pertanyaan yang diajukan karena kadangkala dari setiap pertanyaan terdapat jawaban-jawaban yang sejenis sehingga perlu untuk disatukan ke dalam satu analisis yang sama, khususnya untuk jawaban pada jenis pertanyaan terbuka.

Data yang paling mudah dikelompokkan yaitu data yang berasal dari jawaban angket tertutup yang multiple choice. Jawaban yang diperoleh dari responden selanjutnya dihitung yang disebut tallying. Misalnya, jawaban yang diperoleh dari satu pertanyaan yang diajukan kepada 80 orang siswa maka setiap siswa akan menjawab sesuai dengan pendapatnya. Dengan demikian, diperoleh data sebagai berikut.

Tabel 1: Pendapat Siswa Mengenai Perkelahian Pelajar

Kategori
Tally
Frekuensi (f)
Mengganggu ketertiban
eeeec
23
Sebagai solidaritas dengan teman
eeed
19
Menambah keberanian
eee
15
Membahayakan jiwa
eeeb
17
Jumlah
74

Berdasarkan Tabel 1, diperoleh jawaban bahwa siswa sebagai responden ternyata cenderung tidak menyetujui adanya perkelahian pelajar. Hal ini belum menunjukkan adanya analisis dari hasil penyelidikan karena belum seluruh jawaban dikelompokkan dan dihitung.

Berdasarkan Tabel 1, diperoleh jawaban bahwa siswa sebagai responden ternyata cenderung tidak menyetujui adanya perkelahian pelajar. Hal ini belum menunjukkan adanya analisis dari hasil penyelidikan karena belum seluruh jawaban dikelompokkan dan dihitung.

3.2. Kecenderungan Umum Melalui Statistik Sederhana


Data yang bersifat kuantitatif dapat diolah menggunakan statistik. Statistik secara sederhana dapat dihitung dengan mencari nilai rata-rata (mean), modus, median, dan persen yang disebut pengukuran tendensi sentral, yaitu pengukuran dari pusat persebaran variabel. Pengolahan data dari statistik sederhana ini diperoleh dari frekuensi yang dicapai pengumpulan data yang merupakan suatu ukuran. Ukuran statistik merupakan ukuran deskriptif yang akan memperlihatkan gejala yang terkandung dalam data sehingga akan memperlihatkan kecenderungan dan pengelompokan data.

Dalam pengolahan data melalui statistik diperlukan beberapa pengertian dasar sebelum mengetahui mean, medium, modus, dan persen.

a. Pengertian Dasar

Untuk memahami dasar-dasar statistik, terlebih dahulu diperkenalkan beberapa istilah yang diperlukan. Kadangkala beberapa istilah ini muncul kembali walaupun sebelumnya telah dibahas. Hal ini sengaja dengan tujuan untuk lebih paham.

1) Variabel

Variabel memiliki dua karakteristik, yaitu 
  1. karakteristik yang dapat memberikan sekurang-kurangnya dua klasifikasi yang berbeda; dan 
  2. karakteristik yang mungkin memberikan sekurang-kurangnya dua hasil pengukuran atau perhitungan yang berbeda.
Variabel dapat dibedakan yakni sebagai berikut.

a) Variabel kualitatif

Variabel ini dapat diperoleh melalui pengamatan atau variabel yang tidak dinyatakan dengan bilangan. Ciri variabel kualitatif adalah sebagai berikut.

(1) Variabel kualitatif dichotomous, adalah variabel yang hanya diklasifikasikan menjadi dua dan tidak menunjukkan peringkat (ordering), misalnya jawaban,

Ya         - Tidak
Mudah  - Sukar
Dst.....

(2) Variabel kualitatif polychotomous, yaitu variabel kualitatif banyak dan tidak.

b) Variabel kuantitatif
  1. Variabel kuantitatif kontinu, yaitu variabel yang dapat dinyatakan dalam bilangan, yang mengambil setiap harga, baik bilangan bulat maupun bilangan pecahan. Misalnya, ukuran berat, atau ukuran tinggi.
  2. Data kontinyu dapat diperoleh dari hasil pengukuran yang terus menerus, seperti perkembangan tinggi badan anak dapat diukur setiap tahun atau suhu badan pasien di rumah sakit senantiasa diukur tiap waktu.
  3. Variabel kuantitatif diskrit, yaitu variabel yang keadaannya dinyatakan dalam bilangan bulat dan selalu dilihat dari bentuknya. Misalnya, jumlah penduduk, banyaknya binatang, atau jumlah buku.
2) Data

Data adalah fakta (keterangan) dalam bentuk kualitatif atau kuantitatif. Data diperoleh dari pengukuran perhitungan, ataupun pengamatan sehingga akan muncul fakta.

3) Pengukuran

Pengukuran adalah sebuah proses kuantifikasi, di mana orang berusaha untuk mencantumkan bilangan terhadap ciri khas (karakteristik) tertentu berdasarkan peraturan tertentu pula.

Terdapat dua syarat dalam pengukuran, yaitu:
  1. jika melakukan pengukuran, maka akan selalu memperoleh bilangan; dan
  2. penafsiran terhadap bilangan yang dicantumkan bergantung pada aturan yang dipakai.
Hasil pengukuran akan diperoleh tingkat atau skala pengukuran.

Berdasarkan jenis variabel, akan terdapat empat jenis tingkat pengukuran, yaitu sebagai berikut.

a) Tingkat pengukuran nominal (skala nominal), yang sebuah bilangan hanya memiliki satu fungsi yaitu sebagai lambang untuk membedakan. Bilangan pada tingkat pengukuran nominal ini tidak untuk dijumlahkan, dikurangi, dikalikan, atau dibagi sehingga pada skala ini hukum matematika tidak berlaku.

Adapun lambang matematis untuk membedakan tingkat pengukuran nominal, misalnya:
  1. Rumah di pinggir jalan menggunakan nomor, yang berfungsi untuk membedakan dengan rumah lain yang memiliki nomor berbeda. Nomor rumah tidak untuk dijadikan dasar perhitungan.
  2. Nomor urut untuk panggilan pasien yang berobat ke dokter atau rumah sakit. Nomor ini pun tidak untuk dijadikan bilangan yang dapat dihitung pula.
b) Tingkat pengukuran ordinal (skala ordinal), pada tingkat peng ukuran ini bilangan memiliki dua fungsi, yaitu sebagai lambang untuk membedakan dan untuk memberikan peringkat (rank).

Misalnya,
  1. Peringkat pemain bulu tangkis yang dibuat IBF, berarti semakin kecil bilangan maka semakin tinggi peringkatnya.
  2. Sekolah dasar memiliki enam kelas yang berbeda (1,2,3, 4,5, dan 6), maka siswa yang berada di Kelas VI memiliki peringkat paling tinggi. Dengan demikian, semakin besar bilangan semakin tinggi peringkatnya.
Kedudukan skala ordinal lebih tinggi dibandingkan dengan skala nominal karena pada skala ordinal suatu bilangan semakin kecil maka peringkatnya semakin tinggi, atau semakin besar bilangan maka peringkatnya makin tinggi. Skala ordinal dapat mengurutkan kualitas, tetapi tidak dapat mengurutkan jarak. Akibatnya, hukum matematika tidak berlaku sepenuhnya apabila tidak ada persyaratan tertentu yang menggunakan penjumlahan, pengurangan, perkalian, atau pembagian. Lambang yang dapat digunakan pada skala ordinal adalah <, >.

c) Tingkat pengukuran interval (skala interval) memiliki tiga fungsi, yaitu:
  1. sebagai lambang untuk membedakan;
  2. untuk memberi peringkat (semakin besar bilangan, semakin tinggi peringkatnya); dan
  3. memperlihatkan jarak (interval).
Ciri utama tingkat pengukuran interval, bahwa titik nol bukan merupakan titik absolut, tetapi titik yang ditentukan oleh perjanjian. Misalnya, skala yang terdapat pada termometer C, titik bekunya adalah 00, sedangkan pada termometer F titik bekunya adalah 320. Akibat dari sifat-sifat yang dimiliki skala interval maka hukum matematika berlaku, misalnya pengukuran interval untuk ilmu sosial, seperti:
  1. skala sikap
  2. skala minat
  3. skala partisipasi
d) Tingkat pengukuran ratio (skala ratio), dengan ciri bahwa titik nol adalah titik absolut. Akibatnya, semua hukum matematika menjadi berlaku.

b. Mean (Rata-Rata Hitung)

Mean disebut juga nilai rata-rata. Mean merupakan hasil bagi antara jumlah seluruh nilai dan jumlah unit yang diamati. Misalnya, diperoleh data 2, 3, 4, 5, 6. Dengan demikian, mean-nya adalah 20: 5 = 4.

Terdapat dua cara perhitungan, yaitu:

1) Untuk data yang tidak dikelompokkan, dengan formulasi sebagai berikut.

Keterangan:

: Mean
X: Nilai data ke-1
N : banyaknya Xi
Σ : Jumlah

Contoh: Perhatikan kelompok nilai sosiologi berikut: 4, 6, 9, 7, 8, 10, 3. 

Jadi, mean-nya adalah :


2) Untuk data yang dikelompokkan

Untuk mencari rata-rata hitung (mean) bagi data yang sudah dikelompokkan yaitu dengan mencari mean duga (mean assumed), tetapi sebelumnya harus ditentukan dahulu pengelompokan data bersangkutan dengan mencari batas kelas (interval = i). Batas kelas (interval = i) digunakan untuk mengelompokkan data dengan tujuan agar memudahkan pengolahan, biasanya dari populasi (N) di atas 30, intervalnya dapat dicari sebagai berikut.

a) Seseorang mengambil angka ganjil < 10, tetapi > 1 yaitu 3, 5, 7, 9, maka salah satu angka tersebut dapat digunakan sebagai batas kelas (i).
b) Jika terdapat perbedaan atau selisih (range = Rg) maka dibagi dengan angka ganjil yang diambil dan ditambah 1, maka hasilnya harus ada di antara angka 10 dan 20, jadi


Keterangan :

Rg = Range (selisih)
I = interval

Contoh : 

Hasil Ujian Akhir Sekolah yang dicapai oleh sembilan Kelas XII IPS, dari 84 siswa (n), diperoleh nilai tertinggi 58, sedangkan nilai terendah 15, maka selisihnya sebesar 43. Untuk mendapatkan batas kelas yang diingin kan dapat dicari dari beberapa kemungkinan berikut ini.

a) Apabila interval yang digunakan adalah 3 (i = 3) maka penghitungannya adalah:


Jadi untuk i = 3 dianggap memenuhi syarat, sebab 10 < 15 < 20.

b) Jika interval yang digunakan adalah 5 (i = 5) maka penghitungannya sama seperti sebelumnya dan didapatkan hasil 9,6, atau 10. Jadi, untuk i = 5 dianggap memenuhi syarat sebab 10 = 10 < 20.
c) Jika interval yang digunakan adalah 7 (i = 7) maka dengan penghitungan yang sama diperoleh hasil 7,14 atau 7. Jadi, untuk i = 7 dianggap tidak memenuhi syarat sebab 7 < 10.
d) Jika interval yang digunakan adalah 9 (i = 9) maka dengan penghitungan yang sama diperoleh hasil 5,78 atau 6. Jadi untuk i = 9 tidak memenuhi syarat karena 6 < 10. Dengan demikian, yang dapat dijadikan interval adalah 3 dan 5. Pada bagian ini dimisalkan menggunakan salah satunya yaitu 5.

Mean duga atau rata-rata hitung untuk data berkelompok yang memiliki batas kelas (interval = 5) digunakan rumus:

Keterangan :

 : Mean satu set pengukuran
 : Mean duga
Σ f,d : Jumlah hasil perkalian frekuensi
n : Banyaknya individu pengukuran
i : Interval atau batas kelas

Contoh: 

Tabel 2. untuk mencari mean bagi data berkelompok dari nilai UAS mata pelajaran Sosiologi di sembilan Kelas XII IPS. Kemudian diambil sampel sebanyak n = 84 siswa maka terlihat kecenderungan nilai yang didapat oleh siswa tersebut, yaitu:
Tabel 2: Persebaran Frekuensi Individu ( f ) dan Simpangan Duga (d) untuk Mendapatkan Mean () dengan Mean Duga ()

Kelas
(C)
Batas Kelas
(i=5)
Frekuensi
( f )
Deviasi
(d)
Perbanyakan
( f,d )
1
56 - 60
1
5
5
2
51 - 55
2
4
8
3
46 - 50
0
3
0
4
41 - 45
15
2
30
5
36 - 40
16
1
16
6
31 - 35
26
0
0
7
26 - 30
17
-1
-17
8
21 - 25
6
-2
-12
9
16 - 20
1
-3
-3

Jumlah
84 (-n)

27 ( f1 d

Mean duga dihitung sebagai berikut:

Mean = 33 + (27/84) 5
= 33 + 135/84
= 34,607143 atau 34,61

Nilai 33 dapat diketahui dari batas kelas 31–35 yang merupakan titik tengah. Dari batas kelas tersebut, diletakkan angka 0 yang merupakan nilai yang dikodekan atau simpangan duga (d), ke atas dari angka 0 pada tabel tersebut diletakkan angka 1, 2, 3, 4, dan 5 dengan tanda positif. Sebaliknya, ke bawah dari angka 0 diletakkan angka 1, 2, 3, dengan tanda negatif. Selanjutnya, hasil dari simpang duga (d) dikalikan dengan frekuensi individu (f).

Adapun keuntungan mean atau rata-rata hitung adalah sebagai berikut.
  1. Nilai rata-rata memberikan gambaran secara proporsional.
  2. Nilai rata-rata digunakan secara luas dalam berbagai bidang dan sangat mudah diartikan.
  3. Pengolahan mean sangat mudah, baik yang berasal dari data terpencar maupun yang berasal dari data berkelompok.
  4. Nilai rata-rata selalu digunakan dalam statistik.
c. Modus atau Mode

Modus atau mode adalah hasil pengukuran atau angka yang paling banyak terdapat dalam deretan angka-angka atau hasil pengukuran. Dengan kata lain, bilangan yang paling banyak muncul. Sebagai contoh, deretan angka-angka berikut ini dapat dicari modusnya,

15, 17, 18, 22, 24, 25, 25, 25, 27, 28, 29

Modus dari angka-angka tersebut adalah 25 karena angka yang paling banyak muncul. Angka tersebut merupakan modus untuk data yang tidak berkelompok. Contoh lain untuk mencari modus seperti berikut ini.

Seorang penyelidik mengumpulkan data mengenai latar belakang pekerjaan orangtua dari 13 orang siswa SMA di Kelas XII IPS. Data yang diperoleh dari latar belakang pekerjaan tersebut adalah:

Tabel 3. Latar Belakang Pekerjaan Orangtua Siswa

Jenis Pekerjaan
Frekuensi (f)
Pegawai Negeri Sipil
5
ABRI
2
Pedagang/Wiraswasta
2
Petani
2
Karyawan Swasta
1
Lain-lain
1
Jumlah
13

Jadi, modus latar belakang pekerjaan orangtua siswa adalah sebagai Pegawai Negeri Sipil.

Bagi data yang berkelompok dengan interval sama, modus merupakan titik dalam skala angka tersebut yang merupakan frekuensi terbesar. Kadangkala kenyataannya dijumpai lebih dari satu modus. Persebaran yang mempunyai satu modus disebut unimodal, dua modus disebut bimodal, tiga modus disebut trimodal, dan lebih dari tiga modus disebut multimodal. Untuk mendapatkan modus pada tabel berikut ini sebagai data yang berkelompok adalah:

Tabel 4. Persebaran Frekuensi Individu (f) untuk Mendapat kan Modus

Kelas
(C)
Batas Kelas
(i = 5)
Frekuensi
(f)
1
56 – 60
1
2
51 – 55
2
3
46 – 50
0
4
41 – 45
15
5
36 – 40
16
6
31 – 35
26
7
26 – 30
17
8
21 – 25
6
9
16 – 20
1

Rumus yang digunakan untuk mencari modus dalam tabel tersebut adalah:


Keterangan: 

1 = Batas bawah
f1 = frekuensi terendah
f2 = frekuensi tertinggi

Modus dari persebaran angka di dalam Tabel 4. terletak pada batas kelas 31 – 35 karena frekuensi terbanyak yaitu 26. Untuk mencari modus seperti pada rumus tersebut dapat dilakukan dengan beberapa langkah yaitu sebagai berikut.

1) Mencari batas kelas dari persebaran yang memiliki frekuensi tertinggi, yaitu 31–35.
2) Cari batas bawah dari batas kelas tersebut yaitu 31.
3) Frekuensi yang berdekatan dengan frekuensi tertinggi (di atas 26 dan di bawahnya atau yang mengapit frekuensi), yaitu 16 dan 17. Jika frekuensi yang mengapit frekuensi tertinggi itu yang paling tinggi dinyatakan dengan f atau 16 dan frekuensi yang paling kecil dinyatakan dengan f atau 17, maka dirumuskan menjadi:

 angka dari tabel 4. diperoleh 

4) Hasil yang didapat kemudian dikalikan dengan interval (i = 5), maka diperoleh: 0,48 x 5 = 2,4
5) Langkah terakhir adalah dengan menambahkan angka di atas (2,4) dengan batas terbawah dari batas kelas (interval), yaitu: 31 + 2,4 = 33,4.
Dengan demikian, modus persebaran dari Tabel 4.4 adalah 33,4.

d. Median

Median adalah suatu bilangan yang membagi dua nilai-nilai atau kelompok bilangan sehingga banyaknya bilangan di bagian yang satu sama banyaknya dengan di bagian lain. Median disebut juga rata-rata letak.

Contoh: 

Satu rangkaian terdiri atas 5 pengukuran (n = 5). Pengukuran dilakukan terhadap lima orang siswa yang sering berkelahi. Ditanyakan kepada siswa bersangkutan berapa kali perkelahian yang pernah dilakukannya semenjak kecil sampai sekarang sehingga didapatkan data sebagai berikut.

Tabel 5. Banyaknya Perkelahian yang Pernah Dilakukan Siswa

Nama Siswa
Banyaknya Perkelahian
(f)
A
9
B
3
C
6
D
12
E
14
Jumlah n = 5


Jika diurutkan banyaknya perkelahian yang pernah dilakukan maka menjadi:

14, 12, 9, 6, dan 3

Dengan demikian, median yang diperoleh adalah 9.

Semakin banyak n atau jumlah yang diukur, maka akan semakin sulit menentukan median. Dengan demikian, median terbagi menjadi median data tak berkelompok dan median data berkelompok.

1) Median Data tidak Berkelompok

Median data tidak berkelompok dapat dilakukan jika ukuran n kecil. Misalnya, pengukuran dilakukan terhadap 16 orang siswa Kelas XII IPS yang mengikuti UAS Sosiologi (n = 16) dengan jumlah soal 70 buah sehingga didapat banyaknya jumlah jawaban yang benar dari setiap siswa, yaitu:

Tabel 6. Jumlah Jawaban yang Benar UAS Sosiologi Kelas XII IPS

Siswa
Banyaknya Jawaban yang Benar
1
53
2
11
3
18
4
33
5
28
6
16
7
31
8
48
9
34
10
61
11
57
12
26
13
63
14
27
15
42
16
39

Jumlah jawaban yang benar apabila diurutkan, diperoleh deret sebagai berikut.

63, 61, 57, 53, 48, 42, 39, 34, 33, 31, 28, 27, 26, 18, 16, dan 11

Untuk menentukan lokasi mediannya, digunakan rumus:

½ (n = 1) = Lokasi Median

Jadi, median yang diperoleh dari nilai ulangan susulan Sosiologi adalah:

½ (16 + 1) = 8,5

atau terletak pada lokasi 8 dan 9 yang menjawab benar sebanyak 33 dan 34, median eksaknya diperoleh:

½ (33 + 34) = 33,5

2) Median Data Berkelompok

Struktur menentukan median pada data yang berkelompok sedikit lebih rumit dibandingkan dengan menentukan median pada data tidak berkelompok. Kedudukan tengah data berkelompok belum tentu sesuai dengan posisi kelas di tengah-tengah persebaran frekuensi data. Oleh karena itu, diperlukan beberapa langkah mencari median data berkelompok. Median duga yang berada pada kelas berfrekuensi kumulatif ½ n , perlu tabel frekuensi kumulatif. Tabel ini digunakan untuk mencari kuartil dan presentil.

Tabel 7. Persebaran Frekuensi Kumulatif (Data Berkelompok) Nilai UAS Sosiologi

Kelas
(C)
Batas Kelas
(i = 5)
Frekuensi
(f)
Frekuensi Kumulatif
(f)
1
56 – 60
1
84
2
51 – 55
2
83
3
46 – 50
0
81
4
41 – 45
15
81
5
36 – 40
16
66
6
31 – 35
26
50
7
26 – 30
17
24
8
21 – 25
6
7
9
16 – 20
1
1

n = 84



Langkah mencari median untuk data berkelompok:

a) bagilah jumlah frekuensi dengan 2 dari Tabel 4.7, jumlah tersebut ialah 84 (= n);

n : 2 = 84 : 2 = 42

b) berdasarkan pengamatan pada batas kelas, di manakah 42 terletak, karena hanya ada 24 jumlah frekuensi kumulatif yang ada di bawah interval 31–35, dan ada 50 jumlah frekuensi kumulatif yang ada di bawah interval 41–45. Dengan demikian, titik atau angka 42 ini harus ada pada titik interval 31–35;
c) kurangi 42 dengan frekuensi kumulatif (f) yang ada di bawah frekuensi kumulatif untuk interval 31–35. Menurut Tabel 7, bilangan tersebut adalah 24. Jadi: 42–24 = 18;
d) kalikan angka tersebut (18) dengan interval (i = 5). Jadi, 18 x 5 = 90;
e) buat pembagian dari angka 90 dengan jumlah frekuensi batas kelas 31–35. Menurut Tabel 4.7, frekuensinya ialah 26. Jadi, 90 : 26 = 3,46;
f) tambahkan angka ini (31) dengan batas terbawah dari batas kelas (batas bawah eksak) tersebut, dilambangkan dengan B yaitu: ½ (30 + 31) = 30,5.

Jadi, kelas mediannya adalah: 3,46 + 30,5 = 33,96.

Lebih jelasnya, rumus dan perhitungan untuk mendapatkan median dengan data berkelompok adalah sebagai berikut.


e. Perbandingan kedudukan Mean, Modus, dan Median

Kedudukan relatif Mean, Modus, dan Median bergantung pada sebarannya, apakah normal atau miring. Berikut ini menggambarkan tiga kemungkinan letak antara Mean, Modus, dan Median.
Perbandingan kedudukan mean, median, dan modus.
Gambar 2. Perbandingan kedudukan mean, median, dan modus. (a) Persebaran simetrik (normal) (b) Persebaran miring positif (c) Persebaran miring negatif
Gambar 2. memperlihatkan kedudukan mean, median, dan modus.

1) Jika persebaran pengukuran tersebut simetrik (normal) seperti pada gambar (a), mean, median, dan modus itu identik. Maksudnya, ketiga jenis pengukuran tersebut berada pada kedudukan yang sama (tidak ada perbedaan nilai antara mean, median, dan modus).
2) Jika persebaran tersebut miring pada gambar (a) dan (c), mean, median, dan modus itu saling menjauhi.
3) Jika persebaran (distribusi) data adalah miring positif atau miring kanan seperti pada gambar (b), dengan ciri-ciri:

a) ekor lebih panjang dari persebaran data, menuju ke kanan;
b) median mengambil tempat setengah bagian di depannya dan setengah bagian lagi di belakangnya. Selama ekor panjang itu menjulur ke kanan, modus masih berada di puncak kurva tertarik ke kiri dari median, yakni mean yang paling peka untuk tertarik ke persebaran nilai-nilai yang tinggi.

4) Jika persebaran data tersebut miring negatif, persebaran nilai-nilai cenderung ke arah yang rendah.

f. Persentase

Persebaran data yang diperoleh dari alternatif jawaban dapat dilakukan melalui persentase, yaitu rata-rata frekuensi dicari jumlah persentasenya.

Tabel 8. Pendapat Siswa Mengenai Perkelahian Siswa

Kategori
Frekuensi (f)
%
Mengganggu ketertiban
26
(26 : 80) x 100% = 32,50
Sebagai solidaritas dengan teman
23
(23 : 80) x 100% = 28,75
Menambah keberanian
14
(14 : 80) x 100% = 17,50
Membahayakan jiwa
17
(17 : 80) x 100% = 21,25
Jumlah
80
100

Berdasarkan Tabel 8, siswa cenderung beranggapan bahwa perkelahian siswa dapat mengganggu ketertiban (32,50%), bersifat solidaritas atas teman (28,75%), tetapi di antara mereka belum tentu mengetahui latar belakang terjadinya perkelahian.

Berdasarkan Tabel 8, frekuensi pendapat siswa mengenai perkelahian pelajar dibuat persentase. Hal ini sebagai cara termudah dan paling sederhana dalam penggunaan data kuantitatif.

Pada hakikatnya, tujuan persentase yaitu untuk memperlihatkan dengan tegas besarnya relatif antara dua angka atau lebih. Dengan kata lain, persentase untuk memberikan gambaran secara sederhana mengenai hubungan dua angka atau lebih. Kesederhanaan dan ketegasan persentase diperoleh dengan dua cara, yaitu:
  1. semua angka dari frekuensi disederhanakan sehingga mudah dikalikan 100% dan dibagi dari jumlah frekuensi, dan
  2. salah satu angka yaitu angka pokok harus berjumlah 100 sehingga mudah dibagi. Dengan demikian, mudah pula memperoleh besar-kecilnya angka-angka tersebut secara relatif.

3.3. Hubungan Berbagai Data


Variabel penelitian yang diajukan tidak berdiri sendiri, tetapi saling berhubungan, seperti halnya antara variabel bebas dan variabel terikat. Kedua variabel tersebut merupakan syarat minimal dari suatu penelitian. Hubungan berbagai data melalui dua variabel atau lebih dapat digambarkan dengan cara-cara tabulasi silang dan hubungan antar data.

a. Tabulasi Silang

Tabulasi silang dapat digunakan untuk menganalisis pengaruh satu variabel terhadap variabel lainnya yang diperiksa secara serempak. Misalnya, hubungan antar dua variabel dicari antara pendapat siswa tentang perkelahian pelajar sebagai variabel bebas dan siswa yang suka membolos sekolah sebagai variabel terikat. Tabulasi silang adalah tabulasi sederhana, dibuat dengan jalan memisah setiap kesatuan data dalam setiap kategori menjadi dua atau tiga (mungkin lebih) sub kesatuan. Dengan demikian, akan diketahui jumlah kelompok responden berdasarkan kecenderungan dalam menjawab pertanyaan penelitian dan sekaligus terperinci secara proporsional.

Kedua variabel kesatuan data tersebut disusun berdasarkan persentase, digambarkan pada tabel berikut.

Tabel 9. Hubungan Antara Kebiasaan Siswa terhadap Pendapat Siswa tentang Perkelahian Pelajar

Pendapat Siswa
Kebiasaan Siswa
Jumlah
Suka
Membolos
Tidak Suka
Membolos
F
%
F
%
Mengganggu ketertiban
2
2,50
25
25
26
32,50
Sebagai solidaritas dengan teman
20
25
3
3
23
28,75
Menambah keberanian
11
13,75
3
3
14
17,50
Membahayakan jiwa
4
5
13
13
17
21,25
Jumlah
37
46,25
43
43
80
100

Berdasarkan Tabel 9, jelas sekali hubungan antardua variabel bahwa siswa yang suka membolos berpendapat bahwa perkelahian pelajar sebagai solidaritas dengan teman (25%) dan menambah keberanian (13,75%), sedangkan bagi siswa yang tidak suka membolos berpendapat bahwa perkelahian pelajar mengganggu ketertiban (30%) dan membahayakan jiwa (16,25%). Dengan demikian, terdapat kecenderungan bahwa siswa yang tidak suka membolos tidak senang berkelahi, sedangkan siswa yang suka membolos memiliki kecenderungan terlibat dalam perkelahian pelajar.

Tabulasi silang pada Tabel 9. merupakan prosedur analisis ke arah penemuan (kesan) ada tidaknya hubungan antar variabel dalam bentuk data persentase berdasarkan jawaban yang dipilih siswa sebagai responden.

b. Mengukur Hubungan Antar data

Hubungan antar data melalui dua variabel dapat diukur yang hasilnya dinyatakan dengan lambang bilangan antara 0,00 dan 1,00 atau - 1,00 digunakan untuk menarik kesimpulan, yaitu:
  1. jika diperoleh hasil 0,00 berarti hubungan antar variabel tidak ada;
  2. jika diperoleh hasil 1,00 atau - 1,00 berarti terdapat hubungan antar variabel.
Agar memperoleh penjelasan hasil pengukuran, digunakan data dari Tabel 10, sedangkan angka yang digunakan bukan angka persentasenya, melainkan berdasarkan angka hasil pilihan siswa.

Tabel 10. Mengukur Hubungan Siswa yang Suka Membolos dan Siswa yang tidak Suka Membolos terhadap Perkelahian

Pendapat Siswa
Siswa yang Suka Membolos
Siswa yang Tidak Suka Membolos
Perkelahian sebagai solidaritas dan menambah keberanian
31 (a)
6 (b)
Perkelahian mengganggu ketertiban dan membahayakan jiwa
6 (c)
37 (d)

Perhitungan mencari hubungan ini menggunakan rumus Yule’s Q, yaitu:


Hasil perhitungan dicapai 0,94 lebih dekat ke 1,00 dibandingkan dengan 0,00. Jadi, kesimpulannya terdapat hubungan antar variabel.

Rangkuman :

Jenis-jenis penelitian sangat bergantung pada segi penelitian tersebut ditinjau. Berdasarkan cara dan taraf pembahasan masalah penelitian dibedakan menjadi atas penelitian deskriptif dan penelitian inferensial. Dilihat dari tujuan yang ingin dicapai, penelitian dibedakan menjadi penelitian eksploratif, penelitian uji, dan penelitian deskriptif. Berdasarkan bentuk dan metode pelaksanaannya, penelitian dibagi tiga, yaitu Studi Kasus, Survei, dan Eksperimen. Penelitian juga dilakukan pada setiap kajian ilmu, baik eksakta maupun ilmu sosial, dengan pemakaian baik secara murni yaitu mengembangkan ilmu pengetahuan sendiri maupun bersifat terapan. Adapun berdasar kan tempatnya, penelitian ada yang dilakukan di laboratorium, kepustakaan, dan lapangan.

Pengumpulan data merupakan kegiatan mencari data di lapangan yang akan digunakan untuk menjawab permasalahan penelitian. Dalam pengumpulan data terdapat beberapa metode yang digunakan, seperti angket, wawancara, observasi, dan dokumentasi atau kepustakaan. Setiap metode memiliki syarat masing-masing yang bergantung pada jenis dan sampel penelitiannya.

Pengolahan data dibedakan atas analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Perbedaan ini bergantung pada sifat data yang dikumpulkan. Data yang bersifat monografis menggunakan analisis kualitatif, sedangkan data yang memiliki jumlah lebih besar menggunakan analisis kuantitatif. Statistik secara sederhana dapat dihitung dengan mencari nilai rata-rata (mean), modus, median, dan persen yang disebut pengukuran tendensi sentral, yaitu pengukuran dari pusat persebaran variabel.

Dalam pengumpulan data penelitian, seorang peneliti dapat melakukan empat macam cara, yaitu teknik angket, wawancara, observasi, dan pengumpulan dokumen baik berupa arsip-arsip maupun informasi-informasi di media massa. Keempat cara pengumpulan tersebut tidak harus ditempuh oleh seorang peneliti. Akan tetapi, hal tersebut sangat berpengaruh pada kelengkapan dan kerincian data yang pada akhirnya akan sangat berpengaruh pula pada bobot atau kualitas dari penelitian yang dilakukan. Keempat cara pengumpulan data tersebut memiliki sifat saling melengkapi antara satu dan lainnya, sehingga semakin beragam cara yang dilakukan dalam mengumpulkan data maka hal itu akan semakin baik. Demikian pula sebaliknya.

Setelah data dari beragam sumber melalui cara-cara yang variatif dikumpulkan, langkah berikutnya bagi seorang peneliti adalah melakukan klasifikasi atau pengelompokan data. Hal tersebut penting dilakukan untuk memiliki nilai yang sama. Upaya tersebut sangat bermanfaat apabila terjadi pertentangan antara data-data tersebut maka seorang peneliti dapat dengan mudah menentukan data mana yang harus diperhatikan dan data mana yang dapat diabaikan terkait dengan topik penelitian yang sedang dilakukan.

Anda sekarang sudah mengetahui Pengolahan Data Penelitian. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Waluya, B. 2009. Sosiologi 3 : Menyelami Fenomena Sosial di Masyarakat untuk Kelas XII Sekolah Menengah Atas / Madrasah Aliyah. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. p. 146.

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah secara bijak. Komentar yang tidak sesuai materi akan dianggap sebagai SPAM dan akan dihapus.
Aturan Berkomentar :
1. Gunakan nama anda (jangan anonymous), jika ingin berinteraksi dengan pengelola blog ini.
2. Jangan meninggalkan link yang tidak ada kaitannya dengan materi artikel.
Terima kasih.

Search