Perilaku Konsumen dan Produsen dalam Kegiatan Ekonomi, Circular Flow Diagram, Peran, Pendekatan Kardinal dan Ordinal, Garis Anggaran, Produksi

Leave a Comment
Perpustakaan Cyber (20/5/2013) - Pernahkah Anda membayangkan bagaimana mie instan dibuat? Terbuat dari apakah mi instan tersebut? Jika Anda pernah melihat proses pembuatan mi tersebut, Anda akan memperoleh gambaran secara umum mengenai kegiatan produksi. Proses produksi dilakukan melalui berbagai tahap mulai dari bahan dasar tepung hingga menjadi barang jadi (mi instan). Setelah dikemas, mi einstan tersebut didistribusikan ke penjual, misalnya warung. Anda mungkin mengonsumsi mie tersebut untuk makan sehari-hari. Mengonsumsi mi tersebut dapat dikatakan perilaku konsumen karena Anda membeli dan mengonsumsi mie instan tersebut.

Uraian singkat di atas menggambarkan perilaku produsen (pabrik mi instan) dan perilaku konsumen (Anda sebagai pembeli dan pengonsumsi mie instan tersebut). Dalam Bab ini, Anda akan mendapatkan materi perilaku konsumen dan perilaku produsen, siklus arus barang, jasa, dan pendapatan (circular flow diagram) yang terdiri atas perekonomian tertutup dan perekonomian terbuka, dan peran konsumen dan peran produsen dalam perekonomian.

A. Perilaku Konsumen dan Perilaku Produsen


Akibat adanya keterbatasan pendapatan dan keinginan untuk mengkonsumsi barang dan jasa sehingga diperoleh kepuasan maksimal, maka muncul perilaku konsumen. Perilaku konsumen pada dasarnya menjelaskan bagaimana konsumen mendayagunakan sumber daya yang ada (uang) dalam memuaskan keinginan atau kebutuhan dari suatu atau beberapa produk. Dalam teori perilaku konsumen terdapat dua pendekatan utama untuk melakukan analisis mengenai perilaku konsumen dalam menikmati barang atau jasa untuk memuaskan kebutuhannya. Dua pendekatan tersebut adalah pendekatan kardinal dan pendekatan ordinal.

a. Pendekatan Kardinal (Cardinal Approach)


Pendekatan kardinal merupakan gabungan dari beberapa pendapat para ahli ekonomi aliran subjektif seperti Herman Heinrich Gossen (1854), William Stanley Jevons (1871), dan Leon Walras (1894). Pendekatan kardinal dapat dianalisis dengan menggunakan konsep utilitas marjinal (marginal utility). Asumsi dalam pendekatan ini antara lain:
  1. konsumen bertindak rasional (ingin memaksimalkan kepuasan sesuai dengan batas anggarannya);
  2. pendapatan konsumen tetap;
  3. uang memiliki nilai subjektif yang tetap.
Menurut pendekatan kardinal utilitas suatu barang dan jasa dapat diukur dengan satuan util. Contoh, sebuah raket akan lebih berguna bagi pemain tenis dari pada pemain sepak bola. Namun bagi pemain sepak bola, bola akan lebih berguna daripada raket. Beberapa konsep mendasar yang berkaitan perilaku konsumen melalui pendekatan kardinal adalah konsep utilitas total (total utility) dan utilitas marjinal (marginal utility). Utilitas total adalah yang dinikmati konsumen dalam mengonsumsi sejumlah barang atau jasa tertentu secara keseluruhan. Adapun utilitas marjinal adalah pertambahan utilitas yang dinikmati oleh konsumen dari setiap tambahan satu unit barang dan jasa yang dikonsumsi.

Sampai pada titik tertentu, semakin banyak unit komoditas yang dikonsumsi oleh individu, akan semakin besar kepuasan total yang diperoleh. Meskipun utilitas total meningkat, namun tambahan (utilitas) yang diterima dari mengonsumsi tiap unit tambahan komoditas tersebut biasanya semakin menurun.

Hal tersebut yang mendasari hukum utilitas marjinal yang semakin berkurang (the law of diminishing marginal utility). Menurut hukum ini jumlah tambahan utilitas yang diperoleh konsumen akan semakin menurun dengan bertambahnya konsumsi dari barang atau jasa tersebut. Hukum tersebut diperkenalkan pertama kali oleh H.H. Gossen (1810–1858), seorang ahli ekonomi dan matematika Jerman, dan selanjutnya hukum ini dikenal dengan nama Hukum Gossen I. Sebagai contoh, jika Anda dalam keadaan haus, segelas teh manis atau dingin akan terasa sangat menyegarkan, gelas kedua masih terasa segar, sampai gelas ketiga mungkin Anda merasa kekenyangan bahkan mual. Contoh di atas memperlihatkan turunnya utilitas total sampai pada tingkat tertentu.

Contoh tersebut akan lebih jelas dengan menggunakan data kuantitatif, seperti Tabel 1.

Kuantitas Barang yang Dikonsumsi (unit)
Total Utility (TU) (util)
Marginal Utility (MU) (util)
0
0
-
1
4
4
2
7
3
3
9
2
4
10
1

Dari Tabel 1. terlihat bahwa utilitas total (TU) meningkat sejalan dengan kenaikan konsumsi, akan tetapi dengan laju pertumbuhan yang semakin menurun. Adapun utilitas marjinal (MU) semakin menurun sejalan dengan adanya kenaikan konsumsi. Jika seseorang mengkonsumsi dua unit barang, utilitas marjinalnya adalah 7 – 4 = 3 util, dan jika mengonsumsi tiga unit barang, utilitas marjinalnya adalah 9 – 7 = 2 util, begitu seterusnya.

Tabel 1. dapat digambarkan dalam Kurva 1. yaitu sebagai berikut.
Kurva Utilitas Total dan Utilitas Marjinal
Kurva 1. Utilitas Total dan Utilitas Marjinal
Dari Kurva 1. terlihat bahwa utilitas total meningkat seiring dengan bertambahnya konsumsi, akan tetapi dengan proporsi yang semakin menurun. Adapun utilitas marjinal dari setiap tambahan barang akan menurun sejalan dengan meningkatnya konsumsi. Selanjutnya kebutuhan manusia tidak hanya terdiri atas satu atau dua kebutuhan, tetapi berbagai jenis kebutuhan. Oleh karena itu, bagaimana manusia dapat mengatur kebutuhannya untuk memuaskan kebutuhan atas berbagai jenis barang atau jasa? Gossen menjelaskan bahwa konsumen akan memuaskan kebutuhan yang beragam tersebut sampai memiliki tingkat intensitas yang sama.

Dengan tegas, Gossen menyatakan bahwa konsumen akan melakukan konsumsi sedemikian rupa sehingga rasio antara utilitas marjinal dan harga setiap barang atau jasa yang dikonsumsi besarnya sama. Selanjutnya, pernyataan ini dikenal dengan Hukum Gossen II.

Hukum Gossen II menunjukkan adanya upaya setiap orang untuk memprioritaskan pemenuhan kebutuhannya berbanding harga barang hingga memperoleh tingkat optimalisasi konsumsinya. Dengan tingkat pendapatan tertentu seorang konsumen akan berusaha men dapatkan kombinasi berbagai macam kebutuhan hingga rasio antara utilitas marjinal (MU) dan harga sama untuk semua barang atau jasa yang dikonsumsinya.

b. Pendekatan Ordinal (Ordinal Approach)


Pendekatan ordinal kali pertama diperkenalkan oleh Francis Edgeworth dan Vilfredo Pareto. Asumsi yang dipergunakan dalam pendekatan ini antara lain:
  1. konsumen bertindak rasional (ingin memaksimumkan kepuasannya);
  2. konsumen memiliki pola pilihan (preferensi) terhadap barang yang disusun berdasarkan urutan besar kecilnya (pilihan) nilai guna;
  3. konsumen memiliki sejumlah uang tertentu;
  4. konsumen konsisten dengan pilihannya. Jika ia memilih A dibanding B, memilih B dibanding C, maka ia akan memilih A dibanding C.
Pendekatan ordinal menganggap bahwa utilitas suatu barang tidak perlu diukur, cukup untuk diketahui dan konsumen mampu membuat urutan tinggi rendahnya utilitas yang di peroleh dari mengonsumsi sejumlah barang atau jasa. Selanjutnya konsumsi dipandang sebagai upaya optimalisasi dalam konsumsinya.

Pendekatan ordinal dapat dianalisis dengan menggunakan kurva indiferen (indifference curve) dan garis anggaran ( budget line).

1) Kurva Indiferen

Kurva indiferen adalah kurva yang menunjukkan kombinasi dua macam barang konsumsi yang memberikan tingkat utilitas yang sama. Seorang konsumen membeli sejumlah barang, misalnya, makanan dan pakaian dan berusaha mengombinasikan dua kebutuhan yang menghasilkan utilitas yang sama, digambarkan dalam Tabel 2. yaitu sebagai berikut.

Situasi
Makanan
Pakaian
A
4
2
B
3
4

Apabila konsumen menyatakan bahwa.

a) A>B, berarti makan 4 kali sehari dengan membeli pakaian 2 kali setahun lebih berdaya guna dan memuaskan konsumen daripada makan 3 kali sehari dan membeli pakaian 4 kali setahun.
b) A<B, berarti makan 3 kali sehari dengan membeli pakaian 4 kali setahun lebih berdaya guna dan memuaskan konsumen daripada makan 4 kali sehari dengan membeli pakaian 2 kali setahun.
c) A=B, berarti makan 4 kali sehari dengan membeli pakaian 2 kali setahun dan makan 3 kali sehari dengan membeli pakaian 4 kali setahun memberikan utilitas yang sama kepada konsumen.

Contoh situasi tersebut dapat digambarkan dalam kurva indiferen sebagaimana ditunjukkan dalam kurva 2.
Kurva Indiferen Kombinasi Makanan dan Pakaian
Kurva 2. Indiferen Kombinasi Makanan dan Pakaian.
Dari Kurva 2. terlihat bahwa dengan memperoleh lebih banyak barang yang satu akan menyebabkan kehilangan sebagian barang yang lain. Kombinasi makanan dan pakaian yang memberikan utilitas sama digambarkan sebagai kurva indiferen.

Ciri-ciri kurva indiferen adalah sebagai berikut.

a) Turun dari kiri atas ke kanan bawah, hal ini berakibat pada terjadinya keadaan yang saling meniadakan (trade-off), yaitu jika konsumen ingin menambah konsumsi atas satu barang, ia harus mengurangi konsumsi atas barang lainnya.
b) Cembung ke arah titik asal (angka 0), yang menunjukkan jika konsumen menambah konsumsi satu unit barang, jumlah barang lain yang dikorbankan semakin kecil. Dalam analisis ilmu ekonomi hal ini sering disebut sebagai tingkat substitusi marginal (marginal rate of substitution atau MRS), yaitu tingkat ketika barang X bisa disubstitusikan dengan barang Y dengan tingkat utilitas yang tetap.
c) Kurva indiferen tidak saling berpotongan.
d) Jika kombinasi barang yang dikonsumsi memiliki kualitas yang semakin banyak, maka akan memberikan utilitas yang semakin tinggi yang ditunjukan oleh kurva indiferen yang semakin menjauhi titik 0.

Kurva indiferen digagas pertama kali oleh ekonom kelahiran Irlandia, Francis Edgeworth (1845-1926) dan ekonom kelahiran Italia, Vilfredo Pareto (1848-1923). Mereka berdua menyatakan bahwa pendekatan ordinal seharusnya membentuk basis analisis ekonomi ketimbang pendekatan kardinal. Edgeworth dan juga Pareto mengembangkan perangkat analisis yang sekarang disebut kurva indeferen (indifference curve).

Contoh Soal SPMB 2004 1 :

Kurva indiferen

1. menurun dari kiri ke kanan bawah
2. cembung ke arah titik origin
3. menunjukkan tingkat kepuasan sama bagi seorang konsumen
4. tidak akan saling berpotongan

Yang menunjukkan ciri kurva indiferen adalah ....

a. 1 dan 2 d. 2 dan 4
b. 1 dan 3 e. 1 dan 4
c. 2 dan 3

Penyelesaian:

ciri-ciri kurva indiferen :

1. berbentuk cembung terhadap sumbu ordinat
2. gradien negatif
3. tidak saling berpotongan
4. semakin jauh kurva tersebut menggambarkan utilitas yang semakin tinggi

Jawaban : E

2) Garis Anggaran ( Budget Line)

Adanya keterbatasan pada pendapatan akan membatasi pengeluaran konsumen untuk mengonsumsi sejumlah barang. Hal ini digambarkan dalam garis anggaran ( budget line), yaitu garis yang menunjukkan berbagai kombinasi dari dua macam barang yang berbeda oleh konsumen dengan pendapatan yang sama. 

Persamaan garis anggaran adalah: 

I = Px.X + Py.Y

Misalnya seorang konsumen mengonsumsi barang X dan Y, harga barang X (Px) dan harga barang Y (Py) adalah Rp1.000,00 dan pendapatan konsumen (I) pada saat itu adalah Rp10.000,00 dan semuanya dibelanjakan untuk barang X dan Y.
Garis Anggaran Barang X dan Barang Y
Kurva 3. Garis Anggaran Barang X dan Barang Y.
Jika konsumen membelanjakan semua pendapatannya untuk barang Y, dia dapat membeli sebanyak 10 unit barang X  , hal tersebut ditunjukkan oleh titik A. Sebaliknya jika konsumen membelanjakan semua pendapatannya untuk barang X, dia dapat membeli sebanyak 0 unit barang Y  , ditunjukkan oleh titik B. Menghubungkan titik A dan B dengan suatu garis lurus dapat diperoleh garis anggaran AB yang memperlihatkan kombinasi yang berbeda dari dua jenis barang yang dapat dibeli konsumen dengan tingkat pendapatan yang terbatas. Selanjutnya untuk mengetahui pada saat kapan konsumen optimalisasi dalam mengkonsumsi secara optimal, yaitu pada saat kurva indiferen (IC2) bersinggungan dengan garis anggaran (AB), terjadi di titik (E).

Adapun kurva indiferen (IC1) dan kurva indiferen (IC3) merupakan kurva yang tidak diharapkan oleh konsumen, karena kurva-kurva tersebut tidak menunjukkan keseimbangan barang dan jasa yang dikonsumsi.

c. Perilaku Produsen dalam Kegiatan Produksi


Produksi merupakan hasil akhir dari proses kegiatan produksi atau aktivitas ekonomi dengan memanfaatkan beberapa input (faktor produksi). Secara teknis kegiatan produksi dilakukan dengan mengkombinasikan beberapa input untuk menghasilkan sejumlah output. Hubungan teknis antara input dan output dalam proses produksi dinamakan fungsi produksi. Fungsi produksi adalah suatu persamaan yang menunjukkan jumlah maksimum yang dihasilkan dengan mengkombinasikan input atau faktor produksi tertentu. Hubungan antara input dan output diformulasikan dalam sebuah fungsi produksi secara matematis sebagai berikut.

Q = f (R, L, , E ….)

Di mana: 

Q = Output
R = Sumber daya alam (resources)
L = Tenaga Kerja (labor)
K = Modal (capital)
E = Keahlian atau kewirausahaan (entrepreneurship)

Apabila input yang dipergunakan dalam proses produksi hanya terdiri atas input tetap (modal) dan input variabel (tenaga kerja), formula persamaan matematisnya sebagai berikut. 

Q = f (, L)

Fungsi produksi di atas menunjukkan maksimum output yang dapat diproduksi dengan menggunakan pilihan kombinasi dari Modal () sebagai input tetap dan tenaga kerja (L) sebagai input variabel. Apabila kedua input yang digunakan adalah input variabel, disebut produksi jangka panjang dan ditulis sebagai berikut.

Q = f (, L)

Dari sebuah fungsi produksi jangka pendek, dapat dipelajari tiga konsep penting dalam produksi. Ketiga konsep tersebut adalah sebagai berikut.

a) Produk total (Total Product atau TP) menunjukkan total output yang diproduksi.
b) Produk marjinal (Marginal Product atau MP) menunjukkan tambahan produk atau output yang diakibatkan oleh pertambahan satu unit input (dalam hal ini tenaga kerja), dengan menganggap faktor lainnya konstan (ceteris paribus). Secara matematis ditulis sebagai berikut.
c) Produk rata-rata (Average Product atau AP) menunjukkan output total dibagi dengan unit total input (tenaga kerja). Secara matematis ditulis sebagai berikut.
Dari penjelasan di atas maka dapat dibuat tahap-tahap kurva produksi sebagai berikut.

Tahap produksi dilaksanakan dalam beberapa tahap.
  1. Tahap I : dimulai dari tenaga kerja (L)=0 sampai MP=AP atau AP maksimum.
  2. Tahap II : dimulai dari MP=AP atau AP maksimum sampai MP=0 atau TP maksimum.
  3. Tahap III : dimulai dari MP=0 ke kanan.
Kurva Produk Total dan Produk Marjinal
Kurva 4. Produk Total dan Produk Marjinal.
Kurva produksi jangka pendek berbentuk seperti gunung karena berlakunya hukum pertambahan hasil yang semakin menurun ( law of diminishing returns), yang menyatakan bahwa apabila faktor produksi K tetap, semakin banyak faktor produksi L ditambah, awalnya hasil produksi akan bertambah, mencapai maksimum, dan selanjutnya menurun. law of diminishing returns terjadi secara berturut-turut pada MP, AP, dan TP. Pentahapan produksi I, II, dan III ditentukan berdasarkan pola pikir rasional, yang dapat dijelaskan pada Tabel 3.

Tahap
Faktor
Produksi L
TPL
Ada/Tidak
Eksternalitas
Rasional/
Tidak Rasional
Tahap I
Ditambah
Bertambah
Ada
Tidak Rasional
Tahap II
Ditambah
Bertambah
Tidak Ada
Rasional
Tahap III
Ditambah
Berkurang
Ada
Tidak Rasional

Tahap Produksi II adalah tahap produksi yang akan digunakan produsen yang rasional untuk melakukan produksinya karena (1) jika produsen menambah L dia akan memperoleh tambahan output (TPL), dan (2) seluruh proses produksi sepenuhnya berada dalam pengendaliannya karena tidak ada eksternalitas yang mengganggu jalannya proses produksi.

B. Circular Flow Diagram (Diagram Arus Kegiatan Ekonomi)


1. Perekonomian Dua Sektor


Dalam circular flow diagram dijelaskan mengenai diagram aliran pendapatan pada perekonomian tertutup yang hanya melibatkan dua pelaku kegiatan ekonomi. Untuk lebih jelasnya perhatikan Bagan 1. berikut.
Diagram Siklus Interaksi Antarpelaku Ekonomi ( Circular Flow Diagram) dengan Dua Sektor
Bagan 1. Diagram Siklus Interaksi Antarpelaku Ekonomi (Circular Flow Diagram) dengan Dua Sektor.

Dari Bagan 1. terlihat bahwa sektor rumah tangga konsumen akan menjual faktor produksi pada sektor perusahaan (rumah tangga produsen) agar memperoleh pendapatan. Dalam hal ini, sektor rumah tangga konsumen akan memberikan faktor produksi seperti tanah, tenaga kerja, modal atau keahlian pada perusahaan (garis a). Sebagai balasan atas faktor produksi yang diberikan oleh sektor rumah tangga, maka sektor perusahaan akan me mberikan balas jasa berupa sewa untuk tanah, upah atau gaji bagi tenaga kerja, bunga atau sewa untuk modal dan keuntungan bagi keahlian (garis b).

Setelah sektor rumah tangga memperoleh balas jasa atas faktor produksi yang mereka jual kepada perusahaan, maka sektor rumah tangga memiliki pendapatan yang siap untuk dibelanjakan (yaitu pendapatan setelah dikurangi tabungan dan pajak) pada sektor perusahaan, berupa pembelian barang dan jasa (garis c bawah). Kemudian sektor rumah tangga produsen akan menyerahkan barang dan jasa tersebut kepada sektor rumah tangga konsumen (garis d).

2. Perekonomian Tiga Sektor


Diagram aliran interaksi perekonomian tiga sektor dijelaskan dalam Bagan 2. 

Perhatikan Bagan 2. berikut.
Diagram Siklus Interaksi Antarpelaku Ekonomi ( Circular Flow Diagram) dengan Tiga Sektor
Bagan 2. Diagram Siklus Interaksi Antarpelaku Ekonomi (Circular Flow Diagram) dengan Tiga Sektor.
Dalam teori ekonomi makro, komponen tabungan (S: Saving), pajak (T: Tax) dan impor (M: Import) merupakan kebocoran (leakages) bagi siklus aliran pendapatan karena jika ditambah menyebabkan penurunan pendapatan nasional. Sedangkan investasi (I: Investment), pengeluaran pemerintah (G: Goverment) dan ekspor (X: Eksport) merupakan suntikan (injections) dalam siklus aliran pendapatan, karena jika ditambah akan meningkatkan pendapatan nasional.

3. Perekonomian Empat Sektor


Diagram aliran interaksi perekonomian empat sektor dijelaskan dalam Bagan 3. Perhatikan Bagan 3. berikut.
Diagram Siklus Interaksi Antarpelaku Ekonomi ( Circular Flow Diagram) dengan Empat Sektor
Bagan 3. Diagram Siklus Interaksi Antarpelaku Ekonomi (Circular Flow Diagram) dengan Empat Sektor.
Dari Bagan 1, Bagan 2, dan Bagan 3. dapat dilihat perbedaan interaksi antarpelaku ekonomi dalam perekonomian sederhana (Bagan 1), perekonomian tertutup (Bagan 2), dan perekonomian terbuka (Bagan 3). Hampir semua negara di dunia pada saat ini melakukan interaksi dengan negara lain, sehingga interaksi ekonomi juga melibatkan sektor luar negeri. Sektor rumah tangga, perusahaan dan pemerintah merupakan perekonomian domestik. Perekonomian dikatakan tertutup (closed economy) jika tidak melakukan interaksi dengan sektor luar negeri. Adapun perekonomian suatu negara dikatakan terbuka (open economy) apabila terjadi interaksi dengan sektor luar negeri yang ditandai dengan adanya mekanisme ekspor dan impor. Ekspor merupakan aliran pendapatan dari perekonomian luar negeri ke perekonomian domestik. Adapun impor merupakan aliran pengeluaran dari perekonomian domestik ke perekonomian luar negeri.

C. Peran Konsumen dan Peran Produsen


Telah diketahui bahwa sumber alat pemuas kebutuhan yang tersedia di bumi terbatas jumlahnya. Oleh karena itu, dalam melakukan kegiatan ekonomi, baik yang berkaitan dengan usaha menghasilkan maupun menggunakan alat pemuas kebutuhan manusia harus selalu bertindak ekonomis atau hemat. Artinya, setiap penggunaan sumber daya alam dan alat pemuas kebutuhan harus dapat menghasilkan kepuasan maksimal bagi pemenuhan kebutuhan manusia.

Dalam melakukan tindakan ekonomi, manusia harus selalu mempertimbangkan perbandingan antara pengorbanan dan hasil yang akan dicapai, perbandingan yang rasional antara pengorbanan dan hasil tersebut, sesuai dengan prinsip ekonomi. Pada dasarnya, prinsip ekonomi merupakan pedoman bagi manusia atau pelaku ekonomi dalam melakukan kegiatan ekonomi untuk mencapai hasil maksimal dengan sumber daya yang terbatas.

Di dalam kegiatan ekonomi, konsumen berperan sebagai pengguna atau pemakai barang maupun jasa yang dihasilkan oleh pelaku ekonomi yang lain. Di samping sebagai pengguna barang atau jasa, konsumen juga dapat berperan sebagai penyedia faktor produksi (tanah atau sumber daya alam, tenaga kerja, dan modal), baik untuk produsen, pemerintah, maupun masyarakat luar negeri.

Adapun produsen sendiri berperan sebagai penghasil dan penyalur barang maupun jasa hingga sampai ke tangan konsumen. Dalam menghasilkan barang dan jasa tersebut, produsen memerlukan faktor produksi dari konsumen, pemerintah, maupun masyarakat luar negeri.

Pada kenyataannya, baik konsumen maupun produsen akan berperilaku sesuai prinsip ekonomi. Artinya, konsumen akan mengorbankan uangnya untuk membeli barang dengan kualitas yang paling baik dan tingkat harga serendah mungkin. Begitu pun produsen, dia akan selalu menjual harga produk setinggi mungkin agar memperoleh keuntungan maksimal.

Perilaku konsumen biasanya didasarkan pada selera dan tingkat pendapatan. Dalam kehidupan sehari-hari sering terjadi faktor selera sangat mempengaruhi konsumsi seseorang terhadap suatu barang. Di samping itu, konsumen yang pandai mengatur keuangannya, akan mempertimbangkan tingkat pendapatannya dalam mengonsumsi suatu barang. Seseorang yang berpendapatan rendah akan membeli barang yang tidak terlalu mahal dan seseorang yang berpenghasilan tinggi tidak terlalu konsumtif terhadap barang yang harganya mahal.

Dari sisi produsen, seorang produsen akan berperilaku yang didasarkan pada motif mengambil keuntungan optimum. Produsen akan mempertimbangkan cara memproduksi barang dengan biaya sekecil-kecilnya. Sumber bahan baku diusahakan dekat dengan lokasi perusahaan agar dapat menekan biaya transportasi. Bahan pengemas produk diusahakan bahan dengan harga murah agar dapat menghemat biaya. Hal-hal tersebut akan selalu dilakukan produsen untuk memperoleh keuntungan yang maksimal.

Rangkuman :
  1. Utilitas diartikan sebagai utilitas atau nilai guna subjektif yang dirasakan oleh seseorang dari mengonsumsi suatu barang dan jasa.
  2. Terdapat berbagai bentuk utilitas antara lain utilitas tempat, bentuk, waktu, kepemilikan dan pelayanan.
  3. Utilitas suatu barang atau jasa dapat dianalisis dengan menggunakan dua pendekatan, yaitu pendekatan kardinal dan pendekatan ordinal.
  4. Menurut pendekatan kardinal, utilitas suatu barang dan jasa dapat diukur dengan satuan util dan tinggi rendahnya utilitas hanya dapat diukur oleh orang yang bersangkutan.
  5. Utilitas total adalah utilitas yang dinikmati konsumen dalam mengonsumsi sejumlah barang atau jasa tertentu secara keseluruhan.
  6. Utilitas marjinal adalah pertambahan utilitas yang dinikmati oleh konsumen dari setiap tambahan barang dan jasa yang dikonsumsi.
  7. Menurut pendekatan ordinal, utilitas suatu barang tidak perlu diukur, cukup untuk diketahui dan konsumen mampu membuat urutan tinggi rendahnya utilitas yang diperoleh dari mengkonsumsi sejumlah barang atau jasa.
  8. Menurut Hukum Gossen I, jumlah tambahan utilitas yang diperoleh konsumen akan semakin menurun dengan bertambahnya konsumsi dari barang atau jasa tersebut.
  9. Menurut Hukum Gossen II, konsumen akan melakukan konsumsi sedemikian rupa sehingga rasio utilitas marjinal harga setiap barang atau jasa yang dikonsumsi besarnya sama.
  10. Kurva indiferen adalah kurva yang menunjukkan kombinasi dua macam barang konsumsi yang memberikan tingkat utilitas yang sama.
  11. Garis anggaran ( budget line), yaitu garis yang menunjukkan berbagai kombinasi dari dua macam barang yang dibeli oleh konsumen dengan pen dapatan yang sama.
  12. Circular flow diagram adalah sebuah model yang menggambarkan bagaimana interaksi antar pelaku ekonomi menghasilkan pendapatan yang digunakan sebagai pengeluaran dalam upaya memaksimalkan utilitas (utility) masing-masing pelaku ekonomi.
  13. Seorang konsumen dikatakan berada dalam kondisi keseimbangan, apabila dengan batasan pendapatan dan harga tertentu ia dapat memaksimalkan utilitas totalnya.
  14. Secara sederhana, produksi diartikan sebagai persamaan yang menunjukkan jumlah maksimum yang dihasilkan dengan mengombinasi input atau faktor produksi tertentu.
  15. Fungsi produksi adalah suatu persamaan yang menunjukkan jumlah maksimum output yang dihasilkan dengan kombinasi input atau faktor produksi tertentu.
  16. Hukum pertambahan hasil yang semakin berkurang menyatakan bahwa apabila faktor produksi terus ditambah, hasil produksi akan meningkat sampai titik tertentu, namun kemudian pertambahan itu semakin menurun.
Referensi :

Arifin, I. 2009. Membuka Cakrawala Ekonomi 1 : Untuk Kelas X Sekolah Menengah Atas/Mandrasah Aliyah Program Ilmu Pengetahuan Sosial. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. p. 170.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah secara bijak. Komentar yang tidak sesuai materi akan dianggap sebagai SPAM dan akan dihapus.
Aturan Berkomentar :
1. Gunakan nama anda (jangan anonymous), jika ingin berinteraksi dengan pengelola blog ini.
2. Jangan meninggalkan link yang tidak ada kaitannya dengan materi artikel.
Terima kasih.