Sosiologi Terapan, Penerapan Sosiologi dalam Masyarakat, Keluarga, Kelompok Bermain dan Pendidik, Tinjauan Masalah di Indonesia


Sosiologi Terapan, Penerapan Sosiologi dalam Masyarakat, Keluarga, Kelompok Bermain dan Pendidik, Tinjauan Masalah di Indonesia - Dalam bab ini, Anda akan mempelajari tentang bagaimana menerapkan pengetahuan sosiologi dalam kehidupan masyarakat. Dengan memahaminya, diharapkan Anda mampu menerapkan pengetahuan sosiologi, terutama untuk memecahkan segala permasalahan yang akan Anda hadapi dalam kehidupan bermasyarakat. Jika mampu menjadi anggota masyarakat yang baik dan menaati nilai-nilai dan norma sosial yang berlaku di masyarakat, orang akan mampu menahan diri dari sikap-sikap yang tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku. Untuk itu, pada bahasan ini lebih diarahkan pada bagaimana tinjauan sosiologi mengenai lingkungan sosial yang dihadapi sehari-hari, serta masalah-masalah lain dalam skala yang lebih luas.
Sosiologi Terapan
Gambar 1. Peta Konsep Sosiologi Terapan.
A. Sosiologi Terapan

Disiplin ilmu yang tidak berupaya untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial disebut dengan teori yang bebas nilai. Menurut Lincoln dan Guba, disiplin ilmu yang bebas nilai sudah lama ditinggalkan orang. Tidak ada disiplin ilmu yang bekerja dalam suasana value and moral free. Selama ilmu itu dikembangkan dan terjadi dalam masyarakat manusia, tidak mungkin ilmu bebas dari orang yang mengembangkannya. Sebagai manusia, orang yang mengembangkan nya tidak mungkin melepaskan diri dari nilai dan moral yang berlaku dalam masyarakat. Apalagi sosiologi sebagai salah satu dari disiplin ilmu-ilmu sosial yang berhubungan dengan nilai dan moral yang berlaku pada seseorang dan masyarakat sebagai objek kajiannya, keterkaitan nya dengan nilai dan moral sangat kuat.

Peranan sosiologi sangat diharapkan, terutama dalam menghadapi masalah-masalah sosial yang sering muncul sekarang ini di Indonesia. Misalnya, banyak pembangunan yang sudah dilakukan pemerintah untuk menyejahterakan masyarakat kurang berhasil karena tidak memerhatikan latar belakang dan kondisi sosialnya. Munculnya konflik antar kampung atau perpecahan di daerah, dari yang dilatarbelakangi oleh hal-hal sepele sampai pertentangan karena perbedaan suku, agama, dan ras merupakan akibat dari kurangnya hubungan dan interaksi sosial. Dengan demikian, hal tersebut dapat memicu terjadinya disintegrasi bangsa. 

Selain itu, banyaknya tindakan di luar aturan nilai dan norma akibat kurangnya pemahaman dan kesadaran terhadap unsur-unsur nilai dan norma pada masyarakat. Menerapkan pengetahuan sosiologi, terutama dalam kehidupan masyarakat di Indonesia yang majemuk sudah menjadi hal yang penting dan mendesak. Hal ini mengingat banyak munculnya masalah-masalah sosial akhir-akhir ini.

Sejak awal telah dikemukakan bahwa dilihat dari hakikat keilmuan dan kriteria yang dimiliki, sosiologi merupakan ilmu murni (pure science). Sebagaimana menurut Bertrand, suatu ilmu pengetahuan yang bersifat murni berarti terlepas dari kegunaan praktis secara langsung. Kecenderungan ini dinilainya sebagai usaha untuk menghindarkan penyelewengan ilmiah yang bisa terjadi apabila ilmu-ilmu itu dipakai oleh seseorang untuk mempelajari pemecahan-pemecahan masalah praktis, seperti masalah-masalah sosial. Walaupun demikian, bukan berarti sosiologi tidak dapat menyumbangkan ilmunya untuk kepentingan masyarakat. 

Lahirnya sosiologi sebagai ilmu pengetahuan menurut Comte justru diarahkan untuk meneliti gejala-gejala dan masalah-masalah sosial yang muncul saat itu. Bahkan di awal perkembangannya, banyak kesan yang muncul bahwa sosiologi merupakan ilmu yang abstrak. Sosiologi sebagai ilmu yang mengkaji perilaku manusia dalam kehidupan bermasyarakat memiliki pokok-pokok (intisari) keilmuan yang dikhususkan pada aspek struktur sosial (meliputi kaidah-kaidah sosial, lembaga-lembaga sosial, kelompok-kelompok sosial, dan lapisan-lapisan sosial), dan dinamika sosial. Hal ini meliputi proses sosial dan perubahan-perubahan sosial. Adapun proses sosial diartikan sebagai pengaruh timbal balik antara berbagai segi kehidupan bersama. Pokok-pokok keilmuan tersebut merupakan pengetahuan praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Menerapkan pengetahuan sosiologi dalam kehidupan bermasyarakat berarti didasarkan pada hubungan antar manusia, hubungan antarkelompok, serta hubungan antara manusia dan kelompok, di dalam proses kehidupan bermasyarakat.

Di dalam pola hubungan-hubungan tersebut, yang lazim disebut interaksi sosial, terdapat hubungan saling memengaruhi sehingga terbentuklah kepribadian-kepribadian tertentu sebagai akibatnya. Proses saling mempengaruhi melibatkan unsur-unsur yang baik dan benar, serta unsur-unsur lain yang dianggap salah dan buruk, yang lazim disebut kaidah-kaidah sosial (nilai dan norma sosial).

Unsur-unsur mana yang lebih berpengaruh biasanya bergantung pada mentalitas individu yang menerima. Artinya, sampai sejauh mana individu tersebut mampu menyaring unsur-unsur luar yang diterimanya melalui proses sosialisasi.

Sosialisasi tersebut merupakan suatu kegiatan yang bertujuan agar individu yang dididik atau diajak mau mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku dan dianut oleh masyarakat. Tujuan pokok adanya sosialisasi tersebut bukanlah semata-mata agar kaidah-kaidah dan nilai-nilai diketahui serta dimengerti. Tujuan akhirnya adalah agar manusia mampu bersikap dan berperilaku sesuai dengan kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku serta agar seseorang mampu menghargainya.

Di dalam proses sosialisasi, khususnya yang tertuju pada anak dan remaja, terdapat berbagai pihak yang mungkin berperan. Pihak-pihak tersebut dapat dinamakan sebagai lingkungan-lingkungan sosial tertentu dan pribadi-pribadi tertentu. Tinjauan sosiologis lebih memusat kan perhatian pada lingkungan ini, yang memiliki peranan nyata atau sesungguhnya dalam pembentukan pola perilaku (tindakan sosial) anak dan remaja, tanpa mengabaikan peranan pribadi-pribadi yang tidak mustahil mempunyai pengaruh yang lebih besar. 

Lingkungan-lingkungan yang dimaksud adalah:
  1. keluarga,
  2. kelompok sepermainan, dan
  3. kelompok pendidik (sekolah).
Lingkungan tersebut hanya sebagai lingkungan pokok dalam menerapkan pengetahuan sosiologi, yang sangat dominan dalam mempengaruhi pembentukan kepribadian dan pola perilaku anak atau remaja. Tentunya lingkungan-lingkungan tersebut juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial yang lebih besar, misalnya lingkungan tetangga, lingkungan bekerja, lingkungan organisasi, lingkungan masyarakat, dan bagian-bagiannya, bahkan negara sebagai lingkungan sosial-ekonomi-politik. Dengan demikian, pengaruh-pengaruh tersebut menjadi kajian sosiologi atau dijadikan referensi sebagai teori yang lahir karena kondisi objektif di masyarakat perlu ditinjau kembali untuk diterapkan dalam masyarakat. Sosiologi tidak hanya diketahui dan dipahami sebagai potret ilmu sosial, namun bagaimana kemudian dari potret tersebut mampu ditemukan keadaan yang sebenarnya.

Contoh Soal (UAS SMA IPS 2002) :

Ketika Ani dan Tia ke rumahTini, mereka diterima di ruang belajarnya. Karena gembira, mereka tertawa terbahak-bahak sambil menyalakan radio dengan kencang, Ibu Tini menegurnya. Ani dan Tia sadar bahwa Tini serta keluarganya tidak mempunyai kebiasaan seperti itu. Dalam hal ini, Tini berada dalam proses tahap sosialisasi, yaitu ....

a. meniru
b. siap berinteraksi atau bertindak
c. penerimaan norma kolektif
d. mencontoh kebiasaan
e. menyadari kesalahan

Jawaban: c

Dalam melaksanakan kebiasaan dan tradisi, setiap keluarga dan masyarakat memiliki cara yang berbeda-beda. Agar dapat mencegah timbulnya kesalahpahaman, perlu ditaatinya norma kolektif di masyarakat.

B. Penerapan Sosiologi dalam Keluarga

Di dalam keadaan normal, lingkungan pertama yang berhubungan dengan anak adalah keluarganya, yang bisa terdiri atas orangtuanya, saudara-saudaranya yang lebih tua, serta mungkin kerabat dekatnya yang tinggal serumah. Melalui lingkungan inilah si anak mengenal dunia sekitarnya dan pola pergaulan hidup yang berlaku sehari-hari. Melalui lingkungan ini juga si anak mengalami proses sosialisasi awal. Orangtua, saudara, ataupun kerabat terdekat lazimnya mencurahkan perhatiannya untuk mendidik anak supaya anak memperoleh dasar-dasar pola pergaulan hidup yang benar dan baik melalui penanaman disiplin dan kebebasan serta penyerasiannya terhadap nilai-nilai dan norma.

Pada saat ini, orangtua, saudara, ataupun kerabat (secara sadar atau setengah sadar) melakukan sosialisasi yang biasa diterapkan melalui kasih sayang. Atas dasar kasih sayang itu, anak dididik untuk mengenal nilai-nilai tertentu, seperti nilai ketertiban dan ketenteraman, nilai kebendaan dan keakhlakan, nilai kelestarian dan kebaruan, dan seterusnya.

Pada nilai ketertiban dan ketenteraman ditanamkan perilaku disiplin dan perilaku bebas yang senantiasa harus diserasikan. Misalnya, si anak yang lapar boleh makan dan minum sampai kenyang, tetapi pada waktu-waktu tertentu; anak boleh bermain sepuas-puasnya, tetapi dia harus berhenti bermain apabila waktu makan telah tiba. Menerapkan nilai kebendaan dan nilai keakhlakan serta penyerasian pada anak, misalnya, dapat ditanamkan dengan jalan membelikan mainan yang diinginkannya, tetapi mainan itu harus dipelihara baikbaik agar tidak cepat rusak. Kalau mainan itu dirusaknya, orangtua harus dapat menahan diri untuk membelikannya segera mainan yang baru. Melalui cara-cara itu pula, nilai kelestarian dan kebaruan dapat ditanamkan melalui perilaku teladan yang sederhana. Contoh lainnya, si anak dibelikan makanan kesukaannya, tetapi dia harus berbagi dengan teman-teman atau saudaranya.

Apabila usia anak meningkat remaja, penanaman nilai-nilai tersebut harus tetap dipertahankan. Akan tetapi, hal tersebut diterapkan dengan cara-cara yang lain sesuai dengan pertumbuhan jiwa remaja tersebut. Apabila caranya tidak disesuaikan, yang terjadi bukan penerapan nilai, malah sebaliknya merupakan pemaksaan terhadap kebebasannya yang akan memunculkan penolakan-penolakan.

Seorang anak remaja pada umumnya tidak mau diperlakukan seperti anak kecil oleh orangtuanya karena hal itu akan menjadi olokan dan cemoohan teman-temannya. Akibatnya, perkembangan jiwa anak akan terhambat, bahkan bisa menjadi minder dan tidak mau bergaul lagi. Secara fisik dan psikis, usia remaja merupakan masa-masa di mana tingkat pertumbuhan sedang mengalami puncak prosesnya.

Untuk bisa mengikuti perkembangan remaja agar bisa berlangsung dengan baik, perlu ada pengawasan dari pihak keluarga. Dalam hal ini, peran orang tua sebagai pengarah dan pembentuk perkembangan kepribadian remaja dituntut memberi perhatian secara intensif.

Di dalam sebuah keluarga, yang cenderung terjadi adalah pengawasan dan perhatian yang kurang terhadap sikap dan perilaku seorang anaknya yang menjelang remaja. Hal ini menyebabkan perkembangan jiwa yang masih labil sehingga rentan terhadap perbuatan dan pengaruh dari luar yang cenderung bertentangan dengan nilai dan norma. Misalnya, kenakalan remaja seperti penyalahgunaan obat-obatan, minuman beralkohol, dan narkotika. Memang, kebanyakan orangtua kadang-kadang lebih mementingkan disiplin atau keterikatan daripada kebebasan, sedangkan remaja lebih menyukai kebebasan daripada kedisiplinan. Namun, manusia memerlukan keduanya dalam keadaan yang serasi. Manusia yang terlalu disiplin hanya akan menjadi “robot” yang mati daya kreativitasnya. Adapun manusia yang terlalu bebas akan menjadi makhluk lain (yang bukan manusia).

Keberhasilan anak dalam proses sosialisasi ini dapat dilihat dari motivasi dan keberhasilan studinya. Tumbuhnya motivasi dan keberhasilan studi anak justru ditunjang oleh keserasian-keserasian tersebut. Kalau pada anak, orang tualah yang harus menanamkan agar si anak berpengetahuan. Adapun pada remaja, orangtua harus memberikan pengertian melalui cara-cara yang dewasa. Anak atau remaja yang diharuskan belajar terus-menerus atau dibebani dengan kewajiban mengikuti pelajaran tambahan (les) atau keterampilan tertentu akan mengakibatkan kebosanan sehingga pekerjaan tersebut dianggapnya sebagai kegiatan rutin belaka. Dia tidak sempat mengenyam kebebasan berpikir, oleh karena selalu terbebani dengan keterikatan, yang disebabkan orangtua senantiasa memegang peranan yang menentukan di dalam mengambil keputusan-keputusan. Anak atau remaja tersebut hanya dilatih untuk berpikir semata-mata, tanpa mendidiknya untuk senantiasa menyerasikan pikiran dengan perasaan.

Membiarkan anak atau remaja untuk bersikap dan berperilaku semaunya juga tidak benar. Mereka memerlukan tuntunan orangtua, saudara-saudara, dan kerabat dekatnya, tetapi tuntunan itu tidak diperolehnya. Lingkungan yang berpola pikiran demikian juga tidak menghasilkan pengaruh yang menunjang tumbuhnya motivasi dan keberhasilan studi karena dilepas begitu saja. Kritik para remaja menurut Soerjono Soekanto biasanya tertuju pada hal-hal sebagai berikut.
  1. Orangtua terlalu konservatif atau terlalu liberal.
  2. Orangtua hanya memberikan nasihat, tanpa memberikan contoh yang mendukung nasihat tersebut.
  3. Orangtua terlalu mementingkan pekerjaan di kantor, organisasi, dan lain sebagainya.
  4. Orangtua mengutamakan pemenuhan kebutuhan material belaka.
  5. Orangtua lazimnya mau “menangnya” sendiri (artinya, tidak mau menyesuaikan diri dengan kebutuhan dasar remaja yang mungkin berbeda).
Suasana keluarga yang positif bagi tumbuhnya motivasi dan keberhasilan pengembangan kepribadian, baik dalam studi maupun aspek kehidupan lainnya, adalah keadaan yang menyebabkan anak atau remaja merasa dirinya aman atau damai apabila berada di tengah keluarga. Suasana tersebut biasanya terganggu apabila terjadi hal-hal berikut.
  1. Tidak ada saling pengertian atau pemahaman mengenai dasar-dasar kehidupan bersama.
  2. Terjadinya konflik mengenai otonomi; di satu pihak orangtua ingin agar anaknya disiplin, namun di dalam kenyataan mereka justru mengekangnya.
  3. Terjadinya konflik nilai-nilai yang tidak diserasikan.
  4. Pengendalian dan pengawasan orangtua yang berlebihan.
  5. Tidak adanya rasa kebersamaan dalam keluarga.
  6. Terjadinya masalah dalam hubungan antara ayah dan ibu, sebagai suami dan isteri, dan konflik yang tidak mungkin lagi diatasi.
  7. Jumlah anak yang banyak dan tidak disertai atau didukung oleh fasilitas yang memadai.
  8. Campur tangan pihak luar (baik kerabat maupun tetangga).
  9. Status sosial ekonomi yang di bawah standar.
  10. Pekerjaan orangtua (misalnya, kedudukan istri lebih tinggi daripada suami, sehingga penghasilannya juga lebih besar. Hal ini tidak mustahil akan mengakibatkan suami merasa rendah diri dan melampiaskan ke arah yang negatif).
  11. Aspirasi orangtua yang kadang-kadang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.
  12. Konsepsi mengenai peranan keluarga serta anggota keluarga yang meleset dari kenyataan yang ada.
  13. Timbulnya favoritisme di kalangan anggota keluarga.
  14. Persaingan yang sangat tajam antara anak-anak sehingga menimbulkan pertikaian.
Walaupun demikian, keberhasilan anak atau remaja dalam pergaulan maupun masa depannya tidak sepenuhnya bergantung pada peranan orangtua dalam keluarga. Ini berarti seorang anak tidak boleh terlalu menyalahkan orangtua; dia juga harus mengerti dan memahami keadaan, kedudukan, dan permasalahan orang tuanya, bahwa apa yang diberikan orangtuanya adalah yang terbaik dan tidak mungkin mencelakakan dirinya.

Keluarga merupakan salah satu agen sosialisasi yang berfungsi membentuk kepribadian seseorang. Peran orangtua merupakan penentu bagaimana seseorang bisa tumbuh, berkembang, dan bersosialisasi dengan baik.

C. Penerapan Sosiologi dalam Kelompok Bermain

Kelompok sepermainan dan peranannya belum begitu tampak pengaruhnya pada masa kanak-kanak walaupun pada masa itu seorang anak sudah mempunyai sahabat-sahabat yang terasa dekat sekali dengannya. Sahabat itu mungkin anak tetangga, teman satu kelas, anak kerabat, dan seterusnya, yang mungkin diteruskan hingga usia remaja. Sahabat-sahabat itu memang diperlukan sebagai penyaluran berbagai aspirasi yang memperkuat unsur-unsur kepribadian yang diperoleh dari rumah. Sudah tentu bahwa sahabat itu cenderung memberikan pengaruh yang baik dan benar.

Walaupun tidak mustahil ada sahabat yang memberikan pengaruh kurang baik. Sahabat yang baik dan benar dapat menunjang motivasi dan keberhasilan studi Anda karena dengan melalui teman-teman yang terdekat biasanya akan terjalin sosialisasi dengan baik dan adanya proses saling mengisi. Bahkan, walaupun ada persaingan, persaingan tersebut dilakukan secara sehat dan saling pengertian. Selanjutnya, mungkin kelompok sahabat tersebut berkembang dengan lebih luas karena bersatu dengan kelompok-kelompok sahabat lainnya. Perkembangan lebih luas itu antara lain disebabkan karena remaja bertambah luas ruang lingkup pergaulannya, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Kelompok-kelompok yang lebih besar dan lazim disebut klik (clique) tersebut secara ideal mempunyai peranan yang positif dalam membangkitkan motivasi belajar dan keberhasilan studi ataupun dalam pengembangan kepribadian.

Menurut Soerjono Soekanto peranan positif klik terhadap remaja antara lain sebagai berikut.
  1. Rasa aman dianggap penting dari keanggotaan suatu klik tertentu, dan penting bagi perkembangan jiwa yang sehat.
  2. Di dalam klik tersebut, seorang remaja dapat menyalurkan rasa kecewanya, rasa takut, rasa khawatir, rasa gembira, dan lain sebagainya, dengan mendapatkan tanggapan yang wajar dari rekan-rekannya seklik.
  3. Klik memungkinkan remaja mengembangkan kemampuan dalam keterampilan-keterampilan sosial sehingga dia lebih mudah menyesuaikan diri dengan keadaan.
  4. Lazimnya, suatu klik mempunyai pola perilaku dan kaidah-kaidah tertentu yang mendorong remaja untuk bersikap dan berperilaku secara dewasa.
  5. Rasa aman yang ditimbulkan karena remaja diterima oleh kliknya akan menimbulkan dorongan untuk hidup secara mandiri (artinya tidak bergantung pada siapapun).
Namun, di balik peranan yang positif itu harus dipertimbangkan pula bahwa kemungkinan timbulnya peranan yang negatif tetap akan ada. Kemungkinan terjadinya peranan-peranan yang negatif itulah yang senantiasa harus dicegah, baik oleh orangtua, para guru, maupun pihak lain yang merasa bertanggung jawab terhadap masa depan yang benar dan baik dari para remaja. Hal-hal yang negatif itu antara lain sebagai berikut.
  1. Klik mendorong anggotanya untuk bersikap diskriminatif terhadap yang bukan anggota klik (hal ini mungkin menimbulkan sikap dan perilaku yang kurang adil).
  2. Klik mendorong terjadinya individualisme karena rasa kepatuhan hanya dikembangkan secara pribadi (individual).
  3. Kadang-kadang timbul rasa iri hati dari anggota-anggota klik yang berasal dari keluarga kurang mampu terhadap mereka yang berasal dari keluarga yang berada.
  4. Kesetiaan terhadap klik kadang-kadang mengakibatkan terjadinya pertentangan dengan orangtua, saudara, atau kerabatnya.
  5. Klik merupakan suatu kelompok tertutup yang sulit sekali ditembus sehingga penilaian terhadap sikap perilaku anggotanya sukar dilakukan oleh pihak luar.
  6. Suatu klik mendorong anggota-anggotanya untuk menyerasikan diri dengan pola kehidupan yang sama latar belakangnya sehingga sulit untuk mengadakan penyesuaian dengan pihak-pihak yang berbeda latar belakangnya.
Kalau seorang remaja menjadi anggota klik tertentu, orangtua sebaiknya mempertimbangkan secara mantap terlebih dahulu sebelum memberikan suatu keputusan. Kalau klik tersebut memang cenderung kurang baik sehingga mungkin akan berkembang menjadi “gang”, remaja harus diberikan pengertian yang mendalam bahwa sebaiknya dia tidak menjadi anggota klik tersebut dan lebih baik mencari teman-teman lain. Namun, jika ternyata klik tersebut lebih banyak menghasilkan hal-hal positif bagi motivasi dan perkembangan kepribadian anak, hendaknya si remaja dibiarkan menjadi anggota klik tersebut. Misalnya, menjadi anggota suatu kelompok belajar atau remaja masjid. Hal itu bukan berarti bahwa klik akan dapat menggantikan peranan orangtua terhadap anak remajanya; kontak dan komunikasi dengan anak masih tetap harus dipelihara dan dikembangkan. Peranan orangtua terhadap anak (baik yang masih anak-anak maupun remaja) tidak dapat digantikan secara utuh oleh pihak-pihak lain. Oleh karena itu, jika salah seorang dari orangtua menikah lagi (karena pihak lain meninggal dunia atau karena perceraian), diperlukan suatu proses penyesuaian yang sangat mendalam.

Sikap toleransi dan hidup berkelompok merupakan sikap yang mampu menerapkan nilai-nilai sosiologi dalam pergaulan, seperti kemampuan melakukan interaksi, menghargai adanya perbedaan-perbedaan pada manusia, dan melakukan sosialisasi dengan teman sebaya yang dapat memengaruhi kepribadiannya.

D. Penerapan Sosiologi dalam Kelompok Pendidik

Lingkungan pendidik sebenarnya bukan hanya mencakup sekolah saja karena sekolah hanya menyelenggarakan pendidikan formal. Kelompok pendidik di sini akan dibatasi pada guru yang mengajar di sekolah, yang diharapkan menciptakan suatu suasana yang sangat mendorong motivasi dan keberhasilan studi anak didiknya. Pada sekolah-sekolah yang menyelenggarakan pendidikan awal, seperti taman kanak-kanak, sekolah dasar, dan sekolah lanjutan tingkat pertama, peranan guru sangat besar dan bahkan dominan.

Dengan demikian, hasil kegiatan guru tersebut akan tampak nyata pada pergaulan siswanya atau bahkan dapat dilihat dari kadar motivasi dan keberhasilan studi pada taraf tersebut, yang mempunyai pengaruh sangat besar pada tahap-tahap pendidikan selanjutnya. Keadaan berubah setelah anak (yang sudah menjadi remaja) memasuki sekolah lanjutan tingkat atas (SMA). Peranan guru di dalam membentuk dan mengubah perilaku anak didik dibatasi dengan peranan anak didik itu sendiri di dalam membentuk dan mengubah perilakunya. Sudah tentu bahwa guru masih tetap berperan di dalam hal mendidik anak didiknya agar mempunyai motivasi yang besar untuk menyelesaikan studinya dengan benar dan baik. Setidak-tidaknya itulah yang menjadi peranan yang sangat diharapkan dari guru di tingkat SMA. Pada tahap ini, kepribadian para siswa yang terdiri atas para remaja yang sudah mempunyai sikap tertentu terhadap gurunya mulai terbentuk menuju kemandirian.

Oleh karena itu, para remaja mulai mengkritik keadaan sekolah yang kadang-kadang tidak memuaskan baginya. Lazimnya kritik tersebut dilancarkan terhadap hal-hal sebagai berikut.
  1. Guru-guru yang terlampau tua (konservatif) masih mengembangkan favoritisme terhadap murid-murid dan hanya melakukan tugas mengajar sebagai pekerjaan rutin yang tidak berkembang. Kesenjangan pada usia yang terlalu jauh mengakibatkan sosialisasi kurang terjalin dengan baik karena antara siswa dan gurunya memiliki banyak perbedaan pandangan.
  2. Kebanyakan guru tidak mau mencari penyerasian nilai dengan anak didik, tetapi cenderung senantiasa membenarkan nilai-nilai yang dianut golongan tua. Dengan kata lain, adanya internalisasi nilai-nilai yang dilakukan guru terhadap siswanya.
  3. Mata pelajaran yang diajarkan kebanyakan merupakan mata pelajaran wajib sehingga tidak ada peluang untuk mengembangkan bakat. Sekolah bukanlah penjara yang membatasi kebebasan anak, tetapi merupakan lembaga sosial tempat anak melakukan sosialisasi dari nilai-nilai dan hal-hal yang tidak didapatkannya di rumah (dalam keluarga). Berikan pelajaran tambahan yang dapat menyalurkan minat dan bakatnya agar siswa memperoleh keterampilan-keterampilan yang berguna bagi bekalnya dalam kehidupan bermasyarakat.
  4. Di dalam proses belajar mengajar, lebih banyak digunakan metode ceramah sehingga kemungkinan mengadakan diskusi dengan guru sedikit sekali. Hal ini berarti membatasi interaksi siswa dengan gurunya karena aksi yang diberikan guru tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk meresponsnya, siswa hanya melakukan interaksi pasif. Kurangnya interaksi dapat menghambat perkembangan kepribadiannya.
  5. Kesempatan yang diberikan kepada siswa untuk ikut serta mengelola sekolah hampir-hampir tidak diberikan. Padahal kesempatan ini sangat baik dalam rangka melatih siswa menghargai nilai kebendaan (fungsi sekolah) yang diserasikan dengan nilai konservatif dalam memelihara sekolahnya. Selain itu, juga dapat melatih siswa dalam kehidupan berorganisasi serta mengembangkan perannya pada lembaga-lembaga sosial seperti sekolah.
  6. Jarak antara guru dan siswa dipelihara sedemikian rupa sehingga yang lazim adalah hubungan yang dilakukan secara formal. Adanya pemisahan jarak ini dapat mengurangi relasi-relasi sosial antara superordinat dengan subordinat yang dapat menyebabkan jarak sosial semakin tinggi dan menggambarkan adanya kekurangpentingan bersama.
Melalui berbagai kritikan tersebut diharapkan adanya perbaikan pada lembaga sekolah dalam rangka mengembangkan wawasan para siswa dalam menerapkan pengetahuan sosiologinya. Terlebih lagi, sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan, tetapi lebih dari itu sebagai tempat pewarisan nilai-nilai yang dapat membekali siswanya untuk mempersiapkan diri terjun ke lingkungan yang lebih kompleks, yaitu masyarakat.

E. Tinjauan Sosiologi terhadap Masalah di Indonesia Dewasa Ini

Karl Marx menganggap bahwa sejarah perkembangan masyarakat merupakan akibat dari adanya determinisme ekonomi. Marx menganggap bahwa materialisme merupakan proses penentu jalannya gerak sejarah. Jadi, materialisme dan ekonomi merupakan perpaduan yang kuat dalam memengaruhi masyarakat.

Menerapkan pengetahuan sosiologi secara praktis tidak hanya dilakukan di lingkungan keluarga dalam skala mikro, tetapi juga menyangkut hubungan antarsuku, agama, dan ras serta berbagai aspek kehidupan yang lebih luas dalam skala makro. Terlebih lagi dalam menghadapi berbagai masalah sosial yang sering muncul akhir-akhir ini di Indonesia, peranan sosiologi sangat diharapkan.

Beberapa masalah sosial yang dihadapi Indonesia dewasa ini di antaranya menyangkut masalah nilai-nilai, masalah penegakan hukum, masalah hubungan antarsuku bangsa, dan modernisasi. Bagaimana menerapkan pengetahuan sosiologi dalam menghadapi masalah-masalah tersebut akan diuraikan sebagai berikut.

5.1. Masalah Nilai-Nilai

Mengenai nilai-nilai yang ada di Indonesia dewasa ini, terdapat kecenderungan masyarakat menganut nilai-nilai yang dianggap negatif oleh bagian terbesar warga masyarakat, tetapi secara terpaksa harus dianut juga (padahal secara logis dan benar, seharusnya dihindari). Misalnya, dalam bidang hakikat hidup ada kecenderungan yang sangat kuat untuk menekankan nilai keakhlakan atau spiritualisme semata, atau sebaliknya pada nilai kebendaan atau materialisme. Kecenderungan untuk berpedoman pada nilai keakhlakan semata terdapat pada golongan masyarakat yang secara relatif dirugikan oleh keadaan.

Pada golongan masyarakat yang lain, terdapat kecenderungan untuk memberikan tekanan yang sangat kuat pada nilai kebendaan sehingga ada anggapan kuat bahwa hidup ini dikendalikan oleh materialisme semata. Pengaruh dari nilai tersebut sangat terasa pada nilai-nilai lainnya, seperti ada kecenderungan kuat untuk berkarya demi mendapatkan kedudukan dengan atribut-atribut yang konsumtif yang kemudian disusul dengan nilai yang berorientasi pada masa kini. Hal ini kemudian tidak memperhatikan kelestarian alam dan mempunyai pengaruh besar terhadap pergaulan sosial yang dilandasi pada faktor kebendaan semata-mata.

Tekanan pada nilai kebendaan mempunyai suatu akibat bahwa di dalam pergaulan hidup yang sangat dipentingkan adalah status atau kedudukan. Sebagaimana dikatakan di awal, hal ini merupakan salah satu ciri masyarakat sederhana. Padahal, proses perubahan terencana yang dewasa ini dilakukan mempunyai tujuan mencapai suatu masyarakat modern, di mana peranan (role) sangat di pentingkan. Misalnya, seseorang yang diberikan jabatan tertentu bukanlah bergantung pada gelar kesarjanaan, akan tetapi pada prestasi objektifnya di dalam menjalankan fungsi dalam jabatan tersebut.

Hal-hal yang dijelaskan tersebut banyak terjadi dalam sistem masyarakat Indonesia dewasa ini dan seperti sudah melembaga yang sukar untuk diubah. Nilai kebendaan tersebut bahkan dapat dijumpai kecenderungannya dalam bidang lain, seperti politik, ekonomi, sosial, hukum, dan lainnya. Ketimpangan dalam kehidupan manusia akan terus terjadi jika tekanan hanya diletakkan pada satu nilai saja. Misalnya, jika orang lebih mementingkan nilai kebendaan dan melupakan nilai keakhlakan atau sebaliknya.

5.2. Masalah Penegakan Hukum

Proses penegakan hukum merupakan suatu penyerasian antara nilai-nilai, norma-norma, dan perikelakuan nyata dalam masyarakat. Apabila terjadi ketidakserasian, timbullah masalah di dalam proses penegakan hukum, baik dalam skala kecil maupun besar, terutama yang menyangkut hubungan interpersonal antara penegak-penegak hukum yang mempunyai pengaruh timbal balik dan lembaga-lembaga hukum yang menurut GBHN harus diserasikan.

Secara konvensional, yang dianggap penegak hukum adalah hakim, jaksa, polisi, pengacara, dan petugas-petugas lembaga pemasyarakatan. Hakim, jaksa, dan polisi, misalnya oleh peraturan perundang-undangan yang ada ditempatkan pada kedudukan atau status yang sederajat, padahal peranannya berbeda-beda. Akan tetapi, pada kenyataannya, mereka lebih diorientasikan pada status sehingga tidak jarang peran masing-masing diabaikan demi menjaga prestise korpsnya masing-masing. Keadaan yang tidak menguntungkan dari pencari keadilan tersebut juga ditambah dengan kurangnya fasilitas dan taraf kesadaran serta kepatuhan hukum yang relatif rendah dari warga masyarakatnya. Misalnya, ada hakim atau jaksa yang mudah disogok atau masyarakat yang dibodohi oleh hukum.

Masalah tersebut tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai yang dianut padahal di dalam hal-hal tertentu malahan harus dihindari. Di dalam proses penegakan hukum di Indonesia, ada suatu kecenderungan yang kuat untuk menekankan pada nilai ketertiban, kepastian, kepentingan umum, dan kebendaan. Padahal, para pencari keadilan juga memerlukan ketenteraman, kesebandingan, dan kepentingan pribadi, ataupun keakhlakan.

5.3. Masalah Hubungan Antarsuku Bangsa

Masalah ini bisa terjadi pada masyarakat sederhana, madya, ataupun modern. Hal ini mungkin harus dibedakan dari masalah yang terjadi antara golongan pribumi dan nonpribumi. Mengenai hubungan antarsuku bangsa, mungkin saja timbul masalah yang bersumber pada hal-hal sebagai berikut.
  1. Suatu suku bangsa tertentu ingin memaksakan unsur-unsur kebudayaan khusus yang dianutnya pada suku bangsa lain, baik secara nyata maupun tidak.
  2. Suatu suku bangsa tertentu mencoba memaksakan unsur-unsur agama yang dianutnya terhadap suku bangsa lain yang berbeda agamanya.
  3. Suatu suku bangsa tertentu ingin atau mencoba mendominasi suku bangsa lain secara politis.
  4. Suku-suku bangsa tertentu bersaing keras untuk mendapatkan lapangan mata pencaharian yang sama dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar.
  5. Adanya potensi konflik yang terpendam.
Di Indonesia sebagai masyarakat majemuk, permasalahannya sudah jelas, yaitu setiap suku bangsa mempunyai kebudayaan khusus dan sistem sosial yang berbeda-beda. Secara sosiologis, perlakuannya juga harus berbeda sehingga timbul masalah bagaimana mengadakan pengaturan yang diskriminatif dan adil. Diskriminasi dan keadilan seringkali dianggap sebagai dua nilai yang berlawanan sehingga pada pengertian diskriminasi senantiasa diberikan pengertian negatif. Padahal kedua pengertian tersebut merupakan nilai-nilai yang berpasangan yang tidak jarang bertentangan sehingga harus diserasikan.

5.4. Modernisasi

Seringkali dikatakan bahwa modernisasi tidaklah identik dengan westernisasi. Anggapan tersebut timbul karena modernisasi di masyarakat Barat mempunyai akibat-akibat yang negatif. Walau demikian, terdapat berbagai aspek modernisasi yang dapat dinilai baik untuk pembangunan masyarakat Indonesia sehingga perlu ditiru. Perkembangan modernisasi selanjutnya tidak terbatas pada industrialisasi dan demokratisasi saja, tetapi menyangkut pula berbagai bidang kehidupan lainnya yang saling berhubungan sehingga kemajuan suatu bidang kehidupan akan diikuti oleh bidang-bidang kehidupan yang lain, seperti:
  1. kemajuan ilmu pengetahuan maka akan diikuti oleh teknologi;
  2. kemajuan material atau kebendaan yang digunakan oleh setiap manusia harus dimbangi oleh sikap mental untuk menyesuaikan diri dengan benda yang dimilikinya, jika tidak, akan dianggap sebagai orang yang ketinggalan zaman atau ketinggalan kebudayaan.
Setiap perubahan yang terjadi di masyarakat tentu saja ada sisi baik dan sisi buruknya. Hal ini bergantung pada masyarakat sendiri dalam menafsirkan modern. Akan tetapi, jika kata modern ditafsirkan secara salah, akan mengakibatkan perilaku masyarakat yang tidak sesuai dengan budaya atau kepribadian bangsa, seperti meniru gaya penyanyi atau bintang film supaya dianggap modern. Padahal modern dan tidaknya bukan dengan jalan meniru kehidupan gaya Eropa atau Amerika, melainkan sikap dan perilaku sebagai orang modern.

Modernisasi merupakan perubahan sosial dari keadaan yang tradisional atau pra-industri ke arah modernitas melalui transisi (peralihan). Dalam kehidupan masyarakat tradisional dapat dikatakan bahwa seluruh masyarakat memiliki jiwa yang tradisional. Akan tetapi, pada masyarakat peralihan terdapat masyarakat yang memiliki jiwa berlainan, yaitu tradisional, transisi, dan telah modern yang menyebabkan masyarakat tersebut dapat berbaur. Dengan demikian, perilaku antar sifat-sifat masyarakat satu sama lain akan tampak sekali perbedaannya, seperti berikut ini.
  1. Masyarakat yang berjiwa tradisional akan menganggap setiap perubahan dapat mendatangkan pengaruh bagi kehidupan masyarakat dan dapat menyebabkan kerugian. Setiap perubahan akan ditentang karena mereka lebih mementingkan kemampuan daerahnya dalam setiap kehidupan masyarakat.
  2. Masyarakat transisi akan senantiasa memperhitungkan perubahan yang datang, tetapi mereka kadangkala salah menafsirkan konsep modern sehingga setiap yang datang dan berasal dari luar (terutama berasal dari masyarakat Barat dan Eropa/Amerika) kadangkala dianggap modern.
  3. Masyarakat yang berjiwa modern akan menerima setiap perubahan yang bernilai positif dan menolak pengaruh yang bersikap negatif karena penting sekali bagi perkembangan kehidupan masyarakat, walaupun datangnya dari luar.
Modernisasi ditandai dengan perubahan masyarakat dari pertanian menjadi industri, dan dari industri beralih ke bidang jasa.

Proses perubahan ke arah yang lebih maju dari sebelumnya yang ditunjang oleh sikap dan perilaku masyarakat untuk menerima perubahan-perubahan tersebut merupakan suatu proses ke arah modern yang dinamakan modernisasi. Dengan demikian, modernisasi dapat diartikan sebagai suatu sikap pikiran yang mempunyai kecenderungan untuk pendahuluan sesuatu yang baru daripada yang bersifat tradisi, dan satu sikap pikiran yang hendak menyesuaikan soal-soal yang sudah menetap menjadi kebutuhan-kebutuhan yang baru.

Modernisasi umumnya dihubungkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk suatu kemajuan masyarakat secara positif, begitu pula masyarakat secara terbuka menerima perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya. Dengan demikian, ilmu pengetahuan dan teknologi dalam modernisasi memainkan peranan yang sangat penting di berbagai bidang kehidupan. Oleh karena itu, manusia sebagai pelaku modernisasi dituntut untuk selalu siap menerima perubahan-perubahan ke arah kemajuan yang positif.

Perubahan-perubahan tersebut, misalnya:
  1. sikap masyarakat akan pentingnya pendidikan sekolah;
  2. keinginan untuk hidup lebih baik;
  3. adanya usaha untuk mengejar ketinggalan dari masyarakat lain;
  4. menghargai pendapat orang lain;
  5. tidak menganggap pendapatnya lebih baik daripada orang lain;
  6. memandang bahwa kehidupan hari esok harus lebih baik daripada hari ini; dan lain-lain.
Rangkuman :

a. Sosiologi sebagai ilmu kemasyarakatan harus memiliki manfaat dalam mengkaji hubungan antar manusia dan proses yang timbul dari hubungan tersebut, sehingga ilmu yang terdapat dalam sosiologi dapat diterapkan di kehidupan masyarakat.

b. Sesuai dengan tujuannya untuk meningkatkan daya atau kemampuan manusia dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan hidupnya, sosiologi harus dapat mengembangkan pengetahuan yang objektif mengenai gejala-gejala kemasyarakatan yang dapat dimanfaatkan secara efektif untuk memecahkan masalah-masalah sosial.

Anda sekarang sudah mengetahui Sosiologi Terapan dan Penerapan Sosiologi. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Waluya, B. 2009. Sosiologi 1 : Menyelami Fenomena Sosial di Masyarakat untuk Kelas X Sekolah Menengah Atas / Madrasah Aliyah. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta. p. 138.



Pengunjung dapat menyalin materi di blog ini menggunakan Browser Google Chrome. Google Chrome
Bacalah terlebih dahulu Panduan Pengunjung jika anda ingin menggunakan materi dari blog ini.
DMCA.com

Masukkan Kata Kunci




Artikel Terkait :

Post a Comment

Berkomentarlah secara bijak. Komentar yang tidak sesuai materi akan dianggap sebagai SPAM dan akan dihapus.
Aturan Berkomentar :
1. Gunakan nama anda (jangan anonymous), jika ingin berinteraksi dengan pengelola blog ini.
2. Jangan meninggalkan link yang tidak ada kaitannya dengan materi artikel.
Terima kasih.