Contoh Koagulasi Koloid, Penggumpalan, Muatan Listrik Partikel, Kimia

Leave a Comment
Contoh Koagulasi Koloid, Penggumpalan, Muatan Listrik Partikel, Kimia - Pernahkah kalian membuka cat kaleng yang sudah lama tidak digunakan? Cobalah, amati apa yang terjadi pada cat tersebut. Ternyata cat tersebut mengalami koagulasi (penggumpalan). Mengapa koagulasi dapat terjadi? Bagaimana caranya? Simaklah penjelasan berikut. 

Koagulasi dapat dilakukan dengan empat cara, yaitu:

a. Elektroforesis

Pada subbab sebelumnya, kalian telah mempelajari proses elektroforesis koloid. Dalam elektroforesis, koloid diberi arus listrik sehingga partikel bergerak ke elektroda yang berlawanan muatannya. Hal ini menyebabkan partikel menjadi netral dan akhirnya menggumpal serta mengendap di sekitar elektroda.

b. Pemanasan

Jika dipanaskan, koloid akan terkoagulasi karena energi partikelnya menjadi lebih besar dan tumbukan antar partikel pun semakin meningkat. Sehingga partikel-partikel koloid menggumpal dan akhirnya mengendap.

c. Penambahan elektrolit

Telah disebutkan di depan bahwa koloid ternyata dapat bermuatan. Jika muatan tersebut dihilangkan, maka kestabilan akan berkurang dan menyebabkan penggumpalan. Apabila ke dalam suatu koloid ditambahkan elektrolit, koloid tersebut dapat menyerap ion sehingga akan terkoagulasi, misalnya koloid Fe(OH)3. Jika ditambahkan ion negatif seperti PO43–, maka koloid Fe(OH)3 akan distabilkan oleh ion Fe3+ dengan cara teradsorpsi di permukaannya. Fe3+ di permukaan itu akan terlepas dan membentuk FePO4. Akibatnya, koloid menjadi tidak stabil dan terkoagulasi.

d. Pencampuran dua macam koloid

Pencampuran dua koloid yang berlawanan muatan dapat menyebabkan terjadinya koagulasi. Hal ini disebabkan oleh adanya gaya tarik listrik antara kedua muatan koloid. Pada permukaan partikel koloid terjadi penyerapan ion. Penyerapan muatan ion ini akan membuat partikel koloid bertambah besar, sehingga dapat mengendap. Misalnya, sol Fe(OH)3 yang memiliki muatan positif akan mengendap bila dicampur dengan sol As2S3 yang bermuatan negatif.

Jika kita mau mengamati, sebenarnya banyak sekali peristiwa koagulasi yang terjadi sehari-hari. Bahkan, dalam bidang industri pun banyak yang memanfaatkan koagulasi untuk proses produksinya. 

Berikut beberapa contoh penerapan koagulasi dalam kehidupan sehari-hari dan industri.

a. Pembentukan delta sungai. Sewaktu air sungai yang mengandung partikel lempung yang tersuspensi (koloid lempung) bertemu dengan elektrolit-elektrolit dari air laut, maka koloid lempung memisah dan membentuk endapan sehingga terbentuklah delta di muara sungai.
b. Gas buangan yang berasal dari pabrik yang mengandung asap dan partikel berbahaya dapat diatasi dengan menggunakan alat yang disebut Cottrel. Asap tersebut dimasukkan ke dalam ruangan bertegangan listrik tinggi, sehingga elektron akan mengionkan molekul udara. Partikel asap akan menyerap ion positif dan tertarik ke elektroda negatif, lantas menggumpal di sana. Akhirnya gas keluar dalam bentuk padatan.
Alat Cottrel
Gambar 1. Alat Cottrel.
c. Penggumpalan lateks dengan menambahkan asam format. Lateks adalah koloid karet dalam air yang berupa sol bermuatan negatif. Jika ditambahkan ion positif, lateks akan menggumpal dan terbentuk seperti cetakan.

Asam format, asam organik dengan rumus kimia HCOOH, merupakan zat cair yang tidak berwarna, berbau tajam dan apabila terkena kulit maka kulit menjadi berkeringat. Asam format dihasilkan oleh beberapa jenis semut dan serangga lainnya, tetapi ada pula yang disintesis. Senyawa ini digunakan pada industri kimia untuk penyamakan kulit dan industri tekstil untuk pencelupan. (Mulyono, 2006, hlm. 32)

Anda sekarang sudah mengetahui Koagulasi Koloid. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Premono, S. A. Wardani, dan N. Hidayati. 2009. Kimia : SMA/ MA Kelas XI. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.
Next PostNewer Post Previous PostOlder Post Home

0 komentar:

Post a Comment

Berkomentarlah secara bijak. Komentar yang tidak sesuai materi akan dianggap sebagai SPAM dan akan dihapus.
Aturan Berkomentar :
1. Gunakan nama anda (jangan anonymous), jika ingin berinteraksi dengan pengelola blog ini.
2. Jangan meninggalkan link yang tidak ada kaitannya dengan materi artikel.
Terima kasih.