Sifat-sifat Unsur Kimia, Gas Mulia, Halogen, Alkali Tanah, Periode Ketiga 3, Transisi, Logam, Praktikum, Percobaan


Sifat-sifat Unsur Kimia, Gas Mulia, Halogen, Alkali Tanah, Periode Ketiga 3, Transisi, Logam, Praktikum, Percobaan - Sifat-sifat unsur sangat ditentukan oleh konfigurasi elektronnya. Unsur-unsur dalam sistem periodik disusun menurut kenaikan nomor atom dan berdasarkan konfigurasi elektronnya. Unsur-unsur yang memiliki susunan elektron terluar sama memiliki sifat kimia yang sama dan dimasukkan dalam satu golongan, dan unsur-unsur yang memiliki jumlah kulit yang sama dimasukkan dalam satu periode. Oleh karena itu, pada bagian ini akan dibahas sifat-sifat unsur menurut golongan dan menurut periode. Sifat-sifat tersebut meliputi sifat fisis dan sifat kimia, seperti penampilan, kelarutan, titik didih, titik leleh, kekerasan, jari-jari atom, kereaktifan, dan sifat khusus lainnya.

1. Gas Mulia

Unsur-unsur gas mulia dalam sistem periodik menempati golongan VIII A yang terdiri dari unsur Helium (He), Neon (Ne), Argon (Ar), Kripton (Kr), Xenon (Xe) dan Radon (Rn). Struktur elektron terluar gas mulia yang oktet (8) (kecuali helium duplet (2)) merupakan struktur yang paling stabil, oleh karena itu gas mulia sukar bereaksi dengan unsur lain sehingga disebut gas inert (lamban).

Pada tahun 1962 Neil Bartlett berhasil mensintesis senyawa gas mulia yaitu XePtF6. Dalam waktu yang singkat ahli kimia yang lain menunjukkan bahwa Xenon dapat bereaksi langsung dengan Fluor membentuk XeF2, XeF4, dan XeF6. Sejak saat itu istilah inert tidak lagi sesuai dan para ahli kimia mulai menyebut dengan golongan gas mulia.

a. Sifat-sifat fisis / fisika Gas Mulia

Sifat-sifat fisis gas mulia berubah secara periodik seperti terlihat pada tabel berikut.

Tabel 1. Sifat-Sifat Fisis Gas Mulia

Sifat
Helium
Neon
Argon
Kripton
Xenon
Radon
• Nomor atom (Z)
2
10
18
36
54
86
• Konfigurasi elektron
1s2
1s22p2
3s23p6
4s24p6
5s25p6
6s26p6
• Titik cair (°C)
-272,2
-248,6
-189,4
-157,2
-111,8
-71
• Titik didih (°C)
-268,9
-246,0
-185,9
-153,4
-108,1
-62
• Rapatan (g/cm3)
0,178
0,900
1,78
3,73
5,89
9,73
• Energi pengion (ev)
24,6
21,6
15,8
14,0
12,1
10,7
• Jari-jari atom (Å)
0,50
0,65
0,95
1,10
1,30
1,45
• Keelektronegatifan
2,7
4,4
3,5
3,0
2,6`
2,4

1) Wujud gas mulia

Unsur gas mulia terdapat sebagai gas tak berwarna yang monoatomik, ini erat kaitannya dengan struktur elektron oktet dan duplet dari gas mulia. Sedangkan wujud gas pada suhu kamar disebabkan titik cair dan titik didih gas mulia yang rendah.

2) Titik cair dan titik didih

Titik cair dan titik didih gas mulia meningkat dengan bertambahnya nomor atom. Hal ini disebabkan semakin bertambahnya gaya dispersi antar atom gas mulia sesuai bertambahnya massa atom relatif (Ar).

3) Kelarutan

Kelarutan gas mulia dalam air bertambah besar dari Helium (He) hingga Radon (Rn). Pada suhu 0 °C dalam 100 ml air terlarut 1 ml He, 6 ml Ar, dan 50 ml Rn.

b. Sifat-sifat kimia gas mulia

Selama bertahun-tahun unsur gas mulia disebut sebagai gas inert. Sejak penemuan XePtF6 oleh Neil Bartlett anggapan gas inert gugur. Energi ionisasi kripton, Xenon dan Radon hampir sama dengan energi ionisasi oksigen dan masih lebih rendah dari fluor. Oleh karena itu dimungkinkan tiga unsur tersebut dapat membentuk senyawa dan telah dibuktikan oleh Bartlett.

Radon dapat bereaksi spontan dengan fluor pada suhu kamar. Sementara Xenon memerlukan pemanasan atau permulaan reaksi secara fotokimia. Xenon dapat bereaksi dengan Fluor pada suhu 400 °C dan tekanan 6 atmosfer.


400 oC

Xe + 2Fe
XeF4

Kripton bereaksi dengan Fluor hanya bila keduanya dikenakan penyinaran atau pelepasan muatan listrik.

Terbentuknya senyawa gas mulia dapat dijelaskan dengan hibridisasi.

Perhatikan pembentukan ikatan XeF2

Struktur elektron Xe dapat dituliskan :

Struktur elektron Xe
Untuk membentuk XeF2 satu elektron 5p harus dipromosikan ke sub kulit 5d yang diikuti dengan pembentukan orbital hibrida sp3d.

Struktur elektron Xe

Setelah mengalami hibridisasi dihasilkan.

Struktur elektron Xe

Dua elektron yang tidak berpasangan tersebut digunakan untuk berikatan dengan flour. Xe (dalam XeF2)
Struktur elektron Xe

2. Halogen

Unsur-unsur halogen dalam sistem periodik menempati golongan VIIA yang terdiri dari unsur Fluor (F), Klor (Cl), Brom (Br), Yod (I), dan Astatin (At). Unsur-unsur golongan VIIA disebut unsur halogen artinya pembentuk garam. Pada bagian ini unsur Astatin tidak dibahas karena bersifat radioaktif dengan waktu paruh pendek sehingga jarang ditentukan dan sifat-sifatnya belum banyak diketahui.

a. Sifat-Sifat Fisis / Fisika Halogen

Sifat-sifat halogen berubah secara periodik seperti terlihat pada Tabel berikut.

Tabel 2. Sifat-Sifat Fisis Halogen

Sifat
Fluor
Klor
Brom
Yod
• Nomor atom (Z)
9
17
35
53
• Konfigurasi elektron
[He]2s2p5
[Ne]3s23p5
[Ar]3d104s24p5
[Kr]4d105s25p5
• Titik cair (°C)
–220
–101
–7
114
• Titik didih (°C)
–188
–35
59
184
• Rapatan (g/cm3)
1,69 × 10–3
3,21 × 10–3
3,12
4,93
• Energi pengionan tingkat pertama (Kj mol–1)
1681
1251
1140
1008
•Afinitas elektron (Kj mol–1)
–328
–349
–325
–295
•Kelektronegatifan (skala Pauling)
4,0
3,0
2,8
2,5
•Potensial reduksi standar (volt)
X2 + 2e → 2X
2,87
1,36
1,06  
0,54
•Jari-jari kovalen, Å
0,64
0,99
1,14
1,33
•Jari-jari ion (X), Å
1,19
1,67
1,82
2,06
•Energi Ikatan X-X (Kj mol–1)
155
242
193
151

1) Wujud halogen

Unsur halogen berupa molekul diatomik (X2) dengan energi ikatan X - X berkurang dari Cl2 sampai I2, sesuai dengan pertambahan jari-jari atomnya. Semakin panjang jari-jari atom semakin lemah ikatan antar atom sehingga semakin mudah diputuskan akibatnya energi ikatan makin rendah. Energi ikatan F - F lebih kecil dibanding dengan energi ikatan Cl - Cl dan Br - Br, hal ini berhubungan dengan kereaktifan F2. Semakin reaktif molekul X2 menyebabkan ikatan semakin mudah diputuskan sehingga energi ikatan relatif kecil.

2) Titik Cair dan Titik Didih

Titik cair dan titik didih halogen meningkat dengan bertambahnya nomor atom. Hal ini disebabkan semakin bertambahnya gaya dispersi antar molekul halogen sesuai bertambahnya massa molekul relatif (Mr). Sesuai titik cair dan titik didihnya, maka wujud halogen pada suhu kamar bervariasi, F2 dan Cl2 berupa gas, Br2 air, dan I2 padat.

3) Warna Halogen

Unsur-unsur halogen dapat dikenali dari bau dan warnanya karena berbau merangsang. Fluor berwarna kuning muda, klor hijau kekuningan, Brom cokelat, dan yod berwarna ungu.

4) Kelarutan

Kelarutan halogen dari fluor sampai yod dalam air semakin berkurang. Fluor selain larut juga bereaksi dengan air.

2F2(g) + 2H2O(l→ 4HF(aq) + O2(g)

Yod sukar larut dalam air, tetapi mudah larut dalam larutan yang mengandung ion I karena membentuk ion poliiodida I3, misalnya I2 larut dalam larutan KI.

I2(s) + KI(aq) → KI3(aq)

Karena molekul halogen nonpolar sehingga lebih mudah larut dalam pelarut nonpolar, misalnya CCl4, aseton, kloroform, dan sebagainya.

b. Sifat-Sifat Kimia Halogen

1) Kereaktifan

Unsur-unsur halogen adalah unsur-unsur yang reaktif, hal ini terbukti keberadaan halogen di alam sebagai senyawa. Kereaktifan halogen dipengaruhi kelektronegatifannya. Semakin besar kelektronegatifan semakin reaktif karena semakin mudah menarik elektron. Selain dipengaruhi keelektronegatifan, kereaktifan halogen juga dipengaruhi oleh energi ikatan halogen. Semakin kecil energi ikatan halogen, semakin mudah diputuskan ikatan tersebut sehingga makin reaktif halogen. Dengan melihat data keelektronegatifan dan energi ikat halogen, dapat disimpulkan kereaktifan halogen dari atas ke bawah semakin berkurang.

Kereaktifan halogen ini dapat dibuktikan dengan reaksi halogen dengan berbagai senyawa atau unsur lain.

a. Halogen dapat bereaksi dengan sebagian besar logam menghasilkan halida.

2Na(s) + Cl2(g) → 2NaCl(s)
Sn(s) + Cl2(g) → SnCl4(s)
Zn(s) + F2(g) → ZnF2(s)

b. Halogen dapat bereaksi dengan air.

Reaksi Fluor dengan air menghasilkan HF dan gas oksigen, sedangkan halogen lainnya bereaksi dengan air menurut reaksi:

X2 + H2O → HX + HXO

c. Halogen dapat bereaksi dengan hidrogen menghasilkan asam halida.

H2(g) + Cl2(g) → 2HCl(g)

d. Halogen dapat bereaksi dengan hidrokarbon (alkana, alkena, dan alkuna).

Reaksinya dengan alkana adalah reaksi substitusi, sedangkan reaksinya dengan alkena dan alkuna adalah reaksi adisi.

e. Halogen dapat bereaksi dengan basa.

Cl2(g) + 2NaOH(aq) → NaCl(aq) + NaClO(aq) + H2O(l)

Bila larutan NaOH dipanaskan akan dihasilkan NaCl dan NaClO3.

f. Halogen dapat bereaksi dengan halogen lainnya.

3F2 + Cl2 → 2ClF3

2) Daya Oksidasi Halogen

Halogen merupakan oksidasi kuat. Sifat oksidator halogen dari atas ke bawah semakin lemah, sehingga halogen-halogen dapat mengoksidasi ion halida di bawahnya.

F2 + 2KCl → 2KF + Cl2 atau ditulis F2 + 2Cl → 2F + Cl2
Cl2 + 2I → 2Cl + I2
Br2 + KF ↛ (tidak terjadi reaksi) atau ditulis Br2 + F  (tidak terjadi reaksi)

Dari reaksi di atas juga berarti ion holida (X) bersifat reduktor. Sifat reduktor ion halida makin ke bawah semakin kuat. Agar lebih memahami daya oksidasi halogen dan daya reduksi ion halida, lakukan kegiatan berikut!

Percobaan / Praktikum Daya Pengoksidasi Halogen terhadap Fe2+ dan Gaya Pereduksi (1) :

Alat dan Bahan:
- Tabung reaksi 
- Rak tabung reaksi 
- Pipet tetes 
- Larutan klor 
- Larutan brom 
- Larutan yod
- Larutan FeSO4 0,1 M
- Larutan Fe(SO4)3 0,1 M
- Larutan KBr 0,1 M
- Larutan KI 0,1 M
- Larutan KSCN 0,1 M

Langkah kerja :

Membedakan ion Fe2+ dengan ion Fe3+
  1. Masukkan 1 tetes larutan FeSO4 0,1 M ke dalam tabung reaksi I dan larutan Fe2(SO4)3 0,1 M dalam tabung reaksi II!
  2. Tambahkan 1 tetes larutan KSCN 0,1 M ke dalam masing-masing tabung!
Hasil Pengamatan :

Larutan
Perubahan warna setelah penambahan larutan KSCN
FeSO4
...
FFe2(SO4)3
...

Daya Pengoksidasi Halogen
  1. Masukkan 15 tetes larutan klor ke dalam tabung reaksi I,15 tetes larutan brom ke dalam tabung reaksi II, dan 15 tetes larutan iodium ke dalam tabung reaksi III!
  2. Tambahkan 15 tetes larutan FeSO4 0,1 M ke dalam masing-masing tabung!
  3. Ujilah ion Fe3+ dengan menambahkan 15 tetes larutan KSCN 0,1 M ke dalam tiap tabung reaksi!
Hasil Pengamatan:

Larutan
Perubahan warna setelah penambahan
Larutan FeSO4
Larutan FeSO4 + larutan KSCN
Cl2
....
....
Br2
....
....
I2
....
....

Daya Pereduksi Halida
  1. Masukkan masing-masing 15 tetes larutan Fe2(SO4)3 0,1 M ke dalam tiga tabung reaksi yang berbeda!
  2. Tambahkan 15 tetes larutan NaCl 0,1 M ke dalam tabung I, 15 tetes larutan KBr 0,1 M ke dalam tabung II, dan 15 tetes KI 0,1 M ke dalam tabung III!
Hasil Pengamatan :

Warna larutan
Fe2(SO4)3
Ditambah larutan
Perubahan yang terjadi
....
NaCl
....
....
KBr
....
....
KI
....

Pertanyaan:
1. a. Bagaimana urutan daya pengoksidasi Cl2, Br2 dan I2?
b. Bagaimana urutan daya pereduksi Cl, Br, dan I?

2. Dapatkah reaksi berikut menghasilkan halogen?

a. F2 + NaCl →
b. F2 + KBr →
c. Br2 + NaCl →
d. I2 + KF →
e. Cl2 + KBr →

Bernard Courtois (1777– 1838)

Courtois lahir di Dijon, Prancis pada tanggal 8 Februari 1777 dan meninggal di Paris pada tanggal 27 September 1838. Ia adalah ahli kimia Prancis penemu iodium. Pada tahun 1811 Courtois banyak menambahkan asam pada abu ganggang laut. Dari abu timbul uap berwarna ungu lembayung yang dapat mengembun menjadi kristal hitam mengkilat. Kristal ini merupakan unsur baru yang oleh Sir Humphrey Davy diberi nama yod (yodium). Sejak itu nama Courtois menjadi terkenal.

3. Alkali

Alkali merupakan unsur-unsur golongan IA kecuali hidrogen, yang meliputi litium (Li), natrium (Na), kalium (K), rubidium (Rb), sesium (Cs), dan fransium (Fr).

a. Sifat Fisis Alkali

Secara umum sifat fisis unsur-unsur alkali seperti yang tertera pada Tabel 2. berikut.

Tabel 2. Sifat Fisika Logam Alkali (Tak Termasuk Fransium)


Li
Na
K
Rb
Cs
•titik leleh, °C
181
98
64
39
29
•titik didih, °C
1.336
881
766
694
679
•rapatan, g/cm3
0,54
0,97
0,87
1,53
1,88
•distribusi elektron
2.1
2.8.1
2.8.8.1
2.8.18.8.1
2.8.18.18.8.1
•energi pengionan, eV
5,4
5,1
4,3
4,2
3,9
•jari-jari atom, Å
1,34
1,54
1,96
2,16
2,35
•jari-jari ion, Å
0,60
0,95
1,33
1,48
1,69
•kelektronegatifan
1,0
0,9
0,8
0,8
0,7
•potensial reduksi standar (volt)
–3,05
–2,71
–2,92
–2,49
–3,02
•struktur kristal
bcc
bcc
bcc
bcc
bcc

1) Wujud Alkali

Alkali merupakan unsur logam yang lunak dan dapat diiris. Dari data kekerasan (skala Mohs) terlihat dari atas ke bawah semakin berkurang, hal ini berarti makin ke bawah semakin lunak.

2) Titik didih dan Titik Cair Alkali

Logam-logam alkali memiliki titik didih dan titik cair yang rendah dan cukup lunak. Hal ini disebabkan karena atom-atom logam alkali mempunyai satu elektron valensi sehingga gaya yang mengikat partikel-partikel terjejal relatif lemah.

3) Energi Ionisasi (Energi Pengion) Alkali

Energi ionisasi logam-logam alkali relatif rendah dibanding energi ionisasi logam-logam lain. Hal ini menunjukkan bahwa logam alkali lebih mudah melepaskan elektron daripada logam lainnya. Energi ionisasi logam alkali dari atas ke bawah makin rendah, sehingga dari litium sampai sesium semakin reaktif.

4) Potensial Reduksi Standar Alkali

Harga potensial reduksi standar kecuali litium dari atas ke bawah semakin negatif. Hal ini menunjukkan semakin mudahnya melepas elektron (sifat reduktor semakin kuat dari Na sampai Cs). Penyimpangan harga potensial reduksi (E°) pada litium disebabkan karena energi hidrasi Li jauh lebih besar daripada alkali yang lain sehingga potensial reduksi Li paling negatif.

b. Sifat Kimia Alkali

Unsur-unsur alkali merupakan golongan logam yang paling reaktif. Kereaktifan logam alkali dari atas ke bawah semakin bertambah, hal ini disebabkan energi ionisasinya dari atas ke bawah semakin rendah sehingga semakin mudah melepaskan elektron.

Kereaktifan logam alkali dapat dibuktikan dengan kemampuan bereaksinya dengan berbagai unsur lain dan senyawa.

1) Unsur Alkali dapat Bereaksi dengan Air

Reaksi unsur alkali dengan air menghasilkan basa dan gas hidrogen. Secara umum dapat dituliskan sebagai berikut:

2M(s) + 2H2O(l→ 2MOH(aq) + H2(g)

Reaksi natrium dengan air sangat hebat, sehingga bila mereaksikan logam natrium dengan air logam natrium harus dipotong sekecil mungkin agar tidak terjadi ledakan dan jangan sekali-kali memegang logam natrium karena dapat bereaksi dengan air/keringat pada tangan Anda.

Agar lebih memahami reaksi alkali dengan air, lakukan kegiatan berikut.

Percobaan / Praktikum Kereaktifan Beberapa Logam Alkali dan Alkali Tanah (2) :

Tujuan:

Mempelajari keaktifan beberapa logam alkali dan alkali tanah.

Alat dan Bahan:

- gelas kimia 
- logam natrium (Na)
- pisau
- kaca arloji 
- logam magnesium (Mg) 
- tang besi
- logam kalium (K)
- logam kalsium (Ca)
- kertas saring

Langkah Kerja :
  1. Isi gelas kimia dengan air dua per tiga bagian, tambahkan 2 - 3 PP! Catat apa yang terjadi!
  2. Dengan menggunakan tang besi, ambil logam natrium dari botol penyimpan. Dengan menggunakan kertas saring, absorbsikan minyak tanah dari permukaan logam itu. Amati permukaan dan catat penampilannya!
  3. Iris logam itu, amati permukaan, dan catat penampilannya!
  4. Potong logam natrium sebesar kacang hijau dan masukkan potongan itu ke dalam gelas kimia yang berisi air dengan menggunakan tang besi. Segera tutup gelas itu dengan kaca arloji. Perhatikan dan catat apa yang terjadi!
  5. Ulangi pekerjaan di atas tetapi Na diganti dengan Mg, K, dan Ca!
Hasil Pengamatan:

Logam
Penampilan logam sebelum diiris
Penampilan permukaan
irisan logam
Perubahan yang terjadi setelah logam dimasukkan ke dalam air
Na
. . . .
. . . .
. . . .
Mg
. . . .
. . . .
. . . .
K
. . . .
. . . .
. . . .
Ca
. . . .
. . . .
. . . .

Pertanyaan :
  1. Mengapa logam natrium dan kalium disimpan dalam minyak tanah?
  2. Mengapa setelah dimasukkan logam air menjadi berwarna merah?
  3. Terdengarkah suara letupan? Jika terdengar mengapa dapat terjadi?
  4. Bandingkan kereaktifan logam-logam alkali dan alkali tanah yang seperiode berdasar percobaan di atas!
2) Reaksi dengan Oksigen.

Logam alkali dapat bereaksi dengan oksigen membentuk oksidanya. Bila oksigen yang direaksikan berlebihan, natrium dapat membentuk peroksida, kalium, rubidium dan sesium membentuk superoksida.

4M(s)
+
O2(g)
2M2O(s)
(M = Li, Na, K, Rb, Cs)


(terbatas)

(oksida)







2Na(s)
+
O2
Na2O2(s)



(berlebihan)

(natrium peroksida)







M(s)
+
O2
MO2
(M = K, Rb, Cs)


(berlebihan)

(superoksida)


Untuk menghindari reaksi dengan uap air dan gas oksigen di udara, maka logam alkali disimpan dalam minyak tanah.

3) Reaksi dengan Unsur Nonlogam Lainnya (Halogen, Nitrogen, Belerang dan Fosfor)

2M(s) + X2(g) → 2MX(s) (X = F, Cl, Br, I)
6M(s) + N2(g) → 2M3N(s)
2M(s) + S(s) → M2S(s)
3M(s) + P(s) → 2M3P(s)

4. Alkali Tanah

Unsur-unsur alkali tanah dalam sistem periodik menempati golongan IIA. Unsur-unsur alkali tanah terdiri dari berilium (Be), magnesium (Mg), kalsium (Ca), stronsium (Sr), barium (Ba), dan radium (Ra). Disebut alkali tanah karena oksida dan hidroksida dalam air bersifat basa (alkalis) dan oksidanya serupa dengan Al2O3 dan oksida logam berat yang sejak semula dikenal dengan nama tanah.

a. Sifat-Sifat Fisis Alkali Tanah

Unsur-unsur alkali tanah kecuali berilium (Be) semua merupakan logam putih keperakan dan lebih keras dari alkali. Sifat-sifat fisis lainnya tertera dalam Tabel 3.

Tabel 3. Sifat-Sifat Fisika Logam-logam Alkali Tanah (Tak Termasuk Radium)


Be
Mg
K
Rb
Cs
•titik leleh, °C
1,277
650
850
769
725
•titik didih, °C
2.484
1.105
1.487
1.381
1.849
•rapatan, g/cm3
1,86
1,74
1,55
2,6
3,59
•distribusi elektron
2.2
2.8.2
2.8.8.2
2.8.18.8.2
2.8.18.18.8.2
•energi pengionan, eV
9,3
7,6
6,1
5,7
5,2
•jari-jari atom, Å
1,25
1,45
1,74
1,92
1,98
•jari-jari ion, Å
0,31
0,65
0,99
1,13
1,35
• keelektronegatifan
1,5
1,2
1,0
1,0
0,9
•potensial reduksi standar (volt)
–1,85
–2,37
–2,87
–2,89
–2,91
•struktur kristal
hex
hex
fcc
fcc
bcc

Pada tabel di atas terlihat dengan naiknya nomor atom, jari-jari atom bertambah panjang yang berakibat semakin lemahnya gaya tarik antar atom. Hal ini menyebabkan makin menurunnya titik leleh dan titik didih. Logam alkali tanah memiliki 2 elektron valensi sehingga ikatan logamnya lebih kuat daripada ikatan logam pada alkali seperiode. Hal ini menyebabkan titik leleh, titik didih, kerapatan, dan kekerasan alkali tanah lebih besar daripada logam alkali seperiode.

b. Sifat-Sifat Kimia Alkali Tanah

Alkali tanah merupakan golongan logam yang reaktif meskipun tidak sereaktif alkali. Kereaktifan logam alkali tanah meningkat dengan semakin meningkatnya jari-jari atom. Alkali tanah dapat bereaksi dengan hampir semua unsur nonlogam dengan ikatan ion (kecuali berilium yang membentuk ikatan kovalen). Beberapa reaksi alkali tanah dengan senyawa atau unsur lain adalah sebagai berikut.

1) Reaksi dengan Oksigen

Semua logam alkali tanah dapat bereaksi dengan oksigen membentuk oksida yang mudah larut dalam air.

2M(s) + O2(g) → 2MO(s) M = alkali tanah

Contoh : 2Ba(s) + O2(g) → 2BaO(s)

Bila oksigen berlebih dan pada tekanan tinggi terjadi peroksida.

Ba(s)
+
O2(g)
BaO2(s)


(berlebih)



Kelarutan oksidanya semakin besar dari atas ke bawah.

2) Reaksi dengan Air

Magnesium bereaksi lambat dengan air, kalsium stronsium, dan barium bereaksi lebih cepat dengan air membentuk basa dan gas hidrogen.

Ca(s) + 2H2O(l)
Ca(OH)2(aq)
+
H2(g)


Kalsium hidroksida



3) Reaksi dengan Hidrogen

Alkali tanah bereaksi dengan gas hidrogen membentuk hidrida dengan ikatan ion.


T

Ca(s) + H2(g)
CaH2(s)


Kalsium hidroksida

Hidrida alkali tanah dapat bereaksi dengan air menghasilkan basa dan gas hidrogen.

CaH2(s) + 2H2O(l→ Ca(OH)2(aq) + H2(g)

4) Reaksi dengan Nitrogen

Reaksi alkali tanah dengan gas nitrogen membentuk nitrida.

3Mg(s)
+
N2(g)
Mg3N2(s)




Magnesium nitrida

5) Reaksi dengan asam

Alkali tanah bereaksi dengan asam menghasilkan garam dan gas hidrogen. Reaksi semakin hebat dari atas ke bawah.

Mg(s) + 2HCl(aq) → MgCl2(aq) + H2(g)

Berilium bersifat amfoter (dapat bereaksi dengan asam dan basa). Reaksi berilium dengan basa kuat adalah sebagai berikut:

Be(s) + 2NaOH(aq) + 2H2O(l→ Na2Be(OH)4(aq) + H2(g)

6) Reaksi dengan Halogen

Semua alkali tanah dapat bereaksi dengan halogen membentuk garam dengan ikatan ion kecuali berilium. Secara umum dapat dituliskan :

M + X2 → MX2

Contoh : Ca(s) + Cl2(g) → CaCl2(s)

7) Reaksi Nyala

Pada pemanasan/pembakaran senyawa alkali pada nyala api menyebabkan unsur alkali tereksitasi dengan memancarkan radiasi elektromagnetik sehingga memberikan warna nyala berilium (putih), magnesium (putih), kalsium (jingga merah), stronsium (merah), dan barium (hijau). Agar dapat mengamati langsung warna nyala garam alkali dan alkali tanah, lakukan kegiatan berikut.

Praktikum Mengamati Warna Nyala Garam Alkali dan Alkali Tanah (3) :

Alat dan Bahan:

- Tabung reaksi 
- Gelas ukur 
- Kaca arloji 
- Kawat nikrom
- Pemanas spiritus/bunsen
- HCl pekat
- Kristal NaCl, KCl, CaCl2, SrCl2, BaCl2

Langkah Kerja 
  1. Siapkan garam-garam NaCl, KCl, CaCl2, SrCl2, dan BaCl2 dalam kaca arloji yang terpisah!
  2. Tuangkan masing-masing 2 mL HCl pekat pada kedua tabung reaksi!
Hasil Pengamatan:

No.
Garam
Warna Nyala
1.
NaCl
....
2.
KCl
....
3.
CaCl2
....
4.
SrCl2
....
5.
BaCl2
....

Pertanyaan :
  1. Mengapa pembakaran garam alkali dan alkali tanah dapat memberikan warna?
  2. Mengapa unsur-unsur alkali dan alkali tanah memberikan warna nyala yang berbeda-beda?
  3. Apakah warna nyala dari pembakaran garam natrium, kalium, stronsium, dan barium?
c. Kelarutan Basa Alkali Tanah dan Garamnya

Basa alkali tanah berbeda dengan basa alkali, basa alkali tanah ada yang sukar larut. Harga hasil kelarutan (Ksp) dari basa alkali tanah dapat dilihat pada tabel berikut.

Hidroksida
Be(OH)2
Mg(OH)2
Ca(OH)2
Sr(OH)2
Ba(OH)2
Ksp
2 x 10–18
1,8 x 10–11
5,5 x 10–6
3,2 x 10–4
5 x 10–3

Dari data Ksp di atas terlihat harga Ksp dari Be(OH)2 ke Ba(OH)2 makin besar, berarti hidroksida alkali tanah kelarutannya bertambah besar dengan naiknya nomor atom. Be(OH)2 dan Mg(OH)2 sukar larut, Ca(OH)2 sedikit larut, Sr(OH)2 dan Ba(OH)2 mudah larut. Be(OH)2 bersifat amfoter (dapat larut dalam asam dan basa kuat).

Be(OH)2(s) + 2H+(aq) → Be2+ + 2H2O(l)
Be(OH)2(s) + 2H(aq) → BeO22– + 2H2O(l)

Harga hasil kali kelarutan (Ksp) beberapa garam alkali tanah terlihat dalam tabel berikut.

Kation
Be2+
Mg2+
Ca2+
Sr2+
Ba2+
Anion





SO4 2–
besar
besar
9,1 x 10–6
7,6 x 10–7
1,1 x 10–10
CrO4 2–
besar
besar
7,1 x 10–4
3,6 x 10–5
1,2 x 10–10
CO3 2–
1 x 10–15
2,8 x 10–9
1,1 x 10–10
5,1 × 10–9
C2O4 2–
kecil
8,6 x 10–5
2 x 10–9
2 x 10–7
1,6 x 10–7

Dari tabel Ksp di atas terlihat hasil kali kelarutan garam sulfat berkurang dari BeSO4 sampai BaSO4 berarti kelarutan garam sulfatnya dari atas ke bawah semakin kecil. Kelarutan garam kromat dari BeCrO4 sampai BaCrO4. Semua garam karbonatnya sukar larut, semua garam oksalatnya sukar larut kecuali MgC2O4 yang sedikit larut. Untuk lebih memahami kelarutan basa dan garam alkali lakukan kegiatan berikut.

Percobaan Mengidentifikasi Ion Alkali Tanah (4) :

Alat dan Bahan:

- Tabung reaksi dan rak
- Pipet tetes
- Larutan NaOH, Na2SO4, Na2C2O4, K2CrO4 masing-masing 0,1 M.

Langkah Kerja :
  1. Tetesilah empat larutan yang mengandung kation alkali tanah dalam tabung reaksi yang disediakan oleh guru dengan larutan NaOH 0,1 M!
  2. Amatilah terjadinya endapan dan catatlah pada tabel pengamatan!.
  3. Ulangi langkah 1 dan 2 dengan mengganti larutan NaOH dengan larutan-larutan yang tersedia!
Pereaksi
Tabung 1
Tabung 2
Tabung 3
Tabung 4
NaOH 0,1 M berlebihan
. . . .
. . . .
. . . .
. . . .
Na2SO4 0,1 M
. . . .
. . . .
. . . .
. . . .
K2CrO4 0,1 M
. . . .
. . . .
. . . .
. . . .
Na2C2O4 0,1 M
. . . .
. . . .
. . . .
. . . .

Buatlah kesimpulan ion apakah yang terdapat pada masing-masing tabung reaksi!

5. Unsur-Unsur Periode Ke 3 (Ketiga)

Unsur-unsur periode ketiga memiliki jumlah kulit elektron yang sama, yaitu tiga kulit. Akan tetapi konfigurasi elektron dari masing-masing unsur berbeda, hal ini akan menyebabkan sifat-sifat kimia yang berbeda. Dari kiri ke kanan unsur periode ketiga berturut-turut adalah natrium (Na), magnesium (Mg), aluminium (Al), silikon (Si), fosfor (P), belerang (S), klor (Cl) dan argon (Ar). Na, Mg, dan Al merupakan unsur logam, Si semilogam, P, S dan Cl nonlogam, Ar gas mulia. Beberapa sifat unsur-unsur periode ketiga diberikan pada Tabel 4 berikut.

Tabel 4. Beberapa Sifat Unsur Periode Ketiga

Unsur
Na
Mg
Al
Si
P
S
Cl
Ar
Nomor atom
11
12
13
14
15
16
17
18
Konfigurasi elektron








K
2
2
2
2
2
2
2
2
L
8
8
8
8
8
8
8
8
M
1
2
3
4
5
6
7
8
Energi ionisasi (KJ/mol)
496
738
578
786
1012
1000
1251
1527
Titik cair, °C
97,8
649
660
1410
44
113
–101
–184,2
Titik didih, °C
883
1090
2467
2680
280
445
–35
–185,7
Struktur
kristal logam
kristal logam
kristal logam
molekul kovalen raksasa
Molekul poliatom
molekul poliatom
molekul diatom
Molekul monoatom
Tingkat oksidasi tertinggi
+1
+2
+3
+4
+5
+6
+7
Afinitas elektron (KJ/mol)
–53
230
–44
–134
–72
–200
–349
35
Kelektronegatifan
0,9
1,2
1,5
1,8
2,1
2,5
3,0

a. Sifat-Sifat Fisis Unsur Periode Ke 3

1) Wujud pada Suhu Biasa

Dari titik leleh dan titik didih kita dapat menyimpulkan bahwa unsur-unsur dari natrium sampai belerang berwujud padat, sedangkan klor dan argon berwujud gas pada suhu biasa.

2) Titik Leleh dan Titik Didih

Titik leleh dan titik didih unsur periode ketiga dari natrium ke kanan meningkat dan mencapai puncaknya pada silikon, kemudian turun. Dari natrium sampai aluminium titik leleh dan titik didih meningkat seiring bertambah kuatnya ikatan logam karena bertambahnya jumlah elektron valensi. Silikon memiliki titik leleh dan titik didih tertinggi karena silikon memiliki struktur kovalen raksasa dimana setiap atom silikon terikat secara kovalen pada empat atom silikon lainnya. Zat dengan struktur seperti ini memiliki titik leleh dan titik didih yang sangat tinggi.

Fosfor, belerang, klor, dan argon memiliki titik leleh dan titik didih yang relatif rendah karena merupakan molekul-molekul nonpolar yang terikat dengan gaya Van der Waals yang relatif lemah. Gaya Van der Waals bergantung pada massa molekul relatifnya. Semakin besar massa molekul relatif semakin kuat gaya Van der Waals, akibatnya titik leleh dan titik didih makin tinggi. Massa molekul relatif S8 > P4 > Cl2 > Ar, sehingga belerang memiliki titik leleh dan titik didih lebih tinggi dari P4, Cl2, dan Ar.

3) Energi Ionisasi

Secara umum energi ionisasi unsur periode ketiga dari kiri ke kanan meningkat. Akan tetapi energi ionisasi Al lebih rendah dari energi ionisasi Mg dan energi ionisasi S lebih rendah dari P. Hal ini disebabkan oleh susunan elektron dalam orbital yang penuh atau setengah penuh memiliki kestabilan yang lebih besar. Susunan elektron valensi dalam orbital seperti tercantum di bawah ini:

Susunan elektron valensi dalam orbital

Karena elektron-elektron dalam orbital dari atom Mg penuh sehingga lebih stabil akibatnya energi ionisasi Mg lebih tinggi dari Al, dan elektron-elektron dalam orbital dari atom P setengah penuh sehingga lebih stabil akibatnya energi ionisasi P lebih tinggi dari S.

4) Sifat Logam

Sifat logam unsur periode ketiga dari kiri ke kanan semakin berkurang. Dari Na sampai Al merupakan unsur logam dengan titik leleh, titik didih, kerapatan dan kekerasan meningkat, hal ini disebabkan pertambahan elektron valensi yang mengakibatkan ikatan logam semakin kuat. Dengan demikian daya hantar listrik (sifat konduktor) juga semakin kuat. Silikon merupakan semilogam (metaloid) bersifat semikonduktor, sedangkan fosfor, belerang dan klor merupakan nonlogam yang tidak menghantarkan listrik.

Untuk lebih memahami sifat-sifat fisis unsur periode ketiga lakukan kegiatan berikut:

Percobaan Menyelidiki Sifat Logam Unsur-unsur Periode Ketiga (5) :

Alat dan Bahan:

- Kaca arloji 
- Kawat
- Penjepit logam 
- Unsur aluminium 
- Unsur magnesium 
- Pisau
- Lampu pijar
- Kertas saring
- Unsur belerang
- Unsur natrium
- Baterai

Langkah Kerja :
  1. Ambil sepotong natrium dari tempat penyimpanan dengan penjepit logam dan letakkan pada kaca arloji! Bersihkan minyak tanah pada permukaan natrium dengan kertas saring!
  2. Potonglah sebagian logam natrium (tipis) dan amati permukannya! Perhatikan kilap, warna dan kekerasannya!
  3. Uji daya hantar listrik natrium yang masih mengkilap!
  4. Ulangi langkah ke-2 dan 3 untuk magnesium, aluminium, dan belerang!
Hasil pengamatan:

No.
Sifat Unsur
Na
Mg
Al
S
1.
Wujud
....
....
....
....
2.
Warna
....
....
....
....
3.
Kekerasan
....
....
....
....
4.
Daya hantar listrik
....
....
....
....

Pertanyaan :

Manakah yang bersifat logam dan manakah yang non logam pada percobaan Anda?

b. Sifat-Sifat Kimia Unsur Periode Ke 3

1) Sifat Reduktor dan Oksidator

Sesuai dengan fakta bahwa dari kiri ke kanan unsur-unsur periode ketiga semakin sukar melepas elektron serta makin mudah menangkap elektron, sehingga dari natrium sampai klor sifat reduktor berkurang dan sifat oksidator bertambah. Natrium merupakan reduktor kuat dan klor merupakan oksidator kuat.

Kekuatan sifat reduktor dan oksidator dapat dilihat dari harga potensial elektroda. Semakin besar (positif) harga potensial elektroda semakin mudah mengalami reduksi yang berarti sifat oksidator makin kuat, dan sebaliknya makin kecil (negatif) harga potensial elektroda makin mudah dioksidasi yang berarti sifat reduktor makin kuat.

Na+ + e- → Na
E° = –2,71 volt
Mg2+ + 2e- → Mg
E° = –2,38 volt
Al3+ + 3e- → Al
E° = –1,66 volt
S + 2e- → S2–
E° = –0,51 volt
Cl2 + 2e- → 2Cl
E° = +1,36 volt

Daya pereduksi natrium, magnesium, dan aluminium dapat dibandingkan dari reaksinya dengan air. Natrium bereaksi hebat dengan air menghasilkan NaOH dan gas hidrogen. Hal ini menunjukkan bahwa natrium merupakan reduktor kuat.

2Na(s) + 2H2O(l→ 2NaOH(aq) + H2(g)

Magnesium bereaksi lambat dengan air menghasilkan Mg(OH)2 yang tidak larut dan gas hidrogen.

Mg(s) + 2H2O(l→ Mg(OH)2(s) + H2(g)

Aluminium tidak bereaksi dengan air pada suhu biasa tetapi bereaksi dengan uap air panas menghasilkan Al2O3 dan gas hidrogen.

2Al(s) + 3H2O(g) → Al2O3(s) + 3H2(g)

Karena sifat reduktor yang kuat dari natrium, magnesium, dan aluminium ini, maka ketiga logam tersebut digunakan sebagai reduktor pada berbagai proses.

Silikon dan fosfor merupakan reduktor yang lemah sehingga dapat bereaksi dengan oksidator kuat, misalnya klor dan oksigen.

2Si(s) + 2Cl2(g) → 2SiCl(l)
P4(s) + 6Cl2(g) → 4PCl3(g)
Si(s) + O2(g) → SiO2(s)
P4(s) + 3O2(g) → P4O6(g)

Fosfor selain sebagai reduktor lemah juga merupakan oksidator lemah sehingga dapat bereaksi dengan reduktor kuat. Belerang memiliki sifat reduktor yang lebih lemah dari fosfor tetapi memiliki sifat oksidator yang lebih kuat dari fosfor. Belerang dapat mengoksidasi hampir semua logam, misalnya dengan besi terjadi reaksi sebagai berikut:

Fe(s) + S(s)  FeS(s)

Belerang dapat mengoksidasi air menjadi gas oksigen.

S(s) + 2H2O(l) → 2H2S(aq) + O2(g)

Klor merupakan oksidator kuat, dapat mengoksidasi hampir semua logam, dan nonlogam dan berbagai senyawa.

Cl2(g) + Mg(s) → MgCl2(s)

Cl2(g) + H2O(l) → 4HCl(ag) + O2(g)

2) Sifat Asam Basa Hidroksida Unsur Periode Ketiga

Hidroksida unsur periode ketiga terdiri dari NaOH, Mg(OH)2, Al(OH)3, Si(OH)4, P(OH)5, S(OH)6 dan Cl(OH)7. Berdasar energi ionisasinya, bila energi ionisasi unsur periode ketiga rendah ikatan antara unsur periode ketiga dengan –OH adalah ion sehingga dalam air melepaskan ion OH (bersifat basa).

NaOH → Na+ + OH
Mg(OH)2 → Mg2+ + OH

NaOH tergolong basa kuat dan mudah larut dalam air, sedangkan Mg(OH)2 meskipun tergolong basa kuat tetapi tidak sekuat NaOH. Al(OH)3 bersifat amfoter, artinya dapat bersifat sebagai asam sekaligus basa tergantung lingkungannya. Dalam lingungan asam, Al(OH)3 bersifat sebagai basa dan sebaliknya dalam lingkungan basa, Al(OH)3 bersifat sebagai asam.

Al(OH)3(s)
+
H+(aq)
Al3+(aq) + 3H2O(l)


asam







Al(OH)3(s)
+
OH(aq)
Al(OH)4(aq)


basa



Bila energi ionisasi unsur periode ketiga tinggi ikatan antara unsur periode ketiga dengan –OH merupakan ikatan kovalen, sehingga tidak dapat melepaskan OH tetapi melepaskan ion H+ karena ikatan O–H bersifat polar. Dengan demikian Si(OH)4, P(OH)5, S(OH)6, dan Cl(OH)7 bersifat asam.

Si(OH)4
H2SiO3
+
H2O


asam silikat







P(OH)5
H3PO4
+
H2O


asam fosfat







S(OH)6
H2SO4
+
H2O


asam sulfat







Cl(OH)7
HClO4
+
H2O


asam perklorat



Sifat asam dari Si(OH)4 atau H2SiO3 sampai Cl(OH)7 atau HClO4 makin kuat karena bertambahnya muatan positif atom pusat, sehingga gaya tolak terhadap H+ makin kuat akibatnya makin mudah melepaskan H+ berarti sifat asam makin kuat. Jadi, sifat asam H2SiO3 < H3PO4 < H2SO4 < HClO4. H2SiO3 dan H3PO4 merupakan asam lemah, sedangkan H2SO4 dan HCl tergolong asam kuat.

6. Unsur-Unsur Transisi

Sebagaimana telah kita pelajari di kelas XI, unsur-unsur transisi adalah unsur-unsur yang pengisisan elektronnya berakhir pada orbital-orbital subkulit d. Pada bagian ini akan kita pelajari unsur transisi periode keempat yang terdiri dari unsur skandium (Sc), titanium (Ti), vanadium (V), kromium (Cr), mangan (Mn), besi (Fe), kobalt (Co), nikel (Ni), tembaga (Cu), dan seng (Zn).

a. Sifat fisis Unsur Transisi  

Semua unsur transisi merupakan unsur logam sehingga bersifat konduktor, berwujud padat pada suhu kamar (kecuali Hg), paramagnetik, dan sebagainya. Sifat-sifat unsur transisi periode keempat dapat dilihat pada Tabel 5. berikut.

Tabel 5. Sifat Fisis Unsur Deret Transisi yang Pertama

Unsur
Sc
Ti
V
Cr
Mn
Fe
Co
Ni
Cu
Zn
titik leleh, °C
1.539
1.660
1.917
1.857
1.244
1.537
1.491
1.455
1.084
420
titik didih, °C
2.730
3.318
3.421
2.682
2.120
2.872
2.897
2.920
2.582
911
rapatan, g/cm3
2,99
4,51
6,1
7,27
7,30
7,86
8,9
8,90
8,92
7,1
distribusi elektron
2.8.9.2
2.8.10.2
2.8.11.2
2.8.13.1
2.8.13.2
2.8.14.2
2.8.15.2
2.8.16.2
2.8.18.1
2.8.18.2
energi pengionan, eV
6,5
6,8
6,7
6,8
7,4
7,9
7,9
7,6
7,7
9,4
jari-jari atom, Å
1,61
1,45
1,32
1,25
1,24
1,24
1,25
1,25
1,28
1,33
keelektonegatifan
1,3
1,5
1,6
1,6
1,5
1,8
1,8
1,8
1,9
1,6
struktur kristal
hex
hex
bcc
bcc
sc
bcc
hex
fcc
fcc
hex

Tabel 6. Sifat Fisika Unsur Deret Transisi Kedua

Unsur
Y
Zr
Nb
Mo
Tc
Ru
Rh
Pd
Mg
Co
titik leleh, °C
1.530
1.852
2.477
2.610
2.250
2.427
1.963
1.554
962
321
titik didih, °C
3.304
4.504
4.863
4.646
4,567
4,119
3,727
2,940
2,164
767
rapatan, g/cm3
4,5
6,5
8,6
10,2
11,5
12,4
12,4
12,0
10,5
5,8
struktur kristal
hex
hex
bcc
bcc
hex
hex
fcc
fcc
fcc
hex

Tabel 7. Sifat fisis Unsur Deret Transisi Kedua

Unsur
Ia
Ht
Ia
W
Re
Os
Ir
Pt
Au
Hg
titik leleh, °C
920
2,222
2,985
3,407
3,180
~2,727
2,545
1,772
1,064
~39
titik didih, °C
3,470
4,450
5,513
5,663
5,687
~5,500
4,389
3,824
2,808
357
rapatan, g/cm3
6,2
13,3
16,6
19,4
21,0
22,6
22,6
21,4
19,3
13,6
struktur kristal
hex
hex
bcc
bcc
hex
hex
fcc
fcc
fcc
rmb

1. Sifat Logam

Kecuali seng logam-logam transisi memiliki elektron-elektron yang berpasangan. Hal ini lebih memungkinkan terjadinya ikatan-ikatan logam dan ikatan kovalen antar atom logam transisi. Ikatan kovalen tersebut dapat terbentuk antara elektron-elektron yang terdapat pada orbital d. Dengan demikian, kisi kristal logam-logam transisi lebih sukar dirusak dibanding kisi kristal logam golongan utama. Itulah sebabnya logam-logam transisi memiliki sifat keras, kerapatan tinggi, dan daya hantar listrik yang lebih baik dibanding logam golongan utama.

2. Titik Leleh dan Titik Didih

Unsur-unsur transisi umumnya memiliki titik leleh dan titik didih yang tinggi karena ikatan antar atom logam pada unsur transisi lebih kuat. Titik leleh dan titik didih seng jauh lebih rendah dibanding unsur transisi periode keempat lainnya karena pada seng orbital d-nya telah terisi penuh sehingga antar atom seng tidak dapat membentuk ikatan kovalen.

3. Sifat Magnet

Pengisian elektron unsur-unsur transisi pada orbital d belum penuh mengakibatkan ion-ion unsur transisi bersifat paramagnetik artinya atom atau ion logam transisi tertarik oleh medan magnet. Unsur-unsur dan senyawa-senyawa dari logam transisi umumnya mempunyai elektron yang tidak berpasangan dalam orbital-orbital d. Semakin banyak elektron yang tidak berpasangan, makin kuat sifat paramagnetiknya.

4. Jari-Jari Atom

Tidak seperti periode ketiga, jari-jari atom unsur-unsur transisi periode keempat tidak teratur dari kiri ke kanan. Hal ini dipengaruhi oleh banyaknya elektron-elektron 3d yang saling tolak-menolak yang dapat memperkecil gaya tarik inti atom terhadap elektron-elektron. Akibatnya elektron-elektron akan lebih menjauhi inti atom, sehingga jari-jari atomnya lebih besar.

b. Sifat Kimia Unsur Transisi

1. Kereaktifan

Dari data potensial elektroda, unsur-unsur transisi periode keempat memiliki harga potensial elektroda negatif kecuali Cu (E° = + 0,34 volt). Ini menunjukkan logam-logam tersebut dapat larut dalam asam kecuali tembaga. Kebanyakan logam transisi dapat bereaksi dengan unsur-unsur non logam, misalnya oksigen, dan halogen.

2Fe(s) + 3O2(g) → 2Fe2O3(s)

Skandium dapat bereaksi dengan air menghasilkan gas hidrogen.

2Se(s) + 6H2O(l) → 3H2(g) + 2Sc(OH)3(aq)

2. Pembentukan Ion Kompleks

Semua unsur transisi dapat membentuk ion kompleks, yaitu suatu struktur dimana kation logam dikelilingi oleh dua atau lebih anion atau molekul netral yang disebut ligan. Antara ion pusat dengan ligan terjadi ikatan kovalen koordinasi, dimana ligan berfungsi sebagai basa Lewis (penyedia pasangan elektron).

Contoh : 

[Cu(H2O)4]2+
[Fe(CN)6]4–
[Cr(NH3)4 Cl2]+

Senyawa unsur transisi umumnya berwarna. Hal ini disebabkan perpindahan elektron yang terjadi pada pengisian subkulit d dengan pengabsorbsi sinar tampak. Senyawa Sc dan Zn tidak berwarna.

Anda sekarang sudah mengetahui Sifat-sifat Unsur Kimia. Terima kasih anda sudah berkunjung ke Perpustakaan Cyber.

Referensi :

Pangajuanto, T. 2009. Kimia 3 : Untuk SMA/ MA Kelas XII. Pusat Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, p. 282.



Pengunjung dapat menyalin materi di blog ini menggunakan Browser Google Chrome. Google Chrome
Bacalah terlebih dahulu Panduan Pengunjung jika anda ingin menggunakan materi dari blog ini.
DMCA.com

Masukkan Kata Kunci




Artikel Terkait :

Post a Comment

Berkomentarlah secara bijak. Komentar yang tidak sesuai materi akan dianggap sebagai SPAM dan akan dihapus.
Aturan Berkomentar :
1. Gunakan nama anda (jangan anonymous), jika ingin berinteraksi dengan pengelola blog ini.
2. Jangan meninggalkan link yang tidak ada kaitannya dengan materi artikel.
Terima kasih.